Tanganku gemetar hebat ketika membaca nama obat pada bungkus kecil itu.
Untuk beberapa detik, aku ingin berlari ke ruang tamu, menjambak rambut Rebecca, lalu menuntut penjelasan di depan semua orang. Bayangan Lucas yang selama dua minggu pulang dengan wajah pucat, muntah sampai tubuhnya lemas, dan menangis sambil memegangi perut membuat darahku mendidih.
Namun tepat ketika hendak melangkah, aku teringat sesuatu.
Dua malam sebelumnya, Lucas terbangun pukul dua dini hari.
“Ma, perut Lucas sakit lagi.”
Aku memeluknya sampai pagi. Tubuh kecil itu menggigil di dadaku.
Saat itu aku berjanji dalam hati bahwa siapa pun yang membuat anakku menderita akan mempertanggungjawabkannya.
Bukan dengan kemarahan.
Dengan bukti.
Aku memasukkan bungkus obat itu ke saku, lalu mengambil ponsel dan memotret kedua kotak makan yang masih berada di meja.

Kemudian aku melakukan sesuatu yang bahkan membuat tanganku sendiri terasa dingin.
Aku menukar label nama pada kedua kotak makan itu.
Kotak yang makanannya telah dicampuri Rebecca sekarang bertuliskan Miko.
Kotak yang masih bersih kuberi nama Lucas.
Aku tidak berniat membiarkan Miko memakannya.
Bagaimanapun, anak itu tidak bersalah.
Rencanaku sederhana. Aku akan mengikuti mereka ke sekolah dan menghentikan Miko sebelum jam makan sambil mencari cara membuktikan apa yang dilakukan ibunya.
Namun pagi itu semuanya berjalan di luar kendaliku.
Ibu mertuaku tiba-tiba mengalami pusing hebat di ruang makan. Rebecca panik dan memintaku mengantarnya ke klinik karena sopir keluarga belum datang.
“Aku yang antar anak-anak,” katanya cepat. “Kamu bawa Mama ke dokter.”
Aku menatap dua kotak makan di tangannya.
Jantungku serasa jatuh.
“Tunggu, Kak. Bekalnya biar aku periksa dulu.”
Rebecca langsung memeluk kedua kotak itu ke dadanya.
“Sudahlah, Elena. Mereka bisa terlambat.”
Sebelum aku sempat menghentikannya, dia sudah membawa Lucas dan Miko keluar.
Aku segera menghubungi wali kelas mereka.
Tidak diangkat.
Kutelepon pihak sekolah.
Nomornya sibuk.
Aku mengirim pesan berulang kali kepada wali kelas.
Tolong jangan biarkan Miko membuka kotak makannya. Saya sedang menuju sekolah. Ini darurat.
Tidak ada balasan.
Aku akhirnya meminta tetangga mengantar ibu mertuaku ke klinik, lalu memesan taksi daring menuju sekolah.
Namun Jakarta pagi itu seperti sengaja menghalangiku.
Kemacetan membuat mobil nyaris tidak bergerak.
Pukul sebelas lewat empat puluh tujuh menit, ponselku berdering.
Nama wali kelas Lucas muncul di layar.
Dadaku langsung sesak.
“Halo?”
“Bu Elena?”
Suara gurunya terdengar panik.
“Ibu bisa segera datang ke sekolah?”
Aku mencengkeram ponsel.
“Bagaimana Miko?”
Ada jeda.
“Bu, Miko tiba-tiba muntah setelah makan. Dia mengeluh pusing dan tubuhnya sangat lemas. Kami sudah membawa dia ke klinik sekolah dan ambulans sedang menuju ke sini.”
Dunia di sekelilingku mendadak sunyi.
“Jangan biarkan dia tidur,” kataku cepat. “Tolong simpan semua sisa makanannya. Jangan dibuang. Kotak makan itu harus dibawa ke rumah sakit.”
“Kenapa, Bu?”
Aku menelan ludah.
“Karena kemungkinan ada obat di dalam makanannya.”
Ketika aku tiba di rumah sakit, Rebecca sudah ada di sana.
Begitu melihatku, dia langsung berlari.
“Elena!”
Wajahnya pucat seperti kertas.
“Miko keracunan!”
Aku tidak menjawab.
Dokter sedang menangani Miko di ruang gawat darurat. Beruntung guru segera bertindak ketika melihat kondisinya. Sebagian besar makanan juga belum sempat dihabiskan.
Rebecca menangis sambil mondar-mandir.
“Apa yang dia makan? Bekalnya sama seperti biasa. Aku sendiri yang membawanya!”
Aku menatapnya.
“Benarkah?”
Dia berhenti.
Tatapan kami bertemu.
Untuk pertama kalinya, aku melihat ketakutan yang berbeda di matanya.
Bukan ketakutan seorang ibu terhadap kondisi anaknya.
Ketakutan seseorang yang mulai menyadari bahwa perangkapnya mungkin berbalik mengenai dirinya sendiri.
Sekitar empat puluh menit kemudian, dokter keluar.
“Keluarga Miko?”
Rebecca langsung berdiri.
“Saya ibunya.”
“Kondisinya sudah stabil. Kami menemukan indikasi konsumsi obat yang tidak seharusnya diberikan kepada anak seusianya. Kami perlu melakukan pemeriksaan toksikologi.”
Bibir Rebecca bergetar.
“Obat apa?”
Dokter menyebutkan dua jenis kandungan.
Wajah Rebecca seketika kehilangan warna.
Aku mengenali nama-nama itu.
Sama persis dengan obat pada bungkus yang kusimpan.
Rebecca menoleh kepadaku.
“Elena.”
Suaranya hampir berbisik.
“Kamu melakukan sesuatu pada makanan Miko?”
Aku menatapnya lurus.
“Kenapa Kakak langsung berpikir begitu?”
“Karena tadi pagi kamu yang menyiapkan bekal!”
Suara Rebecca meninggi.
Beberapa orang menoleh.
Dia menunjuk wajahku.
“Kamu mau mencelakai anakku!”
Aku tidak membalas teriakannya.
Aku hanya mengeluarkan ponsel.
“Kalau begitu, kita panggil polisi.”
Rebecca langsung diam.
Aku melanjutkan, “Biar mereka memeriksa makanan, kotak makan, sidik jari, dan kamera CCTV rumah.”
Wajahnya berubah.
“Apa hubungannya dengan CCTV?”
Pertanyaan itu keluar terlalu cepat.
Dan dia menyadarinya.
Aku tersenyum pahit.
“Kakak takut ada apa di CCTV?”
Malam itu, rumah keluarga Marco berubah seperti ruang interogasi.
Marco mendapat izin dari kapalnya untuk melakukan panggilan video. Ibu mertuaku duduk di sofa sambil menangis. Rebecca terus mengatakan bahwa semuanya hanya kesalahpahaman.
Aku menyerahkan bungkus obat yang kutemukan kepada polisi.
Lalu rekaman CCTV dapur dibuka.
Kamera memang tidak mengarah langsung ke meja karena terhalang lemari gantung.
Namun rekaman memperlihatkan Rebecca masuk ke dapur setelah aku naik ke lantai dua.
Tiga menit kemudian, dia keluar sambil memasukkan sesuatu ke saku.
Belum cukup.
Sampai petugas menemukan hal lain.
Di tempat sampah luar rumah terdapat beberapa bungkus obat serupa.
Rebecca mulai menangis.
“Itu obatku.”
“Untuk apa?” tanyaku.
“Aku sering sembelit.”
Petugas memandangnya.
“Dan pelemas otot?”
Rebecca terdiam.
Marco yang sejak tadi berada di layar akhirnya berkata, “Kak, jawab.”
Tidak ada jawaban.
Polisi kemudian memeriksa riwayat pembelian obat dari apotek berdasarkan kode pada kemasan.
Obat-obatan itu dibeli secara rutin selama tiga minggu.
Atas nama Rebecca.
Tetapi pertanyaan terbesar masih belum terjawab.
Mengapa?
Mengapa seorang perempuan dewasa sengaja membuat keponakannya yang baru berusia lima tahun sakit?
Jawabannya justru datang dari orang yang paling tidak kuduga.
Ibu mertuaku.
Dia menangis begitu keras hingga tubuhnya gemetar.
“Rebecca, hentikan semuanya. Mama sudah tidak sanggup.”
Rebecca menatap ibunya tajam.
“Mama diam.”
“Apa yang harus dihentikan?” tanyaku.
Ibu mertuaku memandangku dengan mata penuh rasa bersalah.
“Tiga bulan lalu Marco mengubah penerima manfaat asuransi jiwanya.”
Aku mengernyit.
“Memangnya kenapa?”
“Dulu kalau terjadi sesuatu pada Marco, sebagian uangnya akan masuk ke rekening keluarga. Setelah kalian punya Lucas, semuanya dialihkan untuk kamu dan Lucas.”
Aku merasa mual.
Marco terdengar marah dari ponsel.
“Itu hak istri dan anakku.”
“Tapi bukan hanya itu,” lanjut ibu mertuaku. “Ayah mereka meninggalkan dua rumah dan tanah di Bogor. Dalam surat warisan, bagian Marco nantinya turun kepada Lucas.”
Aku perlahan menoleh kepada Rebecca.
Dia menatap lantai.
Aku mulai memahami sesuatu yang jauh lebih gelap daripada kecemburuan biasa.
Rebecca sedang terlilit utang.
Bisnis butik daringnya ternyata sudah hampir bangkrut. Selama setahun terakhir, dia diam-diam menggunakan sertifikat salah satu aset keluarga sebagai jaminan pinjaman.
Jika ibu mertuaku meninggal dan pembagian warisan dilakukan, manipulasi dokumen itu kemungkinan besar akan terbongkar.
Rebecca membutuhkan uang.
Dan menurut pikirannya yang sakit, jika Lucas terlihat memiliki penyakit kronis serius, dia bisa meyakinkan keluarga bahwa aset tertentu harus dijual untuk biaya pengobatan.
Dia tidak berniat membunuh Lucas, katanya.
Dia hanya ingin membuatnya terus sakit.
“Aku cuma butuh waktu!” teriak Rebecca sambil menangis. “Aku akan mengembalikan semuanya!”
Aku berdiri menatapnya.
“Waktu?”
Suaraku bergetar.
“Anakku lima tahun, Kak.”
Rebecca menutup wajah.
“Setiap malam dia bertanya kepadaku kenapa perutnya sakit. Dia takut makan karena mengira makanan membuatnya sakit. Dan Kakak bilang cuma butuh waktu?”
“Aku tidak pernah berniat membunuh dia!”
“Kalau tubuhnya tidak kuat?”
Rebecca terdiam.
“Kalau hatinya rusak? Kalau suatu sore dia tidak bangun lagi?”
Aku tidak sadar kapan air mataku mulai jatuh.
“Apakah Kakak akan bilang itu juga bagian dari rencana?”
Marco menangis di layar.
Itulah pertama kalinya aku melihat suamiku menangis.
Rebecca akhirnya mengakui semuanya.
Namun ada satu hal yang tidak kukatakan kepada siapa pun sampai penyelidikan selesai.
Aku memang menukar label kotak makan pagi itu.
Ketika polisi mengetahuinya, aku menjelaskan bahwa aku berniat pergi ke sekolah untuk menghentikan Miko sebelum makan. Pesan yang kukirim kepada wali kelas sebelum jam makan menjadi bukti bahwa aku tidak bermaksud membahayakannya.
Tetapi rasa bersalah tetap menghantuiku.
Aku duduk di samping ranjang Miko malam itu.
Anak kecil itu membuka mata perlahan.
“Tante Elena?”
“Iya, Sayang.”
“Kenapa Mama nangis?”
Aku tidak tahu harus menjawab apa.
Miko lalu bertanya sesuatu yang membuat dadaku terasa ditusuk.
“Lucas juga sakit begini setiap hari?”
Aku mengangguk pelan.
Miko terdiam.
Kemudian air matanya jatuh.
“Sakit banget.”
Aku menggenggam tangannya.
“Iya.”
Dia menatapku dengan mata merah.
“Kasihan Lucas.”
Aku menangis saat itu juga.
Anak berusia lima tahun mampu memahami penderitaan anak lain hanya setelah merasakannya sekali.
Sementara seorang perempuan dewasa telah melihat penderitaan itu selama dua minggu dan tetap melanjutkannya.
Rebecca akhirnya ditahan setelah hasil toksikologi Lucas menunjukkan jejak zat yang sama dalam tubuhnya. Dokter memperkirakan zat tersebut telah masuk berulang kali dalam dosis kecil.
Untungnya, kerusakan permanen tidak ditemukan.
Beberapa bulan kemudian, Marco pulang dan kami pindah ke apartemen kecil di Jakarta Selatan.
Tidak ada halaman luas.
Tidak ada pembantu.
Tidak ada ruang makan dengan lampu kristal seperti rumah keluarganya.
Namun malam pertama di sana, Lucas makan sampai piringnya bersih.
Setelah itu dia memelukku.
“Ma, perut Lucas nggak sakit lagi.”
Kalimat sederhana itu membuatku menangis lebih lama daripada yang kuinginkan.
Kupikir cerita kami selesai di sana.
Ternyata belum.
Enam bulan kemudian, pengacaraku menelepon.
Dalam pemeriksaan dokumen perkara Rebecca, polisi menemukan sebuah polis asuransi pendidikan atas nama Lucas.
Polis itu dibuat setahun sebelumnya.
Pemegang manfaat sekundernya bukan aku.
Bukan Marco.
Melainkan Rebecca.
Tanda tangan Marco di dokumen tersebut palsu.
Saat itulah kami akhirnya memahami bahwa utang dan warisan mungkin bukan satu-satunya alasan.
Rebecca sudah mempersiapkan sesuatu jauh sebelum Lucas mulai sakit.
Aku menatap anakku yang sedang tidur ketika menerima kabar itu.
Untuk pertama kalinya, aku tidak merasa marah.
Aku hanya merasa bersyukur karena pada Selasa pagi itu aku lupa memasukkan sendok ke dalam kotak makan Lucas.
Sebuah sendok kecil.
Hal sepele yang biasanya tidak akan pernah kuingat.
Namun karena benda kecil itulah aku kembali ke dapur.
Karena itulah aku melihat Rebecca.
Dan karena itulah anakku masih bisa berlari ke arahku setiap sore, memeluk pinggangku, lalu mengeluh tentang hal-hal sederhana seperti es krim yang terlalu cepat meleleh atau kartun favoritnya yang selesai terlalu cepat.
Sejak hari itu aku memahami satu hal.
Bahaya tidak selalu datang dari orang asing di luar rumah.
Kadang-kadang ia duduk satu meja dengan kita, tersenyum kepada anak kita, bahkan memanggil dirinya keluarga.
Dan menjadi ibu bukan berarti harus selalu menjadi orang paling kuat di ruangan.
Kadang-kadang, menjadi ibu berarti cukup tenang untuk melihat sesuatu yang salah, cukup berani untuk mencari kebenaran, dan cukup tegas untuk tidak membiarkan siapa pun menyentuh anak kita lagi.
Bahkan jika orang itu memiliki darah keluarga yang sama.
