Nama yang disebut Dimas membuatku kehilangan kata-kata.
Hendra Pradana.
Ayah mertuaku sendiri.
Aku menatap lelaki berusia enam puluh lima tahun yang berdiri beberapa langkah dariku. Wajahnya pucat, tetapi dia masih berusaha menjaga ketenangan di hadapan para tamu.
“Pak Hendra?” tanyaku nyaris berbisik.
Dari seberang telepon, Dimas melanjutkan.
“Benar, Bu. Persetujuan pembayaran tercatat atas nama beliau. Namun, kami juga menemukan beberapa instruksi pembayaran yang dikirimkan melalui email Kepala Divisi Komunikasi Grup Pradana.”
Aku perlahan menoleh kepada Selma.
Perempuan itu langsung menunduk.
“Selma?” panggilku.
“Aku nggak tahu apa-apa, Mbak.”
Aku belum mengajukan pertanyaan, tetapi dia sudah membela diri.
Arga mencengkeram lengannya.
“Sel, kamu terlibat urusan apa?”
“Mas, aku cuma menjalankan pekerjaan!”
Ayah mertua tiba-tiba menyela.
“Nadira, jangan membicarakan ini di depan tamu. Kita masuk ke ruang kerja.”
Aku memandang sekeliling. Beberapa tamu sudah memperhatikan kami dengan penasaran.

Aku mengangguk.
“Baik, Pak. Tapi saya ingin Dimas ikut dalam pembicaraan melalui panggilan video.”
Sepuluh menit kemudian, kami berkumpul di ruang kerja.
Dimas menampilkan laporan transaksi melalui layar laptop.
Proyek ketiga Grup Pradana sebenarnya merupakan pembangunan fasilitas distribusi baru di kawasan Bekasi. Mahardika menyediakan pendanaan berdasarkan pencapaian tahapan proyek yang telah disepakati.
Namun, selama enam bulan terakhir, terdapat pembayaran sebesar Rp18,7 miliar kepada perusahaan bernama Cakrawala Konsultan Nusantara.
Perusahaan itu tidak tercantum dalam daftar vendor yang telah disetujui.
“Siapa pemiliknya?” tanyaku.
Dimas membuka dokumen berikutnya.
“Secara administratif, perusahaan tersebut dimiliki seorang pria bernama Farhan Wijaya.”
Selma langsung memejamkan mata.
Aku memperhatikan reaksinya.
“Farhan itu siapa, Selma?”
Dia tidak menjawab.
Arga menatapnya.
“Sel, aku tanya. Farhan siapa?”
Air mata mulai menggenang di matanya.
“Adikku.”
Ruangan mendadak sunyi.
Arga melepaskan genggamannya.
“Kamu menggunakan perusahaan adikmu untuk menerima uang proyek?”
Selma menangis.
“Aku nggak mengambil uang itu untuk diriku sendiri!”
“Lalu untuk siapa?”
Dia menatap Hendra.
Ayah mertua menutup wajah dengan kedua tangan.
Aku mulai memahami bahwa persoalan ini jauh lebih rumit daripada yang kubayangkan.
“Pak,” kataku perlahan, “tolong jelaskan apa yang sebenarnya terjadi.”
Hendra duduk dengan tubuh membungkuk.
“Enam bulan lalu, perusahaan mengalami kekurangan kas yang sangat besar. Ada beberapa kewajiban lama yang jatuh tempo bersamaan.”
“Kenapa tidak dilaporkan kepada Mahardika?”
“Karena kalau investor mengetahui kondisi sebenarnya, pendanaan berikutnya mungkin akan dihentikan.”
Aku menahan napas.
“Jadi Bapak memilih menggunakan dana proyek untuk membayar kewajiban lain?”
Hendra mengangguk.
“Sebagian digunakan untuk menutup utang anak perusahaan yang sedang bermasalah.”
“Melalui perusahaan milik adik Selma?”
Hendra menunduk.
“Selma membantu menyiapkan dokumennya.”
Arga berdiri mendadak.
“Ayah sadar ini bisa menjadi masalah hukum?”
Hendra menatap putranya.
“Ayah melakukannya untuk menyelamatkan perusahaan yang nanti akan kamu warisi!”
“Tapi Ayah berbohong kepada investor!”
Aku menatap Arga.
Beberapa jam sebelumnya, lelaki itu mengatakan pernikahan kami sudah tidak memiliki arti.
Sekarang dia berdiri membela perusahaan yang ternyata selama ini bertahan melalui pendanaan dari perusahaanku.
Namun, aku tidak lagi ingin memperdebatkan urusan pribadi.
“Dimas,” kataku, “tolong minta tim audit independen memeriksa seluruh transaksi dan dokumen pendukung. Kita juga perlu memastikan uang itu digunakan untuk apa saja.”
“Baik, Bu.”
“Dan jangan membuat kesimpulan sebelum bukti lengkap.”
Setelah panggilan berakhir, Hendra menghampiriku.
“Nadira, Bapak tahu ini kesalahan besar. Tapi perusahaan ini dibangun selama puluhan tahun. Kalau sampai runtuh, ribuan karyawan bisa kehilangan pekerjaan.”
Aku memandangnya.
“Saya memahami tanggung jawab Bapak terhadap karyawan. Tapi justru karena itu, dana investasi tidak boleh digunakan tanpa transparansi.”
Air mata Hendra jatuh.
“Bapak hanya ingin mempertahankan semuanya.”
“Kadang keinginan mempertahankan sesuatu membuat kita melakukan hal yang akhirnya menghancurkannya, Pak.”
Aku mengambil tas.
Malam itu, aku meninggalkan rumah keluarga Pradana tanpa menoleh lagi.
Namun, sebelum mobilku keluar dari halaman, Arga berlari menghampiri.
“Nadira, tunggu!”
Aku menurunkan kaca jendela.
“Ada apa lagi, Mas?”
Dia terengah.
“Aku nggak tahu Ayah melakukan semua itu.”
“Aku percaya kamu mungkin tidak tahu.”
“Dan aku juga nggak tahu kamu pemilik Mahardika.”
Aku tersenyum pahit.
“Kalau kamu tahu, apakah keputusan ceraimu akan berbeda?”
Arga terdiam.
Aku mengangguk.
“Itu jawaban yang kubutuhkan.”
Mobilku bergerak meninggalkannya.
Keesokan paginya, aku mengadakan rapat dengan jajaran direksi Mahardika.
Kami memutuskan menangguhkan pencairan fasilitas baru yang belum menjadi kewajiban kontraktual, mempertahankan seluruh komitmen yang sah, dan meminta audit khusus terhadap penggunaan dana proyek.
Aku juga menarik diri dari keputusan tertentu yang berpotensi menimbulkan konflik kepentingan karena hubunganku dengan keluarga Pradana.
Dimas menatapku setelah rapat selesai.
“Bu Nadira, saya boleh bertanya sesuatu?”
“Tentu.”
“Ibu benar-benar akan bercerai?”
Aku mengangguk.
“Keputusan itu tidak ada hubungannya dengan hasil audit.”
Dia tersenyum tipis.
“Saya hanya ingin memastikan Ibu tidak mengambil semua keputusan ketika sedang terluka.”
Aku memandangnya.
“Justru karena sedang terluka, saya harus lebih berhati-hati.”
Dua minggu berikutnya terasa sangat panjang.
Tim audit menemukan bahwa sebagian besar dana yang dialihkan digunakan untuk membayar kewajiban anak perusahaan yang sebenarnya tidak termasuk dalam proyek distribusi.
Namun, ada temuan lain.
Cakrawala Konsultan Nusantara ternyata menerima pembayaran jasa konsultasi yang tidak dapat dibuktikan dengan pekerjaan nyata.
Nilainya mencapai Rp4,2 miliar.
Dan dari rekening perusahaan tersebut, sejumlah uang kemudian ditransfer ke rekening pribadi Farhan.
Aku meminta tim hukum menelusurinya lebih lanjut melalui prosedur yang sah.
Sementara itu, Arga terus menghubungiku.
Dia mengirim bunga.
Mengirim makanan.
Bahkan datang ke kantor Mahardika tiga kali.
Aku selalu menolak bertemu di luar urusan yang memang perlu dibicarakan.
Sampai suatu sore, Selma datang sendiri.
Wajahnya terlihat sangat berbeda dari malam pesta.
Tidak ada riasan sempurna ataupun senyum penuh percaya diri.
Dia duduk di hadapanku dengan tangan gemetar.
“Mbak Nadira, aku ingin mengakui sesuatu.”
Aku menatapnya.
“Silakan.”
“Farhan memang adikku. Tapi awalnya aku nggak tahu dia mengambil uang untuk dirinya sendiri.”
“Lalu kapan kamu mengetahuinya?”
“Tiga bulan lalu.”
Aku mengerutkan kening.
“Kenapa kamu diam?”
Selma menangis.
“Karena dia mengancam akan membocorkan semua yang kulakukan.”
“Apa maksudmu?”
Dia menunduk.
“Aku yang memanfaatkan kedekatanku dengan Mas Arga untuk membuatnya semakin jauh dari Mbak.”
Aku terdiam.
“Farhan tahu tentang hubungan kami. Dia bilang kalau aku melaporkan masalah uang, semua pesan dan foto pribadi kami akan dikirimkan kepada keluarga Pradana.”
Aku menatapnya cukup lama.
“Jadi kamu memilih membiarkan perusahaan kehilangan uang?”
Selma mengangguk sambil menangis.
“Aku takut.”
Aku menarik napas panjang.
“Selma, kamu membuat beberapa pilihan. Dan setiap pilihan itu memiliki akibat.”
“Aku tahu.”
“Tapi aku tidak bisa menyelesaikan semuanya hanya dengan mendengarkan permintaan maafmu.”
Dia mengangguk.
“Aku bersedia memberikan semua dokumen dan bekerja sama dengan pemeriksaan.”
Aku menyerahkan kartu nama pengacara perusahaan.
“Hubungi tim hukum melalui nomor ini. Jangan menghapus atau mengubah dokumen apa pun.”
Selma menerimanya dengan tangan gemetar.
Sebelum pergi, dia berhenti di depan pintu.
“Mbak Nadira, boleh aku bertanya?”
“Apa?”
“Kenapa Mbak nggak pernah memberi tahu Mas Arga bahwa Mbak memiliki Mahardika?”
Aku terdiam sebentar.
“Karena aku ingin dicintai sebagai Nadira.”
Selma menunduk.
“Dan sekarang?”
Aku tersenyum kecil.
“Sekarang aku ingin menjalani hidup sebagai Nadira tanpa harus membuktikan nilainya kepada siapa pun.”
Setelah Selma pergi, aku duduk cukup lama di ruang kerja.
Ada rasa sedih yang sulit dijelaskan.
Bukan karena aku masih ingin mempertahankan Arga.
Melainkan karena aku akhirnya memahami betapa banyak kebohongan yang tumbuh ketika seseorang lebih takut kehilangan kedudukan daripada kehilangan kepercayaan.
Sebulan kemudian, hasil audit independen selesai.
Laporan tersebut menemukan pelanggaran serius terhadap tata kelola penggunaan dana investasi, termasuk transaksi tanpa dokumen pendukung yang memadai.
Mahardika dan Grup Pradana kemudian menyepakati rencana pemulihan yang mencakup pengembalian dana yang digunakan tidak sesuai peruntukan, pengawasan keuangan tambahan, dan pembatasan pengeluaran tertentu.
Terhadap transaksi yang memiliki indikasi tindak pidana, tim hukum menyiapkan laporan untuk ditindaklanjuti oleh pihak berwenang.
Farhan dan pihak-pihak yang terlibat masih harus menghadapi proses pemeriksaan.
Hendra mengundurkan diri dari jabatan komisaris utama Grup Pradana.
Arga juga melepaskan posisi direktur pelaksana dan menyerahkan pengelolaan operasional kepada manajemen profesional.
Untuk pertama kalinya, perusahaan keluarga itu harus berjalan tanpa perlindungan keputusan sepihak orang-orang Pradana.
Namun, kejutan terbesar datang ketika Dimas menyerahkan satu dokumen terakhir kepadaku.
“Bu Nadira, ada sesuatu yang perlu Ibu lihat.”
Dia meletakkan sebuah map biru di meja.
Di dalamnya terdapat salinan korespondensi lama antara Hendra dan sebuah firma hukum.
Tanggalnya tiga tahun lalu.
Beberapa bulan sebelum pernikahanku dengan Arga.
Aku membaca isinya perlahan.
Ternyata Hendra pernah meminta penyelidikan latar belakang keluargaku sebelum menyetujui pernikahan kami.
Laporan tersebut menjelaskan bahwa aku merupakan pemegang saham pengendali Mahardika Investama.
Tanganku mulai dingin.
“Jadi Pak Hendra sudah tahu sejak awal?”
Dimas mengangguk.
“Berdasarkan dokumen ini, kemungkinan besar begitu.”
Aku membuka halaman berikutnya.
Ada sebuah email dari Hendra kepada penasihat bisnis keluarga.
Isinya membahas potensi kerja sama dengan Mahardika setelah pernikahan Arga berlangsung.
Dadaku terasa sesak.
Selama tiga tahun, aku mengira keluarga Pradana menerima bantuanku tanpa mengetahui siapa yang berada di balik perusahaan investasi itu.
Ternyata ayah mertuaku sudah mengetahuinya.
Dan mungkin, sejak awal, dia melihat pernikahanku sebagai peluang bisnis.
Aku segera menghubungi Hendra.
Dia datang ke kantorku keesokan harinya.
Ketika kuletakkan dokumen itu di hadapannya, wajahnya langsung berubah.
“Bapak sudah tahu siapa saya sebelum menikah dengan Arga?”
Hendra terdiam lama.
Akhirnya dia mengangguk.
“Iya.”
Aku memejamkan mata.
“Apakah Arga juga tahu?”
“Tidak. Bapak tidak pernah memberitahunya.”
“Kenapa?”
Hendra menunduk.
“Awalnya Bapak menyelidiki keluargamu karena khawatir Arga mengambil keputusan terburu-buru. Tapi setelah mengetahui hubunganmu dengan Mahardika, Bapak melihat kesempatan untuk menyelamatkan perusahaan.”
Aku menatapnya.
“Jadi Bapak menyetujui pernikahan kami karena uang?”
“Bapak tahu kalian saling mencintai.”
“Itu bukan jawaban saya.”
Hendra mengusap wajah.
“Bapak memang berharap pernikahan kalian membuka jalan kerja sama bisnis.”
Aku merasakan air mata mulai menggenang.
Selama ini aku percaya bahwa diriku diterima sebagai anggota keluarga.
Namun, setidaknya bagi Hendra, kehadiranku ternyata juga memiliki nilai finansial yang telah diperhitungkannya sejak awal.
“Kenapa Bapak tidak pernah berkata jujur?”
“Karena Bapak takut kamu menarik diri.”
Aku tertawa kecil.
Kalimat itu terdengar begitu mirip dengan alasan Arga ketika menyembunyikan hubungannya dengan Selma.
Mereka selalu takut kehilangan sesuatu.
Tetapi tidak pernah cukup takut untuk berhenti berbohong.
Aku berdiri.
“Pak Hendra, kerja sama Mahardika dan Grup Pradana akan tetap diselesaikan secara profesional. Saya tidak ingin karyawan menanggung akibat dari persoalan keluarga.”
Hendra mengangguk.
“Tapi untuk hubungan pribadi, saya membutuhkan jarak.”
Air matanya jatuh.
“Bapak mengerti.”
Enam bulan kemudian, perceraian kami selesai melalui proses hukum.
Kesepakatan pembagian harta dilakukan sesuai ketentuan yang berlaku dan ditinjau kembali melalui penasihat hukum masing-masing.
Aku tidak menerima tawaran uang dua miliar yang dahulu diberikan Arga sebagai cara cepat mengakhiri pernikahan.
Aku hanya meminta penyelesaian yang adil.
Pada hari terakhir kami bertemu, Arga terlihat jauh lebih kurus.
Dia menyerahkan sebuah amplop putih.
“Apa ini?” tanyaku.
“Surat.”
Aku membukanya setelah sampai di rumah.
Di dalamnya, Arga menulis bahwa dia akhirnya memahami sesuatu yang tidak pernah disadarinya selama menikah.
Selama ini dia selalu mengira kekuatan keluarga Pradana berasal dari nama besar, kekayaan, dan pengaruh bisnis.
Namun, setelah kehilangan semuanya, dia menyadari bahwa kepercayaan jauh lebih sulit dibangun daripada perusahaan.
Dia juga mengakui bahwa dirinya tidak layak meminta aku kembali hanya karena sekarang telah mengetahui nilai ekonomi yang kumiliki.
Aku membaca surat itu sampai selesai.
Kemudian menyimpannya.
Aku tidak membalas.
Setahun setelah malam pesta ulang tahun Hendra, Mahardika berhasil menyelesaikan sebagian besar proses pemulihan dana melalui kesepakatan bisnis dan tindakan hukum yang masih berjalan.
Grup Pradana tetap beroperasi, meskipun harus menutup beberapa proyek yang tidak menguntungkan dan memperbaiki sistem pengelolaannya.
Sementara itu, aku mulai mengembangkan program pendampingan untuk perempuan yang ingin membangun usaha dan memahami pengelolaan keuangan.
Pada acara pembukaan program pertama, seorang peserta bertanya kepadaku.
“Bu Nadira, apa keputusan finansial paling penting yang pernah Ibu buat?”
Aku tersenyum.
“Bukan investasi terbesar yang pernah saya lakukan.”
Perempuan itu tampak penasaran.
“Lalu apa, Bu?”
Aku memandang para peserta yang duduk di hadapanku.
“Keputusan untuk tidak lagi menggunakan uang dan kemampuan saya demi mempertahankan hubungan yang sudah kehilangan kepercayaan.”
Ruangan menjadi sunyi.
Aku melanjutkan.
“Uang bisa membantu seseorang melewati kesulitan. Tetapi uang tidak bisa membeli kejujuran, rasa hormat, atau kesetiaan.”
Setelah acara selesai, aku berjalan menuju mobil.
Ponselku bergetar.
Sebuah pesan dari Dimas masuk.
“Bu Nadira, laporan keuangan kuartal ini sudah selesai. Seluruh indikator utama berada dalam batas risiko yang ditetapkan.”
Aku tersenyum.
Kemudian membalas singkat.
“Terima kasih. Kita bahas besok pagi.”
Aku menatap langit Jakarta yang mulai berubah jingga.
Dulu, aku mengira cinta berarti memberikan segala sesuatu tanpa menghitung pengorbanan.
Sekarang aku memahami bahwa mencintai seseorang tidak harus berarti mengabaikan diriku sendiri.
Dan malam ketika Arga meminta cerai sepuluh menit sebelum pesta keluarga dimulai, aku sebenarnya tidak kehilangan masa depanku.
Aku justru mendapatkan kembali hak untuk menentukannya.
Karena pada akhirnya, hal paling berharga yang kumiliki bukanlah perusahaan investasi, saham, ataupun uang.
Melainkan kebebasan untuk memilih siapa yang pantas mendapatkan kepercayaanku.
Dan kali ini, aku memilih diriku sendiri.
