“Andrea, kalau kamu melihat isi percakapan ini, mungkin kamu akan membenci Marco lebih dari yang kamu bayangkan.”
Nathan Javier mengucapkan kalimat itu sambil meletakkan ponselnya di atas meja.
Di sekeliling kami, musik mengalun pelan. Lampu-lampu temaram menerangi bar di kawasan Senopati, Jakarta Selatan. Orang-orang tertawa, menikmati minuman, dan berbincang seolah dunia tidak pernah menyimpan rahasia yang menyakitkan.
Namun, ketika aku membaca pesan pertama di layar ponsel Nathan, seluruh suara di sekitarku seakan menghilang.
Pesan itu dikirim Marco kepada Bianca delapan bulan lalu.

“Tenang saja. Begitu aku menikahi Andrea, ayahnya tidak akan punya alasan untuk menolak membantu perusahaan keluargaku.”
Balasan Bianca muncul beberapa menit kemudian.
“Lalu bagaimana dengan kita?”
Marco menjawab tanpa ragu.
“Kamu tahu siapa yang sebenarnya kucintai. Pernikahan itu cuma jalan keluar sementara.”
Aku menatap layar cukup lama.
Tanganku tidak gemetar.
Anehnya, aku justru merasa sangat tenang.
“Masih ada lagi?” tanyaku.
Nathan mengangguk.
Dia menggeser layar ke bawah.
Percakapan berikutnya membuat dadaku terasa sesak.
Bianca bertanya apakah Marco benar-benar bersedia hidup bersama perempuan yang tidak dicintainya.
Jawaban Marco singkat.
“Paling lama dua tahun. Setelah perusahaan kembali stabil, aku bisa mencari alasan untuk bercerai.”
Camille yang duduk di sampingku langsung menutup mulutnya.
“Ya Tuhan, Andrea…”
Aku tidak menjawab.
Selama tiga tahun menjalin hubungan dengan Marco, aku selalu percaya bahwa dia adalah lelaki yang sabar.
Dia tidak pernah mengeluh ketika aku tersesat saat mengemudi. Dia mengingat makanan kesukaanku, mengantarku ke rumah sakit ketika demam, bahkan pernah menunggu hampir lima jam ketika penerbanganku tertunda.
Aku mengira semua perhatian itu lahir dari cinta.
Ternyata, mungkin saja seseorang begitu telaten merawat sesuatu yang dianggapnya sebagai investasi.
“Dari mana kamu mendapatkan percakapan ini?” tanyaku kepada Nathan.
Nathan menarik napas panjang.
“Marco pernah menggunakan laptopku ketika kami mengerjakan proyek bersama. Akun WhatsApp Web miliknya tertinggal dalam keadaan terbuka. Waktu itu sebuah pesan dari Bianca muncul. Aku tidak sengaja membacanya.”
“Lalu kamu mengambil tangkapan layar?”
“Aku tahu itu bukan sesuatu yang seharusnya kulakukan. Tapi setelah melihat namamu disebut berkali-kali, aku takut kamu sedang dimanfaatkan.”
Aku menatapnya.
“Kenapa kamu tidak memberitahuku sebelum pernikahan?”
Pertanyaan itu membuat Nathan menunduk.
“Karena aku pengecut.”
Dia mengusap wajahnya.
“Aku pernah memperingatkan Marco. Dia bilang semua itu cuma percakapan lama ketika kalian sedang bertengkar. Dia bersumpah sudah berubah. Aku ingin percaya.”
Nathan berhenti sejenak.
“Dan aku tidak punya keberanian untuk menghancurkan hubungan orang lain hanya berdasarkan tangkapan layar.”
Aku tersenyum pahit.
“Jadi kamu menunggu sampai dia meninggalkanku di tengah pegunungan?”
Nathan menerima sindiran itu tanpa membela diri.
“Iya. Dan aku menyesal.”
Camille menggenggam tanganku.
Aku menarik napas perlahan.
“Aku ingin semua salinannya.”
Nathan langsung mengirimkan berkas itu kepadaku.
Namun, sebelum aku sempat menyimpan semuanya, sebuah pesan baru masuk dari nomor tidak dikenal.
“Andrea, jangan percaya Nathan. Dia punya alasan sendiri untuk menghancurkan hubungan kita.”
Pengirimnya Marco.
Aku memperlihatkan pesan itu kepada Nathan.
Wajahnya langsung berubah.
“Dia tahu kita bertemu?”
Camille mengerutkan kening.
“Tidak mungkin. Aku tidak memberi tahu siapa pun.”
Aku memandang sekeliling bar.
Di dekat pintu masuk, seorang lelaki mengenakan jaket hitam sedang memegang ponsel. Ketika mata kami bertemu, dia segera berbalik.
Nathan berdiri.
“Kurasa kita sebaiknya pergi.”
Malam itu, untuk pertama kalinya aku menyadari bahwa membatalkan pernikahan mungkin bukan akhir dari masalahku.
Melainkan awal dari sesuatu yang jauh lebih besar.
Keesokan paginya, aku menemui ayahku di ruang kerjanya.
Papa sedang membaca laporan keuangan ketika aku masuk.
“Pa, apa Papa tahu perusahaan keluarga Marco sedang bermasalah?”
Tangannya berhenti bergerak.
Dia melepas kacamata.
“Dari mana kamu mendengarnya?”
“Jawab dulu.”
Papa menghela napas.
“Perusahaan mereka mengalami kesulitan keuangan sejak tahun lalu. Beberapa proyek properti gagal, utang meningkat, dan bank mulai memperketat fasilitas kredit.”
“Papa pernah berniat membantu mereka?”
“Marco pernah mengajukan kerja sama.”
Aku merasakan sesuatu mencengkeram dadaku.
“Kerja sama apa?”
Papa membuka laci dan mengeluarkan sebuah map biru.
“Dia meminta aku memperkenalkan perusahaannya kepada dua investor yang selama ini bekerja sama dengan grup kita. Tapi setelah timku memeriksa laporan keuangan mereka, aku menolak.”
Aku terdiam.
“Kenapa Papa tidak memberitahuku?”
“Karena aku ingin kamu menilai Marco sebagai pasangan, bukan berdasarkan keadaan bisnis keluarganya.”
Papa menatapku dengan mata lelah.
“Tapi tiga minggu sebelum pernikahan, Marco datang lagi. Kali ini dia membawa proposal baru.”
“Apa isinya?”
Papa menggeser map itu ke hadapanku.
Di halaman pertama terdapat nama sebuah perusahaan investasi.
PT Arunika Sentosa Kapital.
Di bawahnya tertulis namaku.
Andrea Hartono.
Aku mengerutkan kening.
“Kenapa namaku ada di sini?”
“Marco mengusulkan agar kamu menjadi pemegang saham utama perusahaan baru yang akan menerima dana dari investor.”
“Tanpa memberitahuku?”
Papa mengangguk.
“Dia mengatakan kamu sudah setuju.”
Aku membuka halaman berikutnya.
Ada salinan kartu identitasku.
Ada formulir persetujuan.
Dan di bagian bawahnya terdapat tanda tangan yang menyerupai tanda tanganku.
Darahku seakan berhenti mengalir.
“Pa, aku tidak pernah menandatangani ini.”
Wajah Papa mengeras.
“Aku sudah menduganya.”
“Kenapa?”
“Karena tanda tangan itu berbeda dengan yang biasa kamu gunakan. Aku meminta pengacaraku memeriksanya. Tapi sebelum pemeriksaan selesai, kamu sudah sibuk mempersiapkan pernikahan.”
Aku menatapnya tidak percaya.
“Papa seharusnya memberitahuku.”
“Aku tahu.”
Untuk pertama kalinya, Papa tidak mencoba membenarkan keputusannya.
“Aku salah karena mengira masih punya cukup waktu.”
Aku menutup map itu.
“Jadi Marco bukan hanya ingin menikahiku untuk mendapatkan koneksi Papa.”
Papa mengangguk pelan.
“Dia ingin menggunakan namamu untuk membuka pintu yang tidak bisa dia buka sendiri.”
Siang itu, aku pergi menemui pengacara keluarga kami, Ibu Ratna.
Setelah memeriksa seluruh dokumen, dia menjelaskan bahwa tanda tangan palsu tersebut dapat menjadi dasar laporan dugaan pemalsuan dokumen.
Namun, ada hal lain yang lebih mengkhawatirkan.
“Beberapa berkas sudah dikirim kepada calon investor,” katanya.
Aku menegang.
“Berarti mereka mengira aku menyetujui semuanya?”
“Untuk sementara, ya. Tapi belum ada transaksi investasi yang selesai. Kita masih bisa mengirimkan pemberitahuan resmi bahwa kamu tidak pernah memberikan persetujuan.”
Aku mengangguk.
“Lakukan sekarang.”
Ibu Ratna menatapku.
“Kamu yakin? Langkah ini kemungkinan akan memperburuk keadaan perusahaan Marco.”
Aku teringat gaun pengantinku yang kotor oleh lumpur.
Teringat bagaimana dia mengunci pintu mobil sementara aku memohon agar tidak ditinggalkan.
“Bu Ratna, saya tidak sedang berusaha menghancurkan perusahaannya.”
Aku menatap dokumen di meja.
“Saya hanya tidak mau nama saya digunakan untuk menyelamatkan kebohongannya.”
Sore harinya, Marco datang ke rumah.
Dia membawa sebuket mawar putih.
Bunga yang sama dengan buket pengantinku.
Aku menerimanya di ruang tamu, dengan Papa dan Ibu Ratna berada tidak jauh dari kami.
“Andrea,” katanya lembut, “aku tahu aku sudah melakukan kesalahan besar.”
Aku tidak menjawab.
“Aku panik hari itu. Bianca terus memprovokasiku. Aku tidak berpikir jernih.”
“Lalu?”
“Aku ingin kita mulai dari awal.”
Dia berlutut di hadapanku.
“Aku mencintaimu.”
Dulu, kalimat itu mungkin cukup membuatku menangis.
Sekarang, aku hanya merasa lelah.
“Marco, apakah kamu tahu perusahaan bernama PT Arunika Sentosa Kapital?”
Wajahnya langsung berubah.
“Apa maksudmu?”
“Aku bertanya apakah kamu mengenalnya.”
Dia berdiri perlahan.
“Itu hanya rencana bisnis.”
“Kenapa namaku tercantum sebagai pemegang saham?”
“Andrea, dengarkan dulu.”
“Kenapa ada tanda tanganku pada dokumen yang tidak pernah kulihat?”
Marco terdiam.
Papa muncul dari ruang kerja.
“Jawab pertanyaan putri saya.”
Marco menatap Papa, lalu kembali kepadaku.
“Aku melakukan semuanya untuk masa depan kita.”
Aku hampir tertawa.
“Masa depan siapa?”
“Kita akan menikah. Semua yang kumiliki nantinya juga akan menjadi milikmu.”
“Tapi kamu berencana menceraikanku setelah dua tahun.”
Wajah Marco memucat.
“Siapa yang mengatakan itu?”
Aku mengangkat ponsel dan memperlihatkan percakapannya dengan Bianca.
Dia membaca beberapa baris.
Kemudian rahangnya mengeras.
“Nathan.”
Aku tidak menjawab.
“Lelaki itu memang sejak dulu ingin merebutmu dariku!”
“Jangan mengalihkan pembicaraan.”
Marco mengacak rambutnya dengan frustrasi.
“Itu percakapan lama! Aku sedang marah kepada Bianca waktu itu!”
“Kamu mengatakan kepadanya bahwa kamu mencintainya.”
“Aku bingung!”
“Kamu mengatakan pernikahan kita hanya sementara.”
“Aku tidak sungguh-sungguh!”
Aku menatapnya lama.
“Lalu bagian mana yang sungguh-sungguh, Marco?”
Dia membuka mulut, tetapi tidak ada kata yang keluar.
Aku mengambil cincin pertunangan dari kotak kecil di meja.
Cincin yang dipilih Bianca.
Aku meletakkannya di hadapannya.
“Ambil kembali.”
Marco menatap cincin itu seolah baru menyadari sesuatu yang penting telah hilang.
“Andrea, kumohon.”
“Pernikahan kita dibatalkan. Dan mulai hari ini, semua urusan mengenai dokumen perusahaan harus melalui pengacaraku.”
Wajahnya berubah dingin.
“Kamu benar-benar ingin mempermalukanku?”
Aku menggeleng.
“Tidak. Aku hanya ingin kamu berhenti menggunakan hidupku untuk menyelesaikan masalahmu.”
Marco pergi tanpa membawa bunga maupun cincin itu.
Dua hari kemudian, berita mengenai pembatalan pernikahan kami mulai beredar di media sosial.
Awalnya hanya foto-foto dari resepsi.
Kemudian muncul video Marco dan Bianca berciuman di atas panggung.
Komentar berdatangan.
Sebagian orang membelaku.
Sebagian lainnya menuduhku sengaja membuat drama karena tidak ingin menikahi lelaki yang sedang mengalami kesulitan keuangan.
Aku memilih diam.
Namun, Bianca tidak.
Dia mengunggah sebuah video sambil menangis.
Dalam video itu, dia mengaku hanya ingin membantu Marco menghadapi tekanan dari keluarga Andrea yang dianggap terlalu mengendalikan hidupnya.
“Aku tidak pernah bermaksud merebut calon suami siapa pun,” katanya.
Aku hampir mematikan ponsel ketika sebuah kalimat membuatku berhenti.
“Marco bahkan pernah mengatakan kepadaku bahwa Andrea sudah mengetahui masalah perusahaannya dan bersedia membantu.”
Aku memutar ulang bagian itu.
Sekali.
Dua kali.
Kemudian aku menelepon Ibu Ratna.
“Bu, saya rasa Bianca baru saja mengakui sesuatu yang penting.”
Malam itu, kami mengumpulkan seluruh bukti.
Tangkapan layar dari Nathan.
Dokumen perusahaan.
Surat elektronik yang dikirim Marco kepada calon investor.
Dan rekaman video Bianca.
Ibu Ratna mengingatkanku bahwa pengakuan di media sosial belum tentu membuktikan keterlibatan seseorang dalam pemalsuan dokumen.
Namun, rekaman itu cukup menjadi alasan untuk menelusuri perannya lebih jauh.
Keesokan harinya, sebuah kejutan datang.
Seorang mantan pegawai bagian administrasi perusahaan Marco menghubungi kantor pengacara kami.
Namanya Dimas.
Dia mengaku pernah diminta menyiapkan dokumen investasi menggunakan data pribadiku.
“Siapa yang memberikan salinan kartu identitas saya?” tanyaku ketika kami bertemu.
Dimas terlihat gugup.
“Bu Bianca.”
Aku menegakkan tubuh.
“Bianca?”
Dia mengangguk.
“Dia bilang dokumen itu sudah disetujui calon istri Pak Marco.”
Aku menatap Ibu Ratna.
“Apakah dia tahu tanda tangannya palsu?”
Dimas menggeleng.
“Saya tidak tahu. Tapi saya menyimpan email instruksi dan riwayat revisi dokumennya.”
Bukti itu mengubah segalanya.
Selama ini, aku mengira Bianca hanya perempuan yang ingin merebut Marco.
Ternyata, dia juga ikut mengurus rencana bisnis yang menggunakan identitasku.
Beberapa hari kemudian, laporan resmi diajukan kepada pihak berwenang. Calon investor menerima pemberitahuan bahwa aku tidak pernah menyetujui transaksi tersebut.
Marco kembali menghubungiku.
Kali ini bukan dengan permintaan maaf.
Melainkan ancaman.
“Kalau perusahaan keluargaku hancur, Andrea, kamu harus bertanggung jawab.”
Aku membalas satu kalimat.
“Perusahaanmu tidak hancur karena aku menolak menikahimu, Marco. Perusahaanmu bermasalah jauh sebelum kamu mengenalku.”
Setelah itu, aku memblokir nomornya.
Sebulan berlalu.
Aku mulai kembali bekerja di perusahaan keluarga, sesuatu yang sempat kutinggalkan karena sibuk mempersiapkan pernikahan.
Aku juga mulai menjalani konseling untuk memulihkan kepercayaan diriku.
Ada hari-hari ketika aku merasa kuat.
Ada pula malam ketika aku tiba-tiba terbangun karena bermimpi berdiri sendirian di jalan berkabut.
Nathan beberapa kali mengirim pesan menanyakan kabarku.
Dia tidak pernah memaksaku bertemu.
Sampai suatu sore, aku mengajaknya minum kopi di sebuah kafe kecil di Bintaro.
“Aku belum pernah benar-benar berterima kasih,” kataku.
Nathan tersenyum tipis.
“Kamu tidak perlu berterima kasih kepada orang yang terlambat mengatakan kebenaran.”
“Setidaknya kamu akhirnya mengatakannya.”
Dia menatap cangkir kopinya.
“Ada sesuatu yang belum kuceritakan.”
Aku mengangkat alis.
“Apa lagi?”
Nathan menarik napas panjang.
“Dulu, ketika kami masih kuliah, Marco pernah bercerita tentang seorang perempuan yang ditemuinya dalam acara amal.”
Aku menunggu.
“Perempuan itu membantunya membawa seorang lansia yang pingsan ke mobil ambulans. Setelah semuanya selesai, perempuan itu pergi tanpa menyebutkan namanya.”
Aku mengerutkan kening.
“Apa hubungannya denganku?”
Nathan tersenyum sedih.
“Perempuan itu kamu, Andrea.”
Ingatan lama perlahan muncul.
Lima tahun lalu, aku memang pernah menjadi sukarelawan dalam kegiatan sosial di Jakarta.
Seorang pria lanjut usia mendadak jatuh pingsan. Aku membantunya bersama beberapa orang lain.
Namun, aku tidak pernah mengetahui bahwa Marco ada di sana.
“Marco melihatmu hari itu,” lanjut Nathan. “Dia mengatakan ingin mengenalmu.”
Dadaku terasa aneh.
“Jadi dia tidak mendekatiku karena uang sejak awal?”
“Kurasa tidak.”
Nathan terdiam sejenak.
“Tapi kemudian dia mengetahui siapa ayahmu. Ketika bisnis keluarganya mulai bermasalah, perasaannya berubah menjadi sesuatu yang lain.”
Aku memandang keluar jendela.
Selama berminggu-minggu, aku mencoba memahami apakah Marco pernah benar-benar mencintaiku.
Ternyata, mungkin dia pernah.
Namun, cinta yang pernah ada tidak membenarkan pengkhianatan yang datang kemudian.
Dua bulan setelah pembatalan pernikahan, Ibu Ratna menghubungiku dengan kabar terbaru.
Pemeriksaan atas dugaan pemalsuan dokumen masih berlangsung. Beberapa pihak telah dimintai keterangan, termasuk Marco dan Bianca.
Namun, kabar yang paling mengejutkan datang dari Nathan.
Dia mengirimkan sebuah artikel bisnis kepadaku.
Perusahaan keluarga Marco telah mengumumkan restrukturisasi besar-besaran.
Ayah Marco mundur dari jabatan direktur utama.
Dan Bianca ternyata tercatat sebagai salah satu penerima pembayaran konsultasi bernilai besar dari perusahaan itu.
Aku segera menelepon Nathan.
“Kamu tahu soal ini?”
“Baru mengetahuinya kemarin.”
“Kenapa Bianca menerima uang sebanyak itu?”
“Belum jelas. Tapi sepertinya hubungan mereka bukan hanya soal cinta.”
Aku terdiam.
Beberapa minggu kemudian, melalui dokumen yang diserahkan dalam proses pemeriksaan, terungkap bahwa Bianca pernah membantu menghubungkan perusahaan Marco dengan pihak pemberi pinjaman.
Dia menerima komisi atas beberapa transaksi tersebut.
Dengan kata lain, Bianca bukan sekadar mantan kekasih yang ingin mendapatkan Marco kembali.
Dia juga memiliki kepentingan keuangan yang terikat pada keberhasilan perusahaan keluarga lelaki itu.
Aku teringat bagaimana Bianca berdiri di jalan berkabut dan mengatakan bahwa seharusnya dialah yang dinikahi Marco.
Saat itu aku mengira dia sedang memperjuangkan cinta.
Sekarang aku mulai memahami bahwa kecemburuan dan kepentingan pribadi bisa berjalan beriringan.
Suatu malam, Bianca datang ke rumahku.
Dia terlihat berbeda.
Tidak ada pakaian mahal, tidak ada senyum penuh kemenangan.
Matanya merah.
“Aku ingin bicara,” katanya.
Aku hampir menolak, tetapi akhirnya mengizinkannya duduk di teras, dengan petugas keamanan tetap berada tidak jauh dari kami.
“Aku tahu kamu membenciku,” katanya.
“Aku tidak membencimu, Bianca. Aku hanya tidak ingin kamu ikut campur dalam hidupku lagi.”
Dia menunduk.
“Marco menyalahkanku atas semuanya.”
Aku diam.
“Dia bilang aku yang menghancurkan rencana pernikahannya.”
“Bukankah kamu memang menyuruhnya meninggalkanku di Puncak?”
Bianca mengangguk.
Air matanya jatuh.
“Aku ingin mempermalukanmu. Aku pikir kalau kamu marah dan membatalkan pernikahan, Marco akan kembali kepadaku.”
Aku menatapnya.
“Lalu sekarang?”
“Dia meninggalkanku juga.”
Aku tidak merasakan kepuasan yang selama ini mungkin diharapkan orang dari sebuah pembalasan.
Yang kurasakan hanya kesedihan melihat betapa banyak orang menghancurkan hidup sendiri demi seseorang yang tidak pernah benar-benar memilih mereka.
Bianca mengeluarkan sebuah amplop.
“Ini salinan beberapa dokumen yang masih kusimpan. Aku sudah menyerahkan salinan lainnya kepada penyidik.”
Aku tidak menyentuh amplop itu.
“Berikan kepada pengacaraku.”
Dia mengangguk.
Sebelum pergi, Bianca berhenti di depan gerbang.
“Andrea, kamu tahu apa yang paling menyakitkan?”
Aku menatapnya.
“Marco pernah bilang dia mencintaimu sebelum mengenal keluargamu. Tapi ketika aku bertanya kenapa dia tidak membatalkan rencana bisnis itu, dia menjawab bahwa cinta saja tidak cukup untuk menyelamatkan perusahaan.”
Aku menarik napas perlahan.
“Dia benar tentang satu hal.”
Bianca menoleh.
“Cinta memang tidak cukup.”
Aku memandangnya dengan tenang.
“Kalau tidak ada kejujuran, cinta hanya menjadi alasan untuk menyakiti orang lain.”
Enam bulan setelah hari pernikahan yang gagal itu, aku kembali ke Puncak.
Kali ini bukan mengenakan gaun pengantin.
Aku memakai celana jins, sepatu olahraga, dan jaket hangat.
Camille duduk di sampingku, sementara Papa mengemudi.
Kami berhenti di sebuah tempat yang menghadap hamparan perbukitan.
Kabut masih turun perlahan, sama seperti hari ketika Marco meninggalkanku.
Namun, kali ini aku tidak takut.
Papa berdiri di sampingku.
“Kamu yakin ingin kembali ke sini?”
Aku mengangguk.
“Dulu aku mengira tempat ini menjadi saksi hari terburuk dalam hidupku.”
“Sekarang?”
Aku tersenyum.
“Sekarang aku sadar, justru di sinilah aku mulai menyelamatkan diriku sendiri.”
Papa merangkul bahuku.
Ponselku bergetar.
Sebuah pesan dari Nathan.
“Bagaimana perjalananmu? Jangan sampai tersesat lagi.”
Aku tertawa kecil.
Lalu membalas.
“Tenang. Sekarang aku sudah belajar membaca peta.”
Beberapa detik kemudian, pesan lain masuk.
“Bagus. Karena aku ingin mengajakmu mendaki suatu hari nanti.”
Aku tersenyum, tetapi tidak langsung menjawab.
Aku belum tahu apakah Nathan kelak akan menjadi seseorang yang istimewa dalam hidupku.
Dan untuk pertama kalinya, ketidakpastian itu tidak membuatku takut.
Aku tidak lagi membutuhkan seseorang untuk menentukan arah hidupku.
Sebelum kami kembali ke mobil, Papa mengeluarkan sebuah amplop kecil dari saku jaketnya.
“Ada sesuatu yang ingin Papa berikan.”
Aku membukanya.
Di dalamnya terdapat sebuah foto lama.
Foto Mama ketika masih muda, berdiri di sebuah jalan pegunungan dengan senyum lebar.
Di belakang foto itu terdapat tulisan tangannya.
“Kalau suatu hari kamu merasa tersesat, jangan takut berhenti. Kadang jalan yang salah justru menyelamatkan kita dari tujuan yang salah.”
Aku menatap Papa dengan mata berkaca-kaca.
“Mama menulis ini kapan?”
“Bertahun-tahun lalu, ketika dia sedang berjuang melawan penyakitnya.”
Papa tersenyum.
“Dia selalu khawatir kamu terlalu baik hati dan terlalu mudah mempercayai orang.”
Aku memeluknya erat.
Selama ini aku mengira kehilangan Marco berarti kehilangan masa depan yang sudah kurencanakan.
Padahal, yang hilang hanyalah masa depan yang dibangun di atas kebohongan.
Aku masih memiliki keluargaku.
Sahabat-sahabatku.
Pekerjaanku.
Dan yang terpenting, aku masih memiliki diriku sendiri.
Ketika mobil mulai menuruni jalan pegunungan, aku melihat kabut perlahan terbelah oleh cahaya matahari.
Dulu, Marco meninggalkanku di tempat itu karena mengira aku tidak akan mampu menemukan jalan tanpa dirinya.
Dia lupa satu hal.
Seseorang yang tersesat tidak selalu membutuhkan orang yang meninggalkannya untuk kembali.
Kadang dia hanya perlu berhenti mengejar mobil yang sudah pergi, lalu menyadari bahwa masih ada banyak jalan lain yang bisa dipilih.
Dan kali ini, ke mana pun jalan itu membawaku, aku akan berjalan dengan kakiku sendiri.
