Aku dinyatakan hilang selama dua belas tahun.

Aku dinyatakan hilang selama dua belas tahun.

Sampai suatu hari, polisi akhirnya menemukan mobilku di dasar sebuah danau.

Dan orang pertama yang menyelam untuk memeriksa mobil itu justru mantan suamiku sendiri.

Namaku Nadia.

Kalau kalian membaca kisah ini, berarti dunia akhirnya mengetahui siapa yang sebenarnya meninggal pada malam itu.

Dua belas tahun lalu, seluruh kota percaya bahwa aku menghilang tanpa jejak.

Ada yang mengatakan aku kabur membawa uang perusahaan. Ada yang menuduhku pergi bersama pria lain. Ada pula yang yakin aku sengaja mengakhiri hidupku sendiri.

Tak seorang pun pernah menemukan jasadku.

Tidak ada saksi.

Yang tersisa hanya mobilku yang ikut menghilang pada malam ketika hujan mengguyur kota begitu deras.

Kasusku perlahan dilupakan.

Orang-orang melanjutkan hidup.

Kecuali satu orang.

Mantan suamiku, Fajar.

Ketika aku menghilang, usia pernikahan kami baru tiga tahun.

Fajar menangis di depan kamera televisi. Ia memohon siapa pun yang melihatku segera menghubungi polisi. Ia memasang poster wajahku di seluruh kota dan mengikuti pencarian bersama para relawan.

Beberapa bulan kemudian, ia bahkan mendirikan yayasan untuk membantu keluarga orang hilang.

Semua orang memujinya.

Suami setia.

Pria berhati emas.

Setahun kemudian, ia menikah lagi.

Lima tahun kemudian, ia menjadi anggota dewan kota.

Sepuluh tahun kemudian, ia dikenal sebagai pahlawan masyarakat.

Tidak ada yang tahu bahwa semuanya dibangun di atas satu kebohongan.

Dua belas tahun setelah aku dinyatakan hilang, kemarau panjang membuat permukaan Danau Cendana turun hampir empat meter.

Seorang pemancing melihat sesuatu menyerupai atap kendaraan di antara lumpur dan tanaman air.

Polisi datang sore itu.

Nomor rangka mobil diperiksa.

Hasilnya membuat kasus lamaku dibuka kembali.

Mobil itu milikku.

Berita menyebar hanya dalam beberapa jam.

Dan seperti dua belas tahun sebelumnya, Fajar kembali berdiri di depan kamera.

Usianya kini empat puluh satu tahun. Rambutnya mulai beruban di sisi pelipis, tetapi wajahnya masih tampak tenang dan meyakinkan.

“Izinkan saya ikut pencarian,” katanya kepada polisi. “Saya menunggu jawaban ini selama dua belas tahun.”

Awalnya polisi menolak.

Namun Fajar ternyata memiliki sertifikat menyelam dan selama bertahun-tahun aktif dalam tim relawan penyelamatan.

Akhirnya ia diizinkan turun bersama dua penyelam profesional.

Di dasar danau, mobilku terbaring miring di antara lumpur hitam.

Kaca depan retak.

Pintu pengemudi tertutup.

Fajar berenang mendekat.

Ia menyinari bagian dalam mobil dengan senter.

Lalu tubuhnya mendadak kaku.

Di kursi pengemudi terdapat kerangka manusia.

Pada pergelangan tangannya masih melingkar sebuah gelang perak.

Gelang yang sangat dikenal Fajar.

Hadiah ulang tahun darinya untukku.

Fajar langsung naik ke permukaan.

Begitu melepas regulator, ia berteriak sambil menangis.

“Itu Nadia!”

Kamera media merekam semuanya.

Seluruh kota ikut berduka.

Tetapi seorang penyidik bernama Inspektur Ardi tidak ikut menangis.

Ia hanya memperhatikan Fajar dari kejauhan.

Ada sesuatu yang mengganggunya.

Mobil itu berada hampir dua belas meter di bawah air. Kabinnya penuh lumpur. Kerangka di dalamnya hanya terlihat sebagian.

Bagaimana Fajar bisa begitu yakin sebelum identifikasi forensik dilakukan?

Tiga hari kemudian, hasil pemeriksaan keluar.

Kerangka itu memang perempuan.

Usianya diperkirakan antara dua puluh enam hingga tiga puluh tahun.

Usiaku ketika menghilang adalah dua puluh delapan.

Tingginya hampir sama denganku.

Gelangnya milikku.

Bahkan di bagasi ditemukan tas kerja yang pernah kugunakan.

Semuanya seolah memastikan bahwa perempuan itu adalah aku.

Sampai pemeriksaan DNA selesai.

Kerangka itu bukan Nadia.

Ardi langsung memerintahkan agar hasil tersebut dirahasiakan.

Ia ingin melihat siapa yang akan panik terlebih dahulu.

Dua malam kemudian, kamera pengawas di gudang barang bukti merekam seorang pria mencoba masuk menggunakan kartu akses milik pegawai pemerintah.

Pria itu tidak berhasil.

Tetapi wajahnya terlihat jelas.

Fajar.

Polisi mulai menggali kembali kehidupan kami sebelum aku menghilang.

Di situlah kebohongan pertama terbuka.

Dua belas tahun lalu, aku bekerja sebagai akuntan di sebuah perusahaan konstruksi milik keluarga Fajar.

Beberapa bulan sebelum menghilang, aku menemukan transaksi mencurigakan.

Dana proyek pemerintah dialihkan ke sejumlah perusahaan fiktif.

Nilainya miliaran rupiah.

Salah satu nama yang muncul berulang kali adalah milik ayah Fajar.

Namun tanda tangan persetujuan pembayaran berasal dari Fajar sendiri.

Aku menyimpan salinan dokumen itu.

Fajar mengetahuinya.

Malam sebelum aku menghilang, kami bertengkar hebat.

Tetangga pernah mendengar suara benda pecah dari rumah kami, tetapi saat itu tak seorang pun menganggapnya penting.

Ardi kemudian menemukan sesuatu yang lebih aneh.

Seorang perempuan bernama Sinta Maharani juga menghilang pada malam yang sama denganku.

Sinta bekerja sebagai pelayan di sebuah kafe dekat kantor Fajar.

Kasusnya hampir tidak pernah diberitakan karena ia tinggal sendirian dan tidak memiliki keluarga dekat di kota.

Foto Sinta dibandingkan dengan rekonstruksi wajah kerangka di mobil.

Kemiripannya sangat kuat.

DNA dari kakak Sinta kemudian memastikan semuanya.

Perempuan yang berada di dalam mobilku adalah Sinta.

Tetapi pertanyaan terbesar belum terjawab.

Kalau Sinta meninggal di mobilku, di mana aku?

Jawabannya datang dari tempat yang tidak pernah diduga Fajar.

Dari diriku sendiri.

Namaku sekarang bukan Nadia.

Selama dua belas tahun, aku hidup sebagai Dina Prameswari di sebuah kota kecil di Jawa Tengah.

Aku tidak mati malam itu.

Aku melarikan diri.

Dan aku tidak pernah berencana kembali.

Sampai aku melihat berita tentang mobilku ditemukan.

Malam ketika semuanya terjadi masih hidup jelas dalam ingatanku.

Aku sudah tahu Fajar menggelapkan uang perusahaan. Aku juga mengetahui ia memiliki hubungan dengan Sinta.

Awalnya aku membenci perempuan itu.

Namun ketika kutemui diam-diam, Sinta justru menangis.

“Aku tidak tahu dia sudah menikah,” katanya.

Kemudian ia menunjukkan sesuatu yang lebih buruk.

Rekaman percakapan Fajar dengan ayahnya tentang transaksi proyek.

Sinta tidak sengaja merekamnya ketika Fajar meninggalkan ponselnya di apartemen.

Kami sepakat membawa bukti itu ke polisi.

Fajar mengetahui rencana kami.

Malam itu hujan sangat deras.

Aku mengemudikan mobil menuju kantor polisi sementara Sinta duduk di sampingku.

Di jalan sepi dekat danau, sebuah mobil hitam menghadang.

Fajar keluar.

Ia memukul kaca mobil sambil berteriak agar aku membuka pintu.

Aku panik dan mencoba mundur.

Mobil tergelincir.

Bagian belakang menghantam pembatas jalan.

Sinta terluka di kepala dan kehilangan kesadaran.

Aku keluar untuk meminta bantuan.

Fajar menangkap lenganku.

“Kamu mau menghancurkan keluargaku?” katanya.

“Lepaskan aku!”

Kami bergumul.

Aku berhasil memukul wajahnya dan berlari menuju pepohonan.

Aku mendengar Fajar memanggil namaku.

Lalu suara mesin mobil.

Ketika aku kembali sekitar dua puluh menit kemudian, mobilku sudah tidak ada.

Sinta juga hilang.

Aku tahu Fajar akan mencariku.

Aku juga tahu ayahnya memiliki koneksi dengan orang-orang berpengaruh.

Aku ketakutan.

Malam itu aku naik truk pengangkut sayuran menuju kota lain.

Aku meninggalkan ponsel, rekening bank, bahkan namaku sendiri.

Selama bertahun-tahun aku hidup dengan rasa bersalah.

Aku selalu bertanya apakah Sinta berhasil selamat.

Ketika melihat kerangka ditemukan di mobilku, akhirnya aku mendapatkan jawabannya.

Aku datang ke kantor polisi empat hari setelah identitas Sinta dipastikan.

Ardi menatapku lama ketika aku duduk di hadapannya.

“Nadia?”

Aku mengangguk.

Ia bahkan tidak langsung percaya.

Sampai DNA-ku cocok dengan sampel yang tersimpan dalam berkas lama.

Berita bahwa aku masih hidup sengaja dirahasiakan.

Polisi membutuhkan pengakuan Fajar.

Mereka kemudian menyebarkan informasi palsu bahwa sebuah perangkat penyimpanan ditemukan di dalam tas kerja dari mobil.

Malam berikutnya, Fajar menelepon seseorang.

Percakapannya disadap.

“Flashdisk itu seharusnya sudah hancur,” katanya panik. “Aku sudah menenggelamkan mobilnya malam itu.”

Kalimat itu cukup untuk membawanya ke ruang pemeriksaan.

Namun Fajar masih menyangkal kematian Sinta.

“Itu kecelakaan,” katanya.

“Aku tidak membunuh siapa pun.”

Ardi kemudian membuka pintu ruang pemeriksaan.

Aku masuk.

Wajah Fajar berubah pucat.

Selama beberapa detik, ia bahkan seperti lupa bernapas.

“Nadia?”

Aku berdiri di hadapannya.

Tidak ada lagi rasa cinta.

Anehnya, tidak ada kebencian sebesar yang kubayangkan.

Yang ada hanya rasa lelah.

“Kamu melihat gelang itu dan langsung bilang jasad di mobil adalah aku,” kataku. “Karena selama dua belas tahun kamu memang ingin semua orang percaya aku ada di dalam sana.”

Fajar menunduk.

Aku meletakkan sebuah perekam kecil di meja.

“Aku masih menyimpan salinan rekaman Sinta.”

Tangannya mulai gemetar.

Ternyata malam itu, setelah aku melarikan diri, Sinta sempat sadar.

Ia memohon dibawa ke rumah sakit.

Namun Fajar panik.

Jika Sinta hidup, seluruh kasus korupsi akan terbongkar.

Ia memasukkan Sinta ke kursi pengemudi, memasang gelangku di tangannya, lalu mendorong mobilku ke danau.

Ia berharap jika mobil ditemukan, semua orang akan mengira jasad itu adalah aku.

Namun mobil tersebut tenggelam terlalu dalam dan tidak ditemukan selama dua belas tahun.

Fajar akhirnya mengakui semuanya.

Korupsi.

Hubungannya dengan Sinta.

Manipulasi penyelidikan.

Dan kematian perempuan yang selama dua belas tahun tidak pernah mendapatkan keadilan.

Ketika polisi membawanya keluar, puluhan kamera menunggu.

Dulu kamera-kamera itu merekamnya menangis sebagai suami yang kehilangan istrinya.

Kini kamera yang sama merekamnya dengan tangan diborgol.

Karier politiknya runtuh dalam satu malam.

Yayasannya diperiksa.

Kasus-kasus lama dibuka kembali.

Tetapi bagiku, bagian paling menyakitkan bukan melihat Fajar masuk penjara.

Melainkan ketika aku mengunjungi makam Sinta.

Namanya akhirnya terukir di sebuah batu nisan.

Aku berdiri di sana cukup lama.

“Maaf aku membutuhkan dua belas tahun untuk kembali,” bisikku.

Angin bergerak pelan di antara pepohonan.

Aku kemudian meletakkan gelang perak yang dulu dipasang Fajar di tubuh Sinta.

Aku tidak ingin memilikinya lagi.

Beberapa bulan kemudian, aku mengurus identitasku kembali.

Untuk pertama kalinya setelah dua belas tahun, namaku secara resmi tercatat sebagai Nadia.

Namun aku tidak kembali ke rumah lama.

Aku tidak mengambil kembali kehidupan yang kutinggalkan.

Karena aku akhirnya memahami sesuatu.

Malam itu memang ada seseorang yang mati.

Sinta kehilangan nyawanya.

Fajar kehilangan dirinya sendiri karena memilih menutupi satu kejahatan dengan kebohongan demi kebohongan.

Dan Nadia yang dulu, perempuan yang selalu takut kepada suaminya, juga tidak pernah benar-benar keluar dari danau itu.

Perempuan yang berdiri di depan makam Sinta adalah seseorang yang berbeda.

Sebelum pergi, aku menatap batu nisannya untuk terakhir kali.

Selama dua belas tahun, dunia mencari perempuan yang sebenarnya masih hidup.

Sementara perempuan yang benar-benar mati bahkan tidak diketahui sedang hilang.

Pada akhirnya, mobilku memang ditemukan di dasar danau.

Tetapi yang terkubur di dalamnya bukan rahasia tentang kematianku.

Melainkan bukti tentang siapa yang selama ini hidup dari kematianku.

Để lại một bình luận

Email của bạn sẽ không được hiển thị công khai. Các trường bắt buộc được đánh dấu *

Lên đầu trang