AKU MENANDATANGANI SURAT CERAI SAAT HAMIL ENAM MINGGU. EMPAT TAHUN.

Rania menangis sebelum sempat menjawab pertanyaanku. Tangannya gemetar memegang kotak putih yang seharusnya sudah hilang empat tahun lalu. Aku menatapnya tanpa berkedip, menunggu penjelasan yang mungkin akan menghancurkan seluruh keyakinanku tentang masa lalu.

“Alya, boleh aku masuk? Aku tidak ingin Kirana mendengar semuanya.”

Aku ragu, tetapi akhirnya membiarkannya masuk. Setelah meminta Kirana melanjutkan gambar di kamar sebelah, aku mengajak Rania duduk di dekat jendela.

“Sekarang bicara. Apa hubunganmu dengan surat-surat Arga?”

Rania mengeluarkan beberapa lembar kertas dari tasnya.

“Empat tahun lalu, setelah kamu pindah ke Yogyakarta, Arga mulai mencarimu. Dia datang ke rumah orang tuamu, menghubungi teman-temanmu, bahkan meminta bantuanku mencari alamatmu.”

Aku mengerutkan kening.

“Lalu kenapa Kakak bilang dia sudah menikah dengan Nadine?”

Rania menutup wajahnya.

“Karena Nadine memintaku mengatakan itu.”

Aku merasa dadaku dihantam sesuatu.

“Dan Kakak menurutinya?”

“Aku punya alasan.”

“Alasan apa yang cukup kuat untuk membuatmu membohongi perempuan yang sedang hamil?”

Rania terdiam lama.

Kemudian dia mengeluarkan sebuah foto lama.

Di dalamnya terlihat Arga berdiri bersama Nadine di sebuah ruang pertemuan. Di belakang mereka terdapat papan nama perusahaan keluarga Pradipta.

“Waktu itu perusahaan Ayah hampir bangkrut. Nadine datang membawa tawaran investasi dari keluarganya. Mereka bersedia menyuntikkan modal, tetapi menginginkan kendali atas sebagian besar perusahaan.”

“Apa hubungannya denganku?”

“Nadine ingin Arga kembali kepadanya. Dia mengancam menarik seluruh investasi kalau Arga menolak.”

Aku tertawa pahit.

“Jadi keluargamu mengorbankan pernikahanku demi perusahaan?”

Rania mengangguk sambil menangis.

“Ayah menekan Arga untuk bercerai. Dia mengatakan kamu tidak akan bahagia bersama laki-laki yang selalu berurusan dengan masalah keluarga.”

Aku teringat malam ketika Arga meletakkan dokumen perceraian di meja makan.

Wajahnya dingin, tetapi tangannya sempat gemetar ketika aku menandatangani kertas itu.

Dulu aku menganggapnya sekadar gugup.

Sekarang aku mulai memahami bahwa ada tekanan lain yang tidak kuketahui.

“Tapi Arga tetap memilih menandatangani surat cerai,” kataku. “Tidak ada yang memegang tangannya dan memaksanya.”

Rania mengangguk.

“Benar. Dia tetap bertanggung jawab atas keputusannya. Aku tidak datang untuk membebaskannya dari kesalahan.”

Aku menatap kotak putih di meja.

“Lalu bagaimana benda ini bisa berada padamu?”

Rania membuka tutupnya perlahan.

Sepasang kaus kaki bayi masih tersimpan di dalam, bersama hasil pemeriksaan kehamilanku yang mulai menguning.

“Kamu meninggalkannya di rumahku ketika aku membantumu mengemas barang. Aku menemukannya beberapa hari setelah kamu pergi.”

“Kenapa Kakak tidak memberitahu Arga?”

“Karena saat itu aku sudah berjanji kepada Ayah akan membantu memastikan kalian benar-benar berpisah.”

Aku berdiri begitu cepat hingga kursiku bergeser.

“Jadi Kakak tahu aku hamil, tahu Arga mencariku, tetapi tetap diam?”

“Alya, aku takut!”

“Aku juga takut, Kak! Aku melahirkan sendirian. Aku bekerja sambil menggendong bayi karena tidak punya cukup uang untuk membayar pengasuh. Setiap kali Kirana demam, aku harus mengurus semuanya sendiri!”

Air mataku akhirnya jatuh.

“Dan selama itu Kakak tahu ayahnya sedang mencarinya?”

Rania menangis semakin keras.

“Aku menyesal setiap hari.”

Aku mengusap wajahku.

“Penyesalanmu tidak mengembalikan empat tahun kehidupan anakku.”

Rania menunduk.

“Aku tahu.”

Aku memandangnya lama sebelum bertanya tentang surat-surat Arga.

Ternyata Rania pernah memberikan alamat sementara milikku kepada Arga. Namun, dia kemudian menghubungi pengelola rumah kontrakan tempatku tinggal dan mengatakan bahwa semua surat atas nama Arga harus dikembalikan.

Dia mengaku melakukannya karena takut Arga mengetahui kehamilanku.

“Kenapa sampai sejauh itu?” tanyaku.

Rania menggigit bibir.

“Karena Ayah berjanji akan membantuku melunasi utang usaha suamiku kalau aku memastikan kalian tidak kembali bersama.”

Aku membeku.

Jadi semuanya memiliki harga.

Pernikahanku.

Kepercayaanku.

Bahkan kesempatan Kirana mengenal ayahnya.

Aku menatap Rania dengan perasaan yang sulit dijelaskan.

“Kakak menjual kepercayaanku demi uang?”

Rania tidak membantah.

Dan diamnya merupakan jawaban paling jelas.

Aku membuka pintu kamar dan memanggil Kirana.

“Sayang, Mama mau bicara sebentar dengan Tante. Kirana bisa menonton kartun dulu?”

Putriku mengangguk.

Ketika kembali, aku berkata kepada Rania, “Aku ingin Kakak pergi.”

“Alya…”

“Sekarang.”

Rania berdiri dengan wajah hancur.

Sebelum keluar, dia menyerahkan sebuah map.

“Di dalamnya ada salinan percakapan Nadine dengan Ayah. Aku menyimpannya selama ini karena takut suatu hari mereka menyalahkanku sendirian.”

Aku menerima map tersebut tanpa mengatakan apa-apa.

Setelah Rania pergi, aku mengunci pintu.

Malam itu, setelah Kirana tertidur, aku membaca seluruh dokumen.

Ada pesan tentang investasi perusahaan, perceraian, dan instruksi agar alamat baruku tidak diberikan kepada Arga.

Namun, satu percakapan membuatku berhenti bernapas.

Nadine pernah menulis kepada ayah Arga bahwa dia tidak akan menikahi Arga sebelum memastikan aku benar-benar meninggalkan Jakarta.

Balasan ayah Arga hanya satu kalimat.

Urusan Alya sudah selesai. Pastikan Arga tidak mengetahui kehamilannya.

Aku menutup laptop.

Selama empat tahun, aku menganggap Arga tidak pernah ingin menjadi ayah.

Sekarang aku mengetahui bahwa dia bahkan tidak pernah diberi kesempatan mengetahui anaknya akan lahir.

Namun, kenyataan itu tidak otomatis menghapus luka yang ditinggalkannya.

Keesokan paginya, Arga datang kembali ke hotel setelah mengirim pesan meminta izin.

Aku menemuinya di ruang tunggu sementara Kirana bersama pengasuh yang disediakan panitia acara.

“Aku sudah bicara dengan Rania,” katanya.

“Aku juga.”

Wajah Arga tampak sangat lelah.

“Apakah Kirana benar-benar anakku?”

Aku mengangguk.

“Iya.”

Dia menutup wajah dengan kedua tangan.

Untuk beberapa saat, bahunya bergetar.

“Aku punya anak perempuan…”

Aku tidak berkata apa-apa.

“Empat tahun,” bisiknya. “Aku kehilangan empat tahun.”

Aku menatapnya.

“Kirana juga kehilangan empat tahun bersama ayahnya.”

Arga mengangkat wajah.

“Aku ingin mengenalnya.”

“Aku tidak akan melarang kalau itu baik untuk Kirana. Tapi semuanya harus dilakukan perlahan.”

Dia langsung mengangguk.

“Apa pun yang kamu minta.”

“Pertama, jangan membuat janji kepada Kirana yang tidak bisa kamu tepati. Kedua, jangan membicarakan konflik kita di hadapannya. Ketiga, aku ingin kita berkonsultasi dengan psikolog anak sebelum menjelaskan hubungan kalian.”

“Aku setuju.”

Aku menarik napas.

“Dan satu hal lagi, Arga. Jangan menganggap semua kebohongan keluargamu berarti kita bisa kembali bersama.”

Wajahnya berubah sedih.

“Aku mengerti.”

Beberapa minggu kemudian, setelah berkonsultasi dengan psikolog anak, aku mulai memperkenalkan Arga kepada Kirana melalui pertemuan singkat.

Pertemuan pertama berlangsung di sebuah taman di Yogyakarta.

Arga datang membawa buku gambar dan pensil warna.

Kirana langsung tertarik.

“Om juga suka menggambar?”

Arga tersenyum gugup.

“Dulu Om suka sekali.”

“Bisa gambar kucing?”

“Om bisa mencoba.”

Mereka duduk di bangku taman sambil menggambar seekor kucing yang bentuknya lebih mirip kelinci.

Kirana tertawa keras.

“Om, ini bukan kucing!”

Arga ikut tertawa.

Aku memperhatikan dari kejauhan.

Untuk pertama kalinya, aku melihat mantan suamiku tidak sedang berusaha terlihat sempurna.

Dia hanya seorang laki-laki yang sedang belajar mengenal anaknya sendiri.

Pertemuan mereka berlangsung semakin rutin.

Setelah Kirana mulai nyaman, kami menjelaskan bahwa Arga adalah ayah kandungnya.

Putriku terdiam cukup lama.

“Jadi Om Arga itu Papa?”

Aku mengangguk.

“Benar, Sayang.”

“Kenapa Papa enggak tinggal sama kita?”

Aku menggenggam tangannya.

“Dulu Mama dan Papa punya masalah yang membuat kami tidak bisa hidup bersama. Tapi itu bukan salah Kirana.”

Dia berpikir beberapa saat.

“Kalau begitu, Papa tetap boleh datang?”

“Boleh, selama semuanya berjalan baik.”

Kirana tersenyum.

“Berarti Kirana punya Mama dan Papa.”

Aku memeluknya erat.

Enam bulan berlalu.

Perusahaanku berkembang, sementara Arga mulai menata ulang kehidupannya.

Dia memutuskan keluar dari bisnis keluarga setelah menemukan sejumlah transaksi yang menurutnya tidak transparan.

Hubungannya dengan Nadine juga telah berakhir sejak dua tahun sebelumnya.

Suatu sore, Arga datang mengantar Kirana setelah mereka mengunjungi toko buku.

Putriku berlari masuk sambil membawa buku gambar baru.

“Mama, lihat! Papa belikan buku!”

Aku tersenyum.

“Sudah bilang terima kasih?”

“Sudah!”

Setelah Kirana masuk, Arga masih berdiri di teras.

“Alya, boleh aku bicara sebentar?”

Aku mengangguk.

Dia menarik napas panjang.

“Aku sudah memberikan keterangan kepada pengacaraku tentang tindakan Ayah dan Rania. Aku tidak ingin mereka mengulangi hal seperti ini kepada siapa pun.”

“Itu keputusan yang baik.”

Arga menatapku.

“Aku juga ingin meminta maaf atas sesuatu yang selama ini belum pernah kukatakan dengan benar.”

Aku menunggu.

“Dulu aku terlalu mudah menyerah pada tekanan keluarga. Seharusnya aku membicarakan semuanya denganmu, bukan langsung meminta perceraian.”

Aku mengangguk perlahan.

“Benar.”

“Aku mencintaimu, Alya. Mungkin aku masih mencintaimu sampai sekarang.”

Dadaku terasa sesak, tetapi bukan karena harapan.

“Arga, perasaanmu tidak bisa mengubah apa yang sudah terjadi.”

“Aku tahu.”

“Kalau kamu benar-benar ingin memperbaiki sesuatu, jadilah ayah yang bisa diandalkan Kirana.”

Dia mengangguk dengan mata berkaca-kaca.

“Aku akan berusaha.”

Setelah Arga pergi, aku masuk ke kamar.

Kirana sedang menggambar di lantai.

“Mama, lihat gambar baru Kirana!”

Aku duduk di sampingnya.

Dalam gambar itu terdapat tiga orang.

Aku.

Kirana.

Dan Arga.

Namun, kami tidak berdiri di dalam satu rumah.

Aku dan Kirana berada di depan rumah berwarna kuning, sementara Arga berdiri di dekat sebuah mobil.

Di antara kami terdapat jalan kecil yang dipenuhi bunga.

“Kenapa Papa ada di sana?” tanyaku.

Kirana menjawab polos.

“Karena Papa tinggal di rumah lain. Tapi kalau Kirana mau ketemu, Papa bisa datang lewat jalan ini.”

Aku merasakan mataku memanas.

“Bagus sekali, Sayang.”

Kirana tersenyum lebar.

“Jadi keluarga kita enggak harus tinggal satu rumah, kan?”

Aku menggeleng.

“Tidak harus.”

Dia kembali menggambar bunga di sepanjang jalan kecil itu.

Aku memandang putriku dengan perasaan hangat yang sulit dijelaskan.

Selama empat tahun, aku selalu takut suatu hari Kirana akan membenciku karena tumbuh tanpa ayah.

Namun, ternyata anakku tidak membutuhkan cerita keluarga yang sempurna.

Dia hanya membutuhkan orang dewasa yang berani mengatakan kebenaran, menjaga janji, dan mencintainya tanpa menjadikannya bagian dari pertengkaran.

Malam itu, ketika Kirana sudah tertidur, aku membuka kembali buku gambarnya.

Pada halaman pertama terdapat gambar lama yang membuat Arga terkejut ketika pertama kali melihatnya.

Gambar seorang laki-laki berkacamata.

Dulu aku tidak mengerti bagaimana Kirana bisa menggambar seseorang yang belum pernah dikenalnya.

Sekarang aku mengetahui jawabannya.

Beberapa bulan sebelum acara penghargaan, Kirana pernah menemukan foto pernikahan lama di sebuah kotak penyimpanan. Aku tidak menyadari bahwa dia menyimpan gambaran wajah Arga dalam ingatannya.

Anak kecil itu tidak pernah menanyakan siapa laki-laki dalam foto tersebut karena takut membuatku sedih.

Aku baru mengetahuinya ketika dia bercerita kepada psikolog anak.

Dan kenyataan itu membuatku memahami sesuatu yang sebelumnya tidak kusadari.

Selama ini, aku mengira sedang melindungi Kirana dengan menyembunyikan masa lalu.

Padahal, tanpa sengaja, aku juga membuatnya merasa ada pertanyaan yang tidak boleh diajukan.

Aku menutup buku gambar itu perlahan.

Keesokan harinya, aku membeli sebuah album foto baru.

Aku memasukkan foto Kirana sejak bayi, foto ulang tahunnya, foto saat pertama kali masuk sekolah, dan beberapa foto terbaru bersama Arga.

Bukan untuk menghapus empat tahun ketika kami hidup berdua.

Melainkan untuk menunjukkan bahwa kehidupan kami terus bertumbuh.

Bahwa masa lalu tidak harus disembunyikan agar masa depan bisa terasa aman.

Setahun kemudian, ketika Kirana berulang tahun kelima, dia meminta satu hadiah yang sangat sederhana.

“Mama, Kirana mau foto sama Mama dan Papa.”

Aku menatap Arga yang berdiri di seberang ruang tamu.

Dia terlihat sama terkejutnya denganku.

Namun, kami akhirnya berdiri di samping Kirana.

Putriku berada di tengah sambil memegang tangan kami berdua.

Ketika kamera berbunyi, Kirana tersenyum paling lebar.

Setelah foto selesai, dia langsung berlari mengambil kuenya.

Aku dan Arga saling memandang sebentar.

“Terima kasih,” katanya pelan.

Aku mengangguk.

“Ini untuk Kirana.”

Dia tersenyum sedih.

“Aku tahu.”

Malam itu, ketika semua tamu pulang, Kirana tertidur sambil memeluk buku gambarnya.

Aku duduk di samping tempat tidurnya dan memandang wajah kecil yang selama lima tahun menjadi alasan terbesarku untuk terus melangkah.

Empat tahun lalu, aku menandatangani surat cerai ketika sedang mengandung enam minggu.

Saat itu aku mengira hidupku telah hancur.

Ternyata aku hanya sedang meninggalkan sebuah kehidupan yang tidak lagi memberiku tempat.

Aku membangun perusahaan.

Membesarkan anak.

Belajar menjadi ibu.

Belajar memaafkan tanpa harus melupakan.

Dan akhirnya belajar bahwa seseorang bisa memberikan kesempatan kedua kepada orang lain tanpa harus menyerahkan kembali seluruh hidupnya.

Aku mengecup kening Kirana.

Di luar jendela, lampu-lampu Yogyakarta bersinar lembut.

Untuk pertama kalinya, aku tidak lagi takut ketika putriku bertanya tentang ayahnya.

Karena kini aku tahu bahwa keluarga bukan tentang mempertahankan sebuah pernikahan dengan segala cara.

Keluarga adalah tentang memastikan seorang anak tumbuh dengan kasih sayang, kejujuran, dan rasa aman.

Dan terkadang, akhir dari sebuah pernikahan bukanlah akhir dari sebuah keluarga.

Melainkan awal dari bentuk keluarga yang lebih jujur.

Để lại một bình luận

Email của bạn sẽ không được hiển thị công khai. Các trường bắt buộc được đánh dấu *

Lên đầu trang