IBU MENTUAKU MENUTUP PINTU RESTORAN DI DEPAN ANAK-ANAKKU, SEDANGKAN AKULAH YANG MEMBAYAR
Aku tidak tahu berapa lama aku berdiri kaku di dalam lif itu. Yang aku tahu, tangan Budi masih berada dalam
Aku tidak tahu berapa lama aku berdiri kaku di dalam lif itu. Yang aku tahu, tangan Budi masih berada dalam
“Mulai saat ini, aku berhenti menjadi orang gaji percuma untuk keluarga Pradana yang tidak berhati perut ini!” Suara itu bergema
Aku menekan loceng sekali. Beberapa saat kemudian, pintu terbuka. Budi berdiri di hadapanku dengan wajah yang jelas tidak senang. Di
Pak Hendra tidak terus menghampiri Rizky. Dia berjalan lurus ke arahku. Bunyi tapak kasutnya di atas lantai marmar kedengaran jelas
Aditya semakin hampir, menggenggam batang besi itu seolah-olah dia benar-benar bersedia menggunakannya. “Rizky, kamu fikir kamu boleh bawa Raka pergi
Angka yang tercetak pada helaian itu ialah RM480,000. Saya menekup mulut supaya jeritan tidak terlepas. Di bahagian atas dokumen tertulis
Saya tidak terus menjerit atau merampas dokumen itu daripada tangan Dedi. Sebaliknya, saya berdiri diam di hadapan meja makan sambil
Empat bulan selepas aku keluar dari rumah itu, suara Budi di hujung talian tidak lagi kedengaran seperti lelaki yang pernah
“Aku bisa jelasin.” Kalimat itu justru membuat seluruh tubuhku terasa dingin. Aku berdiri di ruang kerja dengan foto lama Dimas
Aku menatap foto Tante Mira di layar ponsel sampai jemariku terasa dingin. Farhan, pengacaraku, membaca pesan ancaman itu dua kali