AKU MENGHAPUS NAMA IBU ANGKATKU DARI DAFTAR TAMU PERNIKAHAN KARENA MALU PADA PAKAIANNYA, LALU PETUGAS VENUE MENYERAHKAN KUNCI LOKER ATAS NAMAKU.

Nama Marni Wulandari tercetak jelas di bawah dua kata yang membuat kepalaku seolah dihantam sesuatu.

Ibu kandung.

Aku membaca formulir itu berkali-kali, berharap huruf-hurufnya berubah jika kutatap cukup lama.

Tidak berubah.

Tanganku gemetar hebat.

“Ayah.”

Ayah tidak menjawab.

“Ayah, ini apa?”

Musik dari ballroom masih terdengar sampai ke lorong belakang. Suara MC mengundang para tamu menikmati hidangan penutup, disusul tepuk tangan dan tawa.

Beberapa meter dari tempatku berdiri, pesta pernikahanku berlangsung sempurna.

Sementara hidupku baru saja retak.

“Ayah!”

Ayah memejamkan mata.

Faris memegang bahuku. “Rania, duduk dulu.”

Aku menepis tangannya.

“Jangan suruh aku duduk. Aku mau tahu kenapa Bu Marni menandatangani formulir operasiku sebagai ibu kandung.”

Ayah menatapku lama sebelum akhirnya berkata, “Karena memang dia ibumu.”

Aku tidak langsung menangis.

Aneh sekali.

Aku justru tertawa kecil.

“Jangan bercanda.”

“Ayah tidak bercanda.”

“Kalau Bu Marni ibu kandungku, lalu Ibu siapa?”

Perempuan yang selama dua puluh delapan tahun kupanggil Ibu sudah meninggal empat tahun lalu. Foto besarnya bahkan dipasang di meja memorial dekat pintu ballroom.

Ayah menunduk.

“Ibumu tidak bisa punya anak.”

Kalimat berikutnya keluar perlahan, seperti sesuatu yang telah dikubur terlalu lama.

Dua puluh sembilan tahun lalu, Marni bekerja di rumah kami. Saat itu usianya baru dua puluh satu tahun. Dia datang dari desa di sekitar Wonogiri dan bekerja untuk membantu keluarganya.

Kemudian dia hamil.

Laki-laki yang menghamilinya menghilang setelah mengetahui kehamilan itu.

Pada waktu hampir bersamaan, Ibu baru saja mengalami kegagalan program kehamilan untuk ketiga kalinya.

“Ayah dan ibumu menawarkan bantuan kepada Marni,” kata Ayah.

“Bantuan apa?”

Ayah tidak sanggup menatapku.

“Biaya persalinan, tempat tinggal, semua kebutuhan. Dengan satu syarat.”

Dadaku terasa sesak.

“Aku diberikan kepada kalian?”

Ayah mengangguk.

Aku mundur satu langkah.

“Dibeli?”

“Bukan begitu.”

“Lalu apa?”

“Marni sendiri yang setuju.”

“Karena dia miskin!”

Suaraku menggema di lorong.

Beberapa staf menoleh. Faris meminta mereka pergi.

Aku menatap formulir itu lagi.

“Kenapa dia tetap ada di rumah kita?”

“Itu permintaannya. Dia bilang tidak perlu diakui sebagai ibu. Dia cuma ingin bisa melihatmu tumbuh.”

Tiba-tiba seluruh masa kecilku muncul kembali dalam potongan-potongan kecil.

Bu Marni yang selalu bangun paling pagi saat ulang tahunku.

Bu Marni yang hafal alergiku.

Bu Marni yang menangis paling keras saat aku diterima kuliah.

Bu Marni yang naik bus malam dari Solo ke Bandung hanya karena aku menelepon sambil menangis setelah putus cinta.

Dan aku, tiga hari lalu, bahkan tidak membuka pintu apartemen sepenuhnya untuknya.

Karena kebayanya pudar.

Aku menutup mulut.

“Operasi tujuh tahun lalu itu apa?”

Ayah terdiam lagi.

“Ayah bilang bukan usus buntu.”

“Kamu mengalami pendarahan internal akibat kecelakaan kecil setelah jatuh dari motor.”

“Aku ingat kecelakaannya.”

“Tapi kamu tidak ingat tiga hari setelahnya karena obat penenang.”

Ayah menarik napas panjang.

“Kamu kehilangan banyak darah. Golongan darahmu cukup sulit didapat dalam kondisi darurat. Marni yang pertama datang.”

Aku memandang kuitansi Rp18 juta itu.

“Dia membayar?”

“Bukan cuma itu.”

Ayah mengambil formulir dari tanganku.

“Dia juga donor darah untukmu. Setelah itu ada komplikasi dan dokter membutuhkan persetujuan keluarga untuk tindakan lanjutan. Ibumu sedang di luar negeri menemani nenekmu. Ayah dalam perjalanan dari Jakarta.”

“Jadi Bu Marni menulis ibu kandung?”

“Karena dokter bertanya hubungan biologisnya denganmu.”

Lututku terasa lemas.

Selama ini aku mengira Bu Marni hanyalah seseorang yang terlalu menyayangiku.

Ternyata tubuhku sendiri berasal darinya.

“Tapi kuitansi itu tanggalnya dua minggu lalu.”

Ayah mengangguk.

“Rumah sakit menghubunginya.”

“Kenapa?”

“Ada tunggakan administrasi lama yang ternyata belum selesai karena perpindahan sistem. Marni melunasinya.”

Aku hampir tidak percaya.

“Dari tabungannya?”

Ayah menunjuk buku tabungan.

Saldo Rp427.600.

Aku membuka halaman-halaman sebelumnya.

Tidak ada transaksi besar.

Hanya setoran kecil.

Rp300.000.

Rp500.000.

Rp750.000.

Kadang Rp1.000.000.

Dikumpulkan sedikit demi sedikit selama bertahun-tahun.

Lalu dalam satu hari hampir semuanya lenyap.

Rp46 juta.

Dua puluh delapan juta untuk gaunku.

Delapan belas juta untuk tagihan rumah sakitku.

Aku menatap gaun putih yang kukenakan.

Gaun Rp38,5 juta yang tadi begitu kubanggakan.

Tiba-tiba rasanya berat sekali.

“Kenapa dia membayar gaunku?”

Faris yang sejak tadi diam akhirnya bicara.

“Karena aku yang memberi tahu dia.”

Aku menoleh tajam.

“Apa?”

Faris tampak pucat.

“Bulan lalu aku mengalami masalah arus kas di perusahaan. Pembayaran proyek terlambat. Aku sudah membayar uang muka gaunmu, tapi pelunasannya jatuh tempo lebih cepat.”

“Dan kamu minta uang ke Bu Marni?”

“Tidak.”

Faris cepat-cepat menggeleng.

“Aku cuma cerita. Dia bertanya apa ada sesuatu yang bisa dibantu. Aku bilang tidak.”

“Tapi dia tahu nama vendornya.”

“Aku tidak tahu dari mana.”

Ayah tiba-tiba berkata, “Dari aku.”

Aku menatapnya.

“Ayah cerita karena dia terus bertanya apakah semua kebutuhan pernikahanmu sudah selesai.”

Aku merasa mual.

Perempuan yang kucoret dari daftar tamu justru menjual hampir seluruh tabungannya agar aku bisa memakai gaun yang kupilih.

Aku meraih ponsel.

Nomor Bu Marni kupanggil.

Tidak aktif.

Sekali lagi.

Tetap tidak aktif.

Aku membuka percakapan kami.

Pesan terakhir darinya tiga hari lalu.

Ibu pulang dulu ya. Semoga acaranya lancar. Jangan lupa makan.

Hanya itu.

Tidak ada kemarahan.

Tidak ada tuduhan.

Justru itu yang membuat dadaku semakin sakit.

“Aku mau ke Solo.”

Faris menatapku. “Sekarang?”

“Sekarang.”

“Rania, tamu masih ada.”

Aku menatap pintu ballroom.

Di dalam sana ada hampir tiga ratus orang.

Orang-orang yang ingin kukagumi.

Orang-orang yang bahkan mungkin tidak akan mengingat pernikahanku seminggu lagi.

Sementara satu orang yang mengingat setiap demamku sejak kecil tidak ada di sana karena aku sendiri yang menghapus namanya.

Aku masuk kembali ke ballroom.

Nadia langsung mendekat.

“Rania, kamu dari mana? Kita sebentar lagi sesi foto keluarga.”

Aku mengambil mikrofon dari tangan MC.

Ruangan perlahan sunyi.

Faris berdiri beberapa langkah di belakangku.

Aku memandang ratusan wajah.

“Maaf, acara malam ini harus selesai lebih cepat.”

Terdengar bisik-bisik.

“Ada seseorang yang seharusnya duduk di meja keluarga malam ini. Tapi saya sendiri yang mencoret namanya.”

Ayah menatapku dari kejauhan.

“Aku malu pada pakaiannya. Aku takut dia merusak foto. Aku takut orang-orang bertanya siapa perempuan sederhana yang duduk di barisan depan.”

Tenggorokanku tercekat.

“Ternyata perempuan itu adalah orang yang memberiku hidup.”

Ruangan benar-benar diam.

“Dan beberapa menit lalu, aku baru tahu dia adalah ibu kandungku.”

Aku tidak menjelaskan lebih jauh.

Aku menyerahkan mikrofon.

Faris langsung menghampiriku.

“Aku ikut.”

Kami meninggalkan gedung dengan pakaian pengantin.

Di mobil, aku baru teringat bungkusan yang diberikan Bu Marni.

Kami singgah di apartemen.

Kantong plastik itu masih tergeletak di meja.

Aku membukanya.

Di dalam koran ada sebuah kotak kayu kecil.

Isinya bukan perhiasan.

Hanya sepasang sepatu bayi yang sudah menguning, gelang rumah sakit bertuliskan Bayi Perempuan Marni, dan sebuah foto lama.

Seorang perempuan muda berusia sekitar dua puluh tahun menggendong bayi.

Bu Marni.

Aku.

Di belakang foto ada tulisan.

Untuk Rania, satu-satunya hal yang pernah Ibu lepaskan bukan karena tidak sayang, tetapi karena terlalu sayang.

Aku menangis untuk pertama kalinya malam itu.

Bukan tangis anggun seorang pengantin.

Aku menangis sampai tubuhku membungkuk di lantai.

Faris duduk di sampingku tanpa bicara.

Perjalanan menuju Solo terasa seperti perjalanan terpanjang dalam hidupku.

Kami tiba menjelang pukul tiga pagi.

Rumah kecil Bu Marni gelap.

Aku mengetuk pintu.

Tidak ada jawaban.

Tetangga sebelah keluar.

“Mbak cari Bu Marni?”

“Iya.”

“Beliau tadi sore dibawa ke rumah sakit.”

Darahku seperti berhenti mengalir.

“Kenapa?”

“Pingsan di terminal.”

Aku bahkan tidak mengganti gaun.

Kami langsung menuju rumah sakit.

Di ruang IGD, seorang perawat memandangku aneh ketika melihat pengantin datang tengah malam.

“Marni Wulandari?”

Perawat memeriksa komputer.

“Ruang observasi.”

Aku berlari.

Bu Marni terbaring dengan infus di tangan.

Wajahnya pucat.

Kebaya cokelat yang begitu kutakuti masih tergantung di kursi sebelah ranjang.

Tas kain belanjanya ada di bawahnya.

Aku berhenti di pintu.

Untuk pertama kalinya, aku melihat pakaian itu bukan sebagai sesuatu yang memalukan.

Kebaya itu penuh tambalan kecil di bagian dalam.

Dia bahkan tidak membeli pakaian baru untuk pernikahanku.

Karena uangnya diberikan untuk gaunku.

Bu Marni membuka mata.

Begitu melihatku, dia terkejut.

“Rania?”

Aku mendekat.

“Kenapa Ibu tidak bilang sakit?”

Dia tersenyum lemah.

“Cuma kecapekan.”

Aku duduk di samping ranjang.

“Kenapa Ibu bohong seumur hidup?”

Senyumnya hilang.

Matanya langsung berkaca-kaca.

“Kamu sudah tahu?”

Aku mengangguk.

Bu Marni menoleh ke arah jendela.

“Siapa yang kasih tahu?”

“Locker nomor 27.”

Dia memejamkan mata.

“Itu bukan untuk dibuka malam ini.”

“Lalu kapan?”

“Kalau suatu hari kamu butuh tahu.”

“Aku butuh tahu sejak dulu.”

“Tidak.”

Jawabannya tegas.

“Kamu punya ibu yang sangat menyayangimu. Dia membesarkanmu sebagai anaknya. Ibu tidak mau merebut tempatnya.”

“Tapi Ibu ibu kandungku.”

“Dan dia juga ibumu.”

Aku terdiam.

Tidak ada kecemburuan dalam suara Bu Marni.

Hanya penghormatan kepada perempuan yang telah membesarkanku.

Aku menggenggam tangannya.

“Kenapa Ibu datang ke apartemen kalau tahu aku sudah mencoret nama Ibu?”

Bu Marni tersenyum getir.

“Karena Ibu belum tahu waktu itu.”

Aku membeku.

“Siapa yang bilang?”

“Nadia menelepon setelah Ibu pulang.”

Aku menunduk.

“Kenapa Ibu tetap menitipkan semua dokumen itu?”

“Karena Ibu mau pindah.”

“Ke mana?”

“Balik ke desa.”

“Kenapa?”

Dia tidak langsung menjawab.

Kemudian matanya jatuh pada gaunku.

“Rania, sejak kecil kamu selalu ingin hidup yang bagus. Sekolah bagus. Pekerjaan bagus. Lingkungan bagus. Ibu senang kamu berhasil.”

“Ibu jangan mengalihkan pembicaraan.”

Bu Marni menarik napas.

“Setelah kamu menikah, Ibu pikir tugas Ibu selesai.”

Kalimat itu menghancurkanku.

“Tugas?”

“Iya.”

“Jadi selama ini aku tugas?”

Dia menggeleng.

“Kamu alasan Ibu bertahan hidup.”

Air mataku jatuh.

Aku menempelkan dahiku ke tangannya.

“Maaf.”

Bu Marni membelai rambutku seperti saat aku masih kecil.

“Untuk apa?”

“Untuk kebaya itu.”

Dia tertawa kecil.

“Kenapa dengan kebaya Ibu?”

“Aku malu.”

Tangannya berhenti.

Aku memaksakan diri melanjutkan.

“Aku malu kalau Ibu datang pakai kebaya lama. Aku takut teman-temanku melihat tas kain Ibu. Aku bilang kursinya terbatas padahal masih ada sebelas kursi.”

Air mataku jatuh semakin deras.

“Aku bahkan lega waktu Ibu nggak datang.”

Bu Marni diam lama.

Lalu dia berkata, “Sakit memang.”

Aku mengangkat kepala.

Itulah pertama kalinya dia mengakuinya.

“Tapi mungkin Ibu juga salah.”

“Salah apa?”

“Dari kecil Ibu selalu mengajarkan kamu supaya jangan kekurangan apa pun. Sampai lupa mengajarkan bahwa harga seseorang tidak pernah ada di bajunya.”

Aku menangis semakin keras.

Tiga hari kemudian, kami kembali ke Semarang.

Bukan untuk mengulang resepsi.

Aku hanya mengundang keluarga terdekat ke rumah Ayah.

Bu Marni datang memakai kebaya cokelat yang sama.

Aku sendiri yang menjemputnya.

Saat fotografer meminta foto keluarga, aku menarik Bu Marni berdiri di sebelahku.

Ayah ada di sisi lain.

Di atas meja, kami meletakkan foto mendiang Ibu.

Aku memiliki dua ibu.

Satu memberiku darah dan tubuh.

Satu memberiku nama dan rumah.

Dan keduanya ternyata saling mengetahui keberadaan satu sama lain.

Namun masih ada satu rahasia terakhir.

Setelah sesi foto selesai, Ayah memberikan sebuah amplop yang selama ini disimpan mendiang Ibu.

Surat itu ditujukan kepadaku.

Rania, kalau suatu hari kamu mengetahui semuanya, jangan marah kepada Marni.

Akulah yang meminta dia tetap tinggal di rumah kita.

Awalnya aku takut dia akan mengambilmu kembali.

Tapi setelah melihat bagaimana dia menjagamu saat sakit, aku sadar aku justru sedang meminta seorang ibu menyaksikan anaknya memanggil perempuan lain sebagai Ibu setiap hari.

Aku pernah menawarkan uang agar dia pergi.

Dia menolak.

Dia hanya meminta satu hal.

Biarkan aku dekat dengan Rania sampai dia tidak membutuhkan aku lagi.

Tanganku gemetar membaca kalimat terakhir.

Kalau hari itu datang, tolong katakan kepadanya bahwa aku berutang satu kehidupan kepadanya.

Aku menurunkan surat.

Bu Marni sedang duduk di teras, masih membawa tas kainnya.

Aku berjalan menghampirinya.

Lalu untuk pertama kalinya dalam hidupku, tanpa embel-embel Ibu Kedua, tanpa menyembunyikan hubungan kami dari siapa pun, aku memanggilnya.

“Ibu.”

Bu Marni menoleh.

Matanya langsung merah.

Aku duduk di sebelahnya dan menggenggam tangannya.

“Jangan pulang ke desa sendirian.”

Dia mencoba tersenyum.

“Terus Ibu harus ke mana?”

Aku meletakkan kepalaku di bahunya.

“Pulang sama aku.”

Bertahun-tahun kemudian, foto pernikahan yang paling kusukai bukan foto di gedung kaca dengan lampu mahal, bukan foto gaun puluhan juta, dan bukan foto dekorasi yang kupilih berbulan-bulan.

Foto favoritku justru diambil tiga hari setelah pesta.

Aku masih memakai gaun putih.

Bu Marni berdiri di sampingku dengan kebaya cokelat pudar dan tas kain yang lupa dia letakkan.

Di belakang kami ada foto mendiang Ibu.

Dulu aku mengira kesempurnaan adalah memastikan tidak ada sesuatu yang tampak murah di dalam foto.

Ternyata aku salah.

Ada hal yang jauh lebih memalukan daripada pakaian lama.

Yaitu menjadi begitu sibuk menjaga penampilan sampai kita hampir membuang orang yang paling tulus mencintai kita.

Để lại một bình luận

Email của bạn sẽ không được hiển thị công khai. Các trường bắt buộc được đánh dấu *

Lên đầu trang