Aku menyalakan livestream lalu masuk ke supermarket sambil menatap kamera dan tersenyum.
“Teman-teman, hari ini aku akan belanja nol rupiah.”
Saat mengucapkan kalimat itu, aku tahu ribuan orang akan menganggapku bodoh.
Aku juga tahu beberapa menit lagi aku mungkin akan dibawa petugas.
Justru itu yang kuinginkan.
Karena pukul 15.50 sore ini, seseorang yang memiliki wajah persis sepertiku berencana melakukan sesuatu di apartemen Budi.

Dan aku harus memastikan seluruh dunia tahu bahwa orang itu bukan aku.
Namaku Ayu. Aku memiliki saudara kembar bernama Dewi. Sejak kecil, bahkan ibu kami sendiri pernah salah memanggil kami jika melihat dari belakang. Tinggi kami hampir sama, bentuk wajah kami serupa, bahkan suara kami terdengar mirip saat berbicara pelan.
Dulu kemiripan itu terasa seperti hadiah.
Sampai pagi tadi aku menemukan percakapan Dewi dengan seorang pria bernama Agus.
“Jam 15.50. Kamera apartemen akan merekam wajah Ayu. Topi, tas, dan jaketnya sudah aku ambil.”
Pesan berikutnya membuat tanganku gemetar.
“Kalau ditanya, dia nggak punya siapa-siapa yang bisa membuktikan dia di kos.”
Saat itulah aku mengerti.
Dewi tidak sekadar ingin menyamar sebagai diriku.
Dia sedang membangun bukti agar akulah yang terlihat bersalah.
Maka pukul 15.10 aku masuk ke supermarket dengan livestream menyala.
Aku memasukkan berbagai barang ke troli. Keripik, minuman, sabun, tisu, biskuit. Aku terus berbicara kepada penonton, sengaja memperlihatkan wajahku, rak supermarket, karyawan yang lewat, bahkan jam digital di dekat kasir.
Pukul 15.27, aku mendorong troli melewati kasir tanpa membayar.
Alarm berbunyi.
Satpam mengejarku.
Dua petugas yang menerima laporan dari penonton livestream sudah menunggu di depan.
Aku mengangkat tangan.
“Saya nggak akan lari. Tolong bawa saya ke kantor.”
Mereka menatapku seperti aku perempuan paling aneh yang pernah mereka temui.
Mungkin memang begitu.
Tetapi ketika pukul 15.41 aku menunjukkan tangkapan layar percakapan Dewi dan Agus kepada Pak Joko, petugas yang memeriksaku, ekspresinya langsung berubah.
Unit terdekat dikirim ke apartemen Budi.
Pukul 15.54, kabar datang.
Budi ditemukan terluka parah, tetapi masih hidup.
Dewi sudah menghilang.
Kemudian kamera koridor apartemen diperiksa.
Seorang perempuan berwajah persis sepertiku memasuki unit Budi pukul 15.31 dengan mengenakan jaket abu-abuku, topi hitamku, dan membawa ranselku.
Namun Dewi membuat satu kesalahan.
Cincin perak berbentuk daun terlihat jelas di jarinya.
Cincin ulang tahun yang kuberikan kepadanya tiga tahun lalu.
Aku menatap rekaman itu dengan napas tertahan.
“Bisa diperbesar?” tanyaku.
Pak Joko memanggil petugas lain. Rekaman dihentikan tepat ketika perempuan itu menekan tombol lift.
Cincin tersebut terlihat jelas.
Pak Joko menoleh kepadaku.
“Adikmu selalu pakai cincin ini?”
“Dia nggak pernah melepasnya.”
“Kenapa?”
Aku terdiam.
Karena ada sesuatu yang selama ini berusaha kulupakan.
Tiga tahun lalu, saat ulang tahun kami yang ke-25, aku membeli dua cincin identik. Milikku berbentuk bunga kecil, milik Dewi berbentuk daun.
Dewi memelukku saat menerima hadiah itu.
“Kalau suatu hari kita jauh, cincin ini bukti kalau kita tetap saudara.”
Aku hampir tertawa mengingatnya.
Ternyata cincin yang dulu menjadi simbol persaudaraan kami sekarang justru menjadi bukti yang membedakan kami.
Pak Joko meminta tim mencari Dewi dan Agus.
Sementara itu, Budi menjalani operasi.
Aku sendiri masih harus menyelesaikan masalah supermarket. Manajer supermarket datang memberikan keterangan. Aku meminta maaf dan membayar seluruh barang. Aku juga menerima konsekuensi hukum dari tindakan bodoh yang sengaja kulakukan.
Namun kasus itu berubah jauh lebih besar setelah polisi memeriksa apartemen Budi.
Sebuah laptop hilang.
Beberapa dokumen kepemilikan perusahaan juga lenyap.
Yang paling mencurigakan, sebuah flashdisk yang menurut asisten Budi berisi catatan transaksi perusahaan tidak ditemukan.
Motifnya mulai terlihat.
Dewi bukan sekadar marah kepada kekasihnya.
Dia sedang mencari sesuatu.
Malam itu aku diperbolehkan pulang setelah pemeriksaan panjang. Pak Joko meminta agar aku tidak kembali ke kos sendirian, sehingga seorang teman menemaniku.
Tetapi pukul 23.17, ponselku berdering.
Nomor tidak dikenal.
Aku hampir mengabaikannya.
Kemudian pesan masuk.
“Ayu, kalau kamu mau tahu kenapa aku melakukan semua ini, datang sendiri.”
Pesan kedua berisi lokasi sebuah gudang tua di pinggiran Jakarta.
Aku langsung menghubungi Pak Joko.
“Jangan datang,” katanya tegas. “Kirim semua pesan itu ke saya.”
Aku menurut.
Namun lima menit kemudian Dewi mengirim sebuah foto.
Budi.
Foto itu tampaknya diambil beberapa hari sebelumnya. Budi sedang menyerahkan sebuah map kepada seorang pria.
Pria itu Agus.
Di bawah foto, Dewi menulis:
“Kamu pikir aku yang jahat? Kamu belum tahu siapa Budi sebenarnya.”
Aku tidak tidur malam itu.
Keesokan paginya, kabar dari rumah sakit datang.
Budi sadar.
Aku dan Pak Joko menemuinya.
Wajah Budi pucat. Perban membalut kepalanya, dan selang infus terpasang di tangan kirinya.
Begitu melihatku, matanya langsung melebar.
“Dewi?”
“Aku Ayu.”
Ia menatap cincinku.
Bunga.
Bukan daun.
Budi mengembuskan napas panjang.
“Maaf.”
Aku duduk di samping ranjang.
“Apa yang terjadi?”
Budi memejamkan mata beberapa detik.
“Dewi datang ke apartemen. Dia bilang mau bicara.”
“Dengan memakai pakaianku?”
Budi membuka mata.
“Awalnya aku juga mengira dia kamu.”
Aku tercekat.
“Kenapa dia menyamar jadi aku?”
“Karena dia tahu kamera koridor.”
Budi kemudian menceritakan bahwa selama beberapa bulan terakhir ia menemukan sejumlah transfer mencurigakan dari rekening perusahaannya. Nilainya tidak kecil. Uang tersebut dialihkan melalui beberapa perusahaan cangkang.
Salah satu nama yang muncul adalah Agus.
“Aku curiga Dewi terlibat,” katanya.
“Tapi foto yang Dewi kirim menunjukkan kamu menyerahkan dokumen kepada Agus.”
Budi terdiam.
Pak Joko langsung menatapnya.
“Dokumen apa?”
Budi menelan ludah.
“Bukti transfer.”
Ruangan menjadi sunyi.
Budi ternyata telah menemui Agus diam-diam untuk memancingnya. Ia berpura-pura bersedia menghentikan penyelidikan dengan imbalan uang. Semua komunikasi mereka telah ia salin ke flashdisk.
“Flashdisk itu yang mereka cari,” katanya.
“Di mana?”
Budi menatapku.
“Bukan di apartemen.”
Aku merasakan sesuatu yang tidak enak.
“Lalu?”
“Dewi tahu aku sering menitipkan dokumen penting kepada orang yang nggak terlibat perusahaan.”
“Siapa?”
Budi menggeleng.
“Aku nggak bisa bilang sebelum orang itu aman.”
Tiba-tiba ponsel Pak Joko berbunyi.
Ia melihat layar.
Wajahnya berubah.
“Ada apa, Pak?”
Ia berdiri.
“Tim menemukan mobil Agus.”
“Di mana?”
“Dekat kos kamu.”
Darahku serasa berhenti mengalir.
Aku langsung teringat satu hal.
Ponsel lama.
Ponsel tempat tangkapan layar percakapan Dewi masuk.
Aku meninggalkannya di kamar kos.
Kami segera menuju ke sana.
Saat sampai, pintu kamarku sudah terbuka.
Lemari berantakan.
Kasur dibalik.
Laptopku hilang.
Tetapi ponsel lama masih berada di meja.
Aku mengambilnya.
Ada satu notifikasi baru dari penyimpanan cloud.
Sebuah foto.
Dewi sedang berdiri di dalam kamarku.
Foto itu terunggah otomatis sekitar dua puluh menit sebelumnya.
Di belakangnya terlihat Agus sedang membuka laci.
Namun yang membuatku merinding bukan keberadaan mereka.
Melainkan benda di tangan Dewi.
Sebuah flashdisk hitam.
“Pak,” kataku pelan.
Pak Joko melihat layar.
“Berarti mereka sudah mendapatkannya.”
Aku memperbesar foto.
Kemudian aku menyadari sesuatu.
“Itu bukan flashdisk Budi.”
Pak Joko menoleh.
“Kamu yakin?”
Aku mengangguk.
“Itu milikku.”
Aku seorang penulis novel kriminal. Flashdisk hitam itu berisi naskah, riset, dan cadangan pekerjaan.
Aku hampir tertawa karena gugup.
“Mereka salah ambil.”
Pak Joko langsung menelepon tim.
Tetapi sebelum sambungan terhubung, teleponku berbunyi.
Dewi.
Kali ini aku menjawab.
“Apa?”
Suara napasnya terdengar berat.
“Kamu menjebak aku.”
“Aku bahkan nggak tahu apa yang kamu cari.”
“Kamu bohong!”
“Flashdisk yang kamu ambil isinya novelku, Dewi.”
Hening.
Lalu terdengar suara benda dibanting.
“Kamu selalu begini,” katanya.
“Begini bagaimana?”
“Selalu menang.”
Aku terdiam.
“Apa maksudmu?”
Dewi tertawa pendek.
“Sejak kecil semua orang bilang kita sama. Padahal nggak pernah sama. Kamu selalu lebih pintar. Lebih disukai. Bahkan ketika aku berhasil punya Budi, dia tetap membandingkan aku dengan kamu.”
“Itu alasanmu mencoba menjebakku?”
“Bukan cuma itu!”
Suaranya pecah.
“Aku butuh uang. Agus bilang semuanya akan selesai kalau kami mendapatkan bukti itu.”
“Dengan melukai Budi dan membuatku masuk penjara?”
Dewi tidak menjawab.
Aku menutup mata.
Untuk pertama kalinya aku menyadari bahwa perempuan di ujung telepon itu bukan lagi saudara yang kukenal.
“Di mana kamu?”
“Jangan pura-pura peduli.”
“Aku peduli karena kamu saudaraku.”
“Kalau begitu datang sendiri.”
Telepon terputus.
Pak Joko sudah mendengar semuanya melalui pengeras suara.
Lokasi panggilan berhasil dilacak ke sebuah rumah kosong di kawasan Bekasi.
Polisi bergerak.
Aku tidak ikut.
Kali ini aku tidak perlu menjadi pahlawan.
Dua jam kemudian, Pak Joko menelepon.
Agus ditangkap ketika mencoba melarikan diri melalui pintu belakang.
Dewi ditemukan duduk sendirian di lantai kamar dengan flashdisk milikku di tangannya.
Dia tidak melawan.
Tetapi flashdisk milik Budi tetap tidak ditemukan.
Beberapa hari kemudian, Budi keluar dari rumah sakit.
Dewi dan Agus menjalani pemeriksaan atas dugaan penganiayaan, pencurian dokumen, serta sejumlah transaksi perusahaan yang sedang diselidiki.
Kupikir semuanya selesai.
Ternyata belum.
Seminggu setelah kejadian, aku menerima paket tanpa nama pengirim.
Di dalamnya hanya ada sebuah buku.
Novel pertamaku.
Buku yang terbit lima tahun lalu.
Aku membuka halaman pertama.
Sesuatu jatuh ke meja.
Flashdisk kecil berwarna biru.
Tanganku langsung gemetar.
Di halaman judul terdapat tulisan tangan Budi.
“Aku bilang aku menitipkannya kepada seseorang yang tidak terlibat perusahaan. Aku tidak bilang orang itu sadar sedang menjaganya.”
Aku segera menelepon Pak Joko.
Belakangan aku baru tahu bahwa beberapa minggu sebelum penyerangan, Budi datang ke acara peluncuran bukuku. Ia membeli satu eksemplar, memasukkan flashdisk ke rongga kecil yang dibuat di bagian sampul keras, kemudian mengirim buku itu ke alamat penerbitku dengan permintaan agar dikembalikan kepadaku sebagai “koleksi arsip penulis”.
Dewi tidak pernah tahu.
Flashdisk tersebut menjadi bukti penting dalam penyelidikan transaksi Agus dan beberapa pihak lain.
Namun kejutan terbesar datang ketika aku akhirnya diperbolehkan menemui Dewi.
Kami duduk berhadapan, dipisahkan meja.
Untuk pertama kalinya dalam hidup, wajah yang begitu mirip denganku terlihat seperti wajah orang asing.
Dewi tidak menatapku.
“Aku benci kamu,” katanya pelan.
Aku mengangguk.
“Mungkin.”
“Aku hampir menghancurkan hidupmu.”
“Iya.”
“Kenapa kamu masih datang?”
Aku menatap cincin daun di jarinya.
Cincin itu belum dilepas.
“Karena aku mau melihatmu sebagai Dewi.”
Ia akhirnya mengangkat kepala.
“Bukan sebagai kembaranku. Bukan sebagai orang yang wajahnya sama denganku. Sebagai Dewi. Orang yang membuat pilihannya sendiri dan harus bertanggung jawab atas pilihannya sendiri.”
Matanya memerah.
“Aku pikir kalau aku memakai wajahmu, semua kesalahanku akan jadi milikmu.”
“Wajah bisa sama,” kataku. “Tapi hidup nggak bisa ditukar.”
Air mata jatuh di pipinya.
Aku berdiri.
Sebelum pergi, Dewi memanggilku.
“Yu.”
Aku berhenti.
“Livestream supermarket itu… kamu sudah merencanakannya sejak awal?”
Aku tersenyum tipis.
“Sebagian.”
“Bagian mana yang nggak direncanakan?”
Aku menatapnya.
“Viral.”
Untuk pertama kalinya sejak semua ini dimulai, Dewi tertawa kecil sambil menangis.
Beberapa bulan kemudian, kasusku di supermarket selesai sesuai proses hukum. Aku meminta maaf secara terbuka dan menanggung konsekuensi atas tindakanku. Aku tidak pernah membanggakan apa yang kulakukan. Itu keputusan nekat yang seharusnya tidak ditiru siapa pun.
Namun rekaman livestream tersebut tetap tersimpan.
Kadang aku membukanya.
Bukan untuk melihat saat aku mendorong troli melewati kasir.
Aku selalu menghentikan video beberapa detik sebelumnya.
Pada pukul 15.26.
Di sana terlihat wajahku menatap kamera.
Wajah yang sama dengan Dewi.
Mata yang sama.
Hidung yang sama.
Senyum yang hampir sama.
Tetapi sekarang aku mengerti sesuatu yang tidak pernah kupahami ketika kami masih kecil.
Identitas seseorang bukanlah wajahnya.
Bukan pakaian yang dikenakannya.
Bukan nama yang tertulis di kartu identitas.
Identitas adalah rangkaian pilihan yang dibuat seseorang ketika tidak ada orang lain yang bisa memilih untuknya.
Dewi pernah mencoba memakai wajahku untuk memberiku kejahatannya.
Ironisnya, justru karena wajah kami sama, polisi akhirnya melihat satu hal yang selama ini tidak pernah diperhatikan siapa pun.
Perbedaan kami.
Sebuah cincin kecil berbentuk daun.
Hadiah dariku sendiri.
Benda yang seharusnya mengingatkan bahwa kami adalah saudara.
Dan pada akhirnya, benda itulah yang membuktikan bahwa kami adalah dua orang yang berbeda.
