SELEPAS SUAMI MENCERAIKAN SAYA KETIKA SAYA HAMIL TUJUH BULAN, SAYA MEMANDU SENDIRIAN
Bilik bersalin itu tiba-tiba terasa terlalu sempit. Saya memandang Dr. Reza, kemudian Adrian, kemudian Miranti. Tiada siapa bergerak. Hanya tangisan
Bilik bersalin itu tiba-tiba terasa terlalu sempit. Saya memandang Dr. Reza, kemudian Adrian, kemudian Miranti. Tiada siapa bergerak. Hanya tangisan
Aku memandang pemacu USB hitam di atas meja itu seolah-olah benda kecil tersebut mampu meletup pada bila-bila masa. Arga tidak
Aku tidak ingat bagaimana caranya aku menyelesaikan kunjungan murid hari itu. Yang kuingat hanya suara ibu mertuaku dari pengeras suara
Keesokan harinya, tepat pukul tiga sore, aku kembali ke rumah peninggalan Ibu. Aku sudah mempersiapkan diri untuk melihat sandal merah
“Sebenarnya aku berencana memberitahumu setelah rumahnya jadi kita beli.” Kalimat Arga membuat seluruh tubuhku dingin. Aku menatap laki-laki yang selama
Aku tidak pulang ke rumah dinas sore itu. Foto yang diambil dari balik jendelaku lima tahun lalu terus terbayang di
Dimas menghembuskan nafas terakhirnya pada pukul 5.17 pagi. Ketika garis pada monitor jantung berubah lurus, aku masih menggenggam tangannya. Tangannya
Malam selepas pertemuan alumni itu, saya tidak terus pulang. Saya memandu sendirian menyusuri jalan raya Kuala Lumpur yang masih basah
Jeritan wanita itu begitu kuat sehingga saya terpaksa menjauhkan telefon daripada telinga. “Rendy, siapa perempuan itu? Kenapa dia tahu tentang
Aku menatap foto di layar ponsel sampai mataku terasa perih. NAYA PRAMESWARI. PERSETUJUAN PEMBEBANAN ASET. Rp64.000.000.000. Namaku tercantum di sana.