PUKUL 2.17 PAGI DI HOSPITAL, DOKTOR MEMANDANGKU DENGAN WAJAH PUCAT: “ISTERI ANDA SELAMAT
Arya terasa darahnya membeku. “Penipuan apa?” Maya cuba menarik nafas lebih dalam, tetapi rasa sakit pada tulang rusuk membuatkan wajahnya
Arya terasa darahnya membeku. “Penipuan apa?” Maya cuba menarik nafas lebih dalam, tetapi rasa sakit pada tulang rusuk membuatkan wajahnya
Ruangan itu mendadak begitu sunyi hingga suara minyak mendesis dari dapur terdengar seperti berasal dari tempat yang sangat jauh. Aku
Aku menatap cincin pasangan yang baru saja kulepas dari jari, lalu tertawa kecil. Dulu, satu kalimat Raka cukup membuatku membuang
Pukul delapan lewat dua puluh menit keesokan paginya, aku sudah meninggalkan rumah. Tidak ada semur daging di atas kompor. Tidak
Tiga minggu selepas Surya Baskoro meninggalkan Menara Astra, tiada siapa di tingkat 28 yang berani menyebut namanya dengan kuat. Pada
Dokter Ratih hanya membutuhkan beberapa detik untuk menyadari bahwa keadaan Wulan jauh lebih serius daripada yang terlihat. “Sejak kapan perdarahannya
“Maya, bilang saja kamu memang meminjamkan kartu itu kepada Citra.” Suara Raka terdengar rendah, terburu-buru, seperti seseorang yang sedang berusaha
Notari itu menarik nafas panjang sebelum meletakkan dokumen tersebut di atas meja. Dewan yang beberapa saat tadi dipenuhi tepukan kini
Begitu jari saya menyentuh kancing terakhir kebayanya, ia tiba-tiba memegang tangan saya. “Tunggu.” Suaranya pelan, tetapi saya bisa merasakan tangannya
“Bukan racun,” kata dokter itu sekali lagi. Aku menatapnya tanpa berkedip. Entah mengapa, jawaban itu tidak membuatku lega. Justru cara