Aku baru mengetahui siapa yang membocorkan rencana Bagas kepada Arga ketika seorang perempuan berusia hampir enam puluh tahun tiba-tiba masuk ke aula dengan wajah basah oleh air mata.
Perempuan itu adalah Bu Ratna, ibu kandung Bagas.
Dia berdiri di ambang pintu, memandangi enam kursi kosong yang seharusnya ditempati keluarganya. Kemudian tatapannya beralih kepadaku.
“Nadira, Nak, maafkan Ibu.”
Aku membeku.
Bagas yang berdiri beberapa langkah di belakangku langsung menghampirinya.
“Ibu? Kenapa datang ke sini?”
Bu Ratna menatap putranya dengan mata merah.
“Justru Ibu yang seharusnya bertanya. Kenapa kamu bilang acara lamaran dibatalkan karena Nadira sakit?”
Seluruh tubuhku terasa dingin.
“Apa?”
Bu Ratna menggenggam tanganku.
“Tadi pagi Bagas menelepon Ibu. Katanya kamu masuk rumah sakit dan acara harus ditunda. Ibu bahkan sudah menyiapkan seserahan sejak minggu lalu.”
Aku perlahan menoleh kepada Bagas.
Dia tidak berani menatapku.
Jadi, selama ini keluarganya bukan tidak mengetahui rencana pernikahan kami.
Mereka memang sedang mempersiapkannya.
Hanya saja, Bagas sengaja memberikan kabar palsu agar mereka tidak datang.

“Kenapa kamu melakukan itu?” tanya Bu Ratna dengan suara bergetar.
Bagas mengusap wajahnya.
“Bu, ini urusan aku sama Nadira.”
“Urusan apa sampai kamu mempermalukan keluarga orang?”
Aku menunduk.
Empat tahun bersama Bagas, aku tidak pernah membayangkan lelaki itu mampu melakukan sesuatu seperti ini.
Bukan karena aku terlalu mudah percaya.
Melainkan karena dulu Bagas benar-benar berbeda.
Aku masih ingat malam ketika ayahku menjalani operasi jantung tiga tahun lalu. Saat itu, Bagas baru saja kehilangan pekerjaan. Tabungannya hampir habis, tetapi dia tetap datang ke rumah sakit membawa makanan untuk keluargaku.
Dia menunggu bersamaku sampai pagi, membantu mengurus administrasi, bahkan mengantarkan ibuku pulang ketika beliau hampir pingsan karena kelelahan.
Ketika aku bertanya kenapa dia mau melakukan semua itu, Bagas hanya tersenyum.
“Karena keluargamu juga keluargaku, Nadira.”
Kalimat itulah yang membuatku percaya bahwa dia lelaki yang tepat.
Dia juga pernah menolak tawaran pekerjaan di luar kota karena tidak ingin meninggalkanku saat ibuku sedang sakit.
Setiap kali kami bertengkar, dialah yang biasanya datang lebih dahulu untuk meminta maaf.
Namun, setelah mendapat pekerjaan baru dan mulai bergaul dengan Rio serta teman-temannya, sesuatu perlahan berubah.
Bagas mulai menganggap hubungan sebagai persoalan siapa yang lebih berkuasa.
Dia sering mengatakan bahwa seorang lelaki tidak boleh terlalu menuruti pasangannya.
Aku mengira itu hanya pengaruh sementara.
Aku percaya Bagas yang dulu masih ada di dalam dirinya.
Ternyata, kesalahan terbesarku bukan mempercayai lelaki yang tidak pernah baik.
Melainkan terus berpegang pada kebaikan masa lalunya meskipun perilakunya sekarang sudah berbeda.
“Nadira.”
Suara Arga menyadarkanku.
“Kamu mau duduk sebentar?”
Aku menggeleng.
“Aku harus menjelaskan semuanya kepada keluargaku.”
Arga mengangguk.
“Aku temani.”
Namun, sebelum kami melangkah, Bu Ratna memanggilku.
“Nak, ada sesuatu yang harus kamu tahu.”
Bagas langsung menegang.
“Bu, jangan!”
Bu Ratna mengabaikannya.
“Ibu yang menghubungi Arga tadi siang.”
Aku menoleh cepat.
“Jadi Ibu mengenal Arga?”
“Arga pernah membantu keluarga kami ketika usaha kecil almarhum ayah Bagas mengalami masalah. Ibu masih menyimpan nomor teleponnya.”
Arga mengangguk.
“Tadi Bu Ratna menghubungiku setelah menemukan percakapan Bagas dengan teman-temannya di tablet yang tertinggal di rumah.”
Aku menatap Bu Ratna.
“Percakapan tentang rencana mempermalukanku?”
Perempuan itu menangis.
“Ibu nggak percaya anak Ibu sendiri bisa berpikir begitu.”
Bagas tiba-tiba membentak.
“Semua orang berhenti menyudutkan aku!”
Para tamu di dekat pintu langsung menoleh.
“Aku cuma mau memastikan Nadira benar-benar siap jadi istriku!”
Aku menatapnya.
“Bagas, apa sebenarnya yang ingin kamu buktikan?”
Dia menghela napas kasar.
“Kamu selalu mengatur semuanya. Jadwal pernikahan, tabungan, rumah, bahkan pekerjaan setelah menikah. Aku merasa nggak punya suara.”
Aku terdiam sejenak.
Untuk pertama kalinya, Bagas mengatakan sesuatu yang terdengar seperti alasan sebenarnya.
“Kalau kamu merasa begitu, kenapa nggak bicara denganku?”
“Karena setiap kali kita membahas masa depan, kamu selalu punya rencana!”
“Aku membuat rencana karena kamu sendiri yang memintaku mengurus persiapan pernikahan.”
Bagas tidak menjawab.
Aku melanjutkan.
“Ketika kamu kehilangan pekerjaan, aku tidak pernah memaksamu segera menikah. Aku menunggu sampai kamu merasa siap. Bahkan tanggal acara hari ini kamu sendiri yang memilih.”
Wajah Bagas berubah.
“Teman-temanku bilang kalau aku terus membiarkanmu mengambil keputusan, nanti setelah menikah aku nggak akan dihargai.”
Aku memandang Rio.
Pemuda itu langsung menunduk.
“Jadi kamu lebih percaya perkataan teman-temanmu daripada perempuan yang mendampingimu selama empat tahun?”
Bagas terdiam.
Aku mengangguk perlahan.
“Akhirnya aku mengerti.”
Selama ini, Bagas bukan takut aku tidak mencintainya.
Dia takut kehilangan kendali.
Dan untuk mengatasi ketakutan itu, dia sengaja mempermalukanku.
Aku berjalan masuk ke aula.
Ayah dan Ibu langsung menghampiriku.
“Nadira, apa yang terjadi?” tanya Ayah.
Aku menggenggam tangan mereka.
“Acara lamaran hari ini dibatalkan.”
Wajah Ibu memucat.
“Kenapa, Nak?”
Aku menarik napas panjang.
“Karena Bagas tidak berniat melamarku hari ini. Dia sengaja membuat acara ini untuk menguji apakah aku tetap mau bersamanya setelah dipermalukan.”
Ayah terdiam.
Beberapa kerabat mulai berbisik.
Namun, aku melanjutkan sebelum keberanianku hilang.
“Maaf karena sudah membuat semuanya datang. Aku benar-benar nggak tahu rencana itu.”
Ibu langsung memelukku.
“Kamu nggak perlu minta maaf, Sayang.”
Ayah menatap Bagas yang baru memasuki aula.
“Benar yang dikatakan Nadira?”
Bagas menunduk.
“Iya, Om. Tapi sebenarnya…”
“Cukup.”
Suara Ayah tidak keras.
Namun, seluruh ruangan langsung sunyi.
“Saya pernah mempercayakan putri saya kepadamu ketika dia harus menemani ibunya menjalani pengobatan. Saya ingat bagaimana kamu menjaga keluarga kami.”
Ayah menarik napas panjang.
“Karena itu, saya nggak pernah meragukan niatmu.”
Bagas mengangkat wajah dengan mata berkaca-kaca.
“Tapi hari ini kamu menunjukkan bahwa kepercayaan bisa dihancurkan bukan hanya oleh perselingkuhan, melainkan juga oleh penghinaan yang disengaja.”
Bagas tidak mampu menjawab.
Bu Ratna menangis di dekat pintu.
Aku menghampirinya dan menggenggam tangannya.
“Bu, saya tetap menghormati Ibu. Apa yang dilakukan Bagas bukan kesalahan Ibu.”
Dia memelukku erat.
“Maafkan anak Ibu, Nadira.”
Aku mengangguk sambil menahan tangis.
“Aku berharap suatu hari dia benar-benar memahami kesalahannya.”
Setelah para tamu mengetahui situasinya, sebagian memilih pulang. Namun, beberapa kerabat tetap tinggal untuk menemani keluargaku.
Katering yang sudah terlanjur disiapkan akhirnya kami bagikan kepada tamu dan petugas acara. Sebagian makanan yang masih layak dan memenuhi persyaratan penanganan disalurkan melalui komunitas sosial setempat.
Aku tidak ingin seluruh kerja keras orang-orang hari itu berakhir sia-sia.
Ketika aula mulai sepi, Arga menghampiriku.
“Kamu sudah makan?”
Aku menggeleng.
Dia mengambil sepiring nasi dan meletakkannya di hadapanku.
“Makan dulu. Setelah itu baru pikirkan yang lain.”
Aku tertawa kecil.
“Kamu masih sama seperti dulu.”
“Memangnya dulu aku bagaimana?”
“Selalu mengingatkan orang makan ketika semua orang sedang sibuk.”
Arga tersenyum.
Namun, beberapa saat kemudian, ekspresinya berubah serius.
“Nadira, aku perlu menjelaskan sesuatu tentang telepon Bagas tadi.”
Aku menatapnya.
“Kontrak proyek?”
Arga mengangguk.
“Perusahaan tempat Bagas bekerja sedang mengikuti seleksi mitra untuk salah satu proyek kami. Tapi peninjauan ulang kontrak itu bukan karena masalah pribadimu.”
Aku mengerutkan kening.
“Lalu kenapa?”
“Tim pengadaan menemukan ketidaksesuaian dalam beberapa dokumen penawaran. Ada angka biaya yang tidak cocok dengan lampirannya.”
Aku terdiam.
“Dan Bagas bertanggung jawab atas presentasinya?”
“Dia termasuk anggota tim yang menyiapkan proposal. Tapi keputusan akhir akan berdasarkan pemeriksaan perusahaan, bukan hubungan pribadiku dengan siapa pun.”
Aku menghela napas lega.
“Aku nggak mau masalahku membuat dia kehilangan pekerjaan.”
Arga menatapku.
“Aku tahu. Karena itu aku nggak akan menggunakannya untuk menghukum Bagas.”
Aku tersenyum kecil.
Dulu, aku pernah menolak Arga karena sudah mencintai Bagas.
Sekarang aku mulai memahami bahwa menghormati seseorang tidak selalu berarti harus memilikinya.
Dan Arga membuktikan hal itu bahkan ketika dia memiliki kesempatan untuk mempermalukan orang yang menyakitiku.
Seminggu kemudian, Bagas datang ke rumah orang tuaku.
Dia membawa bunga dan sebuah surat.
Aku menemuinya di teras.
“Nadira, aku minta maaf.”
Aku diam.
“Aku sudah membaca ulang semua percakapan di grup. Aku nggak tahu kenapa aku bisa berpikir seperti itu.”
Aku memandangnya.
“Karena kamu ingin aku takut kehilanganmu.”
Bagas menunduk.
“Iya.”
“Dan kamu berharap setelah dipermalukan, aku tetap bertahan supaya kamu merasa punya kuasa atas hubungan kita.”
Air matanya jatuh.
“Aku salah.”
Aku menarik napas panjang.
“Bagas, dulu aku mencintaimu karena kamu membuatku merasa aman. Aku nggak pernah peduli berapa banyak uangmu atau sebagus apa pekerjaanmu.”
Dia mengangguk.
“Aku tahu.”
“Tapi sekarang aku nggak lagi merasa aman bersamamu.”
Bagas menutup wajah.
“Apa benar-benar nggak ada kesempatan?”
Aku terdiam cukup lama.
Ada bagian dalam diriku yang masih mengingat semua kebaikannya.
Lelaki yang menemaniku menjaga Ayah di rumah sakit.
Lelaki yang mengantarkan obat untuk Ibu saat hujan deras.
Lelaki yang pernah berjanji akan membangun keluarga kecil bersamaku.
Namun, aku tidak bisa membiarkan kenangan baik menjadi alasan untuk mengabaikan kenyataan sekarang.
“Aku memaafkanmu, Bagas. Tapi aku nggak ingin melanjutkan hubungan ini.”
Dia menangis tanpa suara.
Aku tidak memeluknya.
Karena aku tahu, pelukan itu mungkin akan memberinya harapan yang tidak lagi bisa kuberikan.
Tiga bulan kemudian, kehidupanku perlahan kembali tenang.
Aku mulai bekerja lebih fokus, kembali mengikuti kelas memasak yang sempat kutinggalkan, dan lebih sering menghabiskan waktu bersama orang tuaku.
Arga sesekali menghubungiku.
Tidak pernah berlebihan.
Tidak pernah memaksaku bertemu.
Suatu sore, dia mengajakku minum kopi di sebuah kafe kecil di Bandung.
Kami duduk dekat jendela, memandangi hujan yang turun perlahan.
“Aku masih penasaran,” kataku.
“Tentang apa?”
“Kenapa kamu datang begitu cepat hari itu?”
Arga tersenyum.
“Karena waktu Bu Ratna menghubungiku, aku sudah berada tidak jauh dari lokasi acara untuk urusan pekerjaan.”
Aku tertawa.
“Jadi bukan karena kamu bisa berpindah tempat dalam lima menit?”
“Sayangnya belum bisa.”
Kami tertawa bersama.
Kemudian aku bertanya lebih serius.
“Ga, kamu masih punya perasaan yang sama?”
Arga menatap cangkir kopinya.
“Ada bagian dari diriku yang masih menyukaimu.”
Aku terdiam.
“Tapi aku nggak ingin kamu merasa harus membalasnya hanya karena aku datang hari itu.”
Aku menatapnya.
“Kalau aku membutuhkan waktu?”
“Aku nggak akan meminta kamu membuat janji.”
Jawaban itu membuatku tersenyum.
Untuk pertama kalinya, aku merasa tidak sedang dikejar menuju keputusan yang belum siap kuambil.
Enam bulan kemudian, aku dan Arga mulai menjalin hubungan.
Perlahan.
Tanpa pengumuman besar.
Tanpa janji yang berlebihan.
Kami belajar mengenal satu sama lain kembali sebagai dua orang dewasa yang telah berubah.
Suatu hari, Arga mengajakku mengunjungi rumah keluarganya.
Ibunya menyambutku dengan ramah.
Namun, sebelum makan malam dimulai, Arga menggenggam tanganku.
“Nadira, aku ingin memastikan satu hal.”
Aku menoleh.
“Apa?”
“Kalau suatu hari kita berbeda pendapat, aku ingin kita membicarakannya. Bukan saling menguji.”
Aku tersenyum.
“Itu juga yang kuinginkan.”
Setahun setelah acara lamaran palsu itu, Arga mengajakku kembali ke aula yang sama.
Tempat yang dahulu dipenuhi kursi kosong dan air mata.
Awalnya aku mengira dia hanya ingin mengajakku menghadiri acara keluarga.
Namun, ketika pintu aula terbuka, aku melihat Ayah, Ibu, Bu Ratna, dan beberapa sahabat dekat sudah menunggu.
Aku langsung berhenti.
“Ga…”
Arga menatapku dengan lembut.
“Tenang. Aku nggak akan meminta kamu mengambil keputusan mendadak.”
Dia mengeluarkan sebuah kotak kecil.
Di dalamnya terdapat cincin sederhana.
“Aku sudah berbicara dengan orang tuamu. Mereka tahu aku ingin melamarmu, tapi aku meminta mereka tidak memberikan jawaban atas namamu.”
Air mataku mulai menggenang.
“Aku memilih tempat ini bukan untuk menghapus apa yang pernah terjadi, tetapi untuk menunjukkan bahwa tempat yang sama bisa menyimpan kenangan berbeda.”
Arga menarik napas.
“Nadira, aku mencintaimu. Tapi aku nggak ingin kamu mengatakan iya karena semua orang sudah hadir.”
Dia tersenyum.
“Kalau kamu belum siap, kita bisa pulang dan makan bakso seperti biasa.”
Aku tertawa sambil menangis.
Untuk sesaat, aku teringat enam kursi kosong setahun sebelumnya.
Dulu, aku berdiri di tempat yang sama dengan perasaan dipermalukan.
Sekarang, aku berdiri di hadapan seseorang yang justru memberiku kebebasan untuk menolak.
Dan anehnya, kebebasan itulah yang membuatku tidak takut mengatakan iya.
“Aku mau, Ga.”
Arga tersenyum lebar.
Ibuku langsung menangis.
Ayah bertepuk tangan.
Namun, ketika Arga hendak memasangkan cincin, aku menahannya sebentar.
“Ada satu syarat.”
Dia mengangkat alis.
“Apa?”
“Kalau nanti aku mulai terlalu sibuk mengurus persiapan pernikahan, kamu harus mengingatkanku untuk istirahat. Bukan membuat tes diam-diam.”
Arga tertawa.
“Siap.”
Kami semua tertawa bersama.
Malam itu, setelah acara sederhana selesai, aku berjalan ke luar aula dan melihat Bagas berdiri di kejauhan.
Dia datang bersama Bu Ratna untuk mengantarkan ibunya, tetapi memilih menunggu di luar karena tidak ingin membuatku tidak nyaman.
Ketika mata kami bertemu, Bagas mengangguk pelan.
Aku membalas anggukannya.
Tidak ada kemarahan.
Tidak ada keinginan membalas dendam.
Hanya dua orang yang pernah saling mencintai dan akhirnya memahami bahwa mereka tidak lagi cocok berjalan bersama.
Saat Arga menghampiriku, aku menggenggam tangannya.
Dulu, aku mengira cinta berarti bertahan selama mungkin, bahkan ketika seseorang terus melukai kita.
Sekarang aku tahu bahwa cinta yang sehat tidak membutuhkan jebakan untuk membuktikan kesetiaan.
Kepercayaan tidak dibangun dengan mempermalukan pasangan.
Dan seseorang yang benar-benar ingin berjalan bersama kita tidak akan sengaja membuat kita tersesat hanya untuk melihat apakah kita masih mau mengejarnya.
Aku menatap Arga yang sedang tersenyum kepadaku.
Untuk pertama kalinya, aku tidak merasa sedang diuji.
Aku hanya merasa dicintai.
Dan kali ini, itu sudah lebih dari cukup.
