Demi Hemat Rp300 per Kilo, Satu Desa Mengusir Arif—Seminggu Kemudian Persik Membusuk dan Mereka Memohon Dia Kembali

Tiga hari setelah aku meninggalkan Sumberrejo, teleponku mulai berdering hampir tanpa henti.

Bukan dari para petani yang mengusirku.

Melainkan dari sopir, pedagang pasar, dan pemilik toko buah yang selama bertahun-tahun membeli persik melalui diriku.

“Pak Arif, besok jadi kirim enam ton?”

“Bukan dari Sumberrejo, Pak.”

“Lho, kenapa?”

“Saya sudah tidak mengurus panen di sana.”

Biasanya orang akan bertanya panjang. Namun sebagian besar pembeli hanya diam beberapa detik sebelum menjawab hal yang hampir sama.

“Kalau begitu, Bapak punya barang dari mana?”

Aku tersenyum.

“Wonosari.”

Desa Wonosari hanya berjarak sekitar dua puluh kilometer dari Sumberrejo, tetapi kondisinya berbeda jauh.

Kebun persik di sana kecil-kecil. Ada yang hanya menghasilkan lima ratus kilogram, ada yang satu ton, bahkan ada seorang nenek bernama Bu Marni yang memiliki dua puluh tiga pohon di belakang rumah.

Buahnya bagus.

Masalahnya hanya satu.

Tidak ada pembeli besar yang mau repot mengumpulkan buah dari belasan kebun untuk memenuhi satu truk.

Hari pertama aku datang, beberapa petani memandangku curiga.

“Bayar berapa?” tanya Pak Joko.

Aku menyebut harga.

“Potongan?”

“Tiga ratus rupiah per kilo.”

Beberapa orang langsung saling pandang.

Aku tidak menyembunyikan apa pun.

“Kalau Bapak mau menjual sendiri, silakan. Tapi kalau lewat saya, buah saya sortir, jadwal petik saya atur, keranjang saya siapkan, truk saya koordinasikan, dan pembayaran dari pembeli saya pastikan.”

Pak Joko mengangguk.

“Kalau buah ditolak?”

“Kalau kesalahan dari kebun, kita bicarakan. Kalau kesalahan pengiriman yang saya atur, itu tanggung jawab saya.”

Tidak sampai dua hari, aku sudah mengumpulkan hampir sembilan ton.

Aku bahkan belum sempat memikirkan Sumberrejo.

Sementara itu, Hendra mulai menjalankan sistem barunya.

Hari panen pertama, ia memesan dua truk.

Masalah muncul pukul enam pagi.

Semua petani ingin buah mereka diangkut lebih dulu.

Pak Warto merasa kebunnya harus diprioritaskan karena hasilnya paling banyak.

Pak Darman protes karena buahnya lebih matang.

Rian mengatakan kebunnya berada paling jauh sehingga seharusnya dipanen pagi agar tidak terlambat.

Hendra akhirnya membuat keputusan sendiri.

“Kebun Pak Warto dulu.”

Petani lain mulai kesal.

Namun masalah sebenarnya baru muncul ketika buah tiba di gudang Surabaya.

Hendra menelepon Pak Warto.

“Kenapa banyak yang terlalu matang?”

Pak Warto tersinggung.

“Persik memang begitu kalau matang.”

“Ini besok sudah lembek.”

“Ya jual hari ini.”

“Pasar tidak bekerja seperti itu, Pak!”

Untuk pertama kalinya, Pak Warto mulai memahami bahwa memetik buah bukan sekadar melihat warnanya.

Selama bertahun-tahun, akulah yang berjalan dari kebun ke kebun beberapa hari sebelum panen.

Aku menekan buah dengan ujung jari.

Melihat warna kulitnya.

Memeriksa ramalan cuaca.

Menanyakan kepada pembeli kapan mereka membutuhkan barang.

Buah untuk Surabaya dipetik pada tingkat kematangan berbeda dengan buah yang akan dibawa lebih jauh.

Namun pekerjaan seperti itu tidak pernah tercatat di kuitansi.

Yang tercatat hanya tiga ratus rupiah.

Hari kedua lebih kacau.

Salah satu truk terlambat enam jam karena sebelumnya mengangkut sayuran dari Malang.

Buah yang sudah dipetik sejak pagi menumpuk di halaman rumah Pak Darman.

Matahari semakin tinggi.

“Kapan truknya datang?” teriak Pak Darman melalui telepon.

Hendra menjawab kesal, “Sopir bilang sebentar lagi.”

“Sebentar itu kapan?”

“Ya tunggu!”

Menjelang sore, sebagian persik mulai kehilangan kesegarannya.

Hari ketiga, Hendra membuat keputusan yang lebih buruk.

Karena takut kekurangan barang untuk memenuhi pesanan, ia meminta semua petani memanen sebanyak mungkin.

Hasilnya hampir dua puluh delapan ton buah terkumpul.

Masalahnya, pembeli Hendra hanya sanggup menerima delapan belas ton.

“Yang sepuluh ton simpan besok,” katanya santai.

Pak Warto menatap tumpukan keranjang.

“Simpan di mana?”

Hendra terdiam.

Desa Sumberrejo tidak memiliki ruang pendingin besar.

Selama bertahun-tahun, buah hampir tidak pernah perlu disimpan lama karena aku mengatur panen berdasarkan pesanan yang sudah pasti.

Malam itu, sepuluh ton persik diletakkan di gudang biasa.

Udara pegunungan memang dingin.

Tetapi tidak cukup dingin untuk menghentikan buah matang bernapas.

Keesokan paginya, aroma manis memenuhi gudang.

Bukan aroma segar.

Aroma buah yang mulai terlalu matang.

Pak Warto mengambil satu persik dari keranjang.

Jarinya tenggelam sedikit ketika menekan kulitnya.

Wajahnya pucat.

“Hendra!”

Hendra datang dua jam kemudian.

Setelah melihat buah, ia masih mencoba tenang.

“Kita jual murah saja.”

“Kepada siapa?”

Hendra menelepon beberapa pedagang.

Tidak ada yang mau mengambil dalam jumlah besar.

Seorang pembeli bersedia, tetapi harganya hampir separuh harga normal.

Para petani marah.

“Kalau harga segitu, pupuk saja tidak kembali!”

Hendra membanting ponselnya ke meja.

“Kalau tidak mau, cari pembeli sendiri!”

Kalimat itu membuat ruangan sunyi.

Pak Warto menatapnya tajam.

“Bukannya kamu bilang semua sudah kamu urus?”

“Saya pembeli, Pak. Bukan pengurus kebun kalian.”

“Tapi kamu yang menyuruh kami panen!”

“Saya juga tidak menyuruh kalian memetik buah yang terlalu matang!”

Pertengkaran pecah.

Dan tepat pada saat itulah Rian mengucapkan namaku.

“Kalau Pak Arif masih di sini, hal begini tidak akan terjadi.”

Tak ada yang menjawab.

Namun semua orang tahu dia benar.

Hari kelima, keadaan semakin buruk.

Hujan turun sejak siang.

Sebagian buah yang belum dipetik mulai berisiko pecah dan terserang jamur jika dibiarkan terlalu lama.

Sebagian yang sudah dipetik justru menumpuk karena truk Hendra hanya datang satu unit.

Aku mengetahui semua itu bukan dari mereka.

Pak Budi yang bercerita ketika kami sedang memuat persik Wonosari.

“Katanya Sumberrejo kacau.”

Aku hanya mengikat tali keranjang.

“Semoga segera selesai.”

Pak Budi tertawa kecil.

“Pak Arif tidak mau membantu?”

“Mereka sudah punya sistem sendiri.”

“Masih sakit hati?”

Aku berhenti bekerja.

“Bukan soal sakit hati, Pak. Kalau saya masuk sekarang tanpa diminta, besok ketika keadaan normal mereka akan bilang saya mencari kesempatan.”

Pak Budi mengangguk.

Aku melanjutkan pekerjaanku.

Malam itu, Sari bertanya hal yang sama.

“Kamu benar-benar tidak mau menolong mereka?”

“Aku tidak pernah bilang tidak mau.”

“Lalu?”

“Mereka harus memahami dulu apa yang sebenarnya mereka butuhkan.”

Seminggu setelah aku diusir, tiga sepeda motor berhenti di depan rumahku.

Pak Warto turun lebih dulu.

Di belakangnya ada Pak Darman dan Rian.

Sari yang membuka pintu.

Aku sedang makan malam.

Pak Warto masuk dengan wajah yang jauh berbeda dari seminggu sebelumnya.

Tidak ada lagi nada tinggi.

Tidak ada lagi senyum meremehkan.

“Rif.”

Aku berdiri.

“Silakan duduk, Pak.”

Ia tidak duduk.

“Kami butuh bantuanmu.”

Aku diam.

Pak Darman menjelaskan bahwa lebih dari sebelas ton persik sudah terlalu matang. Beberapa ton mulai membusuk. Sementara puluhan ton lainnya harus segera dipanen dalam beberapa hari.

“Hendra sudah pergi ke Surabaya,” katanya.

“Teleponnya?”

“Tidak diangkat.”

Pak Warto akhirnya menundukkan kepala.

“Kami salah.”

Aku menatap lelaki yang seminggu lalu mengatakan bahwa selama sepuluh tahun aku hanya mengambil uang desa.

“Bapak ingin saya melakukan apa?”

“Carikan pembeli.”

Aku menarik napas panjang.

“Untuk buah yang sudah rusak, saya tidak bisa menjanjikan apa-apa.”

“Yang masih bagus saja.”

“Berapa ton?”

“Hampir tiga puluh.”

Sari yang sejak tadi diam tampak terkejut.

Aku mengambil ponsel.

Aku menelepon enam orang malam itu.

Dua pedagang Surabaya.

Satu distributor Malang.

Satu pemasok hotel di Batu.

Satu produsen selai.

Dan Pak Budi.

Masalahnya, tidak semua buah bisa masuk pasar segar.

Aku meminta Rian mengirim foto setiap tumpukan.

Kemudian aku berkata kepada mereka, “Besok jam lima pagi saya datang. Jangan ada satu buah pun dipetik sebelum saya tiba.”

Keesokan paginya, hampir seluruh desa sudah menungguku.

Aku berjalan memasuki gudang.

Bau fermentasi tipis langsung terasa.

Hatiku sakit melihatnya.

Bukan karena aku ingin berkata aku sudah memperingatkan kalian.

Aku tahu persis berapa bulan mereka merawat pohon-pohon itu.

Aku mengambil beberapa buah.

“Yang ini masih bisa untuk pasar segar.”

Aku menunjuk tumpukan lain.

“Yang terlalu matang kita kirim ke pabrik selai. Harganya lebih rendah, tapi masih ada nilai.”

“Yang sudah busuk?”

“Pisahkan. Jangan dicampur.”

Selama hampir dua belas jam kami bekerja.

Tidak ada yang membicarakan tiga ratus rupiah.

Aku membagi petani menjadi beberapa kelompok.

Kebun dengan buah paling matang dipanen lebih dulu.

Truk tidak boleh menunggu buah.

Buah yang sudah dipetik harus langsung bergerak.

Menjelang sore, dua truk pertama berangkat.

Malamnya, satu kendaraan kecil membawa buah matang ke produsen selai.

Hari berikutnya, tiga pembeli datang.

Dalam empat hari, sebagian besar panen yang masih layak berhasil diselamatkan.

Kerugian tetap besar.

Namun tidak sebesar yang mereka takutkan.

Pada hari terakhir, Pak Warto datang membawa sebuah amplop.

“Ini untukmu.”

Aku tidak mengambilnya.

“Apa?”

“Bayaran.”

Aku menatapnya.

“Tiga ratus rupiah per kilo?”

Pak Warto terlihat malu.

“Kalau kamu mau lima ratus, kami setuju.”

Aku tersenyum kecil.

“Bukan itu masalahnya.”

Aku mengajak beberapa petani berkumpul di balai desa.

Hendra ternyata datang juga.

Wajahnya tegang.

Begitu melihatku, ia langsung berkata, “Saya dengar Pak Arif mengambil alih lagi.”

Aku menjawab tenang, “Saya membantu menyelamatkan panen.”

Hendra tertawa sinis.

“Dan pasti tetap mengambil komisi.”

Pak Warto tiba-tiba berdiri.

“Memang.”

Hendra menatapnya.

Pak Warto melanjutkan, “Dan sekarang saya tahu tiga ratus rupiah itu murah.”

Ruangan mendadak sunyi.

Hendra terlihat kesal.

“Kalau kalian mau membuang uang, silakan.”

Aku mengeluarkan buku catatan lama dari tas.

“Pak Hendra, tahu kenapa selama sepuluh tahun pembeli jarang menolak buah Sumberrejo?”

Ia tidak menjawab.

“Karena yang saya jual bukan hanya buah.”

Aku membuka halaman demi halaman.

Di sana ada jadwal panen, kapasitas truk, nama sopir, kebutuhan pembeli, tingkat kematangan, catatan hujan, hingga kebun mana yang harus didahulukan.

“Saya menjual kepastian.”

Aku memandang para petani.

“Tiga ratus rupiah bukan biaya karena saya berdiri di tengah.”

“Itu biaya supaya petani tidak harus menjadi pedagang, pengatur logistik, penyortir, penagih pembayaran, sekaligus pencari pasar dalam waktu yang sama.”

Tidak ada yang berkata apa-apa.

Kemudian Rian mengangkat tangan.

“Pak Arif, kalau musim depan bagaimana?”

Aku sudah memikirkan pertanyaan itu.

“Saya tidak mau kembali dengan sistem lama.”

Wajah mereka berubah.

Pak Warto terlihat panik.

“Maksudmu?”

“Kita bentuk koperasi.”

Aku menjelaskan rencanaku.

Petani tetap memiliki buah mereka. Semua harga pembeli dibuka. Biaya transportasi dicatat. Komisi pengelolaan juga transparan.

Sebagian dari tiga ratus rupiah per kilo tidak lagi masuk kepadaku.

Dana itu masuk kas koperasi.

Untuk apa?

Membangun ruang pendingin sederhana.

Semua orang terdiam.

Aku menunjuk gudang tempat berton-ton persik membusuk beberapa hari sebelumnya.

“Kalau kita hanya kembali ke sistem lama, berarti kita tidak belajar apa-apa.”

Pak Warto menjadi orang pertama yang mengangguk.

“Aku setuju.”

Satu demi satu tangan terangkat.

Hendra berdiri dan pergi tanpa berkata apa-apa.

Enam bulan kemudian, koperasi petani Sumberrejo resmi memiliki ruang pendingin pertama mereka.

Yang mengejutkan, petani Wonosari ikut bergabung.

Aku tidak lagi disebut perantara.

Aku menjadi pengelola pemasaran koperasi.

Dan ada satu hal yang paling membuatku tersenyum.

Di dinding ruang pendingin, Rian memasang sebuah papan kecil.

Tulisan di atasnya sederhana.

Tiga ratus rupiah pernah membuat kita merasa rugi.

Sebelas ton persik mengajarkan kita apa yang sebenarnya kita bayar.

Pak Warto pernah meminta papan itu dilepas karena membuatnya malu.

Namun akhirnya ia sendiri yang meminta agar papan tersebut tetap berada di sana.

“Biar anak-anak kami nanti tahu,” katanya kepadaku.

“Tahu apa, Pak?”

Ia memandang keranjang-keranjang persik yang tersusun rapi di ruang dingin.

“Bahwa sesuatu yang tidak terlihat bukan berarti tidak bernilai.”

Aku tersenyum.

Sepuluh tahun aku mengira pekerjaanku adalah menghubungkan petani dengan pembeli.

Ternyata aku salah.

Pekerjaanku yang sebenarnya adalah menjaga agar kepercayaan, waktu, dan hasil kerja berbulan-bulan tidak hilang hanya karena satu keputusan yang tampak lebih murah.

Dan sejak hari itu, tak seorang pun di Sumberrejo pernah lagi menyebut tiga ratus rupiah sebagai uang untuk orang yang cuma berdiri di tengah.

Để lại một bình luận

Email của bạn sẽ không được hiển thị công khai. Các trường bắt buộc được đánh dấu *

Lên đầu trang