Galang tidak langsung menjawab.
Dia hanya menatapku beberapa detik, seolah pertanyaanku terlalu sederhana untuk sesuatu yang jawabannya sudah jelas.
Kemudian dia menghela napas.
“Laras, jangan merepotkan.”
Senyumku perlahan menghilang.
“Tapi aku mau pulang bersamamu.”
“Cuma satu bulan.”

Galang meraih tanganku, tetapi bukan untuk membawaku masuk ke mobilnya. Dia justru menarikku beberapa langkah menuju mobil hitam milik Arman.
“Kamu tinggal di tempat Arman dulu. Sebulan lagi aku jemput.”
Aku menatap tangannya yang menggenggam pergelangan tanganku.
“Benarkah kamu akan menjemputku?”
“Iya.”
“Tidak bohong?”
Galang mulai kehilangan kesabaran.
“Laras.”
Aku langsung diam.
Setiap kali dia memanggil namaku dengan nada seperti itu, artinya aku terlalu banyak bertanya.
Aku mengangguk.
“Baik.”
Pintu belakang mobil Arman dibuka oleh sopir.
Sebelum masuk, aku kembali menatap Galang.
“Kalau aku tidak meneleponmu selama sebulan, kamu akan senang?”
Galang terdiam sebentar.
Mungkin dia tidak menyangka aku mendengar percakapannya dengan Citra.
Namun akhirnya dia hanya menjawab, “Iya. Jangan menelepon kalau tidak penting.”
Aku mengingat kalimat itu baik-baik.
Lalu masuk ke mobil.
Sepanjang perjalanan, aku duduk tegak dengan kedua tangan di atas lutut.
Arman duduk di sampingku sambil membaca sesuatu dari tablet.
Aku berusaha tidak bergerak.
Aku takut membuat suara.
Aku bahkan menahan diri untuk tidak membuka bungkus cokelat pemberian Citra karena khawatir suara plastiknya akan mengganggu.
Setelah hampir dua puluh menit, Arman tiba-tiba berkata, “Kalau mau makan, makan saja.”
Aku menoleh.
Dia masih melihat layar.
“Aku tidak lapar.”
Perutku berbunyi tepat setelah aku mengatakannya.
Arman menurunkan tablet.
Aku langsung menunduk malu.
Dia menatapku beberapa saat, lalu menekan tombol komunikasi dengan sopir.
“Berhenti di minimarket.”
Aku buru-buru berkata, “Tidak perlu.”
“Kenapa?”
“Makan terlalu banyak membuat orang tidak senang.”
Untuk pertama kalinya malam itu, ekspresi Arman berubah.
“Siapa yang bilang?”
Aku diam.
Dia menatapku.
“Galang?”
Aku menggenggam ujung bajuku.
“Aku memang makan cukup banyak.”
Arman tidak bertanya lagi.
Namun rahangnya tampak mengeras.
Malam pertama di rumahnya jauh berbeda dari bayanganku.
Aku mengira Arman tinggal di rumah yang gelap dan menakutkan.
Ternyata rumahnya sangat terang, bersih, dan tenang.
Seorang wanita berusia sekitar lima puluh tahun menyambut kami. Namanya Bu Sari.
“Kamarnya sudah disiapkan, Pak.”
Arman mengangguk.
Kemudian dia menunjukku.
“Selama satu bulan, apa pun yang dia perlukan, siapkan.”
Bu Sari tersenyum kepadaku.
“Baik, Pak.”
Aku menarik lengan Arman pelan.
Dia menoleh.
“Aku harus melakukan apa?”
“Apa maksudmu?”
“Selama tinggal di sini.”
“Tidak perlu melakukan apa-apa.”
Aku bingung.
“Tidak perlu mencuci piring?”
“Tidak.”
“Membersihkan rumah?”
“Ada orang yang mengurus.”
“Membawakan tasmu?”
“Tidak.”
Aku semakin bingung.
“Lalu kenapa kamu membawaku ke sini?”
Pertanyaanku membuat Bu Sari terdiam.
Arman juga tidak segera menjawab.
Akhirnya dia berkata, “Tidur dulu.”
Hari pertama aku bangun pukul lima pagi.
Aku duduk di tepi tempat tidur hampir satu jam karena tidak tahu harus melakukan apa.
Biasanya aku menyiapkan kopi Galang.
Pukul tujuh, aku turun ke dapur.
Arman sudah duduk di meja makan.
Di depannya ada kopi hitam, roti panggang, dan laptop.
Aku berdiri beberapa meter darinya.
Dia mengangkat kepala.
“Kenapa berdiri di situ?”
“Aku menunggu perintah.”
“Perintah apa?”
Aku tidak tahu.
Arman memijat pelipisnya.
“Duduk.”
Aku langsung duduk.
Bu Sari meletakkan sepiring nasi goreng di depanku.
Aku memandang porsinya.
Lalu mengambil sendok dan membaginya menjadi dua.
Arman memperhatikanku.
“Kenapa dibagi?”
“Setengah untuk siang.”
Bu Sari berhenti menuangkan teh.
Arman menatapku lama.
“Habiskan.”
“Nanti terlalu banyak.”
“Laras.”
Nada suaranya tidak keras, tetapi tegas.
Aku menatapnya.
“Di rumah ini, kamu boleh makan sebanyak yang kamu butuhkan.”
Aku tidak langsung percaya.
Namun aku tetap menghabiskannya.
Hari-hari berikutnya terasa aneh.
Arman hampir selalu pulang malam, tetapi dia selalu bertanya kepada Bu Sari apakah aku sudah makan.
Dia juga memberiku ponsel baru setelah melihat layar ponsel lamaku retak.
Ketika aku mengatakan masih bisa dipakai, dia menjawab pendek, “Mataku sakit melihatnya.”
Aku mengira dia benar-benar sakit mata.
Jadi malam itu aku mencari obat tetes mata dan meletakkannya di meja kerjanya.
Keesokan paginya, Bu Sari tertawa sampai matanya berair ketika Arman menunjukkan obat itu.
Arman sendiri hanya menatapku.
“Aku tidak sakit mata.”
“Tapi kamu bilang matamu sakit.”
“Itu ungkapan.”
“Oh.”
Aku segera membuka ponsel.
Arman menyipitkan mata.
“Kamu menulis apa?”
“Ungkapan. Mata sakit belum tentu benar-benar sakit.”
Tangannya yang sedang mengangkat cangkir berhenti.
Entah kenapa, sejak hari itu dia mulai menjelaskan sesuatu dengan lebih jelas kepadaku.
Kalau dia berkata sebentar, dia memberitahuku berapa menit.
Kalau dia mengatakan nanti, dia menjelaskan kira-kira pukul berapa.
Kalau ada perubahan rencana, dia memberitahuku terlebih dahulu.
Hal-hal kecil itu membuat kepalaku terasa lebih tenang.
Seminggu kemudian, dia membawa seorang dokter ke rumah.
Aku langsung bersembunyi di belakang Bu Sari.
“Aku tidak sakit.”
“Namanya Dokter Nadia,” kata Arman. “Spesialis rehabilitasi neurologi.”
Aku menatapnya curiga.
“Kenapa?”
“Karena cedera kepala bukan berarti kamu harus selamanya bergantung pada orang lain.”
Kalimat itu membuatku terdiam.
Galang selalu mengatakan aku tidak akan bisa kembali seperti dulu.
Arman mengatakan sesuatu yang berbeda.
Dokter Nadia tidak menjanjikan keajaiban. Dia hanya mengatakan beberapa fungsi kognitifku masih dapat dilatih.
Aku mulai menjalani terapi.
Latihan mengingat.
Menyusun jadwal.
Mengenali emosi.
Mengatur uang.
Menggunakan transportasi sendiri.
Bahkan memasak makanan sederhana.
Setiap berhasil melakukan sesuatu, aku menuliskannya di ponsel.
Hari kesepuluh, aku bisa pergi ke minimarket bersama Bu Sari tanpa panik.
Hari kelima belas, aku bisa memasak telur tanpa membakar wajan.
Hari kedelapan belas, aku berhasil mengingat jadwal obat tanpa alarm.
Pada hari kedua puluh, sesuatu yang aneh terjadi.
Aku membuka aplikasi catatan untuk menulis keberhasilanku.
Tanpa sengaja aku menemukan catatan lama.
Makan lebih sedikit. Kalau makan terlalu banyak, Galang tidak senang.
Jangan terlalu menempel. Kalau terlalu sering menelepon, Galang tidak senang.
Ada puluhan catatan serupa.
Jangan bicara ketika Galang bekerja.
Jangan menangis karena Galang tidak suka orang cengeng.
Jangan bertanya dua kali.
Jangan membuat masalah.
Jangan membuat Galang malu.
Aku membacanya satu per satu.
Entah kenapa, dadaku terasa sesak.
Malam itu aku menunjukkan semuanya kepada Dokter Nadia.
Dia tidak mengatakan Galang jahat.
Dia hanya bertanya kepadaku, “Laras, di antara semua catatan ini, ada tidak satu saja yang kamu tulis tentang apa yang membuat Laras senang?”
Aku menggulir layar.
Tidak ada.
Untuk pertama kalinya, aku menangis bukan karena bingung atau takut.
Aku menangis karena tiba-tiba menyadari bahwa selama bertahun-tahun aku hidup hanya untuk memastikan seseorang tidak terganggu oleh keberadaanku.
Hari kedua puluh tujuh, Galang akhirnya menelepon.
Aku sedang membuat kopi sendiri ketika namanya muncul di layar.
Tanganku otomatis gemetar.
Arman yang sedang membaca dokumen di ruang makan melihatnya.
“Kenapa tidak diangkat?”
“Dia bilang aku jangan sering menelepon.”
“Sekarang dia yang menelepon.”
Aku baru mengangkat panggilan.
Suara Galang terdengar santai.
“Laras, bagaimana?”
“Baik.”
“Arman tidak mengganggumu?”
“Tidak.”
Galang tertawa.
“Tuh, kan. Citra saja yang berlebihan.”
Aku tidak menjawab.
Kemudian dia berkata, “Tiga hari lagi genap sebulan. Siapkan barangmu. Aku jemput.”
Seharusnya aku senang.
Namun anehnya, aku justru memandang kamar yang selama hampir sebulan kutempati.
Untuk pertama kalinya, kata pulang tidak terdengar menyenangkan.
Hari ketiga puluh, Galang datang.
Dia masuk dengan santai sambil membawa boneka kelinci besar.
“Laras.”
Aku sedang duduk bersama Dokter Nadia.
Begitu melihatnya, tubuhku refleks berdiri.
Galang tersenyum.
“Ayo pulang.”
Aku tidak bergerak.
Senyumnya perlahan memudar.
“Kenapa?”
Aku menoleh kepada Arman yang berdiri beberapa meter dariku.
Arman berkata datar, “Jangan lihat aku. Jawab sendiri.”
Aku menggenggam kedua tanganku.
“Aku… tidak mau.”
Ruangan langsung sunyi.
Galang tertawa kecil seolah salah dengar.
“Apa?”
“Aku tidak mau pulang.”
Wajahnya berubah.
“Laras, jangan bercanda.”
“Aku tidak bercanda.”
Dia melangkah mendekat.
“Kamu marah karena taruhan itu? Sudah, jangan kekanak-kanakan. Aku datang menjemputmu, kan?”
Aku mundur satu langkah.
Gerakanku membuat Galang membeku.
Selama bertahun-tahun, aku tidak pernah mundur darinya.
“Laras.”
Suaranya melembut.
“Ayo pulang.”
Aku menggeleng.
“Aku bisa membuat sarapan sendiri sekarang.”
“Apa?”
“Aku juga bisa mengingat obatku. Bisa pergi membeli barang. Aku sedang belajar naik transportasi sendiri.”
“Apa hubungannya?”
“Aku tidak harus selalu mengikuti seseorang.”
Galang menatap Arman.
“Kamu mengajarinya apa?”
Arman menjawab dingin, “Aku tidak mengajarinya meninggalkanmu. Aku hanya memberinya kesempatan untuk memilih.”
Galang tiba-tiba meraih lenganku.
“Ayo.”
Aku refleks menarik tangan.
Pada saat itulah Citra muncul dari pintu.
“Lepaskan dia.”
Galang menoleh tajam.
“Kenapa kamu ada di sini?”
Citra mengangkat sebuah map.
“Karena ada sesuatu yang seharusnya Laras tahu sejak lama.”
Wajah Galang langsung berubah.
Aku menatap mereka bergantian.
Citra menyerahkan map itu kepadaku.
Di dalamnya terdapat dokumen rekening, surat kepemilikan, dan laporan dari pengacara.
Aku tidak memahami semuanya.
Arman mengambil salah satu lembar dan meletakkannya di meja.
“Setelah kecelakaan, orang tua Laras meninggalkan dana perwalian untuk biaya hidup dan pemulihannya.”
Aku menatap Galang.
Arman melanjutkan.
“Galang ditunjuk sebagai salah satu pengelola sementara karena saat itu Laras mempercayainya.”
Tanganku mulai dingin.
Citra berkata pelan, “Biaya makanmu, pakaianmu, obatmu, terapi yang dulu sempat kamu jalani, semuanya bukan dibayar Galang.”
Aku tidak bisa berbicara.
“Uang itu milikmu sendiri.”
Galang langsung membantah.
“Aku tidak pernah mengambil uangnya untuk diriku!”
“Benar,” kata Arman.
Tatapannya tajam.
“Kamu tidak mencuri.”
Dia mendorong laporan itu ke depan.
“Tapi kamu menghentikan terapi rehabilitasinya dua tahun lalu karena menganggap tidak ada gunanya. Padahal dokter menyarankan terapi diteruskan.”
Aku memandang Galang.
“Kenapa?”
Wajahnya pucat.
“Aku…”
“Kenapa?”
Untuk pertama kalinya aku meninggikan suara kepadanya.
Galang terdiam lama.
Kemudian bahunya turun.
“Karena setiap kali kamu mulai membaik, kamu mulai bertanya tentang kecelakaan itu.”
Ruangan terasa membeku.
“Aku takut kamu ingat.”
Napas Citra tercekat.
Galang menutup wajahnya sebentar.
“Malam kecelakaan itu aku yang menyetir. Aku mabuk. Kamu mendorongku keluar dari jalur mobil lain, lalu kamu yang tertabrak.”
Potongan ingatan di kepalaku tiba-tiba menyatu.
Lampu.
Suara rem.
Galang sempoyongan di dekat jalan.
Aku berlari.
Aku mendorongnya.
Lalu gelap.
Air mataku jatuh tanpa suara.
“Aku merawatmu karena merasa bersalah,” lanjut Galang. “Awalnya begitu. Tapi lama-lama aku terbiasa kamu selalu ada. Aku takut kalau kamu pulih sepenuhnya, kamu akan ingat semuanya dan pergi.”
Aku akhirnya mengerti.
Bukan karena aku terlalu bodoh sehingga tidak bisa meninggalkan Galang.
Galanglah yang selama ini takut aku cukup pulih untuk menyadari bahwa aku boleh pergi.
Aku membuka ponsel.
Catatan-catatan lama masih ada.
Aku menghapusnya satu per satu.
Galang memandangku dengan mata merah.
“Laras… aku bisa berubah.”
Aku berhenti pada catatan terakhir.
Jangan terlalu menempel. Kalau terlalu sering menelepon, Galang tidak senang.
Aku menghapusnya.
Lalu membuat catatan baru.
Aku membacanya keras-keras.
“Aku boleh memilih tempat yang membuatku merasa aman.”
Galang menunduk.
Aku mengembalikan boneka kelinci yang dibawanya.
“Terima kasih sudah datang menjemputku.”
Dia mengangkat kepala dengan sedikit harapan.
Namun aku melanjutkan.
“Tapi aku tidak akan pulang bersamamu.”
Galang pergi sore itu sendirian.
Beberapa bulan kemudian, terapiku masih berlanjut.
Aku belum kembali menjadi Laras yang dulu.
Mungkin aku tidak akan pernah menjadi orang yang sama persis.
Tetapi aku mulai mengenal orang yang sekarang.
Suatu pagi, aku duduk di meja makan sambil mengoleskan selai terlalu tebal pada roti.
Arman yang duduk di seberang melihatnya.
“Kamu yakin mau makan sebanyak itu?”
Tanganku berhenti.
Dia langsung menyadari kesalahannya.
“Maksudku karena lima menit lalu kamu sudah makan dua roti.”
Aku menatapnya lama.
Kemudian sengaja menambahkan selai lebih banyak.
“Aku mau tiga.”
Arman menghela napas.
“Terserah.”
Aku tersenyum.
Ponselku berbunyi.
Pesan dari Citra.
Dia mengirimkan foto sebuah kotak lama yang baru ditemukan di rumah keluargaku.
Di dalamnya terdapat medali emas yang pernah kumenangkan bertahun-tahun lalu.
Di belakang medali itu ada ukiran kecil.
Aku memperbesar fotonya.
Untuk Laras. Jangan takut menentukan jalanmu sendiri.
Aku tidak ingat siapa yang mengukir kalimat itu.
Namun kali ini aku tidak berusaha keras untuk mengingat.
Aku meletakkan ponsel dan menggigit roti.
Arman tiba-tiba bertanya, “Setelah terapi selesai, kamu mau tinggal di mana?”
Dulu, pertanyaan seperti itu akan membuatku panik.
Aku pasti bertanya di mana aku seharusnya tinggal.
Dengan siapa aku harus tinggal.
Apa yang harus kulakukan.
Namun pagi itu aku hanya berpikir beberapa detik.
Lalu menjawab dengan tenang.
“Aku belum tahu.”
Arman mengangguk.
Tidak mendesak.
Tidak menentukan.
Tidak memilihkan.
Dan untuk pertama kalinya dalam hidupku yang bisa kuingat, ketidaktahuan itu tidak terasa menakutkan.
Karena akhirnya aku memahami sesuatu yang selama bertahun-tahun tidak pernah diajarkan siapa pun kepadaku.
Diselamatkan oleh seseorang tidak membuat kita menjadi miliknya.
Merawat seseorang juga tidak memberi kita hak untuk mengendalikan hidupnya.
Dan cinta yang membuat seseorang takut menjadi mandiri bukanlah tempat untuk pulang.
Aku mungkin pernah kehilangan sebagian ingatanku dalam kecelakaan itu.
Tetapi satu bulan setelah seseorang menjadikanku taruhan, aku justru mendapatkan kembali sesuatu yang jauh lebih penting.
Diriku sendiri.
