IBU MERTUAKU BERDIRI DI DEPAN PINTU APARTEMEN BARUKU DAN BERTERIAK BAHWA APARTEMEN ITU DIBELI ANAKNYA UNTUK DIRINYA. DIA MENYEBUTKU SAMPAH, JADI AKU PUN MEMBUANG “SAMPAH” ITU. DAN KETIKA SUAMIKU MENGETAHUI APA YANG KULAKUKAN, RAHANGNYA LANGSUNG TERNGANGA KARENA TERKEJUT!

Suara Anton di ujung telepon mendadak hilang.

Bukan karena sambungan terputus. Aku masih bisa mendengar suara pendingin udara dari kantornya dan napasnya yang tiba-tiba menjadi berat.

“Clara,” katanya akhirnya. “Tolong jangan lakukan apa-apa dulu. Aku pulang sekarang.”

Aku memandang Leticia yang berdiri beberapa meter dariku dengan wajah merah padam.

“Sudah terlambat,” jawabku. “Barang-barang ibumu sudah ada di lorong.”

“Apa?”

“Aku hanya mengikuti permintaannya. Dia menyuruhku membuang sampah dari apartemen ini.”

Leticia langsung merebut ponsel dari tanganku.

“Anton! Istrimu sudah gila! Dia melempar barang-barang Mama ke luar! Kamu harus menceraikan perempuan ini sekarang juga!”

Aku mengambil kembali ponselku.

“Pulanglah kalau kamu ingin menjelaskan semuanya.”

Aku memutus sambungan.

Leticia menatapku seperti ingin menerkam.

“Kamu akan menyesali ini.”

“Mungkin,” jawabku tenang. “Tapi sebelum itu, silakan ambil barang-barang Ibu dari lorong. Pengelola apartemen tidak mengizinkan barang pribadi menghalangi jalan.”

“Kamu berani mengusirku?”

“Ini rumah saya.”

“Rumah anakku!”

Aku hampir tertawa.

Namun aku memilih diam.

Kurang dari empat puluh menit kemudian, Anton datang. Kemeja kantornya masih rapi, tetapi rambutnya berantakan dan wajahnya dipenuhi keringat.

Begitu pintu lift terbuka, dia melihat koper-koper ibunya berjejer di lorong.

“Anton!”

Leticia berlari menghampirinya.

“Kamu lihat apa yang dilakukan istrimu? Mama dipermalukan seperti pengemis!”

Anton tidak menjawab. Tatapannya justru tertuju kepadaku.

“Clara, kita bicara di dalam.”

“Tidak,” kataku. “Kita bicara di sini. Ibumu juga perlu mendengarnya.”

Leticia mendengus.

“Mendengar apa?”

Aku menyilangkan tangan.

“Anton, katakan kepada ibumu siapa yang membeli apartemen ini.”

Wajah Anton langsung pucat.

“Clara…”

“Katakan.”

Leticia menatap putranya.

“Apa maksudnya?”

Anton mengusap wajahnya.

“Ma, sebenarnya apartemen ini…”

Dia berhenti.

Aku tidak membantunya.

Untuk pertama kalinya sejak kami menikah, aku ingin Anton membereskan kebohongannya sendiri.

“Apartemen ini dibeli Clara.”

Lorong itu mendadak sunyi.

Leticia berkedip beberapa kali.

“Apa?”

“Clara yang membelinya.”

“Kamu bilang bonusmu besar.”

“Aku bohong.”

Leticia menatapku, kemudian kembali menatap Anton.

“Jadi kamu yang membayar cicilannya?”

Anton menggeleng pelan.

“Tidak ada cicilan.”

“Apa maksudmu?”

“Clara membelinya tunai.”

Wajah Leticia berubah.

Dia tampak seperti seseorang yang baru menyadari bahwa lantai tempatnya berdiri ternyata tidak pernah benar-benar ada.

“Itu tidak mungkin,” katanya. “Perempuan ini?”

Aku menahan napas.

Bahkan setelah mengetahui kenyataannya, dia masih memandangku seolah keberhasilanku merupakan penghinaan pribadi baginya.

Aku masuk ke apartemen, mengambil map dari laci meja, lalu kembali.

Di dalamnya terdapat salinan dokumen pembelian.

Kuserahkan kepada Anton.

“Bacakan nama pemiliknya.”

Anton tidak perlu membacanya.

Leticia merebut dokumen itu.

Matanya bergerak cepat menyusuri halaman pertama.

Namaku tercetak jelas di sana.

Clara Wijaya.

Tangannya mulai gemetar.

“Kenapa nama Anton tidak ada?”

Aku menatapnya.

“Karena saya membelinya sebelum proses penggabungan aset kami dilakukan. Uangnya juga berasal dari rekening pribadi dan tabungan usaha saya.”

Leticia membanting map itu ke atas koper.

“Jadi selama ini kamu membiarkan anakku terlihat seperti pembohong?”

Aku tercengang.

Bukan Anton yang disalahkannya.

Aku.

“Ma,” Anton mencoba menghentikannya.

Namun Leticia terus berbicara.

“Kalau kamu istri yang baik, seharusnya apartemen ini atas nama suamimu!”

Aku menatap Anton.

Aku menunggu.

Aku ingin tahu apakah kali ini dia akan membelaku.

Beberapa detik terasa sangat panjang.

Kemudian Anton berkata pelan, “Mama, cukup.”

Leticia terdiam.

“Apa?”

“Clara tidak salah.”

Itu mungkin pertama kalinya dalam tiga tahun pernikahan kami Anton mengatakan kalimat seperti itu kepada ibunya.

Namun anehnya, aku tidak merasa lega.

Karena semuanya sudah terlambat.

Aku memandang suamiku.

“Sekarang giliranku bertanya.”

Anton menelan ludah.

“Apa?”

“Kenapa ibumu yakin apartemen ini hadiah untuknya?”

“Aku cuma…”

“Jangan bilang salah paham. Dia datang membawa empat koper. Itu bukan salah paham.”

Anton menunduk.

Akhirnya dia mengaku.

Beberapa minggu sebelumnya, Leticia mengeluh karena rumah lamanya terlalu jauh dari pusat kota. Dia ingin pindah ke apartemen yang lebih nyaman.

Anton, yang sudah telanjur mengaku sebagai pembeli apartemen kami, tidak berani mengatakan kebenaran.

Jadi ketika ibunya bertanya apakah dia boleh tinggal bersama kami sementara waktu, Anton menjawab bahwa apartemen itu sebenarnya memang dibeli agar keluarganya bisa menikmatinya.

Leticia menerjemahkan kalimat itu sesuka hatinya.

Tetapi ada sesuatu yang lebih buruk.

“Semalam Mama menelepon,” Anton berkata. “Dia bilang mau pindah hari ini.”

“Dan kamu?”

“Aku bilang kita bicarakan nanti.”

“Apakah kamu melarangnya datang?”

Anton diam.

Jawabannya jelas.

Aku mengangguk perlahan.

Masalah sebenarnya bukan Leticia.

Masalah sebenarnya adalah seorang suami yang selama bertahun-tahun membiarkan kebohongan kecil tumbuh karena takut kehilangan citra di depan keluarganya.

“Clara, aku minta maaf.”

Aku menatapnya.

“Untuk yang mana?”

Anton membisu.

“Untuk mengaku membeli rumah ini? Untuk membiarkan ibumu berpikir dia berhak tinggal di sini? Atau karena kamu tahu dia akan datang tetapi tidak memberitahuku?”

“Semua.”

Aku menghela napas.

Leticia tiba-tiba menyela.

“Sudahlah, Anton! Tidak perlu meminta maaf kepadanya. Kalau apartemen ini miliknya, kita pergi saja!”

Dia menarik sebuah koper.

Namun sebelum masuk ke lift, dia berbalik.

“Kamu pikir uang membuatmu lebih tinggi daripada keluarga kami, Clara?”

Aku menatapnya lama.

“Tidak, Ma. Uang tidak pernah membuat saya merasa lebih tinggi. Tapi rumah yang saya beli sendiri memberi saya hak menentukan siapa yang boleh masuk dan siapa yang tidak.”

Pintu lift tertutup di depan wajahnya.

Anton masih berdiri di lorong.

Aku membuka pintu apartemen.

Dia hendak masuk.

Aku mengangkat tangan.

“Tunggu.”

Anton membeku.

“Aku suamimu.”

“Aku tahu.”

“Jadi kenapa?”

“Karena aku belum memutuskan apakah aku masih ingin tinggal serumah denganmu.”

Wajahnya berubah.

Untuk pertama kalinya hari itu, kesombongan yang selama ini kulihat dalam dirinya benar-benar hilang.

Aku tidak mengusir Anton malam itu.

Namun aku memintanya tinggal di hotel selama beberapa hari.

Aku membutuhkan ruang untuk berpikir.

Tiga hari kemudian, sesuatu yang tidak kuduga terjadi.

Aku menerima telepon dari seorang perempuan bernama Maya.

Dia adalah adik Anton.

Kami tidak terlalu dekat karena Maya tinggal di Surabaya dan jarang menghadiri acara keluarga.

“Aku dengar soal Mama,” katanya.

Aku sudah bersiap mendengar ceramah tentang pentingnya menghormati orang tua.

Namun Maya justru berkata, “Aku menelepon untuk memperingatkanmu.”

Dadaku terasa dingin.

“Memperingatkanku tentang apa?”

“Mama mungkin akan meminta Anton menjual apartemenmu.”

Aku hampir tertawa.

“Dia tidak bisa.”

“Aku tahu. Tapi Mama mungkin belum tahu seberapa jauh kebohongan Anton.”

Aku terdiam.

“Maksudmu?”

Maya menarik napas panjang.

Lalu dia menceritakan sesuatu yang membuatku duduk tegak.

Selama hampir dua tahun, Anton ternyata sering meminjamkan uang kepada ibunya.

Bukan jumlah kecil.

Sebagian uang itu digunakan Leticia untuk menutup utang akibat bisnis butik yang gagal.

Anton tidak pernah memberitahuku.

“Berapa banyak?” tanyaku.

“Terakhir yang kutahu, sekitar empat ratus juta.”

Tanganku langsung dingin.

Aku tidak marah karena Anton membantu ibunya.

Aku marah karena kami memiliki rencana keuangan bersama, sementara dia menyembunyikan kewajiban sebesar itu dariku.

Malam itu aku meminta Anton datang.

Ketika kutanyakan tentang utang tersebut, ekspresinya langsung menjawab semuanya.

“Kenapa kamu tidak pernah cerita?”

“Aku takut kamu marah.”

“Jadi solusi kamu adalah berbohong?”

“Aku berniat membereskannya sendiri.”

“Kapan?”

Anton tidak bisa menjawab.

Kemudian dia mengeluarkan sesuatu dari tas kerjanya.

Sebuah map.

“Ada satu hal lagi.”

Aku menatapnya.

“Apa lagi?”

“Mama memintaku menjaminkan apartemen ini untuk mendapatkan pinjaman.”

Aku merasa darahku berhenti mengalir sesaat.

“Apa?”

“Aku tidak pernah melakukannya.”

“Kamu mempertimbangkannya?”

Anton menunduk.

Itulah jawaban yang paling menyakitkan.

Bukan karena dia sudah mengambil apartemenku.

Dia tidak bisa melakukannya tanpa persetujuanku.

Namun fakta bahwa dia sempat mempertimbangkan menggunakan hasil kerja kerasku untuk menyelamatkan kebohongan yang dia ciptakan sendiri membuat sesuatu dalam diriku runtuh.

“Aku bekerja tujuh tahun untuk membeli tempat ini,” kataku. “Kamu tahu berapa banyak malam aku tidur cuma empat jam? Kamu tahu berapa kali aku menolak liburan, tas mahal, mobil baru, hanya karena aku punya tujuan?”

“Aku tahu.”

“Tidak. Kalau kamu tahu, kamu tidak akan pernah mempertimbangkan itu.”

Anton mulai menangis.

Aku belum pernah melihatnya menangis.

“Clara, aku malu.”

“Karena ketahuan?”

“Karena aku selalu merasa lebih kecil darimu.”

Aku terdiam.

Anton mengusap matanya.

“Kamu membangun usaha sendiri. Penghasilanmu naik setiap tahun. Kamu bisa membeli apartemen tanpa bantuan siapa pun. Setiap kali keluargaku memujimu, aku merasa mereka sedang membandingkanku denganmu.”

“Tidak pernah sekali pun aku membandingkanmu.”

“Aku tahu. Itu justru yang membuat semuanya lebih buruk. Masalahnya bukan kamu. Masalahnya aku.”

Untuk pertama kalinya, Anton mengatakan sesuatu tanpa mencari alasan.

Dia mengaku bahwa kebohongannya kepada Leticia bukan tentang apartemen.

Itu tentang harga dirinya.

Dia ingin menjadi anak sukses di mata ibunya dan suami hebat di mata keluarganya.

Sampai akhirnya dia menciptakan kehidupan palsu yang bahkan tidak sanggup dia pertahankan.

Aku tidak langsung memaafkannya.

Maaf tidak menghapus konsekuensi.

Anton menjalani konseling seorang diri selama beberapa bulan. Dia membuat seluruh kondisi keuangannya transparan kepadaku dan menyusun sendiri rencana pembayaran utangnya tanpa menggunakan satu rupiah pun dari asetku.

Sementara itu, Leticia tidak menghubungiku.

Sampai enam bulan kemudian.

Suatu sore, bel apartemen berbunyi.

Aku melihat kamera pintu.

Leticia.

Namun kali ini tidak ada koper.

Tidak ada kardus.

Tidak ada wajah angkuh.

Dia berdiri sendirian membawa sebuah kotak kecil.

Aku membuka pintu, tetapi tidak langsung mempersilahkannya masuk.

“Ada apa, Ma?”

Dia menatapku lama.

“Aku datang untuk mengembalikan sesuatu.”

Dia menyerahkan kotak itu.

Di dalamnya terdapat sebuah gelang emas.

Aku mengenal gelang tersebut. Itu hadiah pernikahan darinya tiga tahun lalu.

“Aku tidak mengerti.”

“Aku menjual sebagian perhiasanku untuk membantu membayar utang.”

Aku menatapnya.

“Gelang itu milik saya.”

“Karena itu aku tidak menjualnya.”

Untuk pertama kalinya, suara Leticia tidak terdengar seperti perintah.

“Aku datang bukan untuk meminta rumahmu.”

Dia menunduk.

“Aku datang untuk meminta maaf.”

Aku tidak mengatakan apa-apa.

“Aku menyebutmu sampah karena aku percaya anakku membiayai hidupmu. Ternyata aku bahkan tidak tahu bagaimana anakku menjalani hidupnya sendiri.”

Matanya berkaca-kaca.

“Aku terlalu sibuk membanggakan Anton sampai aku membuatnya takut mengatakan bahwa dia tidak sehebat yang kubayangkan.”

Aku tidak pernah menyangka mendengar pengakuan itu.

Kemudian dia tersenyum pahit.

“Mungkin kesombongan Anton bukan hanya kesalahannya.”

Aku menerima gelang tersebut.

Hari itu aku mempersilakan Leticia masuk.

Bukan karena semuanya sudah kulupakan.

Melainkan karena permintaan maaf yang tulus pantas diberi kesempatan untuk dibuktikan.

Setahun setelah kejadian itu, Anton dan aku masih menikah.

Hubungan kami tidak kembali seperti dulu.

Anehnya, justru itu hal terbaik yang terjadi pada kami.

Kami membangun hubungan baru yang tidak didasarkan pada gengsi, kebohongan, atau kebutuhan terlihat sempurna di depan keluarga.

Suatu malam, ketika kami sedang makan di balkon apartemen, Anton tiba-tiba tertawa.

“Aku masih ingat wajah Mama waktu melihat kopernya terbang ke lorong.”

Aku ikut tertawa.

“Dia menyuruhku membuang sampah.”

“Dan kamu benar-benar melakukannya.”

Aku menatap lampu-lampu Jakarta di bawah sana.

“Aku hampir membuang suaminya juga.”

Anton langsung terdiam.

Aku menoleh.

Wajahnya pucat.

Lalu kami berdua tertawa.

Namun jauh di dalam hati, aku tahu ada kebenaran dalam kalimat itu.

Hari ketika Leticia datang membawa empat koper, aku mengira sedang mempertahankan apartemenku.

Ternyata yang sedang kupertahankan jauh lebih besar daripada itu.

Harga diriku.

Batas yang selama ini terlalu takut kutegakkan.

Dan hak untuk tidak mengecilkan pencapaianku hanya agar orang yang kucintai merasa lebih besar.

Apartemen itu akhirnya tetap menjadi rumah kami.

Tetapi ada satu perubahan kecil yang sengaja tidak pernah kuubah.

Nama di dokumen kepemilikannya.

Tetap hanya namaku.

Clara Wijaya.

Karena cinta memang berarti berbagi banyak hal.

Namun cinta tidak pernah seharusnya meminta seseorang menyerahkan harga dirinya demi menjaga kesombongan orang lain.

Để lại một bình luận

Email của bạn sẽ không được hiển thị công khai. Các trường bắt buộc được đánh dấu *

Lên đầu trang