Aku masih memegang gelas wine ketika udara di ruang makan tiba-tiba berubah dingin.
Bukan dingin karena pendingin ruangan. Aku mengenal sensasi itu terlalu baik.
Sejak kecil, setiap kali salah satu dari mereka muncul, suhu di sekitarku seolah turun beberapa derajat. Bulu kudukku berdiri, telapak tanganku berkeringat, dan ada tekanan aneh di dada yang membuatku sulit bernapas.
Aku meletakkan gelas perlahan.

Jangan malam ini.
Aku menoleh ke arah ruang tamu.
Awalnya tidak ada apa-apa. Hanya sofa abu-abu, rak buku, dan cahaya lampu kota yang masuk melalui jendela apartemen kami.
Lalu aku melihat seseorang di sudut ruangan.
Seorang laki-laki sedang membungkuk di dekat lemari.
Wajahnya tersembunyi di antara kedua lututnya.
Tubuhnya tampak pucat dan samar.
Aku membeku.
Aku tahu apa artinya.
Dia bukan manusia hidup.
Aku hampir memalingkan wajah ketika laki-laki itu perlahan mengangkat kepala.
Gelas di tanganku terlepas.
Pecahannya berhamburan di lantai.
“Elias?”
Wajah itu adalah wajah yang telah kulihat setiap pagi selama lima tahun terakhir.
Suamiku.
Elias berdiri di sudut ruang tamu dengan kemeja biru tua yang dikenakannya ketika berangkat bekerja pagi tadi.
Ada sesuatu yang berbeda pada wajahnya. Kulitnya pucat, matanya menatap lurus kepadaku, tetapi seperti semua roh yang pernah kulihat, bibirnya bergerak tanpa suara.
Aku mundur.
“Tidak.”
Kepalaku menggeleng berkali-kali.
“Tidak mungkin.”
Aku meraih ponsel dan langsung menelepon Elias.
Nada sambung terdengar.
Satu kali.
Dua kali.
Tiga kali.
Roh Elias berdiri beberapa meter dariku sambil terus menggerakkan bibir.
Teleponku tiba-tiba tersambung.
“Halo?”
Aku hampir jatuh.
Itu suara Elias.
Suara suamiku.
“Clara?”
Aku menatap sosok di ruang tamu.
Dia masih ada di sana.
“Elias?”
“Iya. Maaf banget, Sayang. Aku masih di kantor.”
Aku tidak mampu menjawab.
“Clara?”
“Kamu… masih hidup?”
Hening beberapa detik.
Kemudian Elias tertawa kecil.
“Pertanyaan macam apa itu? Tentu saja aku masih hidup.”
Aku menutup mulut dengan tangan.
Kalau Elias hidup, lalu siapa yang berdiri di hadapanku?
“Aku sebentar lagi pulang,” katanya. “Jangan marah, ya. Ada urusan mendadak.”
Telepon terputus.
Aku kembali menatap sosok itu.
Roh Elias tidak lagi berada di sudut ruangan.
Dia sekarang berdiri tepat di depan pintu kamar kami.
Jari telunjuknya menunjuk ke dalam.
Untuk pertama kalinya, ketakutanku berubah menjadi sesuatu yang lain.
Rasa ingin tahu.
Aku berjalan perlahan menuju kamar.
“Kalau kamu memang Elias… tunjukkan apa yang ingin kamu katakan.”
Sosok itu masuk menembus pintu.
Tanganku gemetar ketika membuka pintu kamar.
Tidak ada siapa-siapa.
Aku menyalakan lampu.
Sosok Elias muncul kembali di dekat lemari pakaian. Tangannya menunjuk ke bagian bawah lemari.
Aku berlutut.
Di sana hanya ada beberapa kotak sepatu.
Aku mengeluarkannya satu per satu sampai menemukan sebuah amplop cokelat yang terselip jauh di belakang.
Aku yakin benda itu tidak pernah ada sebelumnya.
Di dalamnya terdapat beberapa lembar dokumen.
Tanganku langsung dingin ketika membaca nama di halaman pertama.
Elias Navarro.
Polis asuransi jiwa.
Nilainya sangat besar.
Namaku tercantum sebagai penerima manfaat.
Tetapi ada dokumen lain di belakangnya.
Surat pemeriksaan kesehatan.
Beberapa hasil laboratorium.
Dan sebuah surat yang membuat jantungku seperti berhenti.
Diagnosis kanker pankreas stadium lanjut.
Tanggalnya enam bulan lalu.
Aku terduduk di lantai.
“Enam bulan?”
Selama enam bulan terakhir Elias tidak pernah mengatakan apa pun.
Dia tetap bekerja.
Tetap bercanda.
Tetap mengajakku makan keluar setiap Minggu.
Bahkan dua minggu lalu kami membicarakan rencana membeli rumah.
Mengapa dia menyembunyikan ini?
Aku menatap sosoknya.
Untuk pertama kalinya aku tidak takut.
Aku marah.
“Kamu tahu selama ini?”
Dia hanya menatapku.
“Kenapa tidak bilang?”
Tidak ada jawaban.
Tentu saja tidak ada.
Aku tidak pernah bisa mendengar mereka.
Tiba-tiba roh Elias menoleh ke arah pintu apartemen.
Detik berikutnya terdengar suara kunci.
Aku berdiri cepat.
Pintu terbuka.
Elias masuk.
Dalam keadaan hidup.
Aku menatap suamiku yang berdiri di pintu, lalu menoleh kepada rohnya yang berada beberapa meter di belakangku.
Dua Elias berada di ruangan yang sama.
Yang hidup terlihat kelelahan.
Yang satu lagi transparan dan pucat.
“Happy anniversary,” kata Elias sambil tersenyum.
Aku tidak menjawab.
Senyumnya perlahan menghilang ketika melihat dokumen di tanganku.
Wajahnya langsung berubah.
“Clara…”
“Kamu sakit?”
Elias diam.
“Jawab aku.”
Dia menutup pintu.
“Dari mana kamu dapat itu?”
“Jawab!”
Elias menunduk.
“Iya.”
Dadaku terasa sesak.
“Enam bulan?”
“Iya.”
Aku memukul dadanya.
“Enam bulan, Elias!”
Dia membiarkanku memukulnya sampai akhirnya aku menangis.
“Kenapa kamu bohong?”
“Aku takut.”
“Kamu takut?”
Aku menatapnya dengan mata penuh air mata.
“Aku yang bisa melihat orang mati sejak kecil, tapi kamu yang takut?”
Elias memelukku.
“Aku takut melihatmu menunggu kematianku setiap hari.”
Kalimat itu menghancurkan kemarahanku.
“Aku ingin beberapa bulan terakhir kita tetap normal,” lanjutnya. “Aku tidak mau setiap kali kamu melihatku, kamu bertanya dalam hati apakah itu hari terakhir.”
Aku menangis di dadanya.
Lalu mataku melihat sosok di belakang Elias.
Rohnya masih berdiri di sana.
Tetapi sekarang dia menunjuk ke jam dinding.
Pukul 22.47.
Aku langsung teringat sesuatu.
Sepanjang hidupku, aku hanya melihat roh orang yang sudah meninggal.
Tidak pernah orang hidup.
Berarti sosok di depanku bukan sekadar hantu.
Mungkin dia adalah pertanda.
“Elias, kita harus ke rumah sakit.”
“Apa?”
“Sekarang.”
“Aku baik-baik saja.”
“Tidak. Kita pergi sekarang.”
Elias menggeleng.
“Aku baru dari rumah sakit sore tadi.”
Aku menatapnya.
“Kamu dari rumah sakit?”
“Ada pemeriksaan lanjutan. Dokter bilang kondisiku stabil.”
Roh Elias tiba-tiba bergerak.
Dia berjalan menuju balkon.
Aku mengikutinya dengan mata.
Lalu dia menunjuk ke bawah.
Ke jalan raya.
Saat itu aku memahami sesuatu.
“Kamu pulang naik apa?”
“Mobil.”
“Sendiri?”
“Iya.”
“Parkir di mana?”
“Basement.”
Aku mengambil kunci mobil dari tangannya.
“Kita naik taksi.”
Elias menatapku bingung.
“Clara, sebenarnya ada apa?”
Aku tidak menjawab.
Kami meninggalkan apartemen dan memesan taksi menuju rumah sakit.
Sepanjang perjalanan, aku terus menoleh ke belakang.
Roh Elias ikut bersama kami.
Dia duduk di kursi belakang, tepat di samping Elias.
Lalu sesuatu terjadi.
Di sebuah persimpangan dekat kawasan Makati, sebuah truk melaju kencang dari sisi kanan dan menerobos lampu merah.
Sopir taksi menginjak rem.
Kami berhenti hanya beberapa meter sebelum truk melintas di depan mobil.
Semua orang terdiam.
Elias memegang tanganku erat.
Kalau kami menggunakan mobil sendiri dan berangkat beberapa menit lebih awal, mungkin posisi kami akan berbeda.
Aku menoleh ke kursi belakang.
Roh Elias sudah tidak ada.
Aku mengembuskan napas lega.
Mungkin itu maksudnya.
Dia datang untuk memperingatkanku tentang kecelakaan.
Namun ketika kami tiba di rumah sakit, semuanya berubah.
Elias tiba-tiba jatuh di depan pintu IGD.
“Elias!”
Dokter dan perawat segera membawanya masuk.
Aku menunggu hampir satu jam.
Ketika dokter keluar, wajahnya serius.
“Ada perdarahan internal. Kami harus melakukan tindakan sekarang.”
Dunia di sekitarku terasa berputar.
Aku menandatangani dokumen dengan tangan gemetar.
Operasi berlangsung hampir empat jam.
Aku duduk sendirian di lorong.
Untuk pertama kalinya dalam hidupku, aku berharap melihat hantu.
Aku mencari Elias di setiap sudut.
Tidak ada.
Menjelang subuh, dokter keluar.
“Operasinya berhasil.”
Aku hampir jatuh karena lega.
Namun dokter melanjutkan.
“Kondisinya tetap serius. Penyakitnya sudah berkembang cukup jauh. Kami akan membicarakan pilihan perawatan setelah dia sadar.”
Ketika akhirnya diperbolehkan masuk, Elias membuka mata perlahan.
Aku menggenggam tangannya.
“Jangan sembunyikan apa pun lagi dariku.”
Dia tersenyum lemah.
“Janji.”
Tiga bulan berikutnya menjadi periode paling berat dalam pernikahan kami.
Kemoterapi.
Rumah sakit.
Malam-malam tanpa tidur.
Ada hari ketika Elias masih bisa bercanda, ada pula hari ketika bahkan mengangkat kepala terasa terlalu berat.
Namun kami berhenti berpura-pura.
Kami bicara tentang semuanya.
Tentang rasa takut.
Tentang kematian.
Tentang hidup.
Tentang semua hal kecil yang selama ini kami anggap akan selalu memiliki hari esok.
Suatu malam Elias bertanya kepadaku,
“Clara, kalau aku mati nanti, kamu bisa melihatku?”
Aku terdiam.
“Mungkin.”
“Kalau begitu jangan takut.”
Aku menatapnya.
Dia tersenyum.
“Dulu aku bilang selama aku ada, tidak ada hantu yang akan menyakitimu. Kalau nanti aku jadi salah satu dari mereka, berarti aku tetap bisa menjaga janji.”
Aku menangis sambil tertawa.
Enam bulan setelah malam ulang tahun pernikahan kami, Elias meninggal dunia.
Tenang.
Tanganku berada dalam genggamannya ketika napas terakhirnya berhenti.
Aku menunggu.
Satu menit.
Lima menit.
Sepuluh menit.
Aku melihat ke setiap sudut kamar rumah sakit.
Tidak ada Elias.
Hari pemakamannya pun sama.
Banyak roh berdiri di sekitar pemakaman.
Tetapi Elias tidak ada.
Aku tidak tahu apakah harus sedih atau lega.
Mungkin dia benar-benar sudah pergi ke tempat yang tidak bisa kujangkau.
Setahun kemudian, pada malam ulang tahun pernikahan kami yang keenam, aku kembali menyiapkan dua gelas wine.
Kebiasaan bodoh, mungkin.
Aku duduk sendirian di ruang makan.
Pukul 22.47.
Lampu ruang tamu tiba-tiba berkedip.
Udara menjadi dingin.
Aku menoleh.
Seseorang berdiri di sudut ruangan.
Elias.
Kali ini dia tidak membungkuk.
Dia berdiri tegak dengan wajah yang sehat seperti saat pertama kali kami menikah.
Aku tidak takut.
Aku tersenyum sambil menangis.
“Hai.”
Elias tersenyum.
Kemudian sesuatu yang mustahil terjadi.
Untuk pertama kalinya sejak kecil, aku mendengar suara dari seorang roh.
Sangat pelan.
“Terima kasih sudah menyelamatkanku malam itu.”
Aku membeku.
“Menyelamatkanmu?”
Elias menggeleng.
“Bukan dari kematian.”
Dia menunjuk ke arah meja makan.
“Dari menjalani sisa hidupku sendirian dengan ketakutan.”
Air mataku jatuh.
Barulah aku mengerti.
Roh yang kulihat malam itu bukan datang untuk mencegah Elias meninggal.
Kematian memang tetap datang enam bulan kemudian.
Dia muncul agar rahasia itu terbongkar.
Agar Elias tidak menghabiskan sisa hidupnya berpura-pura kuat.
Agar aku memiliki kesempatan menemani orang yang kucintai ketika dia paling membutuhkanku.
Elias berjalan mendekat.
Untuk sesaat, aku merasakan sesuatu menyentuh dahiku seperti sebuah kecupan.
Kemudian tubuhnya perlahan memudar.
“Elias.”
Dia berhenti.
“Apa aku akan melihatmu lagi?”
Dia tersenyum.
“Tidak.”
Anehnya, jawaban itu justru membuatku lega.
Sebelum menghilang sepenuhnya, dia mengatakan satu kalimat terakhir.
“Hiduplah, Clara.”
Udara kembali hangat.
Aku duduk lama di sana sambil menangis.
Kemudian aku mengambil gelas kedua dari meja dan menyimpannya kembali ke lemari.
Sejak malam itu, aku masih bisa melihat roh.
Di jalan.
Di rumah sakit.
Di belakang orang-orang yang sedang berduka.
Namun aku tidak lagi takut kepada mereka.
Karena Elias telah mengajariku sesuatu yang selama bertahun-tahun tidak pernah kupahami.
Yang paling menakutkan bukanlah melihat orang mati.
Yang paling menakutkan adalah memiliki seseorang yang masih hidup di samping kita, tetapi membiarkan ketakutan membuat kita gagal benar-benar hadir untuknya.
Dan terkadang, perpisahan bukanlah saat seseorang meninggal.
Perpisahan yang sebenarnya terjadi ketika kita akhirnya berani melepaskan orang yang kita cintai, lalu memilih untuk tetap hidup.
