AKU PULANG DIAM-DIAM DARI TAIWAN PADA MALAM TAKBIRAN, HANYA UNTUK MENEMUKAN IBU DAN ANAKKU BERSEMBUNYI KELAPARAN DI TANAH KOSONG, SEMENTARA SUAMIKU DAN ADIK KANDUNGKU BERPESTA MEWAH MENGGUNAKAN UANG HASIL KERINGATKU. TERNYATA MEREKA JUGA BERENCANA MENCURI SERTIFIKAT RUMAHKU!

Untuk beberapa detik, halaman rumah itu sunyi seperti kuburan.

Suara takbir dari musala masih terdengar dari kejauhan, tetapi di depan rumahku sendiri, tak seorang pun berani bersuara.

Budi menatapku seolah baru melihat orang mati bangkit dari liang lahat.

“Siti?”

Suaranya nyaris tak terdengar.

Aku berjalan melewati pagar dengan langkah perlahan.

“Kenapa, Mas? Kaget?”

Indah mundur satu langkah. Wajahnya pucat, tangannya gemetar.

“Kak… bukannya Kakak masih di Taiwan?”

“Aku juga seharusnya sudah mati, kan?”

Tatapanku beralih kepada pria yang memegang map cokelat.

“Atau setidaknya begitu isi dokumen yang kalian siapkan.”

Pria itu langsung menutup mapnya.

“Saya tidak tahu apa-apa, Bu. Saya hanya diminta datang untuk memeriksa berkas.”

“Jangan pergi.”

Aku mengangkat ponsel.

“Kalian semua sudah terekam.”

Budi akhirnya tersadar. Ia melangkah cepat ke arahku.

“Matikan ponsel itu!”

Tangannya hendak merebut ponselku, tetapi aku mundur.

“Jangan sentuh aku!”

Suara keras itu membuat para tamu mulai berbisik.

Pak RT yang tadi berdiri di dekat pagar tampak kebingungan.

“Pak Budi, sebenarnya ini siapa?”

Budi membuka mulut, tetapi aku lebih dulu menjawab.

“Saya Siti Rahmawati. Istri sah Budi. Pemilik rumah ini.”

Beberapa tamu langsung saling berpandangan.

Aku menunjuk ke arah tanah kosong.

“Dan anak kecil yang selama ini dia sembunyikan adalah anak kandung kami.”

Budi panik.

“Jangan percaya! Perempuan ini baru pulang dari luar negeri. Dia sedang emosi.”

“Kalau aku bohong, panggil Rizky.”

Wajah Budi berubah.

Aku menoleh ke arah pohon mangga.

“Rizky, keluar, Nak.”

Perlahan, Rizky muncul sambil menggandeng tangan Ibu.

Begitu cahaya lampu halaman mengenai tubuh mereka, suara bisik-bisik para tamu langsung berubah menjadi kegaduhan.

Pakaian Ibu lusuh.

Tubuh Rizky kurus.

Kakinya hanya memakai sandal jepit yang sudah tipis.

Seorang ibu yang berdiri di antara tamu menutup mulutnya.

“Ya Allah… itu Bu Siti yang dulu tinggal di sini, kan?”

Pak RT tampak semakin bingung.

“Bukannya katanya mereka pindah ke rumah saudara?”

Aku tertawa kecil.

Tawa yang terasa pahit di tenggorokan.

“Pindah?”

Aku memandang Budi.

“Mereka diusir dari rumah yang kubeli sendiri.”

“Bohong!” bentak Budi.

Tiba-tiba Rizky bersembunyi di belakangku.

Gerakan kecil itu cukup untuk membuatku memahami betapa dalam ketakutannya terhadap ayahnya sendiri.

Budi melihatnya.

Untuk sesaat wajahnya berubah.

Namun bukannya menyesal, ia justru menunjukku.

“Kamu jangan bikin keributan di malam Lebaran!”

Kalimat itu membuat sesuatu dalam diriku patah.

Empat tahun aku bekerja di negeri orang.

Aku membersihkan tubuh lansia, mengganti popok mereka, menemani mereka ketika sakit, bahkan sering tidur hanya tiga atau empat jam.

Setiap kali lelah, aku membuka foto Rizky.

Setiap kali ingin menyerah, aku menelepon Ibu.

Dan setiap kali Budi mengatakan membutuhkan uang, aku mengirimkannya.

Sekarang lelaki itu berdiri di rumah yang kubeli dengan keringatku dan menyuruhku tidak membuat keributan.

Aku menatapnya tanpa berkedip.

“Baik.”

Aku mengangguk.

“Aku tidak akan membuat keributan.”

Budi tampak sedikit lega.

Aku lalu mengangkat ponsel.

“Karena polisi yang akan mengurus sisanya.”

Indah langsung menjerit.

“Kak!”

Aku sudah menekan nomor darurat sebelum keluar dari balik pohon tadi.

Yang tidak diketahui Budi adalah selama perjalanan dari bandara, aku sempat menghubungi teman lamaku, Rina, yang bekerja di kantor pertanahan kabupaten.

Aku ingin memberi kejutan kepada keluarga, tetapi sebelumnya aku berniat menanyakan prosedur memastikan sertifikat rumah tetap aman selama aku bekerja di luar negeri.

Jawaban Rina membuatku curiga.

Dua minggu sebelumnya, seseorang ternyata pernah mencoba meminta informasi mengenai proses peralihan hak atas rumahku.

Atas namaku.

Aku belum sempat memahami maksudnya saat itu.

Sekarang semuanya menjadi jelas.

Budi mencoba mendekat lagi.

“Kita selesaikan ini di dalam, Ti.”

“Kenapa harus di dalam?”

“Ini masalah keluarga.”

“Ketika Ibu dan anakku tidur di tanah kosong, itu juga masalah keluarga.”

“Siti…”

“Ketika kamu tidur dengan adikku, apakah itu juga masalah keluarga?”

Indah langsung menangis.

“Kak, dengarkan dulu. Aku bisa jelaskan.”

Aku menatap gelang emas di tangannya.

“Lepaskan gelangku.”

Indah refleks menutupi pergelangan tangannya.

Aku tersenyum.

“Tidak apa-apa. Pakai saja dulu. Besok mungkin polisi akan meminta itu sebagai barang bukti.”

Tangis Indah langsung berhenti.

Beberapa tamu mulai meninggalkan halaman.

Namun Pak RT tetap berdiri.

“Saya rasa kita memang perlu menyelesaikan ini secara resmi.”

Budi mendadak membentaknya.

“Pak RT jangan ikut campur!”

Pak RT terdiam.

Aku justru merasa semakin yakin.

“Pak, saya hanya minta satu hal. Tolong jadi saksi bahwa malam ini Ibu dan anak saya ditemukan tinggal di tanah kosong, sementara rumah saya ditempati Budi.”

Pak RT mengangguk pelan.

Budi kehilangan kendali.

Ia menerjang ke arahku.

Namun sebelum tangannya mencapai tubuhku, dua pria dari antara tamu menahannya.

“Sudah, Pak Budi!”

“Lepaskan!”

Budi meronta.

“Kalian tidak tahu apa-apa!”

Kemudian terdengar suara sirene dari ujung gang.

Indah langsung terduduk.

Budi berhenti meronta.

Polisi datang beberapa menit kemudian.

Aku menunjukkan rekaman yang baru saja kubuat.

Percakapan mengenai surat kuasa.

Dokumen kematian.

Rencana balik nama sertifikat.

Semua terdengar jelas.

Pria yang membawa map cokelat mulai berkeringat.

Ketika polisi meminta map itu, ia sempat menolak.

Namun setelah diperiksa, ditemukan fotokopi sertifikat rumahku, fotokopi KTP, beberapa formulir, serta sebuah surat kuasa dengan tanda tangan yang menyerupai tanda tanganku.

Aku menatapnya lama.

“Itu bukan tanda tanganku.”

Budi langsung menyela.

“Siti pernah tanda tangan banyak dokumen sebelum pergi ke Taiwan!”

“Benar.”

Aku menatapnya.

“Tapi ada satu hal yang kamu lupa.”

Aku mengambil paspor dari tas.

“Empat tahun lalu, sebelum berangkat, aku mengganti tanda tanganku di beberapa dokumen resmi setelah tanda tangan lamaku pernah disalahgunakan untuk pinjaman.”

Budi membeku.

Tanda tangan di surat kuasa itu menggunakan bentuk lama.

Polisi membawa Budi dan pria pembawa map untuk dimintai keterangan.

Indah menangis sambil memegang lenganku.

“Kak, jangan biarkan mereka bawa Mas Budi.”

Aku menatapnya.

“Mas Budi?”

Indah terdiam.

“Sejak kapan kamu memanggil suamiku seperti itu dengan nada seorang istri?”

Ia menangis semakin keras.

“Aku khilaf.”

“Khilaf tidak berlangsung tiga tahun.”

Wajahnya terangkat cepat.

Aku sebenarnya hanya menebak.

Tetapi reaksinya memberiku jawaban.

“Tiga tahun?”

Aku tertawa getir.

“Jadi selama tiga tahun aku mengirim uang untuk kalian?”

Indah menunduk.

Ibu tiba-tiba berjalan mendekat.

Untuk pertama kalinya malam itu, Ibu menatap Indah dengan kemarahan.

“Kenapa, Ndah?”

Suara Ibu bergetar.

“Kakakmu membiayai sekolahmu. Ketika kamu tidak punya pekerjaan, dia yang kirim uang. Bahkan gelang yang kamu pakai itu dibeli kakakmu.”

Indah menangis.

“Aku capek selalu dibandingkan dengan Kak Siti!”

Aku terpaku.

“Apa?”

“Sejak kecil semua orang bilang Kak Siti paling rajin, paling berbakti, paling kuat. Aku selalu jadi adik yang gagal.”

Aku menatapnya lama.

Jadi itu alasannya?

Bukan cinta.

Bukan kebutuhan.

Iri hati.

Indah mengusap air matanya.

“Budi bilang kalau Kakak terus di Taiwan, dia kesepian. Awalnya aku cuma sering datang bantu menjaga Rizky. Lama-lama…”

“Cukup.”

Aku tidak ingin mendengar sisanya.

Malam itu aku membawa Ibu dan Rizky ke penginapan kecil di kota.

Aku tidak mau mereka tidur satu malam lagi di rumah itu sebelum semuanya jelas secara hukum.

Ketika Rizky melihat tempat tidur bersih, ia tidak langsung naik.

Ia berdiri di samping kasur sambil memandangku.

“Bu… kita boleh tidur di sini?”

Pertanyaan sederhana itu menghancurkan hatiku lebih dalam daripada pengkhianatan Budi.

Aku memeluknya.

“Boleh.”

“Besok juga?”

“Boleh.”

“Lusa?”

Aku menangis.

“Mulai sekarang Rizky tidak perlu minta izin untuk tidur di tempat yang layak.”

Malam itu ia tidur sambil memeluk lenganku.

Ibu tidur di ranjang sebelah.

Aku sendiri tidak bisa memejamkan mata.

Pagi Lebaran yang seharusnya penuh ketupat dan salam justru kuhabiskan di kantor polisi.

Dari pemeriksaan awal, terungkap sesuatu yang jauh lebih buruk.

Selama empat tahun aku berada di Taiwan, aku telah mengirim hampir delapan ratus juta rupiah.

Namun hanya sebagian kecil yang digunakan untuk kebutuhan Rizky dan Ibu.

Budi menggunakan uang itu untuk membeli mobil, membayar cicilan usaha yang sebenarnya tidak pernah berkembang, merenovasi rumah secara berlebihan, dan membiayai gaya hidupnya bersama Indah.

Lebih mengejutkan lagi, seratus delapan puluh juta yang kukirim untuk renovasi ternyata bukan tujuan akhir mereka.

Rumah itu hendak dijadikan jaminan untuk mendapatkan pinjaman besar.

Karena sertifikat masih atas namaku, mereka membutuhkan tanda tangan dan persetujuanku.

Ketika tidak bisa mendapatkannya, muncullah rencana surat kuasa palsu.

Dokumen kematian palsu yang kudengar malam itu ternyata masih berupa rancangan dan belum tercatat secara sah.

Namun niat mereka sudah cukup jelas untuk membuat penyidik mendalami dugaan pemalsuan dokumen dan penipuan.

Aku kira itulah kejutan terbesar.

Ternyata belum.

Dua hari kemudian, Rina meneleponku.

“Siti, kamu harus datang.”

“Ada apa?”

“Aku menemukan sesuatu tentang sertifikat rumahmu.”

Aku langsung pergi.

Rina menunjukkan arsip lama.

Rumah yang selama ini dianggap Budi sebagai satu-satunya aset besarku memang atas namaku.

Tetapi tanah kosong di sebelah rumah, tempat Ibu dan Rizky tidur selama tiga bulan, ternyata juga tercatat atas namaku.

Aku sampai lupa.

Tanah itu dibeli almarhum ayah bertahun-tahun lalu menggunakan namaku karena saat itu Indah masih di bawah umur.

Nilainya sekarang bahkan hampir menyamai harga rumah.

Namun ada sesuatu yang lebih mengejutkan.

Budi sudah mencoba memasukkan tanah kosong itu ke dalam rencana pengajuan pinjaman.

Aku terdiam.

Jadi selama berbulan-bulan, Ibu dan anakku tidur di atas tanah yang sebenarnya milikku sendiri.

Mereka diusir dari rumahku hanya untuk berlindung di asetku yang lain.

Ironi itu terasa begitu menyakitkan.

Proses hukum berjalan berbulan-bulan.

Aku tidak kembali ke Taiwan.

Untuk pertama kalinya setelah empat tahun, aku memilih tinggal.

Aku sadar uang memang penting.

Namun tidak ada jumlah uang yang mampu mengganti tahun-tahun yang hilang bersama anakku.

Aku menjual sebagian perhiasan dan menggunakan tabungan yang masih kusimpan di rekening pribadiku untuk memulai usaha perawatan lansia rumahan bersama dua teman yang pernah bekerja denganku.

Rumah itu tidak kujual.

Aku merenovasinya lagi, tetapi bukan dengan lampu mewah atau pagar mahal.

Kamar depan kuubah menjadi ruang kecil untuk Ibu.

Halaman belakang kutanami sayuran.

Dan Rizky memilih sendiri warna kamarnya.

Biru.

“Kenapa biru?” tanyaku.

“Karena kayak langit.”

Ia tersenyum.

“Kalau lihat langit, Rizky ingat Ibu akhirnya pulang.”

Setahun kemudian, pada malam takbiran berikutnya, aku berdiri di halaman rumah bersama Ibu dan Rizky.

Tidak ada mobil mewah.

Tidak ada pesta besar.

Hanya meja panjang berisi makanan yang kami masak bersama.

Tetangga datang membawa ketupat.

Anak-anak berlarian sambil membawa lampion.

Ibu terlihat jauh lebih sehat.

Rizky sudah kembali berisi dan ceria.

Ketika suara takbir mulai terdengar, sebuah mobil berhenti di ujung gang.

Indah turun.

Tubuhnya tampak lebih kurus.

Ia berdiri cukup lama di depan pagar.

Aku tidak mengatakan apa-apa.

Ia juga tidak berani masuk.

Akhirnya Indah meletakkan sebuah kotak kecil di depan pagar lalu pergi.

Setelah mobilnya menghilang, aku membuka kotak itu.

Di dalamnya terdapat gelang emas milikku.

Dan selembar surat.

Aku tidak membacanya sampai selesai.

Aku hanya membaca satu kalimat.

“Kak, sekarang aku mengerti bahwa yang kucuri darimu bukan rumah atau uang, tetapi kepercayaan yang mungkin tidak akan pernah bisa kubeli kembali.”

Aku melipat surat itu.

Rizky menghampiriku.

“Itu dari Tante Indah?”

Aku mengangguk.

“Ibu masih marah?”

Aku memandang anakku.

Pertanyaan itu membuatku diam cukup lama.

“Tidak.”

“Berarti Ibu sudah maafin?”

Aku tersenyum tipis.

“Memaafkan dan mempercayai lagi itu dua hal yang berbeda, Nak.”

Rizky tampak berpikir, lalu mengangguk seolah memahami meski mungkin belum sepenuhnya.

Aku memandang tanah kosong di sebelah rumah.

Sekarang tempat itu sudah berubah menjadi kebun kecil dan taman bermain untuk anak-anak sekitar.

Di bawah pohon mangga yang sama, berdiri sebuah meja panjang.

Setiap Jumat, Ibu membagikan makanan gratis kepada lansia dan anak-anak dari keluarga kurang mampu.

Aku pernah bertanya mengapa Ibu memilih tempat itu.

Jawabannya sederhana.

“Supaya tempat yang pernah menyimpan rasa lapar sekarang menjadi tempat orang datang untuk makan.”

Aku tidak pernah melupakan kalimat itu.

Malam semakin larut.

Takbir terus berkumandang.

Rizky menggenggam tanganku, sementara Ibu berdiri di sisi lainnya.

Setahun sebelumnya, aku pulang membawa koper penuh oleh-oleh dan berharap mengejutkan keluargaku.

Aku memang mendapatkan kejutan.

Hanya saja bukan kejutan yang kuharapkan.

Aku kehilangan suami.

Aku kehilangan adik yang selama ini kupercaya.

Aku hampir kehilangan rumah dan seluruh hasil kerja kerasku.

Namun malam itu akhirnya aku memahami sesuatu.

Selama bertahun-tahun aku mengira tugasku sebagai ibu dan anak adalah mengirim sebanyak mungkin uang dari negeri orang.

Aku salah.

Keluargaku tidak hanya membutuhkan uang yang kukirim.

Mereka membutuhkan keberadaanku.

Aku menatap Rizky yang sedang tertawa melihat anak-anak menyalakan lampion.

Untuk pertama kalinya dalam bertahun-tahun, aku tidak memikirkan berapa banyak uang yang bisa kuhasilkan bulan depan.

Aku hanya menggenggam tangannya lebih erat.

Sebab ternyata rumah bukanlah bangunan dua lantai, sertifikat tanah, pagar besi, atau tabungan ratusan juta rupiah.

Rumah adalah tempat orang-orang yang kita cintai tidak perlu bersembunyi untuk merasa aman.

Dan setelah perjalanan panjang itu, akhirnya aku benar-benar pulang.

Để lại một bình luận

Email của bạn sẽ không được hiển thị công khai. Các trường bắt buộc được đánh dấu *

Lên đầu trang