Aku Memakai Foto Teman Sekamar untuk Mengencani Tiga Pria, Lalu Tahu Akhirku Akan Dilempar ke Laut

Aku menatap angka Rp2.840.000 di layar sampai mataku terasa perih.

Sementara itu, komentar-komentar aneh kembali melayang di depan pandanganku.

Dia baru sadar sekarang? Sudah terlambat.

Di cerita asli, besok Galang akan datang ke kampus tanpa memberi tahu. Dia akan melihat Laras dan mengira pacarnya pura-pura tidak mengenalnya.

Setelah itu Aditya dan Bima juga muncul satu per satu. Tiga pemeran utama pria bertemu, kebohongan Wulan terbongkar, lalu dimulailah akhir hidupnya.

Yang paling mengerikan masih nanti. Wulan mencoba mencelakai Laras demi menutup rahasia, membuat ketiga pria itu murka. Pada akhirnya dia dibawa ke kapal dan dilempar ke laut.

Aku hampir menjatuhkan ponsel.

Besok?

Galang akan datang besok?

Aku segera membuka percakapan dengannya.

Pesan terakhir masih ada di sana.

Besok akhir pekan dan kebetulan aku senggang. Kita bertemu, yuk?

Selama beberapa bulan, aku selalu punya alasan setiap kali mereka mengajak bertemu.

Sakit.

Ada tugas.

Pulang kampung.

Menstruasi.

Dosen mendadak meminta revisi.

Aku bahkan pernah mengatakan nenekku masuk rumah sakit dua kali.

Padahal nenekku sudah meninggal sejak aku SMP.

Aku menutup wajah.

“Nek, maaf.”

Laras menoleh dari meja belajarnya.

“Kamu kenapa?”

Aku menurunkan tangan.

“Kalau seseorang berutang satu setengah miliar, menurutmu apa yang harus dia lakukan?”

Laras menatapku lama.

“Lapor polisi sebelum pinjolnya membunuh dia.”

Aku nyaris menangis.

Masalahnya justru aku takut tiga krediturku yang akan membunuhku.

Aku bangkit dan membuka lemari.

Tas, sepatu, kosmetik, jam tangan, tablet, kamera, dan beberapa kotak perhiasan kuturunkan satu per satu.

Laras akhirnya berdiri.

“Wulan, kamu mau pindahan?”

“Aku mau jual semuanya.”

“Kenapa?”

“Karena aku tiba-tiba sadar hidup sederhana itu indah.”

Dia menyentuh dahiku.

“Kamu benar-benar demam.”

Malam itu aku tidak tidur.

Aku memotret semua barang yang masih layak jual, mencari harga pasar barang bekas, menghubungi beberapa toko konsinyasi, lalu membuat daftar seluruh uang dan hadiah yang pernah kuterima.

Menjelang pukul tiga pagi, jumlahnya selesai.

Aditya Rp683 juta.

Bima Rp517 juta.

Galang sekitar Rp476 juta.

Totalnya lebih dari Rp1,67 miliar.

Aku menatap angka itu dengan dada sesak.

Kemudian aku membuka tiga ruang percakapan dan mengetik pesan yang sama.

“Ada sesuatu yang harus aku akui. Aku sudah membohongimu sejak awal. Foto yang selama ini kukirim bukan fotoku. Semua uang dan hadiah yang pernah kamu berikan akan kukembalikan. Aku tahu permintaan maaf tidak cukup, tetapi aku akan bertanggung jawab.”

Jariku berhenti di tombol kirim.

Komentar muncul lagi.

Dia mau mengaku?

Jangan! Kalau sekarang mengaku, jalan ceritanya berubah!

Aku tidak peduli.

Aku menekan kirim tiga kali.

Setelah itu aku mematikan ponsel.

Untuk pertama kalinya sejak semua ini dimulai, aku tidur tanpa menunggu notifikasi transfer.

Pagi berikutnya, aku terbangun karena Laras mengguncang bahuku.

“Wulan.”

Aku membuka mata.

“Wulan, bangun.”

“Ada apa?”

“Ada laki-laki mencarimu.”

Darahku seketika terasa dingin.

“Siapa?”

“Katanya Galang.”

Aku duduk tegak.

Komentar memenuhi pandanganku.

Datang!

Adegan pertemuan akhirnya dimulai!

Sebentar lagi Galang melihat Laras!

Aku melompat turun dari ranjang dan langsung berdiri di depan Laras.

“Kamu jangan keluar.”

Laras mengerutkan kening.

“Kenapa?”

“Pokoknya jangan.”

“Dia siapa?”

“Mantan calon pacar.”

“Hah?”

Aku mengambil jaket, mengenakan masker, lalu berlari keluar asrama.

Galang berdiri di dekat gerbang kampus.

Aku langsung mengenalinya dari foto.

Tinggi, kemeja hitam, celana panjang abu-abu, dan jam tangan yang kelihatannya lebih mahal daripada biaya kuliahku empat tahun.

Dia memegang ponsel sambil memandang sekeliling.

Aku mendekatinya.

“Galang?”

Dia menatapku.

“Ya?”

“Aku Wulan.”

Ekspresinya tidak berubah.

Aku menelan ludah.

“Perempuan yang selama ini mengobrol denganmu.”

Tatapannya menjadi tajam.

Beberapa detik kemudian, dia bertanya pelan.

“Laras?”

Aku menggeleng.

“Bukan. Namaku Wulan.”

Aku membuka masker.

“Wajah di foto itu bukan wajahku.”

Dia menatapku cukup lama.

Anehnya, tidak ada kemarahan meledak seperti yang kubayangkan.

Dia hanya berkata, “Aku tahu.”

Aku terpaku.

“Apa?”

“Aku sudah tahu.”

“Sejak kapan?”

“Hampir tiga bulan lalu.”

Kepalaku mendadak kosong.

Galang mengeluarkan ponselnya dan membuka sebuah foto.

Itu foto yang pernah kukirim kepadanya. Laras sedang duduk di kafe sambil memegang cangkir kopi.

Kemudian dia menunjukkan foto lain.

Tangkapan layar akun media sosial Laras.

“Reverse image search,” katanya.

Aku merasa seperti orang paling bodoh di Indonesia.

“Kalau kamu tahu, kenapa masih mengirimiku uang?”

Galang memasukkan ponselnya ke saku.

“Karena orang yang membuatku tertarik bukan wajah di foto itu.”

Aku terdiam.

“Setiap malam aku bicara denganmu. Orang yang mendengarkan keluhanku soal pekerjaan itu kamu. Orang yang mengingatkan aku makan setelah rapat panjang itu kamu. Orang yang mengirim meme jelek jam dua pagi itu juga kamu.”

Dia tersenyum tipis.

“Foto bisa dicuri. Percakapan selama berbulan-bulan lebih sulit dipalsukan.”

Dadaku terasa seperti dihantam sesuatu.

“Tapi aku tetap menipumu.”

“Benar.”

Senyumnya hilang.

“Dan aku tidak datang untuk mengatakan itu tidak masalah.”

Aku menunduk.

“Aku akan mengembalikan semuanya.”

“Aku baca pesanmu.”

“Aku butuh waktu.”

“Berapa lama?”

“Mungkin…”

Aku menghitung dalam kepala.

“Sepuluh tahun?”

Galang tertawa kecil.

Aku menatapnya kesal.

“Jangan tertawa. Aku serius.”

“Aku tahu.”

Dia kemudian menyerahkan sebuah kartu nama.

“Hubungi pengacaraku. Buat perjanjian tertulis. Bayar sesuai kemampuan.”

Aku menerima kartu itu dengan tangan gemetar.

“Lalu… kita selesai?”

“Untuk sekarang.”

Dia berbalik.

Aku spontan memanggilnya.

“Galang.”

Dia menoleh.

“Kenapa kamu datang kalau sudah tahu semuanya?”

Tatapannya bergerak melewatiku.

Aku mengikuti arah pandangnya.

Laras berdiri tidak jauh dari sana.

Rupanya dia tetap keluar.

Jantungku hampir berhenti.

Inilah adegannya.

Galang melihat Laras.

Pemeran utama pria bertemu pemeran utama wanita.

Menurut komentar-komentar itu, seharusnya cinta pada pandangan pertama terjadi sekarang.

Namun Galang hanya melihat Laras dua detik, lalu kembali menatapku.

“Aku cuma ingin memastikan satu hal.”

“Apa?”

“Bahwa kamu benar-benar mau berhenti berbohong.”

Setelah mengatakan itu, dia pergi.

Aku berdiri membeku.

Komentar di depanku mendadak kacau.

Kenapa Galang tidak tertarik pada Laras?

Ini tidak sesuai novel!

Ada yang salah dengan alur ceritanya.

Laras berjalan mendekat.

“Itu salah satu dari tiga laki-laki yang kamu tawarkan semalam?”

Aku ingin menyangkal, tetapi akhirnya hanya mengangguk.

“Ya.”

“Kenapa dia memanggilku Laras?”

Aku memejamkan mata.

Tidak ada jalan keluar lagi.

Sore itu, aku menceritakan semuanya.

Tentang foto-fotonya.

Tentang tiga laki-laki.

Tentang uang.

Aku tidak menceritakan komentar misterius atau fakta bahwa kami mungkin hidup di dalam novel. Bagian itu terlalu gila bahkan untukku.

Setelah mendengar semuanya, Laras tidak bicara hampir lima menit.

Kemudian dia berdiri.

Aku buru-buru menunduk.

“Kalau kamu mau menamparku, silakan.”

Plak.

Pipiku langsung panas.

Aku menatapnya dengan mata berkaca-kaca.

“Kamu benar-benar menampar?”

“Kamu sendiri yang bilang silakan.”

Aku tidak bisa membantah.

Laras menarik napas panjang.

“Aku marah bukan karena kamu memakai fotoku supaya kelihatan cantik.”

Dia menatapku lurus-lurus.

“Aku marah karena kamu mengambil identitasku tanpa izin. Kamu membuat tiga orang percaya aku mengatakan sesuatu yang tidak pernah kukatakan. Kalau salah satu dari mereka orang berbahaya, siapa yang pertama kali mereka cari?”

Aku membeku.

Dia benar.

Aku selama ini hanya memikirkan uang.

Bahkan setelah melihat komentar tentang kematianku, hal pertama yang kupikirkan adalah bagaimana menyelamatkan diriku.

Aku tidak pernah memikirkan bahwa Laras juga bisa menjadi korban.

“Maaf.”

Kali ini aku benar-benar tidak punya pembelaan.

“Aku akan hapus semua fotomu. Aku juga akan memberi tahu mereka bahwa kamu sama sekali tidak terlibat.”

Laras menatapku beberapa saat, lalu duduk kembali.

“Kalau begitu lakukan.”

Hari itu juga aku menghubungi Aditya dan Bima.

Bima membalas lebih dulu.

Dia marah.

Sangat marah.

Dia menelepon dan memarahiku hampir dua puluh menit.

“Aku bisa melaporkanmu, Wulan.”

“Aku tahu.”

“Kamu tahu berapa banyak uang yang kuberikan?”

“Aku sudah mencatat semuanya.”

“Aku tidak peduli uangnya!”

Aku terdiam.

Suara Bima di ujung telepon berubah serak.

“Aku bercerita tentang ibuku kepadamu. Tentang perceraian orang tuaku. Tentang hal-hal yang bahkan tidak pernah kuceritakan kepada teman dekatku.”

Rasa bersalah menusuk jauh lebih sakit daripada ancaman apa pun.

“Aku minta maaf.”

“Aku butuh waktu.”

“Aku mengerti.”

Dia menutup telepon.

Aditya tidak membalas sama sekali.

Satu hari.

Dua hari.

Tiga hari.

Pada hari keempat, aku menerima sebuah alamat dan satu kalimat.

“Datang Sabtu, pukul empat sore. Kita selesaikan.”

Komentar-komentar kembali muncul.

Jangan pergi!

Itu awal adegan kapal!

Aditya paling berbahaya!

Aku menatap alamat tersebut.

Pelabuhan Sunda Kelapa.

Tanganku langsung dingin.

Jadi benar.

Aku akan dilempar ke laut.

Sabtu sore, aku tetap pergi.

Namun aku tidak sebodoh versi asli novel.

Aku mengirim lokasi langsung kepada Laras dan Galang. Aku juga memberi tahu satpam asrama ke mana aku pergi. Semua bukti percakapan sudah kusimpan di cloud.

Kalau aku mati, setidaknya orang tahu siapa yang harus dicari.

Aditya menungguku di dekat sebuah kapal wisata kecil.

Dia lebih tinggi daripada di foto. Wajahnya tenang, nyaris dingin.

“Kamu Wulan?”

“Ya.”

Dia memandang wajahku.

Tidak ada keterkejutan.

“Ayo.”

“Ke mana?”

“Naik.”

Aku menelan ludah.

Komentar di depanku seperti sedang pesta.

Ini dia!

Adegan legendaris!

Sebentar lagi dia dilempar!

Aku berdiri tegak.

“Kalau kamu mau membunuhku, aku sudah mengirim lokasi ke beberapa orang.”

Aditya berhenti.

Kemudian dia menatapku seperti aku baru saja mengatakan sesuatu yang sangat bodoh.

“Membunuhmu?”

“Kita berada di pelabuhan.”

“Lalu?”

“Ada kapal.”

“Memangnya kapal biasanya ada di mana? Sawah?”

Aku terdiam.

Aditya memijat pelipis.

“Naik. Ada orang yang ingin bertemu denganmu.”

Dengan kaki gemetar, aku mengikuti.

Di dalam kabin kapal ternyata sudah ada dua orang.

Galang.

Dan Bima.

Aku berhenti di pintu.

“Kalian…”

Bima mendengus.

“Jangan geer. Aku masih marah.”

Aditya meletakkan sebuah map di meja.

“Kami bertiga saling kenal.”

Aku hampir tersedak.

“Apa?”

“Kami partner dalam satu perusahaan investasi,” kata Galang.

“Sejak kapan?”

“Jauh sebelum mengenalmu.”

Kakiku lemas.

Aditya membuka map.

Di dalamnya ada cetakan percakapan, transfer, bukti pengiriman barang, dan beberapa foto Laras.

“Kami tahu ada yang aneh sejak bulan kedua.”

“Kenapa kalian terus mengirim uang?”

Bima menjawab, “Awalnya kami ingin tahu tujuanmu.”

Aditya melanjutkan, “Kemudian kami sadar kamu tidak pernah meminta uang.”

Aku terdiam.

Memang benar.

Aku tidak pernah meminta.

Mereka yang selalu menawarkan.

“Tapi aku tetap menerimanya.”

“Benar,” kata Aditya. “Dan itu tetap salah.”

Dia mendorong dokumen ke arahku.

“Kami sudah menghitung semuanya. Barang yang masih ada bisa kamu kembalikan atau jual. Untuk uang yang sudah habis, kita buat skema pembayaran.”

Aku membaca dokumen itu.

Tidak ada ancaman.

Tidak ada tuntutan aneh.

Tidak ada kalimat tentang laut.

Hanya perjanjian pembayaran yang bahkan jauh lebih ringan daripada yang kubayangkan.

Aku menatap mereka.

“Kenapa?”

Bima bersandar.

“Karena kami ingin uang kami kembali, bukan mayatmu.”

Galang tertawa.

Aku tidak.

Komentar-komentar di depan mataku mendadak bermunculan sangat cepat.

Tidak mungkin.

Seharusnya Wulan mencoba mencelakai Laras sebelum adegan ini.

Karena dia tidak melakukannya, motif ketiga pemeran utama berubah.

Alur utama sudah rusak.

Tunggu, kalau begitu siapa yang akan jatuh ke laut?

Aku membaca kalimat terakhir dua kali.

Kemudian terdengar teriakan dari luar.

Seseorang jatuh!

Kami berempat berlari ke dek.

Seorang kru kapal menunjuk ke permukaan air.

Tanpa berpikir panjang, Aditya dan kru kapal melempar pelampung. Beberapa orang membantu menarik seseorang yang tercebur.

Beberapa menit kemudian, orang itu berhasil dinaikkan.

Seorang pria paruh baya.

Dia batuk-batuk sambil memeluk pelampung.

Komentar di depan mataku mendadak berhenti.

Lalu muncul satu kalimat.

Eh, salah orang.

Aku menatapnya.

Lama.

Kemudian untuk pertama kalinya sejak komentar-komentar itu muncul, aku tertawa.

Bukan karena pria itu jatuh.

Aku tertawa karena akhirnya memahami sesuatu.

Mungkin dunia ini memang sebuah novel.

Mungkin hidupku sudah dituliskan sebagai tokoh antagonis.

Mungkin ada akhir buruk yang menungguku jika aku terus berjalan di jalur yang sama.

Namun mengetahui akhir cerita bukanlah hal yang menyelamatkanku.

Keputusan untuk berhenti sebelum menjadi lebih buruklah yang melakukannya.

Enam bulan kemudian, hidupku berubah total.

Aku menjual hampir semua barang mahal. Aku mengambil pekerjaan paruh waktu sebagai penerjemah konten, mengajar privat, dan bekerja di sebuah agensi digital pada akhir pekan.

Utangku masih sangat banyak.

Namun setiap bulan aku membayar sesuai perjanjian.

Bima akhirnya mulai membalas pesanku lagi, meskipun hampir selalu hanya dengan kalimat pendek.

Galang kadang mengirim meme.

Tanpa transfer.

Syukurlah.

Aditya tetap paling formal. Setiap menerima pembayaran, dia hanya membalas, “Sudah diterima.”

Sementara Laras masih menjadi teman sekamarku.

Suatu malam, ketika kami sedang makan mi instan karena aku sedang berhemat, dia tiba-tiba bertanya, “Kalau waktu itu aku menerima salah satu dari tiga laki-laki itu, kamu mau kasih yang mana?”

Aku berpikir sebentar.

“Galang.”

“Kenapa?”

“Paling sabar.”

Laras mengangguk.

“Lalu kenapa sekarang dia sering mengirim meme ke kamu?”

Aku tersedak mi.

Dia menyipitkan mata.

“Wulan.”

“Bukan apa-apa.”

Ponselku bergetar.

Pesan dari Galang.

“Aku ada di bawah asrama. Kali ini aku tidak bawa hadiah. Cuma dua gelas es kopi. Mau turun?”

Aku menatap layar.

Lalu komentar terakhir muncul di depan mataku.

Tunggu.

Kenapa pemeran utama pria malah mengejar tokoh antagonis?

Penulisnya sedang apa?

Aku tersenyum.

Untuk pertama kalinya, aku tidak peduli.

Aku mengetik balasan.

“Tunggu lima menit.”

Kemudian aku mengambil jaket.

Laras menatapku penuh arti.

Aku membuka pintu dan berhenti sebentar.

“Ras.”

“Hm?”

“Foto profilku yang baru bagus nggak?”

Dia melihat layar ponselku.

Itu foto wajahku sendiri.

Tanpa filter berlebihan.

Tanpa mengambil wajah siapa pun.

Hanya aku.

Laras tersenyum.

“Bagus.”

Aku mengangguk.

“Menurutku juga.”

Aku keluar dari kamar sambil menutup pintu perlahan.

Utangku belum lunas.

Kesalahanku tidak hilang hanya karena aku menyesal.

Dan mungkin butuh bertahun-tahun sebelum aku benar-benar bisa memperbaiki semuanya.

Namun malam itu, saat berjalan menuruni tangga untuk menemui seseorang dengan wajahku sendiri, namaku sendiri, dan kehidupan yang tidak lagi kupinjam dari orang lain, aku akhirnya merasa bebas.

Ternyata akhir cerita tidak pernah benar-benar ditentukan oleh siapa yang disebut pemeran utama atau antagonis.

Kadang, satu-satunya hal yang perlu dilakukan seseorang untuk mengubah takdir adalah berhenti berbohong sebelum kebohongan itu menjadi dirinya sendiri.

Để lại một bình luận

Email của bạn sẽ không được hiển thị công khai. Các trường bắt buộc được đánh dấu *

Lên đầu trang