CALON SUAMIKU DIAM-DIAM MENGGUNAKAN SLIP GAJI DAN IDENTITASKU UNTUK

“RUMAH ITU TERNYATA BUKAN UNTUK KITA, NISA! IBUKU YANG AKAN TINGGAL DI SANA!”

Pengakuan Dimas membuatku membeku di tengah kedai kopi.

Aku menatap laki-laki yang selama empat tahun kupersiapkan menjadi suamiku. Wajahnya pucat, sementara kedua tangannya gemetar di atas meja.

“Apa maksudmu?” tanyaku perlahan.

Dimas menunduk.

“Rumah di BSD itu rencananya untuk Ibu dan adikku, Nadia.”

Aku merasa dadaku seperti dihantam sesuatu.

“Lalu kenapa kamu menggunakan slip gajiku untuk mengajukan KPR?”

Dia tidak langsung menjawab.

Aku menunggu.

Akhirnya Dimas berbisik, “Karena penghasilanku sendiri tidak cukup untuk mendapatkan plafon kredit yang dibutuhkan.”

Aku tertawa getir.

“Jadi kamu ingin aku ikut menanggung cicilan rumah yang bahkan tidak akan kita tempati?”

“Nisa, dengarkan dulu.”

“Jawab pertanyaanku.”

Dimas mengangguk lemah.

“Iya.”

Selama beberapa detik, aku hanya bisa memandangnya.

Aku teringat bagaimana Bu Ratna selalu membicarakan rumah tersebut seolah itu adalah hadiah pernikahan untuk kami.

Bagaimana dia memuji dapur luas, halaman belakang, dan kamar utama yang nyaman.

Ternyata semuanya hanya cara untuk membuatku percaya bahwa rumah itu akan menjadi tempat kami membangun keluarga.

“Bagaimana dengan nama pemiliknya?” tanyaku.

Dimas mengusap wajah.

“Kalau pengajuan berhasil, sertifikatnya rencananya atas namaku. Ibu dan Nadia hanya akan tinggal di sana.”

Aku menatapnya tidak percaya.

“Dan aku ikut menanggung utangnya?”

Dia terdiam.

Aku mengambil ponsel dan menunjukkan dokumen pembayaran tanda jadi yang baru saja dikirim kepadaku.

“Sekarang jelaskan kenapa namaku tercantum sebagai sumber dana.”

Dimas memandang layar cukup lama.

Kemudian berkata pelan, “Itu cuma keterangan administrasi.”

“Administrasi apa?”

“Pihak pemasaran meminta informasi asal dana untuk proses pemesanan. Ibu bilang nanti uangnya akan berasal dari tabungan kita setelah menikah.”

Aku menggeleng.

“Kita tidak punya tabungan bersama, Dimas.”

Dia menunduk.

“Aku tahu.”

“Berarti kalian menggunakan namaku untuk memberikan kesan bahwa aku ikut membiayai pembelian rumah.”

Dimas tidak menjawab.

Aku menarik napas panjang.

“Uang tanda jadinya sebenarnya dari siapa?”

“Dari Ibu.”

“Berapa?”

“Lima puluh juta.”

Aku menatapnya.

“Jadi uang dari ibumu, rumah untuk ibumu, sertifikat atas namamu, tapi cicilannya ingin ditanggung bersama denganku?”

Dimas memejamkan mata.

Dan dalam keheningan itu, aku akhirnya memahami seluruh rencana mereka.

Aku memasukkan ponsel ke tas.

“Pernikahan kita batal.”

Dimas langsung berdiri.

“Nisa, jangan!”

Beberapa pelanggan menoleh.

Aku tetap duduk.

“Kamu bukan cuma berbohong tentang rumah. Kamu menggunakan identitasku tanpa izin dan membiarkan keluargamu mengatur masa depan keuanganku.”

Dia mencoba menggenggam tanganku.

Aku menariknya.

“Nis, aku melakukan ini karena ingin membahagiakan Ibu.”

Aku menatapnya lama.

“Aku tidak pernah melarangmu membahagiakan ibumu. Tapi kamu tidak boleh melakukannya dengan menjadikan aku penanggung utang tanpa persetujuanku.”

Dimas menangis.

“Empat tahun kita bersama. Masa semuanya selesai begini saja?”

Aku berdiri.

“Justru karena sudah empat tahun, aku tahu keputusan ini bukan sesuatu yang bisa kuanggap sepele.”

Aku meninggalkan kedai kopi tanpa menoleh.

Malam itu, Bu Ratna meneleponku berkali-kali.

Aku tidak mengangkatnya.

Namun keesokan pagi, perempuan itu datang langsung ke apartemenku bersama Nadia.

Begitu pintu terbuka, Bu Ratna langsung berbicara dengan nada tinggi.

“Nisa, kamu benar-benar mau membatalkan pernikahan hanya karena rumah?”

Aku mempersilakan mereka masuk.

“Bu, saya membatalkannya karena Dimas menggunakan dokumen pribadi saya tanpa izin.”

Ratna mendengus.

“Dimas calon suamimu! Memangnya kenapa kalau dia menggunakan slip gajimu?”

Aku menatapnya.

“Karena slip gaji itu milik saya, Bu. Dan kredit rumah adalah kewajiban finansial jangka panjang.”

Nadia yang sejak tadi diam tiba-tiba menyela.

“Kak Nisa, Ibu cuma ingin tinggal di rumah yang lebih nyaman.”

Aku menoleh.

“Aku mengerti, Nadia. Tapi kenapa tidak ada yang memberitahuku bahwa rumah itu untuk kalian?”

Nadia langsung terdiam.

Ratna melipat tangan.

“Kalau diberi tahu dari awal, kamu pasti menolak.”

Aku mengangguk perlahan.

“Jadi Ibu memang sengaja menyembunyikannya?”

Wajah Ratna berubah.

Namun sebelum dia menjawab, ponselku berdering.

Mbak Selvi, staf pemasaran perumahan BSD.

Aku mengangkatnya.

“Selamat pagi, Bu Nisa. Mohon maaf mengganggu. Kami sedang melakukan klarifikasi dokumen pemesanan.”

“Ada apa, Mbak?”

“Kami menemukan surat pernyataan yang mencantumkan persetujuan Ibu untuk berkontribusi dalam pembayaran cicilan.”

Aku langsung membeku.

“Surat apa?”

Selvi menjelaskan bahwa dokumen tersebut dikirim bersama berkas pendukung pemesanan unit.

Di dalamnya terdapat tanda tangan atas namaku.

Padahal aku tidak pernah menandatangani pernyataan apa pun.

Aku meminta salinan dokumen dikirim melalui jalur resmi.

Ketika membukanya, seluruh tubuhku terasa dingin.

Tanda tangan tersebut memang menyerupai tanda tanganku.

Namun ada satu kesalahan yang sangat jelas.

Nama lengkapku ditulis Nisa Maharani Pratama.

Padahal aku belum menikah dengan Dimas.

Aku menoleh kepada Ratna.

“Bu, siapa yang membuat surat ini?”

Ratna langsung pucat.

Nadia menutup mulut.

Aku menunjukkan layar ponsel.

“Ini bukan tanda tangan saya.”

Ratna mencoba tersenyum.

“Mungkin Dimas yang menyiapkan.”

Aku menatapnya.

“Kalau begitu, kita akan meminta penjelasan Dimas melalui prosedur resmi.”

Aku segera menghubungi pihak bank dan pengembang untuk menegaskan kembali keberatanku terhadap penggunaan identitas serta tanda tangan tersebut.

Aku juga meminta bantuan seorang pengacara bernama Tari untuk meninjau seluruh dokumen.

Dua hari kemudian, Dimas datang ke kantor Tari.

Kali ini dia tidak membawa bunga.

Dia hanya membawa sebuah map berisi salinan berkas.

Ketika ditanya siapa yang membuat surat pernyataan itu, dia menjawab dengan suara gemetar.

“Ibu yang meminta saya menyiapkannya.”

Tari menatapnya.

“Apakah Ibu Nisa pernah memberikan persetujuan?”

Dimas menggeleng.

“Tidak.”

Aku memejamkan mata.

“Lalu siapa yang membuat tanda tangannya?”

Dia menunduk semakin dalam.

“Aku.”

Aku merasa sesuatu dalam diriku runtuh.

Selama empat tahun, aku mempercayai pria ini.

Memberinya kunci apartemen.

Memperkenalkannya kepada keluargaku.

Membayangkan memiliki anak bersamanya.

Namun dia ternyata mampu meniru tanda tanganku demi mendapatkan rumah untuk keluarganya.

“Kenapa, Dim?” tanyaku.

Air matanya jatuh.

“Aku takut kamu meninggalkanku kalau tahu rencana sebenarnya.”

Aku menatapnya.

“Dan sekarang kamu kehilangan aku justru karena kebohongan itu.”

Dimas tidak mampu menjawab.

Pemeriksaan dokumen kemudian dilanjutkan melalui bank, pengembang, dan penasihat hukum.

Permohonan KPR yang menggunakan dataku tanpa persetujuan tidak diteruskan atas namaku.

Aku juga meminta agar salinan data pribadiku yang disimpan tanpa dasar yang sah ditangani sesuai prosedur perlindungan data.

Sementara dugaan pemalsuan tanda tangan diperiksa melalui jalur yang berlaku.

Bu Ratna beberapa kali mencoba menghubungiku.

Awalnya dia marah.

Kemudian menyalahkanku karena dianggap menghancurkan masa depan Dimas.

Namun setelah mengetahui bahwa pengajuan kredit tidak bisa dilanjutkan menggunakan namaku, sikapnya berubah.

Dia mulai meminta maaf.

Suatu sore, dia datang sendirian.

“Nisa, Ibu tahu Ibu salah.”

Aku mempersilahkannya duduk.

Ratna menunduk.

“Ibu cuma takut tidak punya rumah sendiri ketika sudah tua.”

Aku terdiam.

Untuk pertama kalinya, dia tidak berbicara dengan nada merendahkan.

“Ibu sudah lama tinggal di rumah kontrakan. Setiap tahun sewanya naik. Ibu ingin punya tempat yang aman untuk Nadia.”

Aku mengangguk.

“Saya memahami ketakutan Ibu.”

Ratna mengangkat wajah dengan harapan.

“Tapi itu bukan berarti saya harus menanggung kredit yang tidak pernah saya setujui.”

Matanya kembali berkaca-kaca.

“Ibu mengerti.”

Aku menatapnya.

“Bu, saya tidak membenci Ibu. Tapi keputusan saya untuk tidak menikah dengan Dimas tidak akan berubah.”

Ratna menangis pelan.

Dia akhirnya mengangguk.

Beberapa minggu kemudian, aku mengembalikan cincin pertunangan kepada Dimas.

Kami bertemu di sebuah taman kecil dekat apartemenku.

Dia terlihat lebih kurus.

“Nisa, aku sudah membatalkan pemesanan rumah itu.”

Aku mengangguk.

“Baik.”

“Uang tanda jadi sebagian tidak bisa dikembalikan sesuai ketentuan pemesanan.”

Aku terdiam.

Dimas melanjutkan.

“Aku akan mengganti uang Ibu dari tabunganku sendiri.”

Aku menatapnya.

“Itu tanggung jawabmu.”

Dia tersenyum pahit.

“Aku tahu.”

Beberapa saat kami hanya duduk tanpa berbicara.

Kemudian Dimas bertanya, “Apa kamu pernah benar-benar bahagia sama aku?”

Pertanyaan itu membuat dadaku sesak.

Aku memandang pepohonan di depan kami.

“Pernah, Dim. Sangat bahagia.”

Dia mulai menangis.

“Lalu kenapa rasanya kamu bisa pergi begitu saja?”

Aku menoleh.

“Aku tidak pergi begitu saja. Aku sudah berusaha memahami, mendengarkan, dan memberimu kesempatan menjelaskan. Tapi kamu terus menyembunyikan sesuatu.”

Dimas menunduk.

“Aku menyesal.”

“Aku percaya.”

Dia mengangkat wajah.

“Tapi kamu tetap enggak mau kembali?”

Aku menggeleng.

“Karena penyesalan tidak otomatis membuat seseorang kembali bisa dipercaya.”

Aku berdiri.

“Semoga kamu belajar membangun kehidupan yang benar-benar sesuai kemampuanmu.”

Kemudian aku berjalan pergi.

Enam bulan berlalu.

Aku tetap bekerja sebagai manajer keuangan di Jakarta Selatan.

Aku juga mulai menata ulang rencana hidupku.

Dulu, hampir seluruh tabunganku disiapkan untuk pernikahan dan rumah bersama Dimas.

Sekarang, aku memutuskan menggunakan sebagian dana itu untuk membeli apartemen kecil sesuai kemampuan finansialku sendiri.

Bukan apartemen mewah.

Bukan rumah klaster dengan halaman luas.

Hanya sebuah unit sederhana yang lokasinya dekat kantor.

Namun setiap sudutnya kupilih sendiri.

Warna dinding.

Meja makan.

Rak buku.

Dan tanaman kecil di balkon.

Pada hari pertama pindah, ibuku datang membantu merapikan dapur.

Beliau memperhatikan sekeliling sambil tersenyum.

“Nisa, tempatnya nyaman sekali.”

Aku tertawa kecil.

“Masih banyak yang belum lengkap, Bu.”

Ibu menggeleng.

“Tidak apa-apa. Rumah bukan soal besar atau kecil.”

Aku menoleh.

“Lalu soal apa?”

Ibu tersenyum.

“Soal apakah kamu merasa aman ketika pulang.”

Aku terdiam.

Kalimat itu membuatku teringat rumah di BSD.

Rumah besar dengan tiga kamar tidur.

Dapur modern.

Dan halaman belakang yang dahulu dibanggakan keluarga Dimas.

Rumah yang bahkan belum dibeli, tetapi sudah hampir menghancurkan masa depan keuanganku.

Aku memandang apartemen kecilku.

Di sini, tidak ada orang yang diam-diam mengambil dokumen pribadiku.

Tidak ada orang yang membuat keputusan utang atas namaku.

Dan tidak ada keluarga yang menganggap gajiku sebagai sumber dana yang bisa digunakan tanpa bertanya.

Malam itu, setelah Ibu pulang, aku duduk di balkon sambil menikmati teh hangat.

Lampu-lampu Tangerang Selatan terlihat berkilauan dari kejauhan.

Ponselku tiba-tiba bergetar.

Sebuah pesan masuk dari Dimas.

“Nisa, aku akhirnya mengerti kenapa kamu selalu bilang bahwa rumah harus dibeli sesuai kemampuan. Aku dulu terlalu sibuk ingin terlihat berhasil sampai lupa menjadi orang yang bisa dipercaya. Maaf karena pernah menggunakan masa depanmu untuk memenuhi keinginanku.”

Aku membaca pesan tersebut sekali.

Kemudian meletakkan ponsel.

Aku tidak membalas.

Bukan karena masih marah.

Melainkan karena aku sudah tidak membutuhkan penjelasan tambahan untuk melanjutkan hidup.

Aku berdiri dan berjalan masuk.

Di atas meja makan terdapat map kecil berisi dokumen apartemenku.

Aku membuka halaman pertama.

Namaku tercetak jelas.

Nisa Maharani.

Tidak ada nama orang lain yang dicantumkan tanpa persetujuan.

Tidak ada tanda tangan yang ditiru.

Tidak ada janji tentang rumah mewah yang harus dibayar dengan kebebasan finansial.

Aku tersenyum.

Dulu aku mengira rumah impian adalah tempat yang dibangun bersama seseorang yang kita cintai.

Sekarang aku memahami bahwa rumah impian adalah tempat di mana keputusan kita dihormati.

Tempat di mana kepercayaan tidak perlu diperiksa setiap hari.

Dan tempat di mana kita tidak harus mengorbankan masa depan hanya untuk membuat orang lain merasa berhasil.

Aku menutup map tersebut.

Kemudian mematikan lampu ruang tamu.

Untuk pertama kalinya setelah berbulan-bulan, aku tidur tanpa memikirkan cicilan rumah yang tidak pernah kusetujui.

Karena pada akhirnya, kehilangan seorang calon suami yang tidak bisa dipercaya jauh lebih baik daripada kehilangan kendali atas seluruh masa depan.

Dan kebahagiaan sejati tidak selalu datang dalam bentuk rumah mewah bernilai miliaran rupiah.

Kadang kebahagiaan hadir dalam sebuah apartemen sederhana, ketika kita akhirnya bisa menutup pintu, menarik napas lega, dan mengetahui bahwa kehidupan di balik pintu itu benar-benar milik kita sendiri.

Để lại một bình luận

Email của bạn sẽ không được hiển thị công khai. Các trường bắt buộc được đánh dấu *

Lên đầu trang