
“Pak Seno bilang kamu sudah menemukan kabelnya.”
Pria berjaket hitam itu mengucapkan kalimat tersebut dengan begitu tenang, seolah kami sedang membicarakan pipa air yang bocor.
Aku mundur selangkah.
“Siapa kamu?”
“Namaku Fajar. Aku cuma bekerja di sini.”
“Bekerja apa? Ini rumah kontrakan, bukan gudang elektronik.”
Fajar melirik ke arah lorong, kemudian merendahkan suaranya.
“Kalau kamu masih ingin tinggal dengan tenang, sebaiknya lupakan apa yang kamu lihat malam ini.”
Dia menutup pintu sebelum aku sempat menjawab.
Aku berdiri mematung. Di belakangku, kucing abu-abu itu mengeong pelan sambil mengendus keranjang berisi ketiga anaknya.
Bau plastik terbakar kembali tercium.
Kali ini lebih kuat.
Aku segera membawa keranjang ke halaman terbuka, jauh dari bangunan. Induk kucing mengikuti tanpa perlu dipanggil.
Kemudian aku mengetuk pintu beberapa tetangga.
“Pak, Bu, ada kabel panas dan bau terbakar dari bawah lantai. Sebaiknya keluar dulu. Saya mau menghubungi petugas.”
Bu Ratih dari unit B-4 muncul sambil menggendong bayinya.
“Ada kebakaran, Mas?”
“Belum terlihat api, Bu. Tapi saya khawatir ada korsleting.”
Aku menelepon layanan darurat dan menjelaskan kondisi instalasi listrik yang mencurigakan. Petugas memintaku tidak menyentuh kabel atau mencoba membongkar lantai lagi.
Sambil menunggu, aku mengirim foto perangkat elektronik di unit B-6 kepada Pak Hendra, kepala teknisi percetakan tempatku bekerja.
Balasannya datang kurang dari semenit.
“Rio, kamu dapat foto itu dari mana?”
“Dari rumah kontrakan saya, Pak.”
“Jangan sentuh barangnya. Itu modul pengendali mesin yang hilang bulan lalu.”
Dadaku langsung sesak.
“Bapak yakin?”
“Ada nomor inventaris pada kotaknya. Saya hafal karena saya sendiri yang membuat laporan kehilangan.”
Aku menatap pintu B-6.
Berarti pria bernama Fajar itu menyimpan barang perusahaan yang selama ini dicari polisi.
Namun, mengapa kabel-kabelnya dipasang sampai ke bawah lantai kontrakanku?
Beberapa menit kemudian, Pak Seno muncul dari ujung lorong.
Wajahnya langsung berubah ketika melihat para penghuni berkumpul di halaman.
“Siapa yang menyuruh kalian keluar?”
Aku melangkah maju.
“Saya, Pak. Ada risiko kebakaran.”
Pak Seno menatapku tajam.
“Mas Rio, saya sudah bilang jangan ikut campur urusan instalasi.”
“Kalau memang aman, kenapa Bapak keberatan diperiksa?”
Dia tidak menjawab.
Sebaliknya, dia mengeluarkan ponsel dan menelepon seseorang.
“Fajar, matikan semuanya sekarang.”
Aku mendengar kalimat itu dengan jelas.
Tak lama kemudian, terdengar suara benda berat bergeser dari dalam unit B-6.
Pak Seno bergegas menuju pintu tersebut.
Namun, sebelum dia sampai, sebuah percikan api muncul dari celah ventilasi dekat lantai.
Bu Ratih menjerit.
“Asap!”
Asap tipis mulai keluar dari sambungan dinding.
Aku segera meminta semua orang menjauh.
Pak Seno tampak panik. Dia hendak membuka pintu B-6, tetapi Fajar sudah muncul dari dalam sambil membawa tas ransel besar.
“Kabelnya panas semua!” teriak Fajar.
“Cabut sambungannya!” balas Pak Seno.
“Sudah saya matikan, tapi masih ada yang berasap!”
Aku menahan diri untuk tidak mendekat.
Beberapa menit kemudian, petugas pemadam tiba bersama petugas kelistrikan. Mereka mengamankan lokasi dan memastikan aliran listrik diputus sebelum memeriksa sumber panas.
Setelah kondisi dinyatakan aman, seorang petugas menghampiriku.
“Mas yang pertama melaporkan?”
“Iya, Pak.”
“Untung cepat diketahui. Ada sambungan listrik tidak sesuai standar yang mengalami panas berlebihan. Kalau dibiarkan, bisa memicu kebakaran.”
Aku menatap bangunan kontrakan yang selama empat bulan menjadi tempatku pulang setiap malam.
Rasanya sulit dipercaya bahwa bahaya sebesar itu tersembunyi tepat di bawah pintuku.
Petugas juga menemukan beberapa sachet racun tikus di rongga lantai. Mereka mengingatkan agar hewan dan anak-anak dijauhkan dari area tersebut sampai pembersihan selesai.
Aku langsung memeriksa ketiga anak kucing di keranjang.
Semuanya masih bergerak, tetapi yang paling kecil tampak sangat lemah.
Aku memutuskan membawa mereka ke dokter hewan setelah urusan darurat selesai.
Sementara itu, polisi datang setelah Pak Hendra melaporkan kemungkinan ditemukannya barang perusahaan yang hilang.
Pak Seno berusaha menjelaskan bahwa unit B-6 hanya disewakan sebagai ruang penyimpanan.
Namun, Fajar justru mengatakan sesuatu yang membuat semua orang terdiam.
“Saya cuma disuruh memasang perangkatnya, Pak. Saya tidak tahu barang itu hasil curian.”
Pak Seno langsung membentak.
“Jangan asal bicara!”
Fajar menunduk.
“Bapak sendiri yang bilang jangan sampai penghuni lain tahu.”
Polisi meminta mereka memberikan keterangan secara terpisah.
Aku mengira persoalan itu akan selesai setelah pemeriksaan.
Ternyata aku salah.
Keesokan paginya, ketika sedang menunggu giliran di klinik hewan, Pak Hendra meneleponku.
“Rio, kamu harus datang ke kantor setelah urusan kucingmu selesai.”
“Ada apa, Pak?”
“Kami menemukan sesuatu yang lebih serius daripada kehilangan perangkat.”
Aku langsung terdiam.
Pak Hendra menjelaskan bahwa modul yang ditemukan di unit B-6 bukan hanya barang inventaris biasa.
Beberapa perangkat tersebut menyimpan konfigurasi produksi dan catatan pemeliharaan mesin percetakan.
“Kalau orang yang tidak berwenang menggunakannya, data perusahaan bisa disalahgunakan,” katanya.
“Untuk apa?”
“Itu yang sedang diperiksa. Tapi ada hal yang membuat saya heran.”
“Apa, Pak?”
“Dalam laporan kehilangan, namamu pernah disebut sebagai orang terakhir yang memeriksa gudang.”
Aku hampir menjatuhkan ponsel.
“Nama saya?”
“Iya. Padahal jadwal menunjukkan kamu sedang cuti hari itu.”
Aku teringat kejadian sebulan sebelumnya.
Saat itu, supervisor gudang bernama Bagus pernah memintaku menandatangani laporan pemeriksaan stok.
Aku menolak karena tidak berada di lokasi ketika pemeriksaan dilakukan.
Sejak hari itu, sikap Bagus kepadaku berubah dingin.
“Pak, saya tidak pernah menandatangani laporan tersebut.”
“Saya tahu. Tapi ada salinan tanda tanganmu di dokumen yang diserahkan ke manajemen.”
Darahku terasa dingin.
Seseorang telah menggunakan namaku.
Setelah dokter hewan memeriksa induk kucing dan ketiga anaknya, aku menitipkan mereka sementara di klinik untuk mendapatkan perawatan.
Anak kucing terkecil mengalami dehidrasi ringan, tetapi dokter mengatakan peluang pulihnya baik.
Aku kemudian berangkat ke percetakan.
Di ruang rapat, Pak Hendra sudah menunggu bersama manajer personalia dan seorang petugas keamanan perusahaan.
Mereka menunjukkan laporan inventaris.
Pada bagian bawah dokumen terdapat tanda tanganku.
Bentuknya sangat mirip.
Namun, aku langsung menemukan kejanggalan.
“Ini bukan tanda tangan saya.”
Manajer personalia menatapku.
“Bagaimana kamu bisa yakin?”
“Karena tanggalnya 12 September. Hari itu saya sedang menghadiri pemakaman paman saya di Garut.”
Aku mengeluarkan foto keluarga dari ponsel.
Waktu dan lokasi foto tersebut sesuai dengan hari yang tercantum dalam laporan.
Pak Hendra mengangguk.
“Kami juga sudah memeriksa catatan absensi.”
Kemudian dia menunjukkan rekaman CCTV gudang.
Dalam video terlihat Bagus memasuki ruangan bersama seorang pria mengenakan jaket hitam.
Aku mendekatkan wajah.
Itu Fajar.
Pria dari unit B-6.
“Dia!” seruku.
Pak Hendra menatapku.
“Kamu mengenalnya?”
“Dialah orang yang menyimpan perangkat di kontrakan saya!”
Ruangan langsung sunyi.
Petugas keamanan memperbesar rekaman.
Wajah Fajar terlihat cukup jelas.
Namun, ketika kamera diarahkan ke bagian belakang gudang, aku melihat sesuatu yang lebih mengejutkan.
Bagus sedang berbicara melalui telepon.
Di tangannya terdapat map biru yang sangat kukenal.
Map laporan kerusakan mesin produksi.
Tiga minggu lalu, aku menyerahkan map itu kepada Bagus setelah menemukan ketidaksesuaian antara jumlah modul cadangan dan catatan inventaris.
Dia mengatakan akan meneruskannya kepada manajemen.
Ternyata laporan itu tidak pernah sampai.
Aku mulai memahami semuanya.
Bagus mengetahui bahwa aku menemukan selisih stok. Dia kemudian menggunakan identitasku dalam dokumen palsu agar kecurigaan bisa diarahkan kepadaku jika kehilangan perangkat terbongkar.
Namun, satu hal masih menggangguku.
Mengapa barang curian itu justru disimpan di sebelah rumah kontrakanku?
Jawabannya datang dua hari kemudian.
Dalam pemeriksaan, Fajar mengaku bahwa Bagus sengaja memilih unit B-6 setelah mengetahui alamat tempat tinggalku.
Rencananya, jika perusahaan mulai menyelidiki kehilangan perangkat, seseorang akan memberikan informasi bahwa barang-barang tersebut disimpan di dekat rumahku.
Dengan dokumen palsu yang sudah disiapkan, aku bisa dijadikan tersangka utama.
Pak Seno menerima uang sewa tambahan untuk membiarkan unit B-6 digunakan sebagai gudang elektronik dan menutup mata terhadap pemasangan kabel ilegal.
Namun, ketika seekor kucing liar mulai mencakar lantai di depan pintuku, rencana itu perlahan berantakan.
Aku duduk terdiam setelah mendengar penjelasan tersebut.
Selama ini aku menganggap kucing itu sebagai gangguan.
Padahal, tanpa disadari, ia telah membawaku menemukan sesuatu yang mungkin akan menghancurkan pekerjaan dan nama baikku.
Proses penyelidikan terus berjalan. Bagus akhirnya dimintai pertanggungjawaban atas dugaan pencurian dan pemalsuan dokumen, sementara keterlibatan Pak Seno serta Fajar diperiksa berdasarkan bukti masing-masing.
Perusahaan juga memperbaiki sistem pengawasan inventaris agar kejadian serupa tidak terulang.
Aku mendapatkan surat resmi yang menyatakan bahwa tidak ditemukan bukti keterlibatanku dalam kehilangan perangkat tersebut.
Namun, bagiku, bagian paling penting dari kejadian itu bukanlah surat tersebut.
Melainkan seekor kucing abu-abu yang hampir kubuang dari depan rumah.
Seminggu kemudian, aku kembali ke klinik hewan.
Dokter mengatakan induk kucing dan ketiga anaknya sudah cukup sehat untuk dibawa pulang.
“Mas mau mengadopsi semuanya?” tanya dokter.
Aku memandangi kucing abu-abu itu.
Telinganya masih robek, tetapi bulunya mulai bersih. Tubuhnya juga terlihat lebih berisi.
Ketika aku mendekat, ia mengangkat kepala dan mengeong pelan.
Aku tersenyum.
“Iya, Dok. Kalau mereka mau tinggal sama saya.”
Dokter tertawa.
“Sepertinya induknya sudah memilih Mas sejak lama.”
Aku membawa mereka pulang menggunakan keranjang khusus.
Kontrakanku kini telah diperiksa dan dinyatakan aman setelah instalasi bermasalah diperbaiki.
Pak Seno tidak lagi mengelola deretan rumah tersebut selama persoalannya ditangani.
Pengelola baru juga mengizinkanku memelihara kucing selama kebersihan dan keamanan lingkungan terjaga.
Aku menyiapkan sudut kecil di dekat jendela dengan alas tidur, tempat makan, dan kotak pasir.
Induk kucing itu langsung masuk, mengendus sekeliling, lalu berbaring bersama anak-anaknya.
Aku memberinya nama Abu.
Tiga anaknya kuberi nama Milo, Momo, dan Kiki.
Beberapa hari kemudian, Bu Ratih datang membawa makanan kucing.
“Mas Rio, sekarang malah punya empat penghuni baru?”
Aku tertawa.
“Iya, Bu. Dulu saya mau mengusir satu, sekarang malah merawat empat.”
Bu Ratih tersenyum.
“Untung Mas akhirnya mau mendengarkan kucing itu.”
Aku menatap Abu yang sedang membersihkan wajah anaknya.
“Untung dia tidak menyerah, Bu.”
Malam itu, aku duduk di teras sambil menikmati udara Bandung yang dingin.
Abu berjalan mendekat dan duduk di samping kakiku.
Untuk pertama kalinya, dia tidak mencakar lantai.
Tidak mengeong gelisah.
Tidak mondar-mandir mencari sesuatu.
Dia hanya duduk dengan tenang.
Aku mengelus kepalanya perlahan.
“Maaf, Bu Abu. Dua minggu kamu minta tolong, tapi aku malah marah-marah.”
Abu memejamkan mata.
Aku tersenyum sendiri.
Kemudian teringat sesuatu.
Pada malam pertama menemukan anak-anaknya, aku sempat melihat bekas luka lama di kaki belakang Abu.
Dokter mengatakan luka itu kemungkinan berasal dari kecelakaan atau benda tajam, tetapi sudah sembuh.
Aku membayangkan bagaimana seekor kucing kurus dengan tubuh penuh luka masih berusaha menjaga anak-anaknya di tempat yang berbahaya.
Dia tidak tahu apa itu pencurian perangkat elektronik.
Dia tidak mengerti tentang dokumen palsu atau kabel ilegal.
Yang dia tahu hanya satu hal.
Anak-anaknya berada di bawah lantai, dan dia harus mencari cara untuk menyelamatkan mereka.
Aku menunduk memandangnya.
“Kamu memang ibu yang hebat.”
Abu mengeong pendek, lalu menyandarkan tubuhnya ke kakiku.
Beberapa bulan kemudian, aku mendapat kabar bahwa perusahaan memutuskan memberikan penghargaan atas laporanku yang membantu mengungkap penyimpangan inventaris.
Aku menerima penghargaan itu dengan perasaan campur aduk.
Ketika diminta memberikan sambutan, aku hanya mengatakan satu hal.
“Kadang-kadang, masalah besar terbongkar bukan karena kita paling pintar, tetapi karena kita akhirnya mau memperhatikan sesuatu yang selama ini kita abaikan.”
Orang-orang bertepuk tangan.
Namun, dalam pikiranku, aku justru membayangkan Abu yang mungkin sedang tidur di rumah bersama ketiga anaknya.
Sepulang kerja, aku mampir membeli makanan kucing.
Saat membuka pintu kontrakan, empat ekor kucing langsung menyambutku.
Milo berlari ke arah sandal.
Momo mengejar ujung celanaku.
Kiki mengeong dari dekat jendela.
Sementara Abu duduk tepat di depan pintu, di tempat yang sama seperti pertama kali aku menemukannya.
Aku berhenti sejenak.
Dulu, pemandangan itu selalu membuatku kesal.
Sekarang, justru membuatku merasa pulang.
Aku berjongkok dan mengusap kepalanya.
“Tenang, Bu Abu. Sekarang rumah ini rumah kita.”
Dia mengeong pelan.
Aku membuka pintu lebih lebar.
Keempatnya masuk mendahuluiku.
Dan saat melihat mereka berlarian di ruang tamu kecilku, aku akhirnya memahami sesuatu yang tidak pernah diajarkan siapa pun kepadaku.
Tidak semua makhluk yang datang mengganggu ketenangan kita bermaksud membawa masalah.
Kadang-kadang, mereka justru sedang meminta pertolongan.
Dan terkadang, ketika kita memilih untuk menolong mereka, tanpa kita sadari, merekalah yang sebenarnya sedang menyelamatkan kita.
