Komisaris Dimas Saputra menatap Bruno cukup lama.
Gerimis semakin rapat. Air menetes dari ujung topinya, sementara suara rengekan Bruno terdengar di antara keheningan para pelayat.
“Bruno, mundur.”
Sekali lagi Dimas memberi perintah.
Bruno menoleh kepadanya.

Namun hanya sesaat.
Anjing itu kembali mengendus celah sempit di antara penutup dan badan peti, lalu menggaruknya dengan panik.
Dimas merasakan sesuatu yang dingin menjalar di tengkuknya.
Ia mengenal Bruno sejak anjing itu masih berusia sebelas bulan. Selama bertahun-tahun, Bruno dilatih untuk mengenali bahan peledak, mencari orang hilang, dan mendeteksi jejak manusia di tempat-tempat yang bahkan hampir tidak memiliki aroma.
Bruno tidak pernah mengabaikan perintah tanpa alasan.
“Pak.”
Aipda Raka mendekat.
“Bagaimana kalau kita periksa?”
Dimas menatap peti.
“Periksa apa?”
Raka menelan ludah.
“Peti itu.”
Beberapa polisi di sekitar mereka langsung saling berpandangan.
Ibu Ardi yang sejak tadi duduk bersama keluarganya perlahan berdiri.
“Ada apa?”
Dimas segera menghampirinya.
“Belum tentu ada apa-apa, Bu. Bruno hanya bertingkah tidak seperti biasanya.”
“Tapi kalian mau membuka petinya?”
Pertanyaan itu membuat Dimas terdiam.
Secara prosedural, membuka kembali peti dalam situasi seperti ini bukan keputusan sederhana. Apalagi upacara penghormatan sudah hampir selesai.
Namun Bruno kembali menggonggong.
Kali ini tiga kali berturut-turut.
Setelah itu, ia menempelkan hidungnya pada celah peti dan mengeluarkan rengekan panjang.
Ibu Ardi memejamkan mata.
“Buka.”
“Bu?”
“Kalau Bruno sampai seperti itu, pasti ada alasannya.”
Dimas masih ragu.
Perempuan itu menatapnya dengan mata sembap.
“Anjing itu mengenal anak saya mungkin sama baiknya dengan saya. Buka petinya.”
Beberapa menit kemudian, suasana pemakaman berubah total.
Musik penghormatan dihentikan.
Para pelayat diminta mundur.
Empat petugas berdiri mengelilingi peti.
Bruno akhirnya ditarik beberapa meter oleh pawang K9 lainnya, tetapi tubuhnya terus meronta ingin kembali.
Dimas sendiri berdiri di sisi peti.
“Buka perlahan.”
Kait pertama dilepas.
Kemudian kait kedua.
Ketiga.
Ketika penutup peti mulai terangkat, semua orang menahan napas.
Namun beberapa detik kemudian Dimas membeku.
Raka yang berdiri di sampingnya bahkan mundur satu langkah.
Ibu Ardi menutup mulutnya.
Di dalam peti itu memang ada sesosok tubuh mengenakan seragam kepolisian.
Tetapi wajahnya bukan Ardi.
“Ya Tuhan…”
Suara seseorang terdengar lirih.
Dimas mendekat.
Wajah jenazah mengalami luka cukup parah, tetapi tetap terlihat jelas bahwa bentuk rahang, garis rambut, bahkan tinggi tubuhnya berbeda.
“Ini bukan Ardi.”
Raka mengatakannya hampir seperti berbisik.
Ibu Ardi langsung menangis histeris.
“Itu bukan anak saya!”
Suasana berubah kacau.
Beberapa petugas segera menutup area pemakaman. Telepon mulai berdering di mana-mana. Tim forensik dihubungi. Seluruh dokumen penyerahan jenazah diperiksa ulang.
Namun Dimas justru memandang Bruno.
Anjing itu kini tidak lagi meronta.
Ia berdiri diam.
Seolah-olah hanya menunggu manusia akhirnya memahami apa yang sejak tadi berusaha ia katakan.
Satu jam kemudian, pemakaman dibatalkan.
Jenazah dibawa kembali untuk pemeriksaan forensik.
Hasil awal membuat keadaan semakin aneh.
Identitas jenazah ternyata adalah Seno Wibowo, seorang buruh pelabuhan yang sudah dilaporkan hilang oleh keluarganya sejak malam operasi di Tanjung Priok.
Pertanyaan berikutnya jauh lebih mengerikan.
Kalau Seno berada di dalam peti Ardi, lalu di mana Ardi?
Dimas langsung membentuk tim kecil.
Ia tidak ingin informasi itu menyebar sebelum mereka memahami apa yang sebenarnya terjadi.
Mereka kembali membuka seluruh rekaman operasi malam itu.
Gudang tua tersebut diduga menjadi tempat penyimpanan barang selundupan. Ardi dan Bruno masuk bersama tim pertama.
Namun beberapa menit sebelum ledakan, Bruno tiba-tiba keluar dari bangunan sambil menggonggong keras.
Seorang petugas mencoba membawanya kembali masuk, tetapi ledakan terjadi lebih dahulu.
Setelah api berhasil dikendalikan, tim penyelamat menemukan seorang pria berseragam polisi dalam keadaan tidak sadarkan diri.
Wajahnya tertutup jelaga dan mengalami luka berat.
Identifikasi dilakukan terburu-buru berdasarkan seragam, kartu identitas yang ditemukan di dekat tubuh, dan lokasi penemuan.
“Tidak ada pemeriksaan sidik jari?” tanya Dimas.
Petugas administrasi rumah sakit menggeleng gugup.
“Identitas sudah dikonfirmasi dari pihak lapangan, Pak.”
Dimas mengepalkan tangan.
“Siapa yang mengonfirmasi?”
Ruangan mendadak sunyi.
Raka membuka berkas.
“AKP Yudha Mahendra.”
Nama itu membuat Dimas menatapnya.
Yudha adalah komandan lapangan dalam operasi tersebut.
Dan sejak pagi tadi, teleponnya tidak aktif.
Mereka mendatangi apartemen Yudha di kawasan Kelapa Gading.
Kosong.
Lemari terbuka.
Beberapa pakaian hilang.
Laptop tidak ada.
Tetapi di meja ruang tamu ditemukan sesuatu yang membuat Dimas semakin yakin bahwa kejadian itu bukan kesalahan administrasi biasa.
Sebuah tiket penerbangan menuju Makassar untuk sore hari.
“Cari dia.”
Dua jam kemudian, Yudha ditemukan di area parkir Bandara Soekarno-Hatta sebelum sempat memasuki terminal.
Ia tidak melawan.
Di ruang pemeriksaan, Yudha hanya duduk diam sambil menundukkan kepala.
“Di mana Ardi?”
Dimas langsung bertanya.
Yudha tidak menjawab.
Dimas meletakkan foto Bruno di atas meja.
“Anjing ini yang membongkar semuanya.”
Yudha memandang foto itu.
Wajahnya berubah.
“Seharusnya Bruno tidak dibawa ke pemakaman.”
Kalimat itu membuat ruangan membeku.
Dimas mendekat.
“Jadi kau tahu?”
Yudha tertawa kecil, tetapi terdengar getir.
“Ardi terlalu keras kepala.”
“Apa maksudmu?”
Beberapa detik Yudha diam.
Kemudian semuanya mulai terungkap.
Operasi di Tanjung Priok ternyata bukan sekadar penggerebekan gudang penyelundupan.
Selama hampir tiga bulan, Ardi diam-diam menyelidiki kebocoran informasi dari dalam kepolisian.
Setiap kali unit mereka merencanakan penggerebekan besar, target selalu menghilang beberapa jam sebelumnya.
Ardi menemukan pola transaksi mencurigakan yang mengarah kepada beberapa orang.
Salah satunya Yudha.
Malam itu, Ardi sengaja memasuki gudang lebih awal bersama Bruno untuk mengambil sebuah perangkat penyimpanan yang diyakini berisi catatan transaksi jaringan tersebut.
Namun Yudha mengetahuinya.
Ledakan kemudian terjadi.
“Apakah kau yang memasang bom?”
Dimas bertanya.
Yudha langsung menggeleng.
“Bukan. Aku hanya memberi tahu mereka bahwa Ardi ada di sana.”
“Lalu Ardi?”
“Aku tidak tahu.”
Dimas menghantam meja.
“Jangan bohong!”
“Aku benar-benar tidak tahu!”
Yudha mulai panik.
“Setelah ledakan, kami menemukan Seno memakai jaket polisi milik Ardi. Aku tahu itu bukan Ardi. Tapi kalau Ardi dianggap meninggal, semua orang akan berhenti mencarinya.”
“Kenapa Seno memakai seragam Ardi?”
“Dia pekerja gudang. Mungkin Ardi memberikan jaketnya untuk melindungi dia dari api. Aku tidak tahu.”
“Lalu kartu identitas Ardi?”
Yudha terdiam.
Itulah jawabannya.
Yudha sengaja meletakkannya.
Dimas merasa muak.
“Jadi kau memasukkan orang lain ke peti dan membuat seorang ibu mengira anaknya sudah meninggal?”
“Aku takut.”
“Takut?”
“Kalau Ardi masih hidup, orang-orang itu akan mengejarnya.”
Dimas menatapnya tajam.
“Siapa mereka?”
Namun sebelum Yudha menjawab, ponsel Raka berdering.
Raka mendengarkan beberapa detik.
Wajahnya berubah.
“Pak, tim menemukan sesuatu di gudang.”
Mereka langsung menuju Tanjung Priok.
Bangunan itu masih dikelilingi garis polisi.
Bruno dibawa bersama mereka.
Begitu turun dari kendaraan, anjing itu langsung menarik talinya menuju bagian belakang gudang.
Ia melewati puing-puing, lalu berhenti di dekat saluran drainase besar.
Bruno menggonggong.
Tim membuka penutup beton.
Di bawahnya terdapat lorong sempit bekas saluran servis yang mengarah ke bangunan kosong sekitar dua ratus meter dari gudang.
Mereka menyusurinya.
Di ujung lorong ditemukan bercak darah yang sudah mengering.
Kemudian sebuah jam tangan.
Raka mengenalinya.
“Itu punya Ardi.”
Dimas langsung memanggil tim pencari.
Mereka mengikuti lorong sampai ke sebuah bengkel tua yang sudah lama tidak digunakan.
Di dalamnya terdapat perban, botol air kosong, dan bungkus makanan.
Seseorang pernah bertahan di sana.
Tetapi sekarang tempat itu kosong.
Bruno mengendus lantai.
Lalu berlari menuju pintu belakang.
Jejak itu membawa mereka ke jalan kecil.
Di sana Bruno tiba-tiba berhenti.
Tidak ada apa-apa selain jalan basah dan deretan bangunan tua.
Dimas merasakan harapan yang sempat muncul kembali tenggelam.
Sampai seorang pemilik warung mengatakan sesuatu.
“Tiga hari lalu ada laki-laki terluka di sini.”
Dimas langsung menoleh.
“Di mana dia?”
“Dibawa seorang perempuan.”
“Siapa?”
“Katanya dokter.”
Setelah menelusuri rekaman CCTV di sekitar lokasi, mereka menemukan sebuah mobil putih yang membawa pria tersebut.
Nomor pelat mengarah ke dokter bernama Nadira Santoso.
Ketika mereka tiba di sebuah klinik kecil di Jakarta Utara, Bruno langsung menggonggong bahkan sebelum pintu mobil dibuka.
Dimas tahu saat itu juga.
Mereka menemukannya.
Pintu klinik terbuka.
Seorang perempuan mengenakan jas dokter keluar.
“Pak Dimas?”
“Di mana Ardi?”
Nadira menatap Bruno.
Kemudian tersenyum tipis.
“Dia menunggu kalian.”
Dimas hampir berlari memasuki ruangan.
Di sebuah kamar sederhana, seorang pria duduk bersandar di tempat tidur dengan kepala diperban dan lengan kanan digips.
Wajahnya penuh lebam.
Tetapi ia hidup.
Ardi.
Raka sampai tidak mampu berkata-kata.
Dimas berdiri kaku di ambang pintu.
Ardi tersenyum lemah.
“Pemakaman saya ramai?”
Dimas mendekat dan memukul pelan bahunya.
“Bajingan. Kami hampir mengubur orang lain atas namamu.”
Ardi tertawa, lalu meringis kesakitan.
Namun Bruno sudah tidak mampu menunggu.
Ia menerjang masuk.
Anjing besar itu melompat ke sisi tempat tidur dan mengeluarkan suara yang belum pernah mereka dengar sebelumnya.
Bukan gonggongan.
Bukan rengekan.
Seperti tangisan.
Ardi memeluk kepala Bruno dengan satu tangan.
“Hei, partner.”
Bruno menjilati wajahnya tanpa henti.
Mata Ardi memerah.
“Aku tahu kau bakal mencariku.”
Ruangan itu menjadi sunyi.
Bahkan Dimas harus berpaling sebentar.
Namun ternyata masih ada satu kejutan terakhir.
Ardi meminta Dimas menutup pintu.
Dari balik bantal, ia mengambil benda kecil berwarna hitam.
Sebuah kartu memori.
“Ini alasan mereka mencoba membunuhku.”
Di dalamnya tersimpan salinan transaksi, rekaman komunikasi, dan daftar nama orang yang terlibat dalam jaringan penyelundupan.
Nama Yudha memang ada.
Tetapi ia hanya bagian kecil.
Di bagian paling atas terdapat nama seorang pejabat senior yang selama ini bahkan ikut menghadiri rapat penyelidikan kasus tersebut.
Ardi sengaja tidak menghubungi siapa pun setelah selamat dari ledakan.
Ia tidak tahu siapa yang masih bisa dipercaya.
Nadira adalah teman kuliahnya dulu yang kebetulan menemukan Ardi dalam keadaan hampir pingsan setelah ia keluar dari lorong drainase.
“Aku mau menghubungi Dimas,” kata Ardi, “tapi aku harus memastikan dulu.”
“Memastikan apa?”
“Bahwa orang yang datang mencariku bukan bagian dari mereka.”
Dimas terdiam.
“Lalu bagaimana kau tahu sekarang?”
Ardi memandang Bruno.
“Karena dia datang bersama kalian.”
Beberapa minggu kemudian, penyelidikan besar dilakukan secara tertutup.
Sejumlah orang ditangkap.
Yudha akhirnya bekerja sama dan memberikan kesaksian untuk membongkar jaringan tersebut.
Nama Ardi dipulihkan dalam laporan resmi.
Sedangkan keluarga Seno akhirnya dapat memakamkan anggota keluarga mereka dengan identitas yang sebenarnya.
Namun ada satu hal yang paling diingat semua orang.
Hari ketika Ardi kembali ke markas.
Ia datang masih menggunakan tongkat.
Puluhan polisi berdiri menyambutnya.
Tetapi Bruno adalah yang pertama berlari.
Ardi berjongkok sebisanya dan membuka kedua tangan.
Bruno menabraknya begitu keras hingga keduanya hampir jatuh.
Semua orang tertawa.
Ardi kemudian memegang wajah anjing itu.
“Katanya kau bikin keributan besar di pemakamanku.”
Bruno menjilat tangannya.
“Bagus.”
Ardi tersenyum.
“Sekali-sekali memang jangan patuh.”
Dimas yang berdiri beberapa meter dari mereka ikut tersenyum.
Selama bertahun-tahun mereka melatih anjing K9 untuk mematuhi manusia.
Duduk ketika diperintah.
Berhenti ketika diperintah.
Mencari ketika diperintah.
Tetapi pagi di pemakaman itu mengajarkan mereka sesuatu yang tidak pernah tertulis dalam buku pelatihan mana pun.
Kesetiaan terkadang justru terlihat ketika seseorang berani menolak perintah.
Bruno tidak memahami laporan rumah sakit.
Ia tidak mengenal dokumen kematian.
Ia tidak mengerti pangkat, prosedur, atau upacara penghormatan.
Ia hanya mengetahui satu hal sederhana.
Orang yang berada di dalam peti itu bukan sahabatnya.
Dan ketika semua manusia percaya bahwa Ardi Pratama telah meninggal, hanya Bruno yang menolak mempercayainya.
Ternyata, dialah yang benar.
