Dua puluh lima menit setelah panggilan itu berakhir, Nayla mulai menyesali keputusannya memberikan alamat rumah kepada orang asing.
Hujan belum juga reda.
Air merembes dari sela-sela atap seng dan menetes ke lantai. Nayla meletakkan baskom di bawah titik bocor sambil terus menggendong Rafi yang menangis semakin lemah.
“Ibu, bangun sebentar.”
Nayla menyentuh dahi ibunya.
Panas.

Namun tubuh perempuan itu menggigil hebat.
“Ibu?”
Tidak ada jawaban.
Nayla mulai panik.
Ia mengguncang bahu ibunya perlahan.
“Ibu, jangan tidur terus. Nayla takut.”
Rafi ikut menangis.
“Mama…”
Nayla menggigit bibir agar tidak ikut menangis.
Ia baru dua belas tahun, tetapi malam itu ia merasa harus menjadi orang dewasa.
Tiba-tiba terdengar suara kendaraan berhenti di depan gang.
Cahaya lampu menembus derasnya hujan.
Beberapa detik kemudian terdengar ketukan keras di pintu.
“Nayla?”
Gadis itu membeku.
“Siapa?”
“Orang yang tadi meneleponmu.”
Nayla membuka pintu sedikit.
Seorang pria tinggi berdiri di bawah payung hitam. Kemeja putihnya tertutup mantel gelap. Di belakangnya ada dua pria lain dan seorang perempuan membawa tas medis.
Nayla menatap mereka dengan ketakutan.
Pria itu adalah Ardhana.
Tatapannya langsung jatuh pada Rafi yang berada dalam pelukan Nayla.
Kemudian ia melihat ke dalam rumah.
Kasur tipis.
Ember penampung air hujan.
Lemari tua.
Tiga ribu rupiah yang masih berserakan di lantai.
Dan seorang perempuan yang terbaring hampir tak sadarkan diri.
“Dokter.”
Hanya satu kata keluar dari mulut Ardhana.
Perempuan yang membawa tas medis segera masuk.
Ia memeriksa tekanan darah dan suhu tubuh ibu Nayla.
Wajahnya berubah serius.
“Kita harus bawa beliau ke rumah sakit sekarang. Tekanan darahnya sangat rendah. Kemungkinan ada infeksi berat.”
Nayla pucat.
“Dokter… kami tidak punya uang.”
Ardhana menoleh kepadanya.
“Aku tidak bertanya soal uang.”
“Tapi…”
“Ambil barang yang penting.”
Nayla masih terpaku.
Ardhana menurunkan tubuhnya hingga sejajar dengan gadis itu.
“Kamu menghubungiku karena ingin menyelamatkan ibumu, kan?”
Nayla mengangguk.
“Kalau begitu, sekarang biarkan kami membantumu.”
Malam itu, untuk pertama kalinya dalam hidupnya, Nayla masuk ke mobil yang harga satu bannya mungkin lebih mahal daripada seluruh isi rumah mereka.
Ibunya dibawa dengan ambulans menuju rumah sakit swasta di Jakarta.
Nayla duduk bersama Rafi di kursi belakang mobil Ardhana.
Sepanjang perjalanan, ia tidak berhenti memeluk adiknya.
Sesampainya di rumah sakit, ibunya langsung dibawa ke ruang gawat darurat.
Dokter menemukan infeksi paru yang sudah cukup parah disertai dehidrasi.
“Kalau terlambat beberapa jam lagi, kondisinya bisa jauh lebih berbahaya,” kata dokter.
Kaki Nayla terasa lemas.
Ia duduk di kursi lorong rumah sakit.
Ardhana berdiri beberapa meter darinya sambil berbicara dengan dokter.
Tak lama kemudian seorang staf rumah sakit membawa susu hangat dan makanan.
Nayla mengambil botol susu terlebih dahulu.
Ia memberikannya kepada Rafi.
Bocah itu minum dengan rakus.
Nayla hanya menatap.
“Kamu tidak makan?”
Suara Ardhana membuatnya terkejut.
“Aku belum lapar.”
Ardhana menatap roti di atas meja, lalu menatap wajah Nayla.
“Kapan terakhir kamu makan?”
Nayla terdiam.
“Siang.”
“Hari ini?”
Nayla menunduk.
“Kemarin.”
Ardhana tidak mengatakan apa-apa lagi.
Ia hanya mendorong kotak makanan itu mendekat.
“Makan.”
Untuk pertama kalinya malam itu, Nayla menurut tanpa membantah.
Namun baru tiga suapan, air matanya jatuh ke dalam kotak nasi.
“Kenapa Om membantu kami?”
Pertanyaan itu membuat Ardhana terdiam.
“Aku salah kirim pesan.”
“Aku tahu.”
“Om bahkan tidak kenal aku.”
“Aku juga tahu.”
Nayla mengusap air matanya.
“Kalau Ibu sudah sembuh, aku akan bayar delapan puluh ribunya. Aku bisa jual tisu setelah sekolah.”
Ardhana memandang gadis kecil itu cukup lama.
“Kita bicara soal delapan puluh ribu nanti.”
Tiga hari berikutnya, kondisi ibu Nayla perlahan membaik.
Namanya Sari.
Ketika akhirnya sadar sepenuhnya, ia sangat terkejut mengetahui siapa yang membayar perawatannya.
“Saya tidak bisa menerima sebanyak ini, Pak.”
Ardhana sedang berdiri di dekat jendela kamar ketika Sari mengatakan itu.
“Saya akan menggantinya sedikit demi sedikit.”
Ardhana hampir tersenyum.
Ibu dan anak ternyata sama keras kepalanya.
“Saya tidak datang untuk menagih utang.”
“Lalu kenapa Bapak membantu kami?”
Pertanyaan itu kembali muncul.
Namun kali ini Ardhana tidak langsung menjawab.
Tatapannya berpindah kepada Nayla yang sedang membantu Rafi menyusun puzzle di sofa.
“Ada seseorang yang dulu tidak sempat saya bantu.”
Sari menatapnya.
Ardhana tidak menjelaskan lebih jauh.
Setelah Sari diperbolehkan pulang, Ardhana meminta stafnya mencari tahu kondisi keluarga itu.
Laporan yang ia terima dua hari kemudian membuatnya lama terdiam.
Suami Sari meninggal empat tahun sebelumnya dalam kecelakaan kerja di sebuah proyek konstruksi.
Nama perusahaan kontraktornya membuat Ardhana berhenti membaca.
PT Wijaya Konstruksi Nusantara.
Anak perusahaan yang pernah menjadi bagian dari grup bisnis keluarganya.
Ardhana membuka halaman berikutnya.
Korban bernama Dimas Prasetyo.
Pekerja harian.
Meninggal setelah jatuh dari lantai tujuh proyek apartemen.
Santunan yang seharusnya diterima keluarga tercatat seratus delapan puluh juta rupiah.
Namun berdasarkan penelusuran tim Ardhana, Sari hanya pernah menerima dua belas juta rupiah.
Sisanya tidak pernah sampai.
“Siapa kepala proyek waktu itu?”
Ardhana bertanya dingin.
Sekretarisnya menyerahkan sebuah nama.
Bambang Kusnadi.
Wajah Ardhana mengeras.
Ia mengenal nama itu.
Bambang bukan pegawai biasa.
Ia adalah salah satu direktur senior yang masih bekerja di Wijaya Capital Group.
Keesokan paginya, rapat mendadak digelar.
Bambang datang dengan setelan mahal dan senyum percaya diri.
Namun senyumnya menghilang ketika sebuah berkas dilemparkan ke meja.
“Kenal nama Dimas Prasetyo?”
Bambang membaca halaman pertama.
Wajahnya langsung berubah.
“Pak Ardhana, kasus itu sudah lama.”
“Jawab pertanyaan saya.”
Bambang menelan ludah.
“Kenal.”
“Seratus delapan puluh juta santunan. Keluarganya menerima dua belas juta.”
“Itu mungkin kesalahan administrasi.”
Ardhana menyandarkan tubuh.
“Kesalahan administrasi selama empat tahun?”
Ruangan mendadak sunyi.
Tim audit internal kemudian masuk membawa beberapa dokumen.
Bukan hanya keluarga Dimas.
Ada tujuh belas keluarga pekerja lain yang mengalami hal serupa.
Santunan kematian dan kecelakaan dipotong menggunakan perusahaan penyalur palsu.
Nilainya mencapai miliaran rupiah.
Bambang berdiri.
“Pak, saya bisa jelaskan.”
“Jelaskan kepada polisi.”
Pintu terbuka.
Dua penyidik yang sebelumnya sudah dihubungi tim hukum perusahaan masuk.
Bambang pucat.
Namun sebelum dibawa pergi, ia menatap Ardhana dengan marah.
“Semua ini gara-gara keluarga miskin itu?”
Ardhana menatapnya tanpa ekspresi.
“Bukan.”
Ia mengambil ponselnya.
“Semua ini gara-gara kamu mengira orang miskin tidak akan pernah punya suara.”
Beberapa minggu kemudian, Sari menerima seluruh santunan yang seharusnya menjadi hak keluarganya, termasuk kompensasi tambahan setelah penyelidikan perusahaan selesai.
Namun Ardhana melakukan sesuatu yang tidak diketahui Sari.
Ia memerintahkan audit terhadap seluruh kasus kecelakaan kerja dalam sepuluh tahun terakhir.
Puluhan keluarga akhirnya menerima hak yang selama bertahun-tahun tidak pernah mereka ketahui telah dirampas.
Nama Ardhana muncul di media.
Wartawan menyebutnya sebagai reformasi besar di dalam Wijaya Capital Group.
Namun ia tidak pernah menceritakan bahwa semuanya bermula dari sebuah pesan salah kirim senilai delapan puluh ribu rupiah.
Tiga bulan kemudian, Nayla kembali bersekolah secara teratur.
Sari mendapatkan pekerjaan tetap di bagian laundry sebuah hotel milik mitra perusahaan, dengan jam kerja yang memungkinkan ia tetap mengurus kedua anaknya.
Ardhana juga menawarkan beasiswa pendidikan untuk Nayla.
Namun gadis itu menerima dengan satu syarat.
“Aku tetap harus boleh jualan kalau mau.”
Ardhana mengangkat alis.
“Untuk apa?”
“Biar punya uang sendiri.”
“Kamu umur dua belas tahun.”
“Makanya aku harus mulai nabung.”
Untuk pertama kalinya, Ardhana tertawa di depannya.
“Baiklah. Tapi bukan jualan di lampu merah.”
Nayla tersenyum lebar.
Enam bulan berlalu.
Suatu sore, Ardhana sedang menyelesaikan rapat ketika sekretarisnya masuk membawa amplop kecil.
“Ini dititipkan seorang anak di resepsionis.”
Ardhana membuka amplop tersebut.
Di dalamnya terdapat selembar uang lima puluh ribu, selembar dua puluh ribu, dan selembar sepuluh ribu rupiah.
Tepat delapan puluh ribu.
Ada pula secarik kertas.
Tulisan tangannya tidak terlalu rapi.
“Untuk Om Ardhana. Utang susu Rafi. Janji harus ditepati. Terima kasih karena waktu itu Om tidak mengabaikan pesan orang yang salah.”
Ardhana membaca kalimat itu dua kali.
Lalu ia tertawa kecil.
Sekretarisnya menunggu instruksi.
“Pak, uangnya mau saya kembalikan?”
“Tidak.”
Ardhana memasukkan uang itu ke dalam dompetnya.
“Ini pembayaran utang paling penting yang pernah saya terima.”
Malamnya, Ardhana mendatangi rumah baru Sari.
Bukan rumah mewah.
Hanya rumah kontrakan kecil yang jauh lebih layak, tidak bocor, dan berada dekat sekolah Nayla.
Nayla sedang mengajari Rafi menulis ketika Ardhana datang.
“Om!”
Rafi berlari memeluk kakinya.
Sari membawa teh dari dapur.
Mereka makan malam sederhana bersama.
Setelah Rafi tertidur, Nayla duduk di teras.
“Om.”
“Hm?”
“Kalau malam itu pesanku benar-benar sampai ke Tante Rina, mungkin semua ini tidak terjadi.”
Ardhana tersenyum tipis.
“Mungkin.”
“Berarti salah kirim itu keberuntungan?”
Ardhana tidak langsung menjawab.
Ia memandang gang kecil yang kini diterangi lampu jalan.
“Tidak semua kesalahan adalah keberuntungan.”
Nayla menunggu.
“Tapi kadang-kadang, kesalahan membawa kita ke tempat yang seharusnya kita lihat sejak lama.”
Nayla tidak sepenuhnya memahami kalimat itu.
Bertahun-tahun kemudian, ia baru mengerti.
Karena pesan malam itu bukan hanya menyelamatkan ibunya.
Pesan itu membongkar pencurian hak puluhan keluarga.
Pesan itu mengubah cara sebuah perusahaan besar memperlakukan ribuan pekerjanya.
Dan tanpa disadari Nayla, pesan itu juga menyelamatkan Ardhana.
Ada satu hal yang tidak pernah diceritakan pria itu kepadanya.
Dua puluh enam tahun sebelumnya, Ardhana pernah menjadi anak yang sama seperti Nayla.
Ayahnya belum kaya.
Ibunya sakit keras.
Suatu malam, Ardhana kecil mengetuk rumah tiga kerabat untuk meminjam uang membawa ibunya ke rumah sakit.
Tak seorang pun membuka pintu.
Ibunya meninggal keesokan paginya.
Sejak hari itu, Ardhana tumbuh dengan keyakinan bahwa dunia hanya menghormati orang yang memiliki uang.
Ia membangun perusahaan.
Mengumpulkan kekayaan.
Menjadi pria yang ditakuti banyak orang.
Namun perlahan ia berubah menjadi orang-orang yang dulu tidak membukakan pintu untuknya.
Sampai sebuah pesan salah kirim masuk ke ponselnya.
“Tante… bolehkah aku meminjam delapan puluh ribu rupiah?”
Puluhan tahun setelah kehilangan ibunya, Ardhana akhirnya mendapat kesempatan kedua.
Bukan untuk menyelamatkan masa lalunya.
Melainkan untuk memastikan seorang anak lain tidak harus menjalani masa depan yang sama.
Beberapa tahun kemudian, uang delapan puluh ribu dari Nayla masih tersimpan di dompet Ardhana.
Sudah kusut.
Warnanya mulai memudar.
Namun ia tidak pernah membelanjakannya.
Setiap kali seorang direktur mengatakan bahwa bantuan kepada pekerja kecil terlalu mahal, Ardhana akan membuka dompet itu dan mengingat malam ketika seluruh perubahan besar dalam perusahaannya dimulai.
Bukan dari kontrak dua triliun rupiah.
Bukan dari ruang rapat.
Bukan pula dari keputusan para eksekutif.
Semuanya bermula dari delapan puluh ribu rupiah yang bahkan belum dimiliki seorang gadis dua belas tahun.
Dan dari satu angka yang salah.
