AKU MENYEWA KOS TUA 500 RIBU PER BULAN, LALU MEMECAHKAN POT DI MALAM PERTAMA—ISI DI BAWAH TANAH MEMBUATKU SADAR AKU SUDAH DIPILIH SEJAK AWAL

Aku mengenali suara itu bahkan sebelum lelaki tersebut menyelesaikan kalimatnya.

Pak Damar.

Pria berkemeja putih yang seminggu lalu duduk di seberang meja wawancara, tersenyum ramah sambil mengatakan bahwa perusahaannya sedang mencari staf administrasi junior.

Aku menutup laptop secepat mungkin.

“Nisa?” Bu Ratna mengetuk lagi. “Buka pintunya. Ibu cuma mau bicara.”

Aku memasukkan flashdisk ke saku celana, mengambil ponsel, lalu melihat sekeliling.

Kamarku hanya memiliki dua jalan keluar. Pintu depan yang kini dijaga mereka dan jendela kecil di samping lemari.

Pesan dari nomor asing tadi kembali terlintas di kepalaku.

KELUAR SEKARANG.

Aku membuka jendela.

Di luarnya ada gang sempit selebar bahu orang dewasa yang memisahkan rumah ini dari bangunan sebelah.

“Nisa.”

Kali ini suara Pak Damar.

“Kami tahu kamu ada di dalam.”

Gagang pintu kembali bergerak.

Aku tidak berpikir lagi.

Kulempar ransel ke luar jendela, lalu memanjat kusennya. Lututku tergores tembok ketika tubuhku jatuh ke gang.

Brak.

Dari dalam terdengar suara pintu kamarku didobrak.

Aku mengambil ransel dan berlari.

“Nisa!”

Aku tidak menoleh.

Gang itu berakhir di jalan kecil di belakang deretan rumah kontrakan. Aku terus berlari sampai tiba di jalan raya, lalu masuk ke minimarket yang masih buka dua puluh empat jam.

Tanganku gemetar ketika mengeluarkan ponsel.

Nomor asing itu mengirim pesan lagi.

JANGAN KE POLISI DULU.

Aku mengetik cepat.

SIAPA KAMU?

Balasannya datang kurang dari sepuluh detik.

ORANG YANG MENYIMPAN KOTAK ITU.

Aku menatap layar.

SISKA?

Tiga titik muncul.

Lalu sebuah alamat dikirim.

Sebuah kedai kopi di kawasan Salemba.

TEMUI AKU JAM 06.00. DATANG SENDIRI. JANGAN PERCAYA SIAPA PUN DARI PERUSAHAAN ITU.

Aku hampir tertawa karena panik.

Bagaimana aku bisa percaya kepada orang yang bahkan belum pernah kutemui?

Namun pilihan lain juga tidak lebih baik.

Aku duduk di minimarket sampai matahari terbit.

Tepat pukul enam, aku tiba di kedai yang disebutkan.

Tempat itu baru buka. Hanya ada dua pegawai dan seorang perempuan berusia sekitar tiga puluh tahun yang duduk di pojok mengenakan jaket abu-abu.

Begitu melihatku, ia berdiri.

“Nisa?”

Aku tidak langsung mendekat.

“Siapa kamu?”

Perempuan itu mengeluarkan kartu identitas dari tasnya.

Siska Maharani.

Wajahnya sama dengan fotokopi KTP yang kutemukan di bawah pot.

“Kamu yang menyimpan flashdisk?”

Ia mengangguk.

“Duduk dulu.”

“Tidak. Jelaskan sekarang.”

Siska memandang sekeliling sebelum berkata pelan, “Perusahaan tempat kamu melamar bukan perusahaan biasa.”

Aku menatapnya tajam.

“Mereka melakukan apa?”

“Mencari orang.”

“Untuk apa?”

“Untuk dijadikan nama.”

Aku tidak mengerti.

Siska membuka laptopnya.

Ia menunjukkan sejumlah dokumen pendirian perusahaan.

Nama direktur di masing-masing dokumen berbeda.

Beberapa di antaranya sama dengan daftar yang kutemukan.

“Mereka mencari orang-orang muda yang sedang butuh pekerjaan. Pendidikan cukup baik, catatan hukum bersih, rekening aktif, tanda tangan mudah diverifikasi.”

“Kenapa?”

“Karena mereka mendirikan perusahaan menggunakan identitas orang-orang itu.”

Aku terdiam.

Siska melanjutkan.

“Perusahaan cangkang. Rekening penampung. Pinjaman. Kontrak fiktif. Transaksi yang nilainya miliaran. Ketika masalah muncul, nama yang tercatat secara resmi bukan nama mereka.”

“Tapi bagaimana mungkin seseorang bisa dijadikan direktur tanpa tahu?”

“Mereka tidak sepenuhnya tanpa tahu.”

Ia membuka sebuah file.

Ada surat penawaran kerja.

“Korban biasanya diminta menandatangani banyak dokumen saat orientasi. Alasannya administrasi pegawai, pembukaan rekening gaji, asuransi, pajak. Di antara puluhan halaman itu disisipkan dokumen lain.”

Aku langsung teringat wawancaraku.

Pak Damar meminta fotokopi KTP.

Ijazah.

NPWP.

Contoh tanda tangan.

Bahkan swafoto sambil memegang KTP dengan alasan verifikasi calon pegawai.

“Target 17 itu aku?”

Siska mengangguk.

“Dan tiga hari?”

“Hari kamu dijadwalkan menandatangani kontrak kerja.”

Tubuhku terasa dingin.

“Tapi kenapa kos itu?”

Siska menatapku lama.

“Karena mereka yang mengarahkanmu ke sana.”

Aku menggeleng.

“Aku menemukannya di internet.”

“Itu yang kamu pikir.”

Ia memperlihatkan tangkapan layar iklan kos yang pernah kulihat.

Nomor kontaknya berbeda.

Namun foto kamar dan alamatnya sama.

“Iklan itu hanya ditampilkan kepada orang tertentu lewat akun lowongan dan grup pencari kerja yang mereka kelola.”

Aku mulai memahami sesuatu yang jauh lebih mengerikan.

Lima ratus ribu rupiah.

Dekat lokasi perusahaan.

Tanpa deposit.

Bu Ratna bahkan tidak meminta pembayaran tiga bulan di muka seperti kos lain.

Itu bukan keberuntungan.

Itu perangkap.

“Kenapa namaku sudah ada sebelum aku menyewa?”

“Karena keputusan memilihmu dibuat saat wawancara.”

Aku menatap Siska.

“Lalu kamu?”

Wajahnya berubah.

“Aku Target 11.”

Ia menarik napas panjang.

Dua tahun sebelumnya, Siska datang ke Jakarta dari Semarang. Ia mendapat pekerjaan dari perusahaan yang sama dan tinggal di kamar yang sekarang kutempati.

Tiga bulan pertama semuanya terlihat normal.

Gaji masuk tepat waktu.

Pekerjaan ringan.

Kemudian surat dari bank mulai berdatangan.

Pinjaman perusahaan.

Tagihan.

Pemberitahuan pajak.

Namanya tercatat sebagai komisaris dua perusahaan yang tidak pernah ia dengar.

Ketika mencoba melapor, semua dokumen memiliki tanda tangannya.

“Mereka bilang aku sendiri yang menandatangani.”

“Lalu bagaimana kamu bisa keluar?”

“Aku tidak keluar.”

Siska menatap meja.

“Aku kabur.”

Ia menemukan bukti transaksi internal dan menyalinnya ke flashdisk. Namun sebelum sempat menyerahkannya kepada penyidik, seseorang mengetahui tindakannya.

“Aku menyembunyikannya di pot karena aku tahu mereka akan menggeledah kamar.”

“Kenapa tidak kamu ambil lagi?”

“Karena malam itu mereka mengejarku.”

Ia menunjukkan bekas luka panjang di pergelangan tangannya.

“Aku tidak pernah kembali.”

Aku teringat tanda silang pada beberapa nama.

“Nama yang dicoret itu apa?”

Siska terdiam.

“Orang yang sudah tidak bisa mereka gunakan.”

“Tidak bisa digunakan bagaimana?”

“Ada yang berhasil kabur. Ada yang masuk penjara karena tidak mampu membuktikan dirinya korban. Ada yang menghilang.”

Aku merasakan tengkukku meremang.

“Bu Ratna terlibat?”

Siska tidak langsung menjawab.

“Aku tidak tahu.”

“Dia tahu kotak itu ada.”

“Itu yang aneh.”

Siska menatapku.

“Kalau Bu Ratna benar-benar bagian dari mereka, kotak itu seharusnya sudah ditemukan dua tahun lalu.”

Kami terdiam.

Kemudian ponselku berbunyi.

Pesan dari Bu Ratna.

NISA, JANGAN PERCAYA SISKA.

Aku menunjukkan layar kepada Siska.

Wajahnya pucat.

Pesan kedua masuk.

DIA TIDAK MENCERITAKAN SEMUANYA.

Lalu sebuah foto.

Foto seorang lelaki.

Aku mengenalinya.

Pak Damar.

Di sampingnya berdiri Siska.

Mereka sedang tersenyum.

Tanggal foto itu tiga tahun lalu.

Aku perlahan mengangkat kepala.

Siska tidak lagi menatapku.

“Kamu kenal Damar sebelum menjadi korban?”

“Nisa, dengarkan dulu.”

Aku berdiri.

“Kamu siapa sebenarnya?”

Siska ikut berdiri.

“Aku memang pernah bekerja dengan mereka.”

“Sebagai korban?”

Ia menelan ludah.

“Awalnya bukan.”

Aku mundur.

Siska akhirnya mengaku.

Tiga tahun lalu ia adalah staf rekrutmen Pak Damar.

Dialah yang membantu mencari calon korban.

Ia memeriksa latar belakang mereka.

Memastikan mereka tidak memiliki keluarga di Jakarta.

Memilih orang yang sedang kesulitan ekonomi.

“Aku pikir cuma untuk perusahaan pinjaman,” katanya dengan suara pecah. “Aku tidak tahu sampai sejauh itu.”

“Kamu memilih mereka.”

“Aku tahu.”

“Sebelas orang?”

Siska menangis.

“Aku mencoba memperbaikinya.”

Aku hampir pergi ketika ia berkata sesuatu yang membuatku berhenti.

“Karena itu aku memilihmu.”

Aku menoleh.

“Apa?”

“Kamu bukan dipilih Damar.”

Siska menatapku.

“Aku yang memasukkan namamu.”

Dunia seperti berhenti sesaat.

“Kamu gila?”

“Aku butuh seseorang yang memenuhi kriteria mereka.”

“Jadi kamu menjadikanku umpan?”

“Aku butuh mereka mengaktifkan jaringan lagi.”

Aku tidak percaya dengan apa yang kudengar.

Siska menjelaskan bahwa selama hampir setahun kelompok itu berhenti beroperasi setelah salah satu perusahaan mereka diperiksa. Polisi tidak memiliki bukti yang cukup untuk menghubungkan Pak Damar dengan transaksi.

Siska ingin memancing mereka kembali.

Dan aku adalah umpannya.

Aku meraih tas.

“Jangan ikuti aku.”

“Nisa.”

“Jangan!”

Aku keluar dari kedai.

Saat itu sebuah mobil hitam berhenti di tepi jalan.

Pintu belakang terbuka.

Pak Damar turun.

Aku membeku.

Siska muncul di belakangku.

Damar tersenyum.

“Pagi.”

Aku berbalik hendak lari.

Dua lelaki sudah berdiri di ujung trotoar.

Damar mendekat.

“Flashdisknya.”

Aku tidak menjawab.

“Nisa, jangan membuat keadaan sulit.”

Siska maju.

“Dia tidak tahu apa-apa.”

Damar tertawa kecil.

“Justru dia tahu terlalu banyak sekarang.”

Tiba-tiba seseorang menarik lenganku dari belakang.

Bu Ratna.

“Masuk!”

Ia menyeretku ke sebuah mobil kecil yang berhenti beberapa meter dari sana.

Siska ikut masuk.

Bu Ratna menginjak gas.

Damar berteriak dari belakang.

Mobil hitam mengejar.

Aku duduk di kursi belakang sambil berpegangan pada pintu.

“Bu sebenarnya siapa?”

“Pemilik kos.”

“Jangan bohong!”

Bu Ratna menatapku melalui kaca spion.

“Dan ibu dari Target 4.”

Aku terdiam.

Anaknya, Arga, adalah salah satu nama yang dicoret.

Empat tahun lalu Arga ditangkap karena namanya tercatat sebagai direktur sebuah perusahaan yang menerima dana ilegal miliaran rupiah.

Bu Ratna menjual hampir seluruh hartanya untuk membayar pengacara.

Namun Arga meninggal di tahanan karena sakit sebelum kasusnya selesai.

Sejak itu Bu Ratna mempertahankan rumah tersebut.

“Mereka pikir Ibu masih bekerja sama dengan mereka,” katanya. “Padahal Ibu menunggu seseorang membawa bukti.”

Mobil di belakang semakin dekat.

“Pergi ke polisi!”

“Bukan polisi sembarangan.”

Bu Ratna membelok tajam menuju sebuah gedung pemerintahan.

Beberapa petugas sudah menunggu di depan.

Siska ternyata selama enam bulan terakhir berkomunikasi dengan penyidik kejahatan ekonomi.

Flashdisk itu adalah bukti yang mereka cari.

Aku menyerahkannya dengan tangan gemetar.

Namun ketika petugas memeriksa isinya, seorang penyidik mengernyit.

“Ada yang kurang.”

Siska pucat.

“Apa?”

“Folder transaksi utama terkunci.”

Ia menunjukkan layar.

Dibutuhkan sebuah kunci fisik untuk membuka perangkat terenkripsi yang tercatat di dalam sistem.

Aku tiba-tiba teringat benda lain dari kotak.

Kunci kecil.

Aku mengeluarkannya dari saku.

Bu Ratna menatap benda itu.

“Itu bukan kunci lemari.”

Siska langsung berdiri.

“Kita harus kembali.”

“Ke kos?”

Ia mengangguk.

“Di bawah lantai kamar Nisa.”

Kami kembali bersama petugas.

Pak Damar sudah menghilang.

Rumah berantakan.

Di bawah tempat tidurku terdapat satu ubin yang warnanya sedikit berbeda.

Petugas membongkarnya.

Di bawahnya ada kotak logam.

Kunci kecil itu cocok.

Ketika dibuka, kami semua terdiam.

Puluhan stempel perusahaan.

Buku rekening.

Dokumen notaris.

Kartu identitas.

Dan sebuah buku catatan.

Halaman pertama bertuliskan daftar Target 1 sampai Target 17.

Namun ada sesuatu yang membuatku merasa aneh.

Namaku bukan nama terakhir.

Di bawah Target 17 terdapat satu baris lagi.

TARGET 18.

DAMAR PRATAMA.

Aku menatap Siska.

“Apa ini?”

Untuk pertama kalinya pagi itu, Siska tersenyum.

“Bagian yang tidak pernah Damar tahu.”

Ternyata selama dua tahun Siska dan Bu Ratna perlahan mengubah sistem mereka dari dalam.

Mereka membuat dokumen palsu yang seolah menunjukkan bahwa Pak Damar sendiri adalah direktur utama seluruh perusahaan cangkang tersebut.

Namun dokumen itu bukan sekadar jebakan palsu.

Damar memang telah menandatangani sejumlah dokumen ketika memindahkan aset untuk menyelamatkan dirinya.

Keserakahannya sendiri membuat namanya akhirnya terhubung langsung dengan transaksi yang selama bertahun-tahun ia sembunyikan di balik orang lain.

Tiga hari kemudian Pak Damar ditangkap saat mencoba meninggalkan Jakarta.

Penyelidikan berkembang.

Beberapa korban dibebaskan dari tuduhan.

Kasus Arga dibuka kembali.

Namanya akhirnya dinyatakan sebagai korban penyalahgunaan identitas.

Enam bulan kemudian aku kembali ke rumah kos itu.

Bukan sebagai penyewa.

Bu Ratna berdiri di halaman belakang, menanam kamboja baru.

Pot yang kupecahkan masih tersimpan di sudut.

“Ibu belum buang?”

Ia tersenyum.

“Kalau kamu tidak memecahkan pot itu, mungkin semuanya tidak akan terbongkar.”

Aku ikut tersenyum.

Dulu aku mengira pot itu pecah karena kebetulan.

Aku juga mengira menemukan kos lima ratus ribu di Jakarta adalah keberuntungan.

Ternyata hampir tidak ada yang kebetulan.

Siska memang memilihku sebagai Target 17.

Damar menganggapku korban berikutnya.

Bu Ratna membiarkanku masuk karena berharap aku menemukan apa yang ditinggalkan Siska.

Semua orang merasa telah memilihku untuk memainkan peran dalam rencana mereka.

Namun ada satu hal yang tidak mereka perhitungkan.

Aku tidak menandatangani kontrak.

Aku tidak mengikuti perintah.

Dan ketika akhirnya mengetahui seluruh kebenaran, aku memilih jalanku sendiri.

Sebelum pulang, aku membantu Bu Ratna memasukkan tanah ke pot baru.

Di bawah akar kamboja, ia meletakkan sebuah benda kecil.

Aku tertawa.

“Flashdisk lagi?”

“Bukan.”

Ia menunjukkan sebuah pelat logam kecil.

Di atasnya terukir satu nama.

ARGA PRADANA.

Bu Ratna menimbunnya perlahan dengan tanah.

“Supaya kali ini,” katanya pelan, “yang disimpan rumah ini bukan rahasia.”

Aku menatap bunga kamboja yang baru ditanam.

“Lalu apa?”

Bu Ratna tersenyum sambil menyeka matanya.

“Nama seseorang yang akhirnya pulang dengan bersih.”

Để lại một bình luận

Email của bạn sẽ không được hiển thị công khai. Các trường bắt buộc được đánh dấu *

Lên đầu trang