Bocah kecil itu menendang kaca mobilku tepat ketika lampu lalu lintas berubah hijau.
Usianya tak mungkin lebih dari lima tahun. Tubuhnya kurus, kaus birunya kusam, dan sandal di kaki kirinya hampir putus. Namun bukan penampilannya yang membuatku menghentikan mobil di tengah deretan klakson yang memekakkan telinga.
Melainkan ketakutan di matanya.
“Om! Ibuku sekarat… tolong aku!”
Beberapa menit kemudian, aku sudah berlutut di sebuah gang sempit di belakang deretan ruko Jalan Sudirman, memeriksa napas seorang perempuan yang tergeletak di lantai.

Dan ketika rambut yang menutupi wajahnya tersibak, masa lalu yang kukira sudah terkubur selama enam tahun mendadak berdiri tepat di hadapanku.
Sari.
Perempuan yang pernah mencintaiku ketika namaku bahkan belum berarti apa-apa.
Perempuan yang pergi tanpa sepatah kata.
Perempuan yang kini memiliki seorang anak bernama Dwi.
Dan di tangan anak itu ada truk mainan merah milikku.
Saat pintu ambulans hampir tertutup, Dwi menyerahkan sebuah foto lama kepadaku. Di belakangnya tertulis kalimat yang membuat kakiku kehilangan tenaga.
“Kalau suatu hari anak kita bertanya siapa ayahnya, aku masih berharap kamu sendiri yang menjawab.”
Sepanjang perjalanan menuju rumah sakit, kalimat itu terus berputar di kepalaku.
Aku mengikuti ambulans dengan mobil sendiri.
Rapat yang seharusnya kuhadiri sore itu kubatalkan. Sekretaris menelepon tiga kali, tetapi tak satu pun kuangkat.
Di IGD, dokter mengatakan Sari mengalami anemia berat dan kelelahan. Tekanan darahnya sangat rendah. Mereka juga menemukan masalah pada jantungnya yang membutuhkan pemeriksaan lebih lanjut.
Dwi duduk di kursi lorong sambil memeluk truk merah itu.
Aku duduk di sampingnya.
Untuk beberapa menit kami hanya diam.
Lalu ia bertanya, “Om namanya siapa?”
Aku menelan ludah.
“Agus.”
Dwi mengernyit.
“Tapi Mama panggil Om Setyo.”
Aku tersenyum tipis.
“Itu nama lama Om.”
“Kenapa diganti?”
Pertanyaan sederhana itu membuatku kesulitan menjawab.
Karena Setyo adalah nama seorang pemuda miskin yang hidup dari satu proyek ke proyek berikutnya.
Sedangkan Agus Pratama adalah nama yang kupakai ketika mendirikan perusahaan bersama investor pertama. Nama yang kemudian dikenal klien, media, dan dunia bisnis.
Aku ingin meninggalkan masa lalu.
Ternyata masa lalu tidak pernah meninggalkanku.
“Kadang orang ingin memulai hidup baru,” jawabku.
Dwi mengangguk seolah memahami.
Kemudian ia bertanya, “Om kenal ayahku?”
Jantungku seperti berhenti.
Aku menoleh kepadanya.
“Kenapa kamu bertanya begitu?”
“Karena Mama bilang truk ini punya Ayah.”
Tangannya mengusap atap mainan itu.
“Katanya Ayah suka truk sejak kecil. Makanya kalau besar nanti aku mau punya perusahaan truk.”
Aku hampir tertawa, tetapi tenggorokanku terasa tercekat.
“Memangnya kamu tahu ayahmu kerja apa?”
Dwi menggeleng.
“Mama cuma bilang Ayah kerja keras sekali.”
“Kenapa ayahmu tidak tinggal bersama kalian?”
Dwi menunduk.
“Mama bilang Ayah nggak tahu aku ada.”
Jawaban itu menghantam lebih keras daripada apa pun.
Pintu ruang pemeriksaan terbuka.
Seorang perawat memanggilku.
“Pak Agus? Pasien ingin bicara dengan Bapak.”
Aku masuk.
Sari terbaring dengan infus di tangan. Wajahnya masih pucat.
Begitu melihatku, ia berkata, “Dwi di mana?”
“Di luar.”
“Jangan bilang apa pun kepadanya.”
Aku menarik kursi.
“Kalau begitu sekarang kamu yang bicara.”
Sari menutup mata.
“Apa yang mau kamu tahu?”
“Semua.”
Ruangan menjadi sunyi.
Aku mengeluarkan foto yang diberikan Dwi dan meletakkannya di samping tempat tidur.
“Apakah Dwi anakku?”
Air mata menggenang di matanya.
Namun ia tidak langsung menjawab.
Aku mengepalkan tangan.
“Sari.”
“Iya.”
Hanya satu kata.
Tetapi satu kata itu membelah hidupku menjadi dua bagian.
Sebelum hari ini.
Dan setelah hari ini.
Aku berdiri begitu cepat hingga kursi di belakangku bergeser.
“Lima tahun?”
Sari menangis.
“Aku tahu.”
“Kamu menyembunyikan anakku selama lima tahun?”
“Aku punya alasan.”
“Alasan apa yang bisa membenarkan itu?”
Ia menatapku.
“Karena ibumu.”
Aku terdiam.
Sari menghapus air matanya.
“Dua minggu setelah aku tahu aku hamil, ibumu datang menemuiku di Bandung.”
Aku menatapnya tak percaya.
Ibuku meninggal tiga tahun lalu.
Selama hidupnya, ia tidak pernah sekalipun menyebut nama Sari setelah kami berpisah.
“Apa yang dia lakukan?”
“Dia membawa bukti.”
“Bukti apa?”
“Utang keluargamu.”
Aku membeku.
Sari melanjutkan.
“Saat itu perusahaanmu baru mulai berkembang. Kamu sedang mencari investor. Keluargamu masih punya utang besar akibat usaha ayahmu yang bangkrut. Ibumu bilang kalau aku tetap bersamamu, salah satu kreditur akan menggunakan hubunganku denganmu untuk menekanmu.”
“Itu tidak masuk akal.”
“Aku juga bilang begitu.”
Sari menatap langit-langit.
“Sampai dia menunjukkan surat ancaman.”
Aku teringat masa itu.
Gudang pertamaku memang hampir disita. Beberapa orang datang menagih utang peninggalan ayah. Ada ancaman, tetapi aku tidak pernah tahu Sari mengetahuinya.
“Ibumu bilang kamu baru punya satu kesempatan untuk keluar dari kemiskinan. Dia memintaku pergi.”
“Dan kamu menurut?”
“Aku menolak.”
Sari menatapku lagi.
“Sampai seseorang mengikuti aku pulang.”
Dadaku mengencang.
“Siapa?”
“Aku tidak tahu. Tapi malam itu kaca kontrakanku dilempari batu. Besoknya ada surat di bawah pintu.”
“Apa isinya?”
“Kalau aku tetap bersamamu, mereka akan memastikan kamu kehilangan semuanya.”
Aku menggeleng keras.
“Kamu seharusnya memberitahuku.”
“Aku mau.”
“Kenapa tidak?”
“Karena saat aku datang ke Jakarta, aku melihatmu bersama Maya.”
Nama itu membuatku terdiam.
Maya adalah putri investor pertamaku.
Foto kami pernah muncul di sebuah acara bisnis. Media lokal menulis bahwa kami memiliki hubungan khusus, meskipun kenyataannya tidak pernah ada apa-apa.
Sari tersenyum pahit.
“Aku pikir ibumu benar. Kamu sudah punya jalan hidup baru.”
“Itu cuma urusan bisnis.”
“Aku tahu sekarang.”
“Sekarang?”
“Beberapa tahun kemudian aku membaca wawancaramu. Kamu bilang tidak pernah menikah karena pernah kehilangan seseorang yang kamu kira akan menjadi keluargamu.”
Aku memalingkan wajah.
Aku memang pernah mengatakan itu.
Tanpa menyebut nama Sari.
“Kenapa setelah membaca itu kamu tetap tidak mencariku?”
Sari diam lama.
Kemudian tangannya masuk ke bawah bantal.
Ia mengeluarkan sebuah amplop.
“Aku sebenarnya mencarimu.”
Aku menerimanya.
Di dalamnya ada beberapa lembar surat.
Semua ditujukan kepadaku.
Tidak pernah dikirim.
Satu ditulis saat Dwi lahir.
Satu ketika ia berumur satu tahun.
Satu lagi ketika ia pertama kali bisa berjalan.
Dan surat terakhir ditulis tiga bulan lalu.
Aku membaca sebagian kalimatnya.
“Setyo, hari ini Dwi bertanya kenapa semua temannya punya ayah yang datang mengambil rapor. Aku tidak tahu harus menjawab apa lagi.”
Tanganku gemetar.
“Kenapa tidak dikirim?”
“Takut.”
“Takut pada siapa?”
“Pada kenyataan bahwa mungkin kamu sudah tidak menginginkan kami.”
Aku menatap perempuan di hadapanku dan untuk pertama kalinya kemarahanku berubah menjadi sesuatu yang jauh lebih menyakitkan.
Penyesalan.
Enam tahun kami hidup hanya beberapa ratus kilometer terpisah.
Aku membangun perusahaan sambil mengira perempuan yang kucintai meninggalkanku demi kehidupan lain.
Sementara ia membesarkan anakku sendirian sambil mengira aku telah memilih hidup tanpa mereka.
Pintu tiba-tiba terbuka.
Dwi berdiri di sana.
Wajahnya pucat.
Entah sejak kapan ia mendengar.
“Mama…”
Sari langsung panik.
“Dwi.”
Anak itu menatapku.
“Om itu ayahku?”
Tak seorang pun menjawab.
Dwi menatap ibunya lagi.
“Mama bilang Ayah nggak tahu aku ada.”
Air mata Sari jatuh.
“Sayang…”
Dwi berjalan perlahan ke arahku.
Aku berlutut agar sejajar dengannya.
Tanganku gemetar lebih hebat daripada saat menandatangani kontrak terbesar dalam hidupku.
“Aku memang tidak tahu,” kataku.
“Kalau Om tahu, Om bakal cari aku?”
Aku menatap mata itu.
Baru sekarang kusadari sesuatu yang sejak tadi tidak kulihat.
Bentuk matanya.
Persis mata ayahku.
Aku mengangguk.
“Setiap hari.”
Dwi menggigit bibir.
“Berarti Om ayahku?”
Aku tidak sanggup menjawab dengan suara.
Aku hanya mengangguk.
Anak itu tidak langsung memelukku seperti dalam film.
Ia justru mundur selangkah.
“Buktinya?”
Aku dan Sari sama-sama terdiam.
Dwi mengangkat truk merahnya.
“Mama bilang jangan gampang percaya orang.”
Untuk pertama kalinya hari itu aku tertawa.
Sari ikut tertawa sambil menangis.
Aku mengusap wajah.
“Baik. Kita tes DNA.”
Tiga hari kemudian, hasilnya keluar.
Probabilitas hubungan biologis lebih dari 99,9 persen.
Dwi adalah anakku.
Tetapi kebahagiaan itu hanya bertahan beberapa menit.
Dokter memanggilku dan Sari ke ruangannya.
Hasil pemeriksaan jantung menunjukkan kondisi Sari lebih serius daripada dugaan awal. Ia membutuhkan tindakan medis dalam waktu dekat.
“Apa risikonya?” tanyaku.
Dokter menjelaskan panjang lebar.
Aku hanya menangkap satu hal.
Sari sudah mengetahui penyakitnya selama hampir setahun.
Aku menoleh kepadanya.
“Kamu tahu?”
Sari menunduk.
“Kenapa tidak berobat?”
“Biayanya.”
Aku hampir marah lagi.
Namun kemudian teringat kantong belanja yang berserakan di gang.
Telur.
Nasi.
Obat generik.
Air mineral.
Sementara aku menghabiskan lebih banyak uang untuk makan malam dengan klien daripada penghasilan Sari dalam beberapa bulan.
Aku berdiri.
“Lakukan semua yang diperlukan.”
Sari menatapku.
“Aku tidak mau berutang kepadamu.”
“Kamu tidak berutang.”
“Setyo.”
“Sari, aku kehilangan lima tahun kehidupan anakku. Jangan minta aku berdiri diam dan kehilangan ibunya juga.”
Ia terdiam.
Operasi dijadwalkan dua hari kemudian.
Malam sebelum tindakan, aku duduk bersama Dwi di kafetaria rumah sakit.
Ia sedang menggambar.
Ada tiga orang dalam gambar itu.
Seorang perempuan.
Seorang anak kecil.
Dan seorang laki-laki berdiri agak jauh.
Aku menunjuk gambar tersebut.
“Kenapa ayahnya jauh?”
Dwi tetap menggambar.
“Karena belum tahu boleh berdiri dekat atau nggak.”
Dadaku sesak.
Aku mengambil pensil dan menggambar garis kecil dari sosok laki-laki itu menuju dua orang lainnya.
“Kalau begini?”
Dwi melihatnya.
Kemudian ia menghapus garis itu.
Aku terdiam.
Ia menggambar ulang sosok laki-laki tersebut tepat di samping anak kecil.
“Kalau keluarga nggak pakai garis, Yah.”
Aku menatapnya.
Itu pertama kalinya ia memanggilku Ayah.
Aku memeluknya.
Kali ini Dwi tidak mundur.
Operasi Sari berlangsung hampir empat jam.
Empat jam terpanjang dalam hidupku.
Ketika dokter akhirnya keluar dan mengatakan tindakan berjalan baik, aku menundukkan kepala dan menangis di lorong rumah sakit tanpa peduli siapa yang melihat.
Beberapa minggu kemudian, Sari diperbolehkan pulang.
Aku menawarkan rumahku.
Ia menolak.
“Aku belum siap kembali menjadi bagian hidupmu hanya karena kita punya anak.”
Aku menghormatinya.
Aku menyewa apartemen kecil tak jauh dari rumah sakit atas nama Dwi, bukan atas namaku. Sari akhirnya menerima setelah aku mengatakan tempat itu juga akan memudahkanku menemui anakku.
Kami tidak langsung menjadi pasangan lagi.
Tidak ada keajaiban seperti itu.
Ada terlalu banyak luka.
Terlalu banyak tahun yang hilang.
Aku mulai dari sesuatu yang lebih sederhana.
Mengantar Dwi ke sekolah.
Membantunya mengerjakan tugas.
Mendengarkan ceritanya tentang teman-temannya.
Kadang-kadang makan malam bersama Sari.
Perlahan, kami belajar mengenal satu sama lain lagi.
Enam bulan kemudian, saat membereskan barang-barang lama peninggalan ibuku, aku menemukan sebuah kotak kayu yang selama bertahun-tahun tidak pernah kubuka.
Di dalamnya ada dokumen keluarga.
Dan sebuah amplop bertuliskan namaku.
Tulisan tangan ibuku.
Aku membukanya.
Surat itu ditulis beberapa minggu sebelum ia meninggal.
“Setyo, ada satu dosa yang belum pernah berani Ibu akui.”
Tanganku mulai gemetar.
“Ibu memang menemui Sari dan memintanya meninggalkanmu. Tapi surat ancaman yang Ibu tunjukkan kepadanya bukan berasal dari kreditur.”
Aku berhenti membaca.
Darahku terasa dingin.
“Itu Ibu yang membuatnya.”
Aku duduk perlahan.
Surat itu melanjutkan.
Ibu takut aku akan mengulangi kehidupan ayahku, menikah muda, memiliki anak sebelum stabil, lalu tenggelam dalam utang. Ia mengira dengan memisahkan kami, ia sedang menyelamatkan masa depanku.
Ia tidak pernah tahu Sari sedang hamil.
Ketika akhirnya mengetahuinya beberapa tahun kemudian, rasa bersalah membuatnya tidak berani mengaku.
Di bagian terakhir tertulis satu kalimat.
“Kalau suatu hari kamu menemukan Sari lagi, jangan maafkan Ibu demi Ibu. Maafkan Ibu hanya kalau itu membuat hidupmu lebih ringan.”
Aku duduk lama dalam keheningan.
Kemudian terdengar suara kecil dari pintu.
“Ayah?”
Dwi berdiri sambil membawa truk merah.
Aku cepat-cepat menghapus air mata.
“Kenapa?”
“Rodanya copot.”
Ia menunjukkan roda depan yang akhirnya benar-benar terlepas.
Aku tersenyum.
“Bawa sini.”
Kami duduk bersama di lantai.
Aku mengambil obeng kecil dan mulai memperbaiki mainan yang sudah melewati tiga generasi kehidupan keluargaku.
Dwi memperhatikanku serius.
“Ayah.”
“Hmm?”
“Kalau truknya rusak lagi, masih bisa diperbaiki?”
“Kalau bagian-bagiannya masih ada, biasanya bisa.”
Ia berpikir sebentar.
“Kalau keluarga?”
Tanganku berhenti.
Aku menatap anak berusia lima tahun yang tanpa sengaja telah menemukanku di sebuah lampu merah.
“Kadang bisa.”
“Walaupun lama rusaknya?”
Aku mengangguk.
“Asal orang-orangnya masih mau memperbaiki.”
Dwi tersenyum.
Dari pintu, Sari berdiri tanpa kami sadari.
Matanya berkaca-kaca.
Aku tidak tahu apakah kami akan menikah suatu hari nanti.
Aku tidak tahu apakah semua luka enam tahun itu benar-benar bisa hilang.
Namun aku tahu satu hal.
Hari itu, enam bulan lalu, aku mengira seorang bocah kecil menendang kaca mobilku karena ia membutuhkan pertolongan.
Ternyata aku salah.
Dialah yang datang menyelamatkanku.
Karena seandainya lampu lalu lintas berubah beberapa detik lebih cepat, seandainya aku memilih menginjak gas, atau seandainya aku menjadi orang yang terlalu sibuk untuk menurunkan kaca mobil, aku mungkin akan menghabiskan seluruh hidup mengejar sesuatu yang sebenarnya sudah kumiliki sejak lama.
Keluarga.
Aku memasang kembali roda truk merah itu.
Dwi mendorongnya di lantai.
Truk tua itu berjalan lurus beberapa meter sebelum berhenti tepat di depan kaki Sari.
Sari mengambilnya, lalu berjalan mendekati kami.
Tanpa mengatakan apa pun, ia duduk di sebelahku.
Dwi tersenyum lebar dan menyelipkan tubuh kecilnya di antara kami.
Untuk pertama kalinya, tak ada seorang pun yang berdiri jauh.
Dan aku akhirnya mengerti bahwa beberapa hal yang rusak memang tidak bisa dikembalikan seperti semula.
Tetapi bukan berarti mereka tidak bisa dibangun kembali menjadi sesuatu yang lebih kuat.
