Aku berdiri membeku di sisi ranjang, menatap perut Lianne yang rata seolah mataku sedang mempermainkanku.
Tanganku yang masih memegang kantong berisi pakaian bayi mulai gemetar. Salah satu kotak kecil terlepas dan jatuh ke lantai.
Bruk.
Lianne langsung terbangun.
Ia menoleh cepat. Begitu melihatku berdiri di sana, wajahnya berubah pucat.
“Mark?”
Aku tidak menjawab.
Mataku tetap tertuju pada perutnya.
Lianne refleks menarik selimut dan menutupi tubuhnya.
Gerakan itu justru membuat dadaku semakin sesak.
“Kenapa perutmu rata?”
Bibirnya terbuka, tetapi tidak ada suara yang keluar.
Aku mendekat.
“Lianne, anak kita di mana?”
“Aku bisa jelaskan.”
“Jelaskan sekarang!”
Suara bentakanku menggema di kamar.

Untuk pertama kalinya sejak menikah, aku melihat istriku ketakutan kepadaku.
Namun saat itu aku bahkan tidak mampu mengendalikan emosiku sendiri. Delapan bulan aku hidup dengan keyakinan bahwa sebentar lagi aku akan menjadi seorang ayah. Aku menemani pemeriksaan kandungan, membeli perlengkapan bayi, merancang kamar anak, bahkan membatalkan beberapa proyek besar agar bisa berada di rumah menjelang persalinan.
Sekarang perempuan yang selama ini kulihat dengan perut besar berdiri di depanku tanpa tanda-tanda kehamilan sedikit pun.
Lianne menangis.
“Mark, tolong dengarkan aku dulu.”
Aku menarik napas berat.
“Apakah bayinya meninggal?”
Ia menggeleng.
“Lalu?”
Lianne menunduk.
“Aku tidak pernah hamil.”
Kalimat itu terasa seperti palu menghantam kepalaku.
Aku tertawa pendek karena otakku menolak memahami apa yang baru saja kudengar.
“Apa?”
“Aku tidak pernah hamil.”
Aku menatapnya lama.
Kemudian pandanganku jatuh pada lemari pakaian.
Aku membukanya dengan kasar.
Di balik beberapa gaun tergantung sebuah benda berwarna menyerupai kulit.
Aku menariknya keluar.
Perut silikon.
Benda itulah yang selama berbulan-bulan kupeluk, kucium, dan kuajak bicara sebelum tidur.
Aku menjatuhkannya ke lantai.
“Mengapa?”
Lianne terisak.
“Semuanya bermula dari ibumu.”
Aku langsung menoleh.
“Jangan bawa Mama ke dalam kebohonganmu.”
“Aku tidak sedang mencari alasan.”
Lianne turun dari ranjang. Tangannya gemetar ketika mengambil ponsel.
Ia membuka sebuah percakapan dan menyerahkannya kepadaku.
Nama pengirimnya membuatku terdiam.
Mama.
Pesan pertama dikirim delapan bulan lalu.
Aku membaca satu demi satu.
Mama mengetahui bahwa ayahku telah mengubah surat wasiat. Sebagian besar aset keluarga akan masuk ke sebuah trust fund atas nama cucu biologis pertamanya. Jika ayah meninggal tanpa memiliki cucu, sebagian besar saham perusahaan justru akan dialihkan ke yayasan sosial yang telah ia dirikan.
Ada pesan lain.
“Kamu hanya perlu membuat Mark percaya sampai semuanya selesai.”
Kemudian sebuah transfer bank senilai dua miliar rupiah.
Aku mengangkat wajah.
“Ini apa?”
“Aku menolak uang itu.”
“Tapi transfernya masuk ke rekeningmu.”
“Lihat transaksi berikutnya.”
Aku menggulir layar.
Uang tersebut memang dikembalikan dua hari kemudian.
Aku semakin bingung.
“Kalau kamu menolak, kenapa kamu tetap berpura-pura hamil?”
Lianne menangis semakin keras.
“Karena ibumu mengancamku.”
“Dengan apa?”
Ia menatapku.
“Dengan ibuku.”
Ibunda Lianne menderita gagal ginjal dan menjalani pengobatan rutin. Selama ini aku mengira seluruh biaya pengobatannya ditanggung asuransi perusahaan keluarga.
Ternyata tidak.
Mama diam-diam mengendalikan pembayaran rumah sakit tersebut.
“Dia bilang kalau aku tidak mengikuti rencananya, semua bantuan medis untuk Mama akan dihentikan. Saat itu aku panik.”
Aku merasa mual.
“Tapi pemeriksaan kandungan? Dokter? USG?”
“Itu semua sudah diatur.”
Aku teringat seorang dokter kandungan yang selalu kami datangi di rumah sakit swasta Jakarta. Setiap pemeriksaan, layar USG sudah menyala sebelum aku masuk. Aku pernah bertanya mengapa wajah bayi sulit terlihat, dan dokter hanya mengatakan posisinya tidak memungkinkan.
Aku tidak pernah curiga.
Karena aku percaya.
“Jadi semua orang berbohong kepadaku?”
Lianne tidak menjawab.
Aku keluar dari kamar.
“Mark!”
Aku terus berjalan menuju ruang kerja.
Aku membuka laptop dan menghubungi ayahku.
Anehnya, panggilan video langsung dijawab.
Wajah ayah muncul dari sebuah kamar rumah sakit di Jakarta.
Ia terlihat jauh lebih kurus dibandingkan terakhir kali kami bertemu.
“Mark?”
“Ayah tahu Lianne tidak hamil?”
Ayah terdiam.
Jawaban itu sudah cukup.
“Ayah tahu?”
“Datanglah ke rumah sakit.”
“Aku ingin jawaban sekarang.”
Ayah menarik napas panjang.
“Datanglah. Ada sesuatu yang harus kamu lihat.”
Empat puluh menit kemudian, aku dan Lianne tiba di rumah sakit.
Mama sudah berada di sana.
Begitu melihat kami datang bersama, wajahnya berubah.
“Mark, kenapa kamu sudah pulang?”
Aku melempar perut silikon ke meja di ruang tunggu.
Mama terdiam.
“Permainan selesai.”
Lianne berdiri di belakangku.
Mama menatapnya tajam.
“Kamu berjanji tidak akan mengatakan apa pun.”
Aku menghantam meja dengan telapak tangan.
“Jangan ancam istriku lagi!”
Mama justru menatapku dengan ekspresi yang tidak pernah kulihat sebelumnya.
“Semua ini kulakukan untukmu.”
“Untukku?”
“Kalau ayahmu meninggal tanpa cucu, puluhan triliun rupiah akan keluar dari keluarga kita!”
“Jadi Mama membuat istriku berpura-pura hamil demi warisan?”
“Bukan hanya berpura-pura.”
Kalimat itu membuat ruangan mendadak sunyi.
Aku menatapnya.
“Apa maksud Mama?”
Mama tidak menjawab.
Pintu kamar ayah terbuka.
Seorang perawat keluar.
“Tuan Adrian meminta semuanya masuk.”
Kami masuk.
Ayah berbaring dengan oksigen terpasang di hidungnya.
Di samping tempat tidurnya berdiri seorang pria berkacamata yang kukenal sebagai pengacara keluarga.
Ayah memandang Mama.
“Cukup, Helena.”
Kemudian ia menatapku.
“Kehamilan palsu itu hanya tahap pertama.”
Dadaku berdebar.
Pengacara membuka sebuah map.
Di dalamnya terdapat dokumen dari sebuah klinik fertilitas di Jakarta.
Nama Lianne tercetak di salah satu halaman.
Aku membaca beberapa baris.
Embryo transfer.
Surrogate agreement.
Aku mengangkat kepala.
“Apa ini?”
Lianne juga tampak terkejut.
Mama akhirnya berbicara.
“Bayi itu ada.”
Aku merasa lantai di bawah kakiku menghilang.
“Apa?”
“Bayi kalian benar-benar ada.”
Lianne menutup mulutnya.
Mama menjelaskan bahwa tiga tahun sebelumnya, ketika aku dan Lianne menjalani pemeriksaan kesuburan sebelum menikah, beberapa sampel biologis kami disimpan untuk pemeriksaan lanjutan.
Tanpa izin kami, Mama menggunakan koneksinya untuk mendapatkan akses terhadap sampel tersebut.
Melalui sebuah klinik ilegal, embrio dibuat dan ditanamkan kepada seorang perempuan lain.
Seorang ibu pengganti.
Aku hampir tidak mampu bernapas.
“Di mana dia?”
Tidak ada yang menjawab.
Aku meraih kerah jas pengacara itu.
“Di mana anak saya?”
Ayah mengangkat tangan.
“Mark.”
Aku menoleh.
“Ayah menemukannya tiga minggu lalu.”
Ternyata ayah mulai curiga ketika Mama terlalu sering bertanya kepada pengacara tentang klausul cucu biologis dalam trust fund. Ia kemudian menyewa penyelidik pribadi.
Penyelidikan itu menemukan pembayaran rutin kepada seorang perempuan bernama Sari Wulandari di Bandung.
Perempuan itu sedang hamil delapan bulan.
Dengan anak biologisku dan Lianne.
Lianne jatuh terduduk.
“Astaga…”
Aku memegang kepalaku.
Semua kemarahanku berubah menjadi ketakutan.
“Kenapa Ayah tidak langsung memberitahuku?”
“Karena aku membutuhkan bukti sebelum menghentikan semuanya.”
Ayah menatap Mama.
“Aku juga ingin mengetahui sejauh apa ibumu bersedia pergi demi uang.”
Mama menangis.
“Aku hanya melindungi keluarga kita!”
“Tidak,” jawab ayah. “Kamu melindungi kekayaan.”
Saat itulah ponsel pengacara berdering.
Ia mengangkatnya.
Wajahnya berubah.
“Apa?”
Kami semua menatapnya.
Ia menutup telepon.
“Sari dibawa ke rumah sakit. Kontraksi prematur.”
Aku tidak ingat bagaimana aku keluar dari ruangan.
Yang kuingat hanyalah mengemudi menuju Bandung dengan tangan gemetar sementara Lianne duduk di sampingku sambil terus menangis.
Kami tiba menjelang subuh.
Di depan ruang bersalin, seorang perempuan muda terbaring di ranjang dorong.
Wajahnya pucat.
Ketika melihat kami, ia langsung tahu siapa kami.
“Pak Mark?”
Aku mendekat.
“Sari?”
Ia mengangguk.
Kemudian menatap Lianne.
Air matanya mengalir.
“Maafkan saya.”
Lianne memegang tangannya.
“Kenapa kamu minta maaf?”
“Saya menerima uang.”
Sari adalah seorang guru honorer yang terlilit utang setelah ayahnya mengalami kecelakaan. Mama menawarkan jumlah uang yang cukup untuk melunasi seluruh utangnya dan membiayai pendidikan adiknya.
Awalnya ia diberi tahu bahwa pasangan pemilik embrio telah meninggal.
Baru beberapa bulan kemudian ia mengetahui kebenarannya.
“Saya ingin menghubungi kalian,” katanya sambil menahan sakit. “Tapi mereka mengancam akan memenjarakan saya karena kontrak.”
Lianne menangis dan menggenggam tangannya semakin erat.
“Kamu menjaga anak kami selama delapan bulan.”
Sari menatapnya.
“Saya tidak tahu apakah kalian akan membenci saya.”
Lianne menggeleng.
“Tidak.”
Kontraksi berikutnya datang.
Dokter segera membawa Sari masuk.
Aku dan Lianne menunggu di luar selama hampir tiga jam.
Tiga jam terpanjang dalam hidupku.
Kemudian terdengar suara tangisan bayi.
Aku berdiri.
Seorang dokter keluar sambil tersenyum.
“Bayi laki-laki. Prematur, tapi kondisinya stabil.”
Kakiku hampir kehilangan tenaga.
Beberapa menit kemudian, kami diizinkan melihatnya dari balik kaca ruang neonatal.
Tubuhnya kecil.
Tangannya mengepal.
Lianne berdiri di sampingku sambil menangis tanpa suara.
Aku menggenggam tangannya.
“Aku minta maaf.”
Ia menatapku.
“Untuk apa?”
“Karena tadi aku hanya memikirkan kebohonganmu. Aku tidak pernah bertanya seberapa takutnya kamu selama delapan bulan ini.”
Lianne menyandarkan kepalanya di bahuku.
“Aku juga salah. Seharusnya aku percaya bahwa kita bisa menghadapi semuanya bersama.”
Tiga minggu kemudian, ayah memanggil kami.
Kondisinya semakin buruk.
Ia menyerahkan sebuah dokumen baru kepadaku.
“Aku membatalkan trust fund itu.”
Aku terkejut.
“Kenapa?”
“Karena uang itulah yang membuat semua orang lupa bahwa seorang anak bukan alat untuk mendapatkan warisan.”
Ayah mengubah surat wasiatnya.
Sebagian besar hartanya disumbangkan kepada yayasan pendidikan dan kesehatan. Aku tetap menerima saham perusahaan dalam jumlah cukup untuk melanjutkan bisnis keluarga, tetapi tidak ada lagi hadiah fantastis karena kelahiran seorang cucu.
Mama kehilangan seluruh kendali atas aset keluarga.
Pihak berwenang kemudian menyelidiki klinik fertilitas yang terlibat. Beberapa orang ditangkap karena pelanggaran medis dan pemalsuan dokumen.
Sari tidak kami tinggalkan begitu saja.
Kami membantu melunasi biaya pengobatan ayahnya dan memberinya kesempatan melanjutkan pendidikan tanpa mengikatnya dengan perjanjian apa pun.
Bukan karena ia mengandung anak kami.
Melainkan karena ia juga korban.
Ayah meninggal dua bulan kemudian.
Sebelum mengembuskan napas terakhir, ia meminta melihat cucunya.
Aku meletakkan bayi kami di sampingnya.
Ayah tersenyum lemah.
“Siapa namanya?”
Aku menatap Lianne.
Kami sudah sepakat.
“Adrian.”
Mata ayah berkaca-kaca.
“Jangan ajari dia menjadi kaya, Mark.”
Aku menggenggam tangannya.
“Lalu aku harus mengajarinya apa?”
Ayah menatap cucunya untuk terakhir kali.
“Ajari dia menjadi manusia.”
Setelah pemakaman, aku menemukan sebuah amplop di meja kerja ayah.
Di dalamnya hanya ada satu lembar surat.
Ia menulis bahwa warisan terbesar yang dapat diberikan orang tua kepada anak bukanlah rumah, perusahaan, saham, atau uang.
Melainkan sebuah keluarga yang tidak menjadikan cinta sebagai transaksi.
Malam itu aku pulang dan melihat Lianne tertidur sambil memeluk Adrian.
Aku berdiri cukup lama di ambang pintu.
Delapan bulan sebelumnya, aku mengira kebahagiaanku adalah seorang istri yang sedang hamil dan seorang bayi yang akan mewarisi kekayaan besar.
Ternyata aku salah.
Anakku datang ke dunia melalui kebohongan, ketakutan, keserakahan, dan sebuah rencana yang seharusnya tidak pernah terjadi.
Namun keberadaannya mengajarkan sesuatu yang tidak pernah bisa dibeli oleh seluruh kekayaan keluargaku.
Bahwa keluarga bukan tentang siapa yang memiliki darah kita, siapa yang mengandung anak kita, atau berapa banyak harta yang akan diwariskan.
Keluarga adalah orang-orang yang, setelah seluruh kebohongan terbongkar dan semua yang kita banggakan runtuh, masih memilih untuk menggenggam tangan satu sama lain.
Aku berjalan mendekati ranjang.
Lianne membuka mata.
“Kamu belum tidur?”
Aku menggeleng.
Aku mencium keningnya, kemudian mencium kepala kecil Adrian.
Di meja samping ranjang masih tergeletak pakaian bayi yang kubeli di Singapura pada malam aku pulang lebih cepat.
Hadiah yang awalnya kupersiapkan untuk sebuah kejutan.
Aku tidak pernah menyangka bahwa justru malam itulah yang akan menghancurkan keluarga yang kukenal.
Dan membangun keluarga yang sebenarnya.
