SETIAP HARI PUTRIKU PULANG SEKOLAH MEMBAWA BERAS, SUSU, DAN
Aku menatap amplop cokelat di tangan Naya, lalu beralih kepada pria yang berdiri di belakang suamiku. Pak Hendrawan, direktur perusahaan
Aku menatap amplop cokelat di tangan Naya, lalu beralih kepada pria yang berdiri di belakang suamiku. Pak Hendrawan, direktur perusahaan
“BAYU, KALAU KAMU BENAR-BENAR MASIH HIDUP, KENAPA KAMU MEMBIARKAN KAMI MENGUBUR KENANGANMU SELAMA TIGA TAHUN?” Suaraku pecah di tengah lorong
“Rafi Pradana?” Aku menatap nama yang tercetak pada dokumen itu, lalu mengangkat wajah ke arah Yoga. “Jadi anak yang tadi
Pukul delapan pagi, Fajar kembali mengirim pesan. “Jangan lupa datang. Papa tidak suka menunggu.” Aku membaca pesan itu sambil duduk
“Aditya Pranowo?” Aku membaca nama itu sekali lagi, berharap mataku salah melihat. Namun, nama yang tercantum dalam formulir pembiayaan tersebut
“JANGAN BAWA ANAKKU PERGI! KALAU KAMU MASIH HIDUP, KENAPA SEMUA ORANG MENGATAKAN KAMU SUDAH MENINGGAL?” Aku hampir berteriak ketika nomor
Aku menatap nama yang tercetak pada kertas itu sampai kedua mataku terasa panas. Laras Puspita Pratama. Istriku. Perempuan yang meninggal
“SELAMA SEBELAS TAHUN IBU HIDUP, TAPI MEMBIARKANKU MENANGIS DI DEPAN MAKAM SETIAP TAHUN?” Suaraku bergetar begitu keras hingga perempuan berkerudung
“SELINA MASIH HIDUP, NAURA.” Kalimat itu keluar dari mulut Dimas begitu pelan hingga aku hampir mengira salah mendengar. Aku menatapnya
“Mirnawati Santoso?” Aku mengangkat wajah, menatap pria tua yang berdiri di seberang meja. “Itu nama ibu mertua saya.” Pria tersebut