BONEKA MURAH YANG KUBELI DI TOKO BARANG BEKAS MENGHANCURKAN KELUARGAKU DAN MEMICU KEJADIAN YANG TAK PERNAH KUBAYANGKAN

Luningning

Suara tangisan dari dalam lemari itu membuat seluruh tubuhku membeku.

“Mama… jangan bicara dengannya… yang tidur bersama Mama tadi… bukan aku…”

Aku menatap sosok yang duduk di atas tempat tidur. Wajahnya menyerupai Clara, tetapi permukaan kulitnya berkilau seperti porselen dan dipenuhi retakan halus. Di pangkuannya, Luningning terbaring dengan senyum kecil yang sama seperti ketika pertama kali kulihat di pasar.

Aku ingin berteriak, tetapi tenggorokanku seolah terkunci.

Sosok itu tersenyum.

“Mama kenapa?”

Suaranya suara Clara.

Persis.

Aku mundur satu langkah.

Dari dalam lemari terdengar isakan lagi.

“Mama… Clara takut.”

Saat itulah naluri seorang ibu mengalahkan ketakutanku.

Aku menerjang ke arah lemari dan menarik pintunya.

Clara meringkuk di antara tumpukan pakaian. Wajahnya pucat, kedua tangannya menutup telinga. Begitu melihatku, ia langsung memeluk pinggangku.

“Mama!”

Aku mengangkatnya dan berbalik.

Tempat tidur kosong.

Sosok tadi sudah menghilang.

Luningning juga tidak ada.

Aku membawa Clara keluar kamar, mengambil kunci apartemen dan ponsel, lalu berlari menuju lorong tanpa sempat memakai sandal.

Kami menghabiskan sisa malam di rumah Bu Rini, tetangga sebelah yang selama ini sering menjaga Clara ketika aku bekerja lembur.

Aku tidak menceritakan semuanya. Aku hanya mengatakan ada sesuatu di apartemen yang membuat Clara ketakutan.

Namun ketika matahari terbit, Clara mengatakan sesuatu yang jauh lebih mengerikan.

“Luningning marah karena Mama mau memisahkan Clara darinya.”

Aku memegang bahunya.

“Sejak kapan boneka itu bicara sama kamu?”

“Sejak pertama Mama membawanya pulang.”

“Dia bilang apa?”

Clara menunduk.

“Katanya dia kesepian. Katanya dulu dia juga punya Mama.”

Aku berusaha tetap tenang.

“Terus?”

“Dia bilang Mama yang dulu meninggalkannya.”

Aku merasa tengkukku dingin.

“Siapa nama mamanya?”

Clara menatapku.

“Ratih.”

Nama itu tidak berarti apa pun bagiku.

Setidaknya saat itu.

Pagi itu juga aku kembali ke pasar.

Toko barang bekas tempat aku membeli Luningning masih tertutup. Aku menunggu hampir satu jam sampai akhirnya penjual tua itu datang dengan sepeda motor.

Begitu melihatku, wajahnya berubah.

“Boneka itu bergerak, kan?”

Aku langsung mencengkeram lengannya.

“Bapak tahu sesuatu. Jelaskan sekarang.”

Ia tidak menjawab.

“Anak saya hampir celaka!”

Penjual itu memandang Clara yang berdiri di belakangku bersama Bu Rini. Kemudian ia membuka pintu tokonya.

Namanya Pak Harun.

Ia menyuruh kami masuk.

Dari sebuah laci, ia mengeluarkan amplop cokelat yang sudah kusam. Di dalamnya terdapat beberapa foto lama.

Salah satunya membuat napasku tercekat.

Seorang perempuan muda berdiri di depan sebuah rumah sederhana sambil menggendong boneka porselen.

Luningning.

“Boneka itu milik seorang anak bernama Melati,” kata Pak Harun. “Sekitar dua puluh lima tahun lalu.”

Aku menatap foto itu.

“Kenapa bisa ada di toko Bapak?”

Pak Harun menarik napas panjang.

“Barang-barang dari rumah itu dijual setelah pemiliknya meninggal. Saya membeli semuanya dari orang yang membersihkan rumah.”

“Siapa Ratih?”

Pak Harun terdiam.

Wajahnya kehilangan warna.

“Dari mana Ibu tahu nama itu?”

“Anak saya mendengarnya dari boneka.”

Pak Harun segera berdiri.

“Buang boneka itu.”

“Sudah saya coba menguncinya. Dia kembali.”

“Jangan dibakar. Jangan dihancurkan.”

“Kenapa?”

“Karena orang sebelumnya pernah mencoba.”

Aku menatapnya tidak percaya.

Pak Harun kemudian menceritakan sesuatu yang selama bertahun-tahun ia sembunyikan.

Melati tinggal bersama ibunya, Ratih, setelah ayahnya pergi. Ratih bekerja sebagai penjahit dan sering meninggalkan putrinya sendirian. Untuk ulang tahun ketujuh Melati, Ratih membelikan boneka porselen bekas.

Boneka itu kemudian diberi nama Luningning.

Beberapa bulan setelahnya, Melati mulai mengatakan bahwa Luningning bisa berbicara.

Ratih menganggapnya imajinasi.

Sampai berbagai kejadian aneh mulai terjadi.

Barang berpindah sendiri.

Pintu terbuka di tengah malam.

Tetangga mendengar suara anak kecil dari rumah saat Melati sedang sekolah.

Lalu suatu malam Melati menghilang.

Polisi mencarinya berhari-hari.

Tidak pernah ditemukan.

Ratih terus tinggal di rumah itu selama bertahun-tahun karena percaya putrinya akan pulang.

“Lalu Ratih?”

“Meninggal sendirian.”

Aku menatap foto perempuan itu lagi.

Ada sesuatu yang menggangguku.

Aku mendekatkan foto ke wajah.

Kalung yang dikenakan Ratih berbentuk bunga kecil.

Aku pernah melihat kalung itu.

Di kotak peninggalan ibuku.

Tanganku mulai gemetar.

“Siapa nama lengkap perempuan ini?”

Pak Harun menjawab pelan.

“Ratih Wulandari.”

Dunia seperti berhenti.

Wulandari adalah nama keluarga ibuku.

Aku langsung menelepon Tante Mira, satu-satunya adik ibuku yang masih hidup.

Awalnya ia menghindari pertanyaanku.

Namun setelah aku mengirim foto Ratih, Tante Mira menelepon balik.

Suaranya gemetar.

“Kamu dapat foto itu dari mana?”

“Siapa Melati?”

Keheningan panjang.

Kemudian Tante Mira menangis.

“Melati itu kakakmu.”

Aku tidak mampu berkata-kata.

Selama tiga puluh dua tahun hidupku, aku percaya bahwa aku anak tunggal.

Ternyata ibuku pernah memiliki anak sebelum aku lahir.

Anak yang menghilang.

Setelah kehilangan Melati, kondisi ibuku memburuk. Beberapa tahun kemudian ia pindah dari rumah lama, menikah dengan ayahku, lalu melahirkanku.

Ia tidak pernah menceritakan masa lalunya.

“Kenapa Mama menyembunyikannya?”

“Karena dia merasa bersalah,” kata Tante Mira. “Dia yakin malam Melati menghilang, dia mendengar anaknya menangis dari kamar. Tapi ketika membuka pintu, yang duduk di tempat tidur bukan Melati.”

Jantungku berdegup keras.

Persis seperti yang kulihat semalam.

Aku memandang Clara.

Ia sedang duduk diam sambil menggambar.

Aku mendekatinya.

Gambar itu memperlihatkan tiga anak perempuan bergandengan tangan.

“Ini siapa?”

“Clara.”

Ia menunjuk gambar pertama.

“Ini Luningning.”

Gambar kedua.

Kemudian gambar ketiga.

“Ini Melati.”

Aku hampir menjatuhkan kertas itu.

“Clara belum pernah lihat Melati.”

Clara tersenyum kecil.

“Sudah.”

“Kapan?”

“Tadi malam.”

Aku segera berjongkok.

“Di mana?”

Clara menunjuk lemari tua di sudut toko Pak Harun.

“Dia berdiri di sana.”

Kami semua menoleh.

Tidak ada siapa-siapa.

Malam itu aku menolak kembali ke apartemen. Kami menginap di rumah Tante Mira di Bekasi.

Aku berharap semuanya berakhir.

Namun pukul satu dini hari, aku terbangun karena Clara tidak ada di sampingku.

Pintu kamar terbuka.

Aku berlari keluar.

Pintu depan rumah juga terbuka.

Di halaman, Clara berjalan perlahan menuju jalan sambil memeluk Luningning.

Boneka itu telah kembali.

“Clara!”

Ia berhenti.

“Melati mau pulang, Mama.”

Aku mendekatinya perlahan.

“Kasih bonekanya ke Mama.”

Clara menggeleng.

“Bukan bonekanya yang jahat.”

Aku terdiam.

“Melati bilang Luningning cuma tempat dia bersembunyi.”

“Bersembunyi dari siapa?”

Clara menatap ke arah belakangku.

“Dari perempuan yang mengikuti Mama.”

Aku berbalik.

Tidak ada siapa-siapa.

Namun Tante Mira yang baru keluar rumah tiba-tiba menjatuhkan ponselnya.

Wajahnya pucat.

“Ratih,” bisiknya.

Aku menoleh lagi.

Di bawah lampu jalan, beberapa meter dari kami, tampak bayangan seorang perempuan berdiri diam.

Aku hanya bisa melihat siluetnya.

Kemudian lampu berkedip.

Bayangan itu menghilang.

Tante Mira akhirnya mengungkap rahasia terakhir.

Melati tidak sekadar menghilang.

Malam itu, Ratih sedang sangat tertekan karena masalah ekonomi dan pertengkaran dengan keluarganya. Ia meninggalkan Melati sendirian lebih lama dari biasanya. Ketika pulang, anak itu sudah tidak ada.

Ratih menghabiskan sisa hidupnya menyalahkan dirinya sendiri.

Rasa bersalah itu berubah menjadi obsesi.

Ia percaya Luningning mengambil putrinya.

Tetapi Tante Mira mempunyai dugaan berbeda.

“Melati mungkin pergi mencari ibunya,” katanya. “Dan sesuatu terjadi setelah itu. Tidak ada seorang pun yang tahu.”

Aku mulai memahami.

Boneka itu bukan sedang mengejar Clara.

Sesuatu yang terikat pada sejarah keluarga kami sedang mengulang kejadian lama.

Dan Clara, yang usianya hampir sama dengan Melati ketika menghilang, menjadi penggantinya.

Aku harus menghentikannya.

Keesokan harinya kami mencari rumah lama Ratih.

Rumah itu masih berdiri di sebuah gang sempit di Jakarta Timur, meski sudah kosong dan hampir tertutup bangunan baru.

Begitu memasuki rumah, Clara memegang tanganku erat.

“Dia di sini.”

“Siapa?”

“Melati.”

Kami menemukan kamar anak kecil di bagian belakang.

Di dinding terdapat bekas gambar bunga yang hampir pudar.

Clara mendekati lemari kayu tua.

“Jangan,” kataku.

Namun ia menunjuk bagian bawah lemari.

Ada papan lantai yang berbeda warna.

Pak Harun, yang ikut bersama kami karena merasa bertanggung jawab, membantu mengangkatnya.

Di bawahnya terdapat kotak besi kecil.

Tidak ada sesuatu yang mengerikan di dalamnya.

Hanya buku harian anak-anak, beberapa foto, pita rambut, dan sebuah surat yang tidak pernah dikirim.

Tulisan tangan anak kecil memenuhi kertas.

Surat itu ditujukan kepada Ratih.

Melati menulis bahwa ia ingin pergi ke tempat kerja ibunya untuk memberikan kejutan ulang tahun.

Ia bahkan menggambar rute yang hendak ditempuh.

Ternyata selama ini Ratih salah.

Melati tidak meninggalkannya.

Anak itu justru pergi karena ingin menemui ibunya.

Tante Mira menangis ketika membaca surat itu.

“Selama bertahun-tahun Mbak Ratih percaya Melati membencinya.”

Tiba-tiba Luningning terjatuh dari pelukan Clara.

Tidak ada yang menyentuhnya.

Retakan muncul di wajah porselennya.

Kemudian terdengar suara anak kecil.

Sangat pelan.

“Mama.”

Angin dingin memenuhi kamar.

Di cermin tua di dinding, aku melihat pantulan seorang anak perempuan berdiri di belakangku.

Bukan Clara.

Melati.

Wajahnya tenang.

Di sampingnya berdiri seorang perempuan dewasa.

Ratih.

Aku tidak melihat kemarahan di wajah mereka.

Hanya kesedihan yang terlalu lama dipendam.

Aku menggenggam surat itu.

“Melati tidak membencimu,” kataku dengan suara bergetar. “Dia hanya ingin pulang kepada ibunya.”

Pantulan Ratih menunduk.

Melati mengulurkan tangan.

Untuk pertama kalinya, perempuan itu menggenggamnya.

Lalu keduanya menghilang.

Bersamaan dengan itu, kepala Luningning terkulai.

Matanya yang selama ini terasa hidup mendadak tampak seperti benda mati biasa.

Clara memelukku.

“Mereka sudah pulang, Mama.”

Aku menangis sambil memeluknya.

Kami meninggalkan boneka itu di rumah lama bersama surat Melati. Beberapa minggu kemudian, atas persetujuan keluarga, benda-benda peninggalan mereka disimpan oleh Tante Mira.

Sejak hari itu tidak pernah ada lagi suara langkah di apartemen.

Tidak ada tawa pada pukul tiga pagi.

Tidak ada boneka yang berpindah tempat.

Clara kembali menjadi anak enam tahun biasa.

Beberapa bulan kemudian, saat membersihkan kotak peninggalan ibuku, aku menemukan sebuah amplop yang belum pernah kulihat.

Di bagian depan tertulis namaku.

Di dalamnya terdapat foto Ratih bersama Melati.

Di belakang foto itu, ibuku menulis sebuah kalimat.

Jika suatu hari masa lalu menemukan jalan pulang kepadamu, jangan lari seperti Mama. Dengarkanlah sampai selesai.

Aku menangis lama malam itu.

Barulah aku mengerti bahwa yang menghancurkan keluarga kami bukan boneka seharga dua puluh lima ribu rupiah.

Bukan pula rumah tua atau cerita tentang kutukan.

Yang menghancurkan keluarga kami adalah rahasia yang dibiarkan hidup terlalu lama.

Namun beberapa hari kemudian, sesuatu terjadi.

Saat menjemput Clara dari sekolah, gurunya menghampiriku.

“Bu, tadi Clara meninggalkan ini di kelas.”

Ia menyerahkan sebuah gambar.

Ada empat perempuan bergandengan tangan.

Aku.

Clara.

Ratih.

Melati.

Aku tersenyum sedih sampai melihat sosok kelima di sudut kertas.

Seorang anak perempuan memakai gaun putih.

Wajahnya bulat.

Matanya hitam.

Di bawah gambar itu Clara menulis satu nama.

Luningning.

Aku bertanya kepada Clara mengapa ia menggambarnya sebagai anak manusia.

Clara menatapku bingung.

“Mama belum tahu?”

“Tahu apa?”

“Luningning bukan nama bonekanya.”

Darahku terasa dingin.

Clara mendekat dan berbisik.

“Luningning adalah anak yang punya boneka itu sebelum Melati.”

Aku tidak mampu bergerak.

“Dia bilang Melati sudah pulang bersama Nenek Ratih.”

Clara tersenyum kecil.

“Tapi Luningning belum.”

Malam itu, tepat pukul tiga dini hari, terdengar tiga ketukan pelan dari pintu apartemen kami.

Tok.

Tok.

Tok.

Aku tidak membukanya.

Lalu dari balik pintu terdengar suara anak perempuan yang belum pernah kudengar sebelumnya.

“Aku boleh masuk sekarang?”

Để lại một bình luận

Email của bạn sẽ không được hiển thị công khai. Các trường bắt buộc được đánh dấu *

Lên đầu trang