“Aku tidak butuh uangmu!” teriakku sambil melemparkan tas hitam berisi lima ratus juta rupiah ke arah pria yang berdiri di depan pintu kontrakanku.
Tumpukan uang berhamburan di lantai. Beberapa lembar terselip di bawah rak sepatu, sementara gulungan uang receh menggelinding hingga ke ujung lorong.
Pria itu tidak marah. Ia hanya menunduk, lalu perlahan berjongkok untuk memunguti uang yang berserakan.
Melihat tangannya yang gemetar, entah mengapa aku justru semakin membencinya.
“Kenapa?” tanyanya lirih.
Aku tertawa getir.
“Kamu masih berani bertanya kenapa? Sepuluh tahun, Pak! Sepuluh tahun kamu menghilang! Ibu meninggal tanpa kamu di sisinya. Aku berhenti sekolah sementara karena tidak punya uang. Sekarang, setelah semuanya terjadi, kamu datang membawa uang seolah-olah bisa membeli kembali masa lalu?”
Pria itu adalah Kanor, ayah kandungku.
Dulu, sebelum hidup kami berantakan, aku memanggilnya Ayah. Namun sejak malam ketika ia meninggalkan rumah, panggilan itu terasa terlalu berharga untuk diberikan kepadanya.
Namaku Maya. Usia dua puluh empat tahun.
Aku tinggal di sebuah kontrakan sederhana di pinggiran Yogyakarta. Setelah bertahun-tahun bekerja sebagai pelayan restoran dan petugas pusat layanan pelanggan, akhirnya aku berhasil membuka toko roti kecil bernama Roti Melati.
Nama itu kuambil dari bunga kesukaan almarhum ibuku.
Sayangnya, impian tersebut hampir hancur.

Sebuah kebakaran akibat korsleting listrik merusak sebagian dapur produksi. Dua bulan kemudian, pemasok bahan baku membawa kabur uang muka pesanan dalam jumlah besar. Cicilan pinjaman usaha terus menumpuk, sementara biaya perbaikan dan gaji karyawan tidak bisa ditunda.
Total kewajibanku mencapai lima ratus juta rupiah.
Bank telah memberikan peringatan terakhir. Jika aku tidak segera menyelesaikan tunggakan dan mengajukan restrukturisasi, aset yang kujadikan jaminan terancam disita.
Dan tepat ketika aku merasa tidak memiliki siapa-siapa, ayah yang paling kubenci justru muncul membawa uang sebanyak itu.
“Ambil kembali uangmu!” bentakku.
Ayah tidak menjawab.
Ia memungut selembar uang seratus ribu yang terjatuh di dekat kakiku, membersihkan debunya dengan ujung kemeja, lalu memasukkannya ke dalam tas.
Saat itulah aku melihat sesuatu yang aneh.
Di antara tumpukan uang terdapat banyak lembaran tua, beberapa bahkan terlihat kusam dan berbau lembap.
“Uang dari mana sebanyak ini?” tanyaku dengan curiga. “Jangan bilang kamu melakukan sesuatu yang melanggar hukum.”
Ayah menggeleng.
“Tidak, Nak. Semuanya halal.”
“Kalau begitu, dari mana?”
Ia terdiam cukup lama.
Kemudian, dengan suara hampir tidak terdengar, ia berkata, “Dari tanah yang dulu dibeli ibumu. Dan dari uang yang Ayah kumpulkan selama bertahun-tahun.”
Dadaku mendadak sesak.
“Tanah apa?”
“Tanah di Kulon Progo. Yang dekat jalan menuju bandara.”
Aku mengernyit.
Sepanjang hidupku, aku tidak pernah mengetahui bahwa ibuku memiliki tanah di sana.
Ayah merogoh saku celananya dan mengeluarkan sebuah amplop cokelat yang sudah lusuh.
“Ini surat-suratnya. Ayah baru menjual tanah itu bulan lalu.”
Aku merebut amplop tersebut.
Di dalamnya terdapat salinan sertifikat tanah, akta jual beli, bukti pembayaran, serta beberapa dokumen dari kantor notaris.
Nama yang tercantum sebagai pemilik tanah membuat jantungku berdebar.
Sri Wahyuni.
Nama ibuku.
Namun ada hal lain yang membuatku terkejut.
Tanggal pembelian tanah itu adalah 17 Agustus 2015.
Tahun ketika ibuku sedang menjalani pengobatan kanker.
Tahun ketika ayah meninggalkan kami.
“Kamu bohong,” bisikku.
Ayah menggeleng pelan.
“Ibumu yang meminta Ayah membelinya.”
“Mustahil! Waktu itu Ibu bahkan tidak punya uang untuk membeli obat!”
Ayah menatapku dengan mata memerah.
“Karena uang untuk obatnya sudah Ayah habiskan, Maya.”
Aku membeku.
“Apa maksudmu?”
Ayah menarik napas panjang. Batuk keras tiba-tiba mengguncang tubuhnya. Ia menutup mulut menggunakan saputangan, lalu bersandar pada dinding.
Ketika batuknya mereda, ia berkata, “Dulu Ayah pernah membuat kesalahan besar.”
Aku menatapnya tanpa berkedip.
“Ayah meminjam uang dari seorang teman untuk membuka usaha pengangkutan. Awalnya berjalan lancar. Tapi teman Ayah memalsukan laporan keuangan dan membawa kabur uang perusahaan. Ayah ikut bertanggung jawab karena menandatangani dokumen pinjaman.”
Ia berhenti sejenak.
“Rumah kita terancam disita. Tabungan habis. Ayah bahkan sempat menggunakan sebagian uang yang seharusnya dipakai untuk pengobatan ibumu.”
Aku merasa darahku mendidih.
“Jadi benar! Kamu menghancurkan hidup kami!”
“Benar,” jawabnya tanpa membela diri.
Jawaban itu justru membuatku kehilangan kata-kata.
“Ayah tidak akan mencari alasan untuk kesalahan itu. Ayah yang ceroboh. Ayah yang membuat keluarga kita menderita.”
“Lalu kenapa kamu pergi?”
Ayah menatap lantai.
“Karena Ayah harus bekerja untuk membayar utang. Ayah menerima pekerjaan di proyek pembangunan di Kalimantan. Tapi sebelum berangkat, ibumu meminta satu hal.”
“Apa?”
“Dia meminta Ayah membeli sebidang tanah kecil menggunakan uang hasil penjualan perhiasan warisan nenekmu. Katanya, tanah itu harus disimpan untuk masa depanmu.”
Aku menggeleng tidak percaya.
“Kenapa tidak dipakai untuk pengobatan?”
“Sebagian besar biaya pengobatan sudah ditanggung BPJS. Tapi tetap ada kebutuhan lain yang harus dibayar. Ibumu tahu kondisi kesehatannya semakin memburuk. Dia ingin memastikan kamu memiliki sesuatu kalau suatu hari kami berdua tidak bisa mendampingimu.”
Air mataku mulai menggenang, tetapi aku menahannya.
“Kalau begitu, kenapa kamu tidak pernah pulang?”
Ayah memejamkan mata.
“Karena Ayah dipenjara.”
Suasana mendadak sunyi.
Bahkan suara kendaraan dari jalan raya terasa menjauh.
“Apa?”
“Kasus penipuan perusahaan itu akhirnya dibawa ke pengadilan. Ayah dinyatakan bersalah karena kelalaian dalam pengelolaan dana dan penggunaan dokumen perusahaan. Ayah menjalani hukuman hampir empat tahun.”
Aku mundur selangkah.
“Empat tahun?”
Ayah mengangguk.
“Ketika Ayah masuk penjara, ibumu masih hidup. Ayah mencoba menghubunginya lewat surat. Tapi beberapa bulan kemudian, Ayah mendapat kabar bahwa dia sudah meninggal.”
Aku teringat hari pemakaman ibu.
Aku berdiri di samping liang lahat, menggenggam tangan Bibi Rosa sambil terus memandang jalan masuk pemakaman.
Aku menunggu ayah datang.
Namun ia tidak pernah muncul.
“Kenapa tidak ada yang memberitahuku?” tanyaku dengan suara pecah.
“Karena Ayah meminta Bibi Rosa merahasiakannya.”
“Kenapa?”
“Ayah takut kamu malu memiliki ayah seorang narapidana.”
Aku tertawa pahit.
“Jadi kamu memilih membuatku percaya bahwa aku dibuang?”
Ayah menunduk.
“Itulah keputusan paling bodoh yang pernah Ayah buat.”
Aku ingin membentaknya lagi.
Namun tiba-tiba terdengar suara perempuan dari belakang.
“Sudah cukup, Maya.”
Aku menoleh.
Bibi Rosa berdiri di ujung lorong sambil membawa tas belanja. Wajahnya pucat, matanya basah.
“Bibi?”
Ia berjalan mendekat.
“Bibi yang memberi tahu ayahmu tentang masalah toko rotimu.”
“Jadi Bibi tahu semuanya?”
Bibi Rosa mengangguk.
“Kamu masih ingat biaya sekolahmu setelah ibumu meninggal? Uang seragam, biaya ujian, sampai uang pendaftaran kuliah yang katanya berasal dari bantuan yayasan?”
Aku mengangguk perlahan.
“Kenapa?”
“Itu uang kiriman ayahmu.”
Dunia seolah berhenti berputar.
“Tidak mungkin.”
“Setelah bebas, ayahmu bekerja sebagai buruh bangunan, sopir angkut, dan penjaga gudang. Hampir setiap bulan dia mengirimkan uang kepada Bibi untuk kebutuhanmu.”
Aku menoleh kepada ayah.
Ia tetap diam.
“Kalau benar, kenapa dia tidak pernah datang menemuiku?”
Bibi Rosa mengusap air matanya.
“Dia pernah datang.”
Dadaku berdebar.
“Kapan?”
“Waktu kamu wisuda.”
Aku teringat hari itu.
Aku mengenakan kebaya biru tua dan berdiri bersama teman-temanku di halaman kampus.
Semua orang berfoto bersama orang tua mereka.
Aku hanya ditemani Bibi Rosa.
“Ayahmu berdiri di luar pagar kampus,” lanjut Bibi. “Dia membawa buket bunga kecil. Tapi ketika melihat kamu tertawa bersama teman-temanmu, dia takut kehadirannya akan merusak hari bahagiamu.”
Aku terdiam.
Dalam ingatanku, muncul bayangan samar seorang lelaki tua yang berdiri di dekat gerbang kampus sambil memegang bunga.
Saat itu aku tidak memperhatikannya.
Aku tidak pernah menyangka lelaki tersebut adalah ayahku.
“Tapi kenapa sekarang?” tanyaku.
Ayah mengangkat wajah.
“Karena Ayah tidak punya banyak waktu lagi.”
Aku menatapnya.
“Apa maksudmu?”
Ia mencoba tersenyum.
“Sudah beberapa bulan Ayah sakit.”
Bibi Rosa tiba-tiba menangis.
“Kanor, kamu harus bilang yang sebenarnya.”
Ayah menggeleng.
“Rosa, jangan.”
“Dia berhak tahu!”
Bibi Rosa membuka tasnya dan mengeluarkan sebuah map rumah sakit.
Tangannya gemetar ketika menyerahkannya kepadaku.
Aku membaca lembar pertama.
Nama pasien: Kanor Santoso.
Diagnosis: Karsinoma paru stadium lanjut.
Mataku terpaku pada tulisan tersebut.
“Kanker paru-paru?”
Ayah tidak menjawab.
Aku membalik halaman berikutnya.
Ada hasil pemeriksaan, jadwal kemoterapi, serta catatan dokter mengenai kondisi tubuhnya yang semakin melemah.
“Sejak kapan?”
“Delapan bulan lalu,” jawab Bibi Rosa.
“Kenapa tidak berobat?”
“Dia berobat, Maya. Tapi beberapa kali menunda tindakan karena harus bekerja dan mengurus penjualan tanah.”
Aku memandang ayah.
“Jadi kamu menjual tanah itu untuk membayar utangku?”
Ayah mengangguk.
“Tanah itu memang disiapkan untukmu sejak awal.”
“Lalu biaya pengobatanmu?”
Ia tersenyum lemah.
“Masih ada BPJS, Nak.”
Aku tahu jawaban itu tidak sesederhana kedengarannya.
Perawatan kanker membutuhkan tenaga, waktu, biaya transportasi, dan seseorang yang mendampingi.
Sementara ayahku bahkan kesulitan berdiri tegak.
Aku kembali memandang tas berisi uang di lantai.
Lima ratus juta rupiah.
Uang yang tadi kulemparkan dengan penuh kebencian.
Tiba-tiba aku melihat sesuatu yang terselip di bagian dalam tas.
Sebuah buku tabungan kecil.
Aku mengambilnya.
Halaman-halamannya dipenuhi catatan setoran dengan nominal berbeda.
Lima puluh ribu.
Seratus ribu.
Dua ratus lima puluh ribu.
Kadang hanya dua puluh ribu.
Setoran pertama tercatat bertahun-tahun lalu.
Setoran terakhir dilakukan dua minggu sebelumnya.
Di halaman belakang terdapat tulisan tangan yang sangat kukenal.
Tulisan ayah.
Untuk Maya. Jangan sampai anakku berhenti bermimpi hanya karena Ayah pernah gagal.
Aku menutup mulut.
Air mata yang sejak tadi kutahan akhirnya jatuh.
“Ayah…”
Untuk pertama kalinya setelah hampir sepuluh tahun, panggilan itu keluar dari mulutku.
Ayah mengangkat kepala.
“Ayah tidak meminta kamu memaafkan Ayah, Nak. Ayah cuma ingin memastikan toko rotimu tetap berdiri.”
Aku berlutut di depannya.
Tanganku meraih kedua tangannya yang kasar.
“Kenapa Ayah tidak bilang dari dulu?”
Ia mengusap rambutku dengan gerakan canggung.
“Karena Ayah terlalu takut kamu menolak.”
Aku menangis semakin keras.
“Aku memang marah. Aku masih marah karena Ayah meninggalkan kami. Tapi kenapa Ayah harus menanggung semuanya sendirian?”
Ayah ikut menangis.
“Maafkan Ayah, Maya.”
Malam itu, untuk pertama kalinya setelah bertahun-tahun, kami berpelukan.
Namun aku segera menyadari sesuatu yang mengerikan.
Tubuh ayah terasa sangat ringan.
Terlalu ringan.
Ketika aku melepaskan pelukan, wajahnya mendadak pucat.
“Ayah?”
Ia mencoba menjawab, tetapi napasnya tersengal.
Kemudian tubuhnya ambruk ke samping.
“Ayah!”
Aku menjerit.
Bibi Rosa segera menelepon ambulans.
Di ruang instalasi gawat darurat RSUP Dr. Sardjito, aku duduk dengan tangan gemetar.
Dokter menjelaskan bahwa kondisi ayah sangat lemah akibat penyakitnya dan mengalami gangguan pernapasan berat.
Ia harus dirawat.
Selama tiga hari berikutnya, aku hampir tidak meninggalkan rumah sakit.
Aku menyuapinya bubur, membantu mengganti pakaian, dan mendengarkan cerita tentang kehidupannya di Kalimantan.
Ada cerita lucu tentang rekan kerjanya.
Ada cerita tentang malam-malam ketika ia tidur di barak proyek.
Ada pula cerita tentang bagaimana ia selalu menyimpan fotoku di dalam dompet.
Suatu sore, ketika kondisinya sedikit membaik, aku memberanikan diri bertanya.
“Ayah, kalau Ibu masih hidup, menurut Ayah dia akan memaafkan kita?”
Ayah menatap jendela.
“Ibumu tidak pernah berhenti menyayangi kita. Tapi dia juga tidak pernah menganggap kesalahan Ayah sebagai sesuatu yang kecil.”
Ia menggenggam tanganku.
“Maya, jangan menghabiskan hidupmu untuk membenci seseorang. Tapi jangan pula merasa wajib memaafkan hanya karena orang itu sedang sakit.”
Aku terdiam.
“Ayah ingin kamu hidup dengan hati yang tenang. Itu saja.”
Dua minggu kemudian, kondisi ayah mulai stabil dan dokter mengizinkannya pulang dengan pengawasan serta jadwal pengobatan lanjutan.
Aku membawanya tinggal bersamaku.
Namun sebelum menggunakan uang yang diberikannya, aku menemui notaris untuk memastikan seluruh dokumen penjualan tanah sah dan tidak ada kewajiban tersembunyi.
Setelah semuanya jelas, aku menghubungi bank.
Sebagian uang digunakan untuk menyelesaikan tunggakan dan memperbaiki posisi pinjaman. Sisanya kusimpan sebagai dana operasional serta kebutuhan pengobatan ayah.
Aku juga menjual beberapa peralatan produksi yang tidak lagi digunakan.
Perlahan, Roti Melati kembali beroperasi.
Suatu pagi, ketika aku sedang menata roti di etalase, Bibi Rosa datang membawa sebuah kotak kayu kecil.
“Bibi menemukan ini di rumah lama ibumu.”
Di dalam kotak terdapat beberapa foto keluarga, sebuah gelang perak, dan amplop putih yang menguning.
Pada bagian depan tertulis namaku.
Untuk Maya, ketika kamu sudah cukup dewasa untuk memahami.
Aku membuka amplop itu.
Tulisan tangan ibu memenuhi dua lembar kertas.
Anakku Maya,
Kalau suatu hari kamu membaca surat ini, mungkin Ibu sudah tidak ada di sampingmu.
Ibu ingin kamu tahu bahwa ayahmu pernah melakukan kesalahan besar. Kesalahan yang membuat keluarga kita kehilangan banyak hal.
Ibu marah kepadanya. Ibu kecewa. Bahkan ada hari-hari ketika Ibu tidak sanggup melihat wajahnya.
Tetapi Ibu juga tahu dia sedang berusaha memperbaiki semuanya.
Ibu tidak meminta kamu melupakan penderitaan kita. Ibu hanya berharap kamu tidak mewarisi kebencian yang membuat hidupmu semakin berat.
Tanah yang kami beli itu bukan hadiah dari ayahmu seorang. Itu adalah harapan terakhir yang Ibu titipkan untuk masa depanmu.
Gunakanlah untuk membangun kehidupan yang lebih baik.
Dan satu hal lagi, Maya.
Kalau suatu hari kamu berhasil memiliki toko roti seperti yang selalu kamu ceritakan kepada Ibu, sisakan satu kursi di dekat jendela.
Dulu ayahmu selalu berkata bahwa dia ingin duduk di sana, minum kopi, dan melihat putrinya membuat roti.
Aku menangis sambil memeluk surat tersebut.
Ternyata ibu mengetahui impianku sejak kecil.
Dan ternyata ayah juga mengingatnya.
Sore itu, aku membeli sebuah kursi kayu sederhana dan meletakkannya di dekat jendela toko.
Ketika ayah datang menggunakan tongkat, aku membantunya duduk.
Ia memandang kursi tersebut dengan heran.
“Untuk siapa ini, Nak?”
Aku meletakkan secangkir kopi hangat dan sepotong roti melati di hadapannya.
“Untuk pelanggan paling lama yang belum pernah sempat datang.”
Ayah tersenyum.
Namun senyumnya perlahan berubah menjadi tangis ketika aku menyerahkan surat ibu.
Ia membacanya dengan tangan gemetar.
Setelah selesai, ia menatapku.
“Maya, Ayah tidak tahu ibumu menulis ini.”
“Aku juga baru tahu.”
Kami duduk berdua cukup lama.
Tidak ada kata-kata besar.
Tidak ada janji bahwa semuanya akan kembali seperti dahulu.
Karena kami tahu, waktu yang hilang tidak bisa dikembalikan.
Beberapa bulan kemudian, kesehatan ayah kembali memburuk.
Pengobatan masih dijalani, tetapi dokter menjelaskan bahwa penyakitnya terus berkembang.
Aku tetap membawanya ke toko setiap kali kondisinya memungkinkan.
Ia senang duduk di dekat jendela, menyapa pelanggan, dan sesekali mengomentari roti buatanku.
“Kurang manis sedikit,” katanya suatu hari.
Aku tertawa.
“Ayah selalu bilang begitu.”
“Karena dulu ibumu membuatnya lebih manis.”
“Kalau begitu, besok Ayah yang bantu menakar gula.”
Ia tersenyum.
“Kalau Ayah masih kuat, ya.”
Aku pura-pura tidak mendengar bagian terakhir kalimatnya.
Pada suatu pagi yang mendung, ayah meninggal dengan tenang di rumah sakit.
Aku berada di sisinya.
Sebelum pergi, ia sempat menggenggam tanganku dan berbisik, “Ayah bangga padamu.”
Itulah kalimat terakhirnya.
Setelah pemakaman, aku kembali ke toko dengan hati hancur.
Kursi dekat jendela itu kosong.
Di atas meja masih ada cangkir kopi kesukaannya.
Aku duduk di kursi tersebut dan menangis sampai malam.
Beberapa hari kemudian, Bibi Rosa menyerahkan sebuah amplop kecil yang dititipkan ayah sebelum masuk rumah sakit untuk terakhir kalinya.
Di dalamnya terdapat selembar foto.
Foto ayah berdiri di luar pagar kampus pada hari wisudaku.
Ia mengenakan kemeja putih lusuh dan memegang buket bunga sederhana.
Di belakang foto terdapat tulisan tangan.
Hari ini putriku lulus kuliah. Aku tidak berani memeluknya, tetapi aku sudah melihatnya tersenyum. Itu cukup untuk membuatku bahagia.
Aku memeluk foto itu erat-erat.
Barulah aku memahami sesuatu.
Selama bertahun-tahun, aku mengira ayah tidak pernah datang dalam hidupku.
Padahal ia pernah berdiri begitu dekat.
Namun kami sama-sama terperangkap dalam luka yang tidak pernah dibicarakan.
Kini, setiap pagi, sebelum membuka toko, aku selalu meletakkan secangkir kopi di meja dekat jendela.
Bukan karena aku berharap ayah akan kembali.
Melainkan karena aku ingin mengingat bahwa cinta tidak selalu datang dalam bentuk yang sempurna.
Ada cinta yang terlambat.
Ada cinta yang penuh kesalahan.
Ada pula cinta yang harus diperjuangkan melalui penyesalan panjang.
Aku tidak pernah menganggap keputusan ayah meninggalkan kami sebagai sesuatu yang benar.
Namun aku bersyukur sempat mengenalnya kembali sebelum semuanya terlambat.
Setahun setelah kepergiannya, Roti Melati berkembang menjadi dua cabang kecil di Yogyakarta.
Di setiap cabang, aku menyediakan satu meja sederhana dekat jendela.
Di atasnya terdapat tulisan kecil.
Untuk mereka yang masih memiliki kesempatan pulang, jangan menunggu sampai seseorang hanya tinggal nama.
Karena pada malam ketika aku melemparkan tas berisi lima ratus juta rupiah itu, aku mengira sedang menolak uang dari seorang ayah yang tidak bertanggung jawab.
Padahal aku hampir menolak kesempatan terakhir untuk mengenal lelaki yang telah menghabiskan sisa hidupnya berusaha memperbaiki kesalahan.
Dan sekarang aku tahu, penyesalan paling menyakitkan bukanlah ketika seseorang pergi meninggalkan kita.
Melainkan ketika kita baru memahami isi hatinya setelah tidak ada lagi kesempatan untuk mengatakan bahwa kita masih menyayanginya.
