Saldo rekening bersama kami tersisa dua ratus tiga puluh tujuh ribu rupiah.
Aku menatap layar ponsel cukup lama, berharap mataku salah membaca angka itu.
Tidak mungkin.
Tiga hari sebelumnya masih ada lebih dari empat ratus juta rupiah di sana. Uang itu sebagian berasal dari penghasilanku di klinik, sebagian lagi tabungan yang kami kumpulkan bertahun-tahun untuk pendidikan Raka.
Tanganku mulai gemetar.
Aku membuka riwayat transaksi.
Ada beberapa transfer dalam jumlah besar ke rekening yang tidak kukenal. Semuanya dilakukan sejak dini hari.
Aku mencoba menelepon Arga.
Tidak diangkat.
Aku menelepon lagi.
Kali ini dia menjawab.
“Apa?”
“Ke mana uang kita?”
Hening beberapa detik.

Lalu terdengar tawa kecil.
“Bukankah tadi kamu bilang mau pergi?”
“Arga, itu uang pendidikan Raka.”
“Rekeningnya atas nama kita berdua.”
“Dan logam campuran emas di klinikku?”
Kali ini dia diam lebih lama.
“Aku tidak tahu apa yang kamu bicarakan.”
“Jangan bohong.”
“Aku sedang sibuk.”
Telepon diputus.
Aku menatap jalan di depan. Lampu-lampu kendaraan memanjang seperti garis kabur karena air mataku.
Raka duduk di sampingku.
“Bunda.”
Aku cepat-cepat mengusap wajah.
“Iya?”
“Kalau kita nggak punya uang, aku bisa berhenti les dulu.”
Kalimat itu terasa lebih menyakitkan daripada semua yang dilakukan Arga hari itu.
Aku menggenggam tangannya.
“Kamu tidak perlu memikirkan uang. Itu urusan Bunda.”
“Tapi Ayah bilang Bunda nggak bisa hidup tanpa dia.”
Aku menoleh.
“Kapan Ayah bilang begitu?”
Raka menunduk.
“Sering.”
Aku tidak bertanya lagi.
Saat itu aku baru memahami sesuatu yang selama ini tidak kulihat.
Arga bukan hanya sedang menjauh dariku.
Dia sudah lama membuat anak kami merasa kecil.
Rumah peninggalan nenek di Salatiga ternyata jauh lebih buruk daripada yang kuingat. Debu menutupi perabotan, beberapa bagian atap bocor, dan halaman belakang dipenuhi rumput liar.
Tetapi malam itu, ketika aku memasang seprai bersih untuk Raka, aku merasakan ketenangan yang tidak pernah kurasakan selama bertahun-tahun di rumah besar kami di Jakarta.
Tidak ada suara Arga membanting pintu.
Tidak ada ketegangan setiap kali ponselnya berbunyi.
Tidak ada seseorang yang bisa mengunci Raka dari luar.
Keesokan paginya aku menghubungi pengacara.
Aku juga meminta Dinda menyerahkan seluruh rekaman CCTV kepada polisi.
Masalahnya, rekaman itu terlihat sangat meyakinkan.
Seseorang memakai jas dokter putih milikku, masker, penutup kepala, dan menggunakan kartu akses atas namaku.
Wajahnya hampir tidak terlihat.
Lebih buruk lagi, polisi menemukan bahwa kartu akses tersebut memang kartu yang biasanya kusimpan di tas kerja.
Aku baru menyadari kartu itu hilang setelah Dinda menelepon.
Semuanya seperti sudah direncanakan.
Dua hari kemudian, Arga mengirim pesan.
Pulanglah. Kita bisa menyelesaikan semuanya.
Aku tidak membalas.
Pesan kedua datang.
Polisi mungkin akan punya banyak pertanyaan untukmu.
Saat itulah aku yakin.
Arga terlibat.
Tetapi mengetahui dan membuktikan adalah dua hal berbeda.
Aku kembali bekerja dari cabang kecil klinikku di Semarang sambil mengurus proses hukum. Raka mulai sekolah sementara secara daring.
Pada hari keempat, aku bertemu pria itu.
Namanya Damar Wicaksana.
Usianya sekitar empat puluh tahun. Wajahnya tampak lelah, seperti seseorang yang sudah terlalu lama tidur dengan pikiran yang tidak pernah benar-benar berhenti.
Dia datang ke klinik untuk memperbaiki gigi geraham yang retak.
Awalnya tidak ada yang aneh.
Sampai dia melihat foto kecil Raka yang kuselipkan di meja kerjaku.
“Anak Ibu?”
Aku mengangguk.
“Putra saya.”
Dia tersenyum tipis.
“Saya juga punya anak.”
Nada suaranya berubah.
“Umurnya sekarang seharusnya sebelas tahun.”
Aku berhenti menulis.
“Seharusnya?”
Damar menatap lantai.
“Istri saya membawa anak kami pergi empat tahun lalu.”
Aku mengira itu kasus perceraian.
Namun kemudian dia melanjutkan.
“Bukan kabur dari saya. Mereka menghilang.”
Menurut Damar, istrinya bernama Nadia Kirana.
Empat tahun lalu Nadia pergi bersama putri mereka untuk menemui seseorang di Jakarta terkait tawaran pekerjaan. Malam itu dia sempat mengirim pesan bahwa dirinya merasa ada sesuatu yang tidak beres.
Setelah itu ponselnya mati.
Mobilnya ditemukan tiga hari kemudian di sebuah area parkir di Bekasi.
Tidak ada tanda kekerasan.
Tidak ada Nadia.
Tidak ada putri mereka.
Sejak saat itu Damar mencarinya.
Polisi pernah menyelidiki, tetapi kasusnya perlahan kehilangan jejak.
“Saya masih mencari sampai sekarang,” katanya.
Entah mengapa aku bertanya, “Anda punya fotonya?”
Damar mengeluarkan dompet.
Dari bagian paling dalam, dia mengambil foto yang sudah sedikit kusut.
Begitu melihat perempuan dalam foto itu, darahku seperti berhenti mengalir.
Rambutnya berbeda.
Di foto itu lebih panjang.
Wajahnya sedikit lebih muda.
Tetapi aku tidak mungkin salah.
Itu perempuan yang berada di mobil bersama Arga.
Perempuan yang dicium suamiku.
“Nadia?”
Suaraku nyaris tidak terdengar.
Damar mengangguk.
Aku mengambil ponsel dan membuka foto kaca depan SUV yang pecah. Tanpa sadar aku sempat memotret mobil itu setelah melempar batu.
Di balik retakan kaca, wajah perempuan tersebut terlihat sebagian.
Aku menyerahkan ponsel kepada Damar.
Wajahnya berubah pucat.
Tangannya bergetar.
“Dari mana Ibu dapat foto ini?”
“Empat hari lalu.”
Dia menatapku seolah aku baru saja mengatakan seseorang bangkit dari kubur.
“Tidak mungkin.”
“Itu dia?”
Damar memperbesar gambar.
Matanya mulai basah.
“Itu Nadia.”
Kami saling menatap.
Lalu aku mengatakan sesuatu yang membuat wajahnya semakin tegang.
“Dia bersama suami saya.”
Sore itu kami pergi ke kantor polisi.
Untuk pertama kalinya, kasusku dan kasus hilangnya Nadia mulai terlihat seperti bagian dari sesuatu yang lebih besar.
Penyidik menemukan nama perempuan yang tinggal bersama Arga beberapa bulan terakhir adalah Nadin Kusuma.
Identitasnya sah.
Terlalu sah.
KTP, rekening bank, SIM, semuanya dibuat hampir empat tahun lalu.
Sebelum itu, Nadin Kusuma seolah tidak pernah ada.
Polisi kemudian menemukan sebuah fakta lain.
Arga pernah bekerja sebagai konsultan keuangan untuk perusahaan tempat Nadia bekerja.
Empat tahun lalu.
Aku merasa mual ketika mendengarnya.
Malam itu Damar meneleponku.
“Ada sesuatu yang belum saya ceritakan.”
“Apa?”
“Sebelum hilang, Nadia sedang mengaudit transaksi perusahaan.”
“Transaksi apa?”
“Penggelapan dana.”
Aku langsung teringat uang yang hilang dari rekeningku.
Logam campuran emas di klinik.
Identitas palsu.
Semuanya tiba-tiba membentuk pola.
Damar kemudian mengirimkan salinan email lama milik Nadia.
Salah satunya menyebut sebuah nama.
Arga Pradipta.
Suamiku.
Aku hampir menjatuhkan ponsel.
Polisi bergerak cepat setelah itu.
Namun Arga dan Nadia sudah meninggalkan Jakarta.
Rumah kami kosong.
SUV itu ditemukan di parkiran sebuah pusat perbelanjaan.
Dua hari berlalu tanpa kabar.
Sampai Raka mendatangiku membawa laptop.
“Bunda, aku mungkin tahu Ayah di mana.”
Aku menatapnya.
“Bagaimana?”
Raka membuka sebuah program.
Sebelum ponselnya disita Arga, ternyata Raka pernah memasang perangkat pelacak kecil pada tas laptop ayahnya.
Bukan untuk memata-matai.
Dia sedang menguji proyek elektronik buatannya sendiri.
“Aku lupa alatnya masih ada.”
Titik terakhir menunjukkan sebuah vila di daerah Bandungan.
Polisi segera menuju lokasi.
Aku dan Damar diminta menunggu.
Namun satu jam kemudian, telepon masuk.
Nadia ditemukan.
Hidup.
Arga juga ditangkap.
Tetapi kejutan terbesar belum datang.
Ketika Nadia diperiksa, dia tidak mengaku sebagai korban.
Dia mengaku sebagai pasangan Arga.
Dia bahkan mengatakan Damar berbohong.
“Aku meninggalkannya karena dia kasar,” katanya kepada penyidik.
Damar terpukul.
Namun penyelidikan digital menunjukkan cerita yang jauh lebih rumit.
Empat tahun lalu, Nadia memang menemukan bukti penggelapan dana perusahaan yang melibatkan Arga dan beberapa orang lain.
Arga mendekatinya sebelum laporan itu diserahkan.
Awalnya untuk membungkamnya.
Kemudian hubungan mereka berubah menjadi perselingkuhan.
Nadia setuju menghilang dan membuat identitas baru karena Arga menjanjikan kehidupan baru bersamanya.
Tetapi ada satu hal yang tidak diketahui Damar.
Putri mereka tidak ikut Nadia.
Pada malam Nadia menghilang, anak itu dititipkan kepada kakak Nadia di Yogyakarta dengan identitas berbeda karena Nadia takut Damar akan menemukannya.
Empat tahun lamanya seorang ayah mencari istri dan anaknya, sementara istrinya sengaja menghapus jejak mereka.
Damar tidak berbicara selama beberapa menit ketika mendengar kebenaran itu.
Lalu dia hanya bertanya satu hal.
“Anak saya di mana?”
Pertemuan Damar dengan putrinya terjadi tiga hari kemudian.
Aku tidak ikut masuk ke ruangan.
Aku hanya melihat dari lorong ketika seorang gadis kecil berjalan perlahan mendekatinya.
Damar berlutut.
Dia tidak langsung memeluknya.
Seolah takut anak itu tidak mengenalinya.
Gadis itu menatap wajahnya lama.
Kemudian berkata pelan, “Papa?”
Damar menangis.
Aku pun ikut menangis.
Sementara itu, bukti terhadap Arga semakin banyak.
Polisi menemukan rekaman dari kamera jalan yang menunjukkan Nadia memasuki klinikku malam itu menggunakan kartu aksesku.
Jas dokterku ditemukan di vila.
Sebagian logam yang hilang juga ditemukan di sana.
Arga ternyata sengaja mengosongkan rekening bersama kami dan merancang pencurian di klinik untuk membuatku terlihat terlibat.
Rencananya sederhana.
Jika aku ditetapkan sebagai tersangka, reputasiku hancur.
Klinikku bermasalah.
Aku kehilangan penghasilan.
Kemudian aku akan kembali kepadanya karena tidak punya pilihan.
Kalimatnya kembali terngiang.
Tanpa aku, kamu tidak akan bertahan bahkan seminggu.
Ternyata itu bukan ejekan.
Itu rencana.
Beberapa minggu kemudian aku kembali ke Jakarta untuk mengambil barang-barang pribadi.
Bu Ratna duduk sendirian di ruang tamu.
Dia tidak lagi terlihat angkuh.
“Laras.”
Aku tidak menjawab.
“Ibu tidak tahu Arga melakukan semua itu.”
Aku memasukkan beberapa dokumen ke dalam kotak.
“Raka bertanya kepada saya sesuatu setelah kita pergi.”
“Apa?”
“Dia bertanya apakah neneknya membencinya.”
Bu Ratna terdiam.
Wajahnya berubah.
“Saya tidak tahu harus menjawab apa.”
Air matanya jatuh.
“Maafkan Ibu.”
Aku menatap perempuan yang pernah membiarkan anakku terkunci di kamar.
“Ada hal-hal yang bisa dimaafkan, Bu. Tapi bukan berarti semuanya harus kembali seperti dulu.”
Aku membawa kotak itu keluar.
Proses perceraian berlangsung berbulan-bulan.
Aku mendapatkan kembali sebagian besar uang yang dipindahkan Arga setelah pengadilan membekukan asetnya.
Nama baikku di klinik dipulihkan.
Aku menjual rumah kami di Jakarta setelah urusan hukum selesai.
Aku tidak ingin tinggal di sana lagi.
Sebaliknya, aku memperbaiki rumah nenek di Salatiga.
Raka memilih kamar yang menghadap halaman belakang.
Dia membuat meja kerja sendiri dan memenuhi ruangan itu dengan kabel, motor kecil, papan sirkuit, dan komponen drone.
Suatu sore aku melihatnya sedang memperbaiki pintu kamarnya.
“Ada yang rusak?”
“Nggak.”
“Terus ngapain?”
Dia menunjukkan gagang pintu baru.
“Aku pasang kunci.”
Aku membeku sesaat.
Raka melihat ekspresiku lalu tertawa.
“Tenang, Bunda. Kuncinya dari dalam.”
Aku ikut tersenyum.
Enam bulan kemudian, seseorang mengetuk pintu rumah kami.
Damar berdiri di sana bersama putrinya.
Dia membawa sebuah kotak kecil.
“Ini buat Raka.”
Di dalamnya ada perangkat drone profesional.
Raka hampir melompat kegirangan.
Saat anak-anak masuk ke halaman belakang, aku membuatkan kopi.
Damar duduk di teras.
“Kadang saya masih marah,” katanya.
“Kepada Nadia?”
“Kadang kepada diri sendiri. Empat tahun saya mencari seseorang yang ternyata tidak ingin ditemukan.”
Aku memahami perasaan itu dengan cara berbeda.
“Aku juga bertahun-tahun mempertahankan seseorang yang sebenarnya sudah lama meninggalkan pernikahan kami.”
Kami terdiam.
Angin sore menggerakkan daun-daun mangga di halaman.
Lalu Damar berkata sesuatu yang tidak pernah kulupakan.
“Mungkin kehilangan seseorang bukan selalu bagian paling menyakitkan.”
Aku menatapnya.
“Lalu apa?”
“Mengetahui bahwa selama kita sibuk mencari mereka, kita juga kehilangan diri kita sendiri.”
Aku melihat Raka berlari mengejar drone yang baru saja terangkat.
Dia tertawa.
Sudah lama sekali aku tidak mendengar tawa sebebas itu.
Aku teringat pagi di bandara.
Pengumuman penerbangan yang terlambat.
Perasaan sesak yang membuatku pulang.
Batu yang kulemparkan ke kaca mobil.
Pintu kamar yang terkunci.
Dua ratus tiga puluh tujuh ribu rupiah di rekening.
Saat itu semua terasa seperti akhir hidupku.
Ternyata bukan.
Itu adalah pintu keluar.
Setahun kemudian, Raka mengikuti kompetisi teknologi pelajar tingkat nasional dengan drone rakitannya.
Di bagian bawah drone itu dia menempelkan sebuah tulisan kecil.
Aku baru melihatnya ketika membantu memasukkan alat tersebut ke mobil.
Bunda pernah bilang rumah adalah tempat tidak seorang pun boleh mengunciku dari luar.
Sekarang aku tahu rumah juga berarti tempat aku tidak perlu takut menjadi diriku sendiri.
Aku membaca kalimat itu dua kali.
“Raka.”
Dia menoleh.
“Apa?”
Aku memeluknya.
Dia protes karena malu, tetapi tidak melepaskan pelukanku.
Saat itulah aku akhirnya mengerti.
Firasat yang membawaku pulang hari itu memang menghancurkan rumah tanggaku.
Tetapi ia menyelamatkan sesuatu yang jauh lebih penting.
Putraku.
Dan diriku sendiri.
Arga pernah berkata aku tidak akan bertahan seminggu tanpa dirinya.
Dia salah.
Aku tidak hanya bertahan.
Aku akhirnya mulai hidup.
