“Kalau sampai anak dalam kandunganku meninggal malam ini, apakah kamu masih akan menyuruhku pulang untuk memasak makanan anjing Bea?”
Pertanyaan itu kukirim kepada Carlo tepat pukul satu dini hari.
Pesanku sudah dibaca, tetapi tidak dibalas.
Lima menit kemudian, sebuah foto muncul di Instagram Story Bea. Carlo sedang duduk di restoran mewah di Jakarta Selatan, tersenyum sambil menggendong Coco, anjing kesayangan adik angkatnya itu.
Di bawah foto tersebut tertulis kalimat yang membuat dadaku terasa sesak.
“Laki-laki terbaik selalu tahu siapa yang pantas diprioritaskan.”
Aku menatap layar ponsel cukup lama sebelum akhirnya mematikannya.
Namaku Grace. Usiaku dua puluh delapan tahun. Aku sedang hamil enam bulan, dan malam itu aku baru menyadari bahwa selama tiga tahun menjalin hubungan dengan Carlo, aku tidak pernah benar-benar menjadi prioritasnya.
Semuanya bermula dari gaun pengantin.
Sudah dua puluh sembilan kali aku mendatangi butik pengantin di Jakarta untuk menyesuaikan ukuran gaunku. Perutku semakin membesar, sementara tanggal pernikahan terus berubah karena Bea belum menemukan calon suami yang cocok.
Carlo bersikeras kami harus menikah bersamaan dengan Bea.
Ketika aku memintanya menetapkan tanggal, dia justru membentakku.

“Kamu pikir dunia berputar mengelilingi perutmu? Bea masih mencari pasangan. Jangan egois!”
Bea yang mendengar percakapan kami langsung tertawa.
“Perempuan yang hamil sebelum menikah seharusnya bersyukur masih ada laki-laki yang mau bertanggung jawab.”
Aku menahan air mata.
Padahal, sebelum hamil, Carlo sendiri yang berlutut dan memintaku menikah dengannya.
Dia berjanji akan membangun keluarga yang bahagia.
Aku mempercayainya.
Bahkan ketika ayahku menentang hubungan kami karena keluarga Carlo terkenal sombong, aku tetap membelanya.
Sekarang, aku harus menanggung akibat dari kepercayaanku sendiri.
Sore sebelum kejadian itu, Bea menyuruh sopir keluarga mengantarku pulang dari butik. Di tengah perjalanan, sopir tersebut sengaja mengemudi dengan kasar, berulang kali mengerem mendadak hingga perutku membentur sandaran kursi depan.
Ketika aku memintanya berhenti, dia malah tertawa.
“Nona Bea bilang Ibu terlalu manja. Katanya sedikit guncangan tidak akan membahayakan bayi.”
Aku berusaha merekam perkataannya, tetapi dia merebut ponselku dan melemparkannya ke lantai.
Beberapa menit kemudian, dia menurunkanku di pinggir jalan saat hujan deras.
Aku terjatuh hingga lututku berdarah.
Perutku terasa nyeri, tetapi Carlo tidak menjawab satu pun panggilanku.
Aku akhirnya meminta bantuan seorang pengendara motor yang mengantarku ke kantor polisi terdekat.
Empat jam kemudian, Carlo datang.
Bukannya menanyakan kondisiku, dia justru mengeluh karena harus meninggalkan acara makan malam bersama Bea.
“Kenapa masalah kecil begini harus dibawa ke polisi? Kamu sengaja mempermalukan keluargaku?”
Aku menunjukkan luka di lututku.
Dia hanya melirik sekilas.
“Sudahlah. Pulang sekarang. Coco belum makan.”
Saat itulah sesuatu dalam diriku benar-benar berubah.
Aku meninggalkannya dan menginap di sebuah hotel.
Malam itu, demamku meningkat. Rasa nyeri di perut juga belum hilang.
Aku sempat membuka aplikasi rumah sakit untuk mencari informasi mengenai penghentian kehamilan. Dalam keputusasaan, aku merasa tidak sanggup lagi membawa anak yang ayahnya bahkan tidak peduli apakah kami masih hidup.
Namun, ketika dokter yang kuhubungi mengetahui usia kandunganku dan mendengar keluhanku, dia memintaku segera datang ke unit gawat darurat.
“Bu Grace, kondisi Ibu perlu diperiksa sekarang. Nyeri setelah benturan pada kehamilan enam bulan tidak boleh diabaikan.”
Aku akhirnya menelepon sahabatku, Maya.
Dia datang bersama suaminya dan langsung membawaku ke rumah sakit.
Hasil pemeriksaan menunjukkan adanya tanda-tanda kontraksi dini akibat benturan dan kelelahan. Dokter memutuskan aku harus menjalani observasi ketat.
Ketika mendengar detak jantung bayiku melalui alat pemeriksaan, aku menangis tanpa suara.
Maya menggenggam tanganku.
“Grace, kamu tidak harus menikahi Carlo hanya karena sedang mengandung anaknya.”
Aku memejamkan mata.
“Aku takut anakku tumbuh tanpa ayah.”
Maya mengusap air mataku.
“Lebih baik tumbuh bersama ibu yang mencintainya daripada melihat ibunya terus dihancurkan.”
Kata-kata itu membuatku terdiam.
Untuk pertama kalinya, aku membayangkan kehidupan tanpa Carlo.
Anehnya, bayangan itu tidak lagi menakutkan.
Keesokan paginya, aku meminta Maya menghubungi seorang pengacara bernama Rendra.
Aku mengenalnya sejak bekerja sebagai manajer keuangan di perusahaan ayahku.
Sebelum bertunangan, aku sebenarnya memiliki kehidupan yang cukup mapan. Ayahku mempunyai perusahaan distribusi bahan bangunan di Bekasi, sementara aku mengelola beberapa investasi keluarga.
Namun, sejak bersama Carlo, aku sengaja menyembunyikan sebagian besar keadaan keuanganku.
Aku ingin dicintai sebagai Grace, bukan sebagai putri seorang pengusaha.
Carlo hanya mengetahui bahwa ayahku memiliki usaha kecil di daerah.
Dia tidak pernah bertanya lebih jauh.
Yang lebih menyakitkan, selama dua tahun terakhir, aku diam-diam membantu perusahaan Carlo melalui sebuah perusahaan investasi milik keluargaku.
Ketika bisnisnya hampir bangkrut, aku meminta ayahku menyediakan fasilitas pendanaan senilai dua belas miliar rupiah.
Carlo mengira dana tersebut berasal dari investor luar negeri.
Dia tidak pernah tahu siapa yang sebenarnya menyelamatkan perusahaannya.
Pagi itu, aku menelepon ayahku.
“Pa, Grace minta maaf.”
Di seberang telepon, ayah terdiam.
Sejak terkena stroke ringan akibat penghinaan yang disebarkan Bea, kondisi kesehatannya belum sepenuhnya pulih.
“Ada apa, Nak?”
“Aku tidak jadi menikah dengan Carlo.”
Aku mendengar suara sesuatu terjatuh.
Kemudian ayah bertanya dengan suara bergetar.
“Kamu sungguh-sungguh?”
“Iya, Pa. Aku mau pulang.”
Ayah menangis.
Itulah pertama kalinya aku mendengar laki-laki yang selalu terlihat kuat itu menangis seperti anak kecil.
“Pulanglah, Grace. Rumah ini tidak pernah menutup pintu untukmu.”
Siang harinya, pengacara Rendra datang membawa beberapa dokumen.
Kami memeriksa kembali seluruh perjanjian pendanaan perusahaan Carlo.
Ternyata ada satu hal yang selama ini tidak kuketahui.
Selama enam bulan terakhir, Carlo menggunakan dana operasional perusahaan untuk membiayai gaya hidup Bea.
Pembelian mobil mewah, perjalanan ke Bali, perhiasan, bahkan pesta ulang tahun Coco semuanya dibebankan sebagai biaya promosi perusahaan.
Jumlahnya mencapai hampir dua miliar rupiah.
Rendra menunjukkan beberapa laporan transaksi.
“Grace, kalau bukti ini benar, Carlo bukan cuma menyalahgunakan dana perusahaan. Dia juga melanggar sejumlah ketentuan dalam perjanjian pembiayaan.”
Aku menatap dokumen tersebut.
“Lakukan audit independen. Kalau ada pelanggaran, ambil langkah sesuai kontrak.”
Rendra mengangguk.
“Bagaimana dengan pernikahan?”
“Batalkan semua pesanan yang masih bisa dibatalkan. Untuk biaya yang sudah dibayar, aku akan menyelesaikan kewajibanku sendiri.”
Lalu aku teringat sesuatu.
“Dan tolong simpan rekaman kamera dari butik pengantin.”
Aku belum tahu bahwa rekaman itu akan menjadi bukti paling penting dalam hidupku.
Tiga hari kemudian, Carlo akhirnya datang ke rumah sakit.
Dia membawa sebuket bunga mawar putih.
Namun, sebelum sempat duduk, dia langsung berkata, “Grace, kamu harus menghubungi pihak hotel. Mereka bilang acara pernikahan kita dibatalkan.”
Aku menatapnya tanpa ekspresi.
“Memang aku yang membatalkannya.”
Wajah Carlo berubah.
“Kamu bercanda?”
“Tidak.”
Dia meletakkan bunga dengan kasar.
“Kamu sedang hamil anakku! Mau mempermalukan keluarga kita?”
Aku menarik napas panjang.
“Ketika aku meminta pertolongan di tengah hujan, kamu memilih menemani Bea. Ketika aku kesakitan, kamu menyuruhku pulang memasak makanan anjing. Sekarang kamu baru ingat aku sedang hamil anakmu?”
Carlo terdiam sesaat.
Kemudian dia tertawa sinis.
“Jangan berlebihan. Kamu tahu Bea memang sensitif. Dia kehilangan orang tua sejak kecil. Aku harus menjaganya.”
“Lalu siapa yang menjaga aku?”
Dia tidak menjawab.
Aku menunjuk pintu.
“Pergilah.”
Carlo mendekat dan meraih tanganku.
“Grace, dengarkan aku. Kalau kamu membatalkan pernikahan ini, siapa lagi yang mau menerima perempuan hamil enam bulan?”
Aku menatap matanya.
“Kalau begitu, aku tidak perlu diterima siapa pun.”
Senyumnya menghilang.
Sebelum pergi, dia mengancam akan mengambil hak asuh anak kami setelah lahir.
Aku tidak membalas.
Aku hanya meminta perawat mencatat kunjungannya dan menghubungi petugas keamanan.
Dua hari setelah itu, perusahaan Carlo menerima pemberitahuan audit.
Dia langsung meneleponku.
“Grace! Kamu tahu siapa investor yang mendanai perusahaanku? Mereka tiba-tiba meminta seluruh dokumen keuangan!”
“Aku tahu.”
“Bagus. Kalau kamu mengenal mereka, bantu aku. Ini pasti kesalahpahaman.”
Aku terdiam sebentar.
“Carlo, apakah kamu pernah bertanya dari mana uang yang menyelamatkan perusahaanmu berasal?”
“Memangnya kenapa?”
“Karena perusahaan investasi itu milik keluargaku.”
Keheningan panjang terdengar.
Kemudian Carlo tertawa gugup.
“Jangan bercanda.”
“Aku tidak bercanda.”
Aku mengirimkan salinan halaman identitas pihak pemberi dana dalam perjanjian investasi.
Beberapa detik kemudian, dia menelepon lagi.
Kali ini suaranya berubah total.
“Grace, sayang, kenapa kamu tidak pernah memberitahuku?”
Aku hampir tertawa.
“Karena aku ingin tahu apakah kamu tetap mencintaiku tanpa mengetahui kekayaan keluargaku.”
“Bukan begitu maksudku.”
“Sekarang aku sudah tahu jawabannya.”
Aku menutup telepon.
Namun, persoalan sebenarnya baru dimulai.
Malam berikutnya, Maya mengirimkan sebuah video.
Dalam rekaman kamera butik pengantin, Bea terlihat sedang berbicara dengan sopir yang kemudian mengantarku.
Dia menyerahkan amplop tebal sambil berkata, “Buat dia kapok. Jangan sampai dia datang lagi mengganggu persiapan pernikahan.”
Sopir itu bertanya, “Kalau sampai terjadi sesuatu dengan bayinya?”
Bea menjawab sambil tertawa.
“Kalau tidak ada bayi, bukankah Kak Carlo tidak perlu buru-buru menikah?”
Tanganku gemetar.
Aku memutar rekaman itu berkali-kali.
Selama ini aku mengira Bea hanya ingin menunda pernikahan.
Ternyata dia juga ingin menyingkirkan anakku.
Rendra segera menyerahkan rekaman tersebut kepada penyidik bersama laporan medis, rekaman kamera jalan, dan keterangan saksi.
Sopir itu akhirnya ditemukan.
Dalam pemeriksaan, dia mengakui menerima uang dari Bea untuk menakut-nakutiku.
Namun, pengakuannya mengungkap fakta lain.
Bea ternyata tidak bertindak sendirian.
Beberapa hari sebelum kejadian, Carlo pernah mengatakan kepadanya bahwa dia menyesal telah membuatku hamil.
Menurut keterangan sopir, Bea menggunakan ucapan itu untuk meyakinkannya bahwa Carlo tidak akan mempermasalahkan tindakan kasar terhadapku.
Aku tidak tahu apakah Carlo mengetahui rencana Bea secara rinci.
Penyidik pun belum menyimpulkannya.
Tetapi aku sudah cukup memahami betapa sedikitnya keselamatanku berarti bagi mereka.
Seminggu kemudian, Carlo datang ke rumah orang tuaku di Bekasi bersama Bea.
Saat itu aku baru diperbolehkan pulang dari rumah sakit dengan instruksi beristirahat dan menjalani pemeriksaan rutin.
Carlo membawa hadiah mahal.
Bea membawa kue.
Begitu melihatku, Bea langsung menangis.
“Kak Grace, aku benar-benar tidak menyangka sopir itu akan bertindak sejauh itu. Aku cuma ingin memberimu pelajaran kecil.”
Ayahku yang duduk di kursi roda langsung membentak.
“Pelajaran kecil? Anak saya hampir kehilangan bayinya!”
Bea terisak semakin keras.
Carlo segera merangkul bahunya.
“Pak, Bea sudah meminta maaf. Jangan memperbesar masalah.”
Aku berdiri perlahan.
“Carlo, kamu datang untuk meminta maaf kepadaku atau membela Bea?”
Dia terlihat kesal.
“Grace, jangan mempersulit keadaan.”
Aku mengambil ponsel dan memperlihatkan rekaman butik.
Ketika suara Bea terdengar mengatakan bahwa tanpa bayi Carlo tidak perlu buru-buru menikah, wajahnya langsung pucat.
Carlo melepaskan rangkulannya.
“Bea, kamu benar-benar mengatakan itu?”
Bea menggeleng panik.
“Kak, aku cuma bercanda!”
“Bercanda?” suara Carlo meninggi.
Untuk pertama kalinya, aku melihat Carlo memarahi Bea.
Namun, aku tidak merasakan kepuasan.
Aku justru merasa sangat lelah.
“Sudah cukup,” kataku.
Mereka berdua menoleh.
“Aku tidak membutuhkan pertengkaran kalian. Polisi sedang menangani perkara ini. Kalau ada yang ingin kalian jelaskan, sampaikan kepada penyidik.”
Carlo mendekat.
“Grace, aku salah. Kita masih bisa memperbaiki semuanya.”
Aku menggeleng.
“Tidak semua yang rusak bisa diperbaiki hanya karena orang yang merusaknya akhirnya menyesal.”
Carlo menangis.
Dia berlutut di hadapanku.
“Aku mencintaimu.”
Dulu, aku mungkin akan memeluknya.
Sekarang, aku hanya bertanya, “Kalau aku bukan pemilik perusahaan yang mendanaimu, apakah kamu tetap akan datang meminta maaf?”
Dia tidak mampu menjawab.
Jawaban itu sudah cukup.
Tiga bulan kemudian, aku melahirkan seorang bayi perempuan di sebuah rumah sakit di Jakarta.
Persalinannya berlangsung lebih awal dari perkiraan, tetapi setelah mendapat perawatan, kondisi putriku stabil.
Aku menamainya Aluna.
Cahaya yang lembut.
Ketika pertama kali menggendongnya, aku teringat malam ketika aku duduk sendirian di tengah hujan, merasa seluruh hidupku sudah berakhir.
Ternyata aku salah.
Hidupku justru sedang memulai babak baru.
Carlo datang ke rumah sakit setelah mendapat kabar kelahiran Aluna.
Aku mengizinkannya melihat putrinya dengan didampingi Maya.
Ketika melihat bayi mungil itu, dia menangis.
“Dia mirip kamu, Grace.”
Aku tidak menjawab.
Carlo kemudian bertanya apakah kami masih mungkin kembali bersama.
Aku menatap Aluna yang tertidur di pelukanku.
“Carlo, kamu tetap ayahnya. Aku tidak akan menghapus kenyataan itu. Tetapi menjadi ayah yang baik dan menjadi suami yang pantas dipercaya adalah dua hal berbeda.”
Dia menunduk.
“Aku mengerti.”
Untuk pertama kalinya, dia tidak membantah.
Proses hukum terhadap Bea dan sopir masih berjalan. Sementara itu, audit menemukan pelanggaran serius dalam pengelolaan perusahaan Carlo. Para pemegang saham menuntut pertanggungjawaban, dan Carlo kehilangan jabatannya sebagai direktur utama.
Aku tidak merayakan kejatuhannya.
Aku hanya memastikan semua urusan bisnis, hukum, dan pengasuhan anak diselesaikan melalui jalur yang semestinya.
Beberapa bulan kemudian, butik pengantin tempatku dulu menangis menghubungiku.
Gaun putih yang telah dua puluh sembilan kali disesuaikan itu masih tersimpan di sana.
Staf butik bertanya apakah aku ingin mengambilnya.
Aku datang bersama Maya.
Ketika melihat gaun tersebut tergantung di balik kaca, dadaku terasa sesak.
Dulu, aku begitu ingin mengenakannya.
Aku rela menahan penghinaan, menunggu berbulan-bulan, bahkan mempertaruhkan kesehatanku demi satu hari ketika Carlo akhirnya bersedia menyebutku istrinya.
Sekarang, gaun itu terlihat seperti milik orang asing.
“Bu Grace, apakah gaunnya ingin dibawa pulang?” tanya staf butik.
Aku menggeleng.
“Boleh saya minta kainnya diubah menjadi beberapa gaun kecil?”
Staf itu tampak terkejut.
“Untuk siapa, Bu?”
Aku tersenyum.
“Untuk anak-anak perempuan yang sedang dirawat di rumah sakit dan ingin merasa seperti putri dalam dongeng.”
Sebagian kainnya kemudian dijahit menjadi pakaian indah untuk anak-anak yang menjalani perawatan jangka panjang.
Aku menyimpan satu potongan renda kecil untuk Aluna.
Pada ulang tahunnya yang pertama, aku menjahit renda itu di sebuah gaun mungil berwarna putih.
Ayahku menggendong Aluna sambil tertawa bahagia.
Ibuku sibuk menyiapkan kue.
Maya mengambil foto kami bertiga di halaman rumah.
Saat itulah sebuah pesan masuk dari Carlo.
“Grace, hari ini aku baru menyadari sesuatu. Dulu aku selalu menganggap kamu tidak akan pernah pergi karena kamu terlalu mencintaiku. Ternyata orang yang paling bodoh adalah aku. Aku kehilangan keluarga yang sebenarnya sudah kumiliki.”
Aku membaca pesan itu sekali.
Lalu kusimpan ponselku tanpa membalas.
Aluna mengulurkan tangan kecilnya ke arahku.
Aku menggendongnya dan mencium keningnya.
Dari halaman rumah, terdengar suara ayah memanggil kami untuk berfoto bersama.
Aku berjalan menghampirinya.
Dulu, aku mengira kebahagiaan berarti mengenakan gaun pengantin dan berdiri di samping laki-laki yang kucintai.
Sekarang aku mengerti.
Kebahagiaan bukan tentang berhasil membuat seseorang memilih kita.
Kebahagiaan adalah ketika kita akhirnya berani memilih diri sendiri, sebelum terlambat.
Dan pada hari itu, ketika Aluna tertawa dalam pelukanku, aku tahu bahwa keputusan terbaik dalam hidupku bukanlah membatalkan pernikahan dengan Carlo.
Melainkan berhenti mengajarkan putriku, bahkan sebelum dia lahir, bahwa cinta berarti menerima penghinaan demi mempertahankan seseorang.
Aku ingin Aluna tumbuh dengan mengetahui satu hal.
Seorang perempuan tidak perlu menunggu seseorang memberinya tempat dalam hidup.
Dia berhak membangun kehidupannya sendiri, dengan kepala tegak dan hati yang tidak lagi meminta izin untuk bahagia.
