
Aku menatap layar laptop tanpa berkedip. Perempuan dalam rekaman itu benar-benar ibuku, Ratna Maharani.
Perempuan yang selalu mengingatkanku agar berhati-hati memilih pasangan. Perempuan yang menangis bahagia ketika Reza melamarku enam bulan lalu.
Mengapa sekarang dia terlihat menyelinap ke ruang penyimpanan bersama calon suamiku?
“Ini pasti salah paham,” bisikku.
Sinta menggenggam lenganku.
“Nadine, kita harus mencari tahu apa yang mereka lakukan di ruangan itu.”
Aku langsung menelepon Ibu.
Panggilan pertama tidak dijawab. Panggilan kedua ditolak.
Beberapa detik kemudian, sebuah pesan masuk.
“Nak, Ibu sedang sibuk. Jangan cari Ibu dulu.”
Dadaku terasa semakin sesak.
Aku menunjukkan pesan itu kepada Sinta.
“Sejak kapan Ibu menyembunyikan sesuatu dariku?”
Sinta tidak menjawab. Dia justru menelepon Dimas dan meminta salinan rekaman lengkap.
Sepuluh menit kemudian, kami melihat kelanjutan video tersebut.
Reza dan Ibu keluar dari ruang penyimpanan sambil membawa koper hitam berukuran sedang.
Reza terlihat marah. Dia menarik koper itu, sementara Ibu berusaha merebutnya.
Tidak ada suara dalam rekaman, tetapi gerakan bibir Ibu terlihat jelas ketika dia berteriak.
Aku memperbesar video.
“Ibu seperti mengatakan sesuatu tentang surat,” gumamku.
Sinta mengangguk.
“Dan lihat tangan Reza.”
Di tangan kiri Reza terdapat sebuah map merah.
Aku mengenalinya.
Map itu biasa digunakan Ibu untuk menyimpan sertifikat rumah, akta keluarga, dan dokumen penting peninggalan Ayah.
Aku langsung berdiri.
“Kita harus menemui Ibu sekarang.”
Namun, ketika kami tiba di rumahnya, pagar terkunci.
Lampu ruang tamu menyala, tetapi tidak ada jawaban meskipun aku berkali-kali mengetuk pintu.
Tetangga sebelah mengatakan Ibu pergi bersama seorang pria sekitar satu jam sebelumnya.
“Pria muda yang sering datang itu, Mbak. Calon suami Mbak, ya?”
Aku merasa seluruh tubuhku dingin.
Sinta segera menghubungi Dimas.
“Mas, bisa bantu periksa apakah mobil Reza masih di hotel?”
Beberapa menit kemudian, Dimas menelepon kembali.
“Mobilnya sudah keluar. Tapi saya menemukan sesuatu di ruang penyimpanan.”
“Apa?” tanyaku.
“Potongan dokumen yang dibuang ke tempat sampah. Ada nama almarhum ayah Mbak Nadine.”
Aku langsung meminta Dimas menyimpan dokumen tersebut.
Kami kembali ke hotel dan menemuinya di ruang administrasi.
Dimas tampak jauh lebih lelah daripada kemarin.
Begitu melihatku, dia menunduk.
“Maaf, Mbak. Seharusnya sejak awal saya menjelaskan semuanya.”
“Kenapa kamu tidak melakukannya?”
“Karena Reza mengancam akan melaporkan saya atas penggelapan uang dekorasi. Dia punya dokumen palsu yang seolah-olah menunjukkan saya menerima seluruh pembayaran.”
Aku menarik napas panjang.
“Sekarang aku tahu kamu tidak bersalah. Tapi aku perlu menemukan ibuku.”
Dimas menyerahkan beberapa lembar kertas.
Salah satunya merupakan salinan surat kuasa pengurusan dokumen rumah.
Nama pemberi kuasa tertulis Ratna Maharani.
Nama penerima kuasa adalah Reza Pratama.
Namun, ada sesuatu yang membuatku terdiam.
Tanggal surat tersebut tercatat dua bulan sebelum pertunangan kami.
Aku menatap Dimas.
“Reza sudah mengurus rumah Ibu bahkan sebelum kami bertunangan?”
Dimas mengangguk pelan.
“Saya juga menemukan bukti bahwa PT Arunika Kreasi Bersama memiliki hubungan dengan perusahaan milik kakak Reza.”
Sinta membuka laptop dan menunjukkan data perusahaan yang berhasil dikumpulkannya.
Direktur PT Arunika Kreasi Bersama adalah Bagas Pratama, kakak kandung Reza.
Aku hampir tidak pernah bertemu Bagas. Reza selalu mengatakan kakaknya tinggal di Surabaya dan jarang pulang.
Namun, berdasarkan dokumen yang kami temukan, perusahaan itu justru beralamat di Yogyakarta.
“Jadi uang pernikahanku masuk ke perusahaan keluarganya sendiri,” kataku.
Dimas mengangguk.
“Dan sebagian uang tersebut diduga digunakan untuk membayar kewajiban usaha yang sudah jatuh tempo.”
Aku menutup wajah dengan kedua tangan.
Selama empat tahun berpacaran, Reza selalu terlihat bertanggung jawab. Dia rajin bekerja, perhatian kepada Ibu, bahkan sering membantuku mengurus keperluan keluarga.
Aku tidak pernah membayangkan bahwa semua perhatian itu mungkin memiliki tujuan lain.
Pukul sembilan malam, ponselku akhirnya berdering.
Ibu.
Aku langsung mengangkatnya.
“Bu, Ibu di mana?”
“Nadine, dengarkan Ibu baik-baik.”
Suaranya terdengar gemetar.
“Jangan menikah dengan Reza.”
Air mataku langsung mengalir.
“Kenapa, Bu? Apa yang sebenarnya terjadi?”
“Ibu sudah melakukan kesalahan besar.”
Aku memejamkan mata.
“Kesalahan apa?”
“Ibu percaya kepadanya.”
Terdengar suara pintu ditutup di ujung telepon.
Kemudian Ibu melanjutkan dengan suara lebih pelan.
“Enam bulan lalu, Reza datang membawa proposal investasi. Dia bilang ingin membantu mengembangkan usaha keluarga sebelum kalian menikah.”
Aku terdiam.
“Ibu menyerahkan sejumlah uang tabungan. Awalnya semua terlihat baik. Tapi kemudian dia mengatakan investasi itu bermasalah dan meminta Ibu menandatangani beberapa dokumen agar kerugiannya bisa diselesaikan.”
“Termasuk surat kuasa rumah?”
Ibu menangis.
“Iya, Nak.”
Dadaku terasa seperti diremas.
“Kenapa Ibu tidak memberitahuku?”
“Karena Ibu malu. Ibu takut kamu menganggap Ibu terlalu mudah ditipu.”
Aku menggigit bibir.
“Lalu kenapa Ibu datang ke hotel bersama Reza tadi malam?”
“Ibu ingin mengambil kembali dokumen asli yang dia simpan. Dia berjanji akan mengembalikannya kalau Ibu mau membujukmu tetap menikah.”
Aku membeku.
“Jadi Reza mengancam Ibu?”
“Dia bilang kalau pernikahan dibatalkan, semua kerugian perusahaan akan dibebankan kepada keluarga kita.”
Aku segera menanyakan lokasi Ibu.
Ternyata dia berada di rumah bibiku di Bantul.
Aku meminta Ibu tetap di sana dan tidak menemui Reza lagi.
Setelah panggilan berakhir, aku menatap Sinta dan Dimas.
“Pernikahan ini batal.”
Sinta langsung memelukku.
Namun, aku menggeleng.
“Aku tidak akan membatalkannya diam-diam. Aku ingin semua orang tahu alasan sebenarnya.”
Dimas tampak khawatir.
“Mbak, jangan bertindak gegabah. Kita masih perlu memastikan dokumen mana yang asli dan mana yang palsu.”
Aku mengangguk.
Malam itu, kami menghubungi seorang pengacara yang direkomendasikan Sinta.
Namanya Maya Kusumawardani.
Setelah memeriksa dokumen awal, Maya menjelaskan bahwa surat kuasa tidak otomatis menjadikan rumah Ibu sebagai jaminan pinjaman. Keabsahan tanda tangan, persetujuan pemilik, serta dokumen yang digunakan lembaga pembiayaan harus diperiksa.
“Yang paling penting sekarang,” katanya, “jangan menandatangani apa pun lagi dan segera amankan dokumen asli yang masih dimiliki keluarga.”
Keesokan paginya, aku menemui Ibu bersama Maya.
Begitu melihatku, Ibu langsung menangis.
“Maafkan Ibu, Nadine.”
Aku memeluknya erat.
“Kenapa Ibu menanggung semuanya sendirian?”
“Ibu cuma ingin melihatmu bahagia.”
“Tapi kebahagiaanku tidak mungkin dibangun di atas kebohongan, Bu.”
Ibu kemudian menyerahkan salinan percakapan dengan Reza, bukti transfer investasi, dan beberapa dokumen yang sempat berhasil diambilnya dari koper hitam.
Di antara dokumen tersebut terdapat sebuah perjanjian pinjaman yang belum pernah kulihat.
Jumlahnya Rp1,8 miliar.
Namun, yang membuat kami terkejut bukan hanya nilainya.
Pada halaman terakhir terdapat tanda tangan Ibu dan tanda tangan seorang saksi.
Saksi tersebut bernama Bagas Pratama.
Kakak Reza sendiri.
Maya segera memeriksa dokumen itu.
“Bu Ratna, apakah Ibu pernah menandatangani perjanjian pinjaman ini?”
Ibu menggeleng.
“Saya hanya menandatangani formulir investasi. Tidak pernah ada perjanjian sebesar itu.”
Maya mencatat keterangannya.
“Kita perlu meminta pemeriksaan keaslian dokumen. Jangan langsung menganggap semua tanda tangan ini sah.”
Sore harinya, Reza datang ke rumah bibiku.
Dia tampak marah ketika melihatku duduk bersama pengacara.
“Nadine, apa-apaan ini?”
Aku berdiri.
“Aku sudah tahu soal uang pernikahan, perusahaan kakakmu, dan dokumen rumah Ibu.”
Reza terdiam.
Namun, hanya beberapa detik.
Kemudian dia tersenyum.
“Kamu salah paham. Semua itu cuma urusan bisnis.”
“Kalau begitu, kenapa kamu menggunakan invoice palsu?”
“Nadine, jangan mempermalukan aku.”
Aku menatapnya tajam.
“Yang mempermalukanmu adalah perbuatanmu sendiri.”
Reza mendekat.
“Tiga hari lagi kita menikah. Semua keluarga sudah diundang. Kamu mau membatalkan semuanya?”
“Iya.”
Wajahnya langsung berubah.
“Kamu tidak bisa begitu saja!”
“Bisa. Dan aku sudah melakukannya.”
Aku menunjukkan surat pembatalan acara yang telah dikirim kepada pihak hotel.
Reza mengepalkan tangan.
“Kalau kamu membatalkan pernikahan, jangan salahkan aku kalau rumah ibumu bermasalah!”
Maya segera berdiri.
“Pak Reza, saya kuasa hukum keluarga ini. Semua persoalan dokumen akan diselesaikan melalui jalur hukum. Jika Bapak memiliki tuntutan, silakan sampaikan secara resmi.”
Reza menatap kami bergantian.
Untuk pertama kalinya, dia tidak memiliki jawaban.
Dia pergi sambil membanting pintu.
Dua minggu berikutnya menjadi masa paling melelahkan dalam hidupku.
Aku harus menjelaskan pembatalan pernikahan kepada keluarga besar, mengurus pembayaran vendor, dan memberikan keterangan terkait dugaan pemalsuan dokumen.
Sebagian kerabat menyalahkanku.
Ada yang mengatakan aku terlalu emosional.
Ada pula yang menyarankan agar aku tetap menikah demi menjaga nama baik keluarga.
Namun, setiap kali mendengar komentar itu, aku hanya mengingat satu hal.
Kalau aku tetap menikah dengan Reza, aku akan menghabiskan hidup bersama seseorang yang menggunakan kepercayaanku untuk mengambil uang dan mengancam ibuku.
Aku tidak mau.
Pemeriksaan terhadap transaksi PT Arunika Kreasi Bersama kemudian menemukan sejumlah pembayaran yang tidak sesuai dengan invoice vendor.
Dimas menyerahkan kontrak dekorasi asli dan seluruh bukti penerimaan dana.
Sinta memberikan rekaman serta percakapan yang diperolehnya selama mengumpulkan bukti.
Sementara itu, Maya membantu keluarga kami melaporkan dugaan pemalsuan dokumen dan penyalahgunaan dana kepada pihak berwenang.
Beberapa bulan kemudian, hasil pemeriksaan dokumen menunjukkan adanya tanda tangan yang tidak sesuai dengan contoh asli milik Ibu.
Lembaga pembiayaan juga menyatakan bahwa pengajuan pinjaman tersebut belum pernah disetujui dan tidak ada pencairan dana Rp1,8 miliar.
Rumah Ibu tidak pernah sah dijadikan jaminan atas pinjaman tersebut.
Aku menangis ketika mendengar kabar itu.
Bukan karena semua masalah sudah selesai, melainkan karena setidaknya kami tidak akan kehilangan rumah peninggalan Ayah.
Proses hukum terhadap pihak-pihak yang diduga terlibat masih berjalan.
Sebagian dana pernikahan berhasil dikembalikan melalui penyelesaian dengan vendor dan penelusuran transaksi. Sisanya masih menjadi bagian dari tuntutan pengembalian kerugian.
Aku tidak pernah lagi menghubungi Reza.
Enam bulan setelah pembatalan pernikahan, aku kembali ke hotel tempat semuanya bermula.
Bukan untuk menikah.
Melainkan menghadiri pameran kain tenun lokal yang diselenggarakan oleh komunitas pengrajin Yogyakarta.
Dimas menjadi salah satu penyelenggara dekorasinya.
Ketika melihatku, dia tersenyum.
“Mbak Nadine, akhirnya kita bertemu lagi di ballroom ini.”
Aku tertawa kecil.
“Untung kali ini tidak ada invoice palsu.”
Dimas ikut tertawa.
Kemudian dia mengajakku melihat sebuah instalasi kain tenun sutra berwarna gading.
Kainnya indah sekali.
Aku menyentuh permukaannya perlahan.
“Ini kain yang dulu kupesan?”
Dimas mengangguk.
“Sebagian. Pemasok menyimpannya setelah pesanan dibatalkan. Sekarang kain itu dipinjamkan untuk pameran.”
Aku terdiam cukup lama.
Dulu, aku membayangkan kain tersebut akan menjadi latar ketika mengucapkan janji pernikahan kepada Reza.
Sekarang, kain yang sama justru menjadi bagian dari acara yang memperkenalkan karya para pengrajin kepada masyarakat.
Sinta datang menghampiriku sambil membawa dua gelas minuman.
“Kamu menyesal?” tanyanya.
Aku menatapnya.
“Menyesal karena tidak jadi menikah?”
Sinta mengangguk.
Aku tersenyum pelan.
“Aku menyesal karena terlalu lama mengabaikan tanda-tanda yang sebenarnya sudah ada.”
“Lalu sekarang?”
“Sekarang aku bersyukur semuanya terbongkar sebelum terlambat.”
Malam itu, ketika pulang, aku menemukan Ibu sedang duduk di teras rumah sambil menyiram tanaman.
Aku duduk di sampingnya.
“Nadine,” panggilnya pelan.
“Iya, Bu?”
“Ibu masih merasa bersalah.”
Aku menggenggam tangannya.
“Kita sama-sama pernah salah percaya orang, Bu.”
Ibu menunduk.
“Tapi gara-gara Ibu, pernikahanmu batal.”
Aku menggeleng.
“Pernikahanku batal karena Reza berbohong. Bukan karena Ibu.”
Air mata kembali mengalir di pipinya.
Aku menyandarkan kepala di bahunya.
“Kalau suatu hari aku menikah, aku ingin menikah dengan orang yang tidak membuat kita takut kehilangan rumah hanya karena berani mengatakan kebenaran.”
Ibu memelukku erat.
Beberapa saat kemudian, dia masuk ke kamar dan kembali membawa sebuah kotak kayu kecil.
“Ini peninggalan ayahmu. Ibu baru menemukannya waktu membereskan lemari.”
Aku membuka kotak tersebut.
Di dalamnya terdapat sebuah surat dan foto lama keluargaku.
Tulisan tangan Ayah masih terlihat jelas.
Untuk Nadine, kalau suatu hari kamu membaca surat ini, mungkin Ayah sudah tidak bisa lagi menemanimu mengambil keputusan besar.
Ayah tidak tahu siapa yang kelak akan menjadi pasanganmu. Tetapi Ayah berharap kamu memilih seseorang yang menghargai dirimu, bukan hanya apa yang kamu miliki.
Jangan takut membatalkan sesuatu yang sudah kamu rencanakan lama jika ternyata jalan itu akan menyakitimu.
Kehilangan sebuah rencana tidak sama dengan kehilangan masa depan.
Aku menangis sambil memeluk surat itu.
Ibu mengusap punggungku.
“Ayahmu menulisnya waktu kamu masih kuliah.”
Aku membaca kalimat terakhir dengan mata berkaca-kaca.
Rumah bisa dibangun kembali. Uang bisa dicari lagi. Tetapi jangan pernah menyerahkan harga dirimu kepada orang yang membuatmu merasa tidak berhak mengatakan tidak.
Aku menutup surat tersebut perlahan.
Dulu, aku mengira tiga hari sebelum pernikahan adalah waktu yang terlalu terlambat untuk membatalkan semuanya.
Aku takut mengecewakan keluarga, kehilangan uang, dan menjadi bahan pembicaraan orang.
Namun, ternyata keputusan yang paling menyakitkan justru menyelamatkanku dari kehidupan yang jauh lebih menyakitkan.
Dan setiap kali mengingat kain murah yang menggantikan dekorasi pernikahanku, aku tidak lagi merasa marah.
Karena dari selembar kain yang tidak sesuai pesanan, aku menemukan kebohongan yang selama ini tersembunyi di balik janji cinta.
Aku memang kehilangan calon suami.
Tetapi aku berhasil mempertahankan keluargaku, rumah peninggalan Ayah, dan yang paling penting, hak untuk menentukan masa depanku sendiri.
Kini aku mengerti bahwa pernikahan yang indah tidak ditentukan oleh mahalnya dekorasi, megahnya ballroom, atau banyaknya tamu undangan.
Pernikahan yang layak diperjuangkan harus dimulai dengan kejujuran.
Dan jika kejujuran itu tidak ada, lebih baik berjalan keluar sebelum mengucapkan janji seumur hidup kepada orang yang salah.
