“Surat itu berisi sesuatu yang bisa membuat ayahmu membenciku seumur hidup.”
Aku berhenti menarik koper. Arga berdiri di dekat pintu kamar, wajahnya pucat, sementara ponselnya terus bergetar karena panggilan Dinda.
“Apa maksudmu?” tanyaku.
Arga tidak menjawab. Dia justru mengambil ponsel dan mengetik sesuatu dengan tergesa-gesa.
Aku mendekatinya.
“Mas, selama empat tahun aku selalu menunggu penjelasanmu. Malam ini aku nggak akan melakukannya lagi. Kalau kamu masih mau bicara, katakan sekarang.”
Arga mengusap wajahnya.
“Dua tahun lalu, aku pernah meminjam uang dari Dinda.”

Aku mengerutkan kening.
“Berapa?”
“Empat ratus lima puluh juta.”
Aku merasa dadaku dihantam sesuatu.
Jumlah itu hampir setara dengan seluruh tabungan yang kukumpulkan selama bertahun-tahun bekerja sebagai manajer pemasaran di sebuah perusahaan properti di Bandung.
“Untuk apa?”
“Untuk menutup kerugian bisnis.”
“Bisnis yang mana?”
Arga menunduk.
“Proyek kafe di Lembang.”
Aku mengenal proyek itu. Arga pernah menginvestasikan uang bersama beberapa temannya, tetapi mengatakan bisnis tersebut sudah ditutup tanpa meninggalkan utang.
“Bukannya kamu bilang semua sudah selesai?”
“Aku nggak mau kamu khawatir.”
Aku tertawa getir.
“Jadi kamu memilih berutang ratusan juta kepada Dinda dan membiarkanku percaya semuanya baik-baik saja?”
“Waktu itu aku panik.”
“Lalu apa hubungannya dengan surat yang dia pegang?”
Arga terdiam terlalu lama.
Aku langsung menyadari bahwa masih ada bagian lain yang belum diceritakannya.
“Mas, jangan bilang kamu menjanjikan sesuatu kepada Dinda.”
Arga mengangkat wajah.
“Aku menandatangani perjanjian.”
“Perjanjian apa?”
Belum sempat dia menjawab, bel apartemen berbunyi.
Aku menatap jam dinding.
Pukul 23.42.
Arga terlihat terkejut ketika mendengar suara perempuan dari interkom.
“Arga, buka pintunya. Aku tahu Nadira ada di dalam.”
Dinda.
Aku berjalan menuju pintu sebelum Arga sempat menghentikanku.
Ketika pintu terbuka, Dinda berdiri dengan wajah lelah. Ada plester kecil di dekat pelipisnya dan memar tipis di lengannya.
Dia membawa sebuah amplop cokelat.
“Aku datang untuk mengembalikan ini,” katanya.
Aku menatap amplop tersebut.
“Surat yang seharusnya kubaca?”
Dinda mengangguk.
Arga segera maju.
“Din, kita sudah sepakat membicarakannya besok.”
“Tidak,” jawab Dinda tegas. “Aku sudah terlalu lama mengikuti caramu.”
Dia menyerahkan amplop itu kepadaku.
Tanganku sedikit gemetar ketika mengeluarkan isinya.
Ada salinan perjanjian utang, bukti transfer, dan sebuah surat yang ditandatangani Arga dua tahun sebelumnya.
Aku membaca halaman pertama dengan saksama.
Pinjaman empat ratus lima puluh juta rupiah tersebut memang tercatat atas nama Arga.
Namun, pada halaman terakhir terdapat sebuah ketentuan tambahan.
Apabila Arga gagal melunasi pinjaman sesuai jadwal, dia bersedia menyerahkan hak ekonominya atas sebuah unit rumah yang sedang dalam proses pembelian bersama Nadira.
Aku merasa darahku membeku.
“Rumah kita?”
Arga menunduk.
Rumah yang dimaksud adalah rumah di kawasan Setiabudi, yang rencananya akan kami tempati setelah menikah.
Selama dua tahun terakhir, aku membayar sebagian besar uang muka dan cicilannya. Arga berjanji akan mengganti bagian yang menjadi tanggung jawabnya setelah kondisi keuangannya stabil.
Tetapi rumah itu belum sepenuhnya menjadi milik kami. Dokumen pembelian masih dalam proses penyelesaian.
“Mas, kamu menjanjikan hak atas rumah itu kepada Dinda?”
“Aku cuma menjanjikan bagianku, Nad.”
“Bagian yang mana? Sampai sekarang kamu bahkan belum menyelesaikan kewajiban pembayaranmu!”
Dinda menyela dengan suara pelan.
“Aku sudah bilang dari awal kalau aku nggak mau melibatkan Nadira.”
Aku menoleh kepadanya.
“Kalau begitu, kenapa kamu tetap menerima perjanjian ini?”
Dinda tampak terpukul.
“Karena aku bodoh. Aku percaya Arga akan melunasinya sebelum kalian menikah.”
Aku menatap kedua orang itu bergantian.
“Dan surat ini kenapa harus disembunyikan dariku?”
Dinda membuka tasnya lalu mengeluarkan dokumen lain.
“Ada satu hal yang belum kamu lihat.”
Dokumen tersebut merupakan surat pemberitahuan dari kantor pengacara mengenai tunggakan pinjaman dan permintaan penyelesaian kewajiban.
Tanggalnya dua minggu lalu.
Artinya, ketika Arga sibuk mempersiapkan pertunangan bersamaku, dia sudah mengetahui bahwa masalah utangnya kembali muncul.
“Aku meminta Arga memberitahumu sebelum pertunangan,” kata Dinda. “Dia bilang akan melakukannya.”
Aku menoleh kepada Arga.
“Jadi hari ini kamu meninggalkan pertunangan karena Dinda menagih uang?”
Arga menggeleng cepat.
“Bukan begitu. Dinda benar-benar mengalami kecelakaan.”
Dinda mengangguk.
“Mobilku memang ditabrak dari belakang. Tapi aku nggak mengalami cedera serius. Aku menghubungi Arga karena panik. Setelah dia datang, aku bilang ingin membicarakan dokumen ini sebelum kalian resmi bertunangan.”
Aku menghela napas panjang.
“Lalu kenapa kalian makan di restoran selama berjam-jam?”
Dinda menunduk.
“Karena kami bertengkar. Aku menolak mengundur pembicaraan lagi. Arga memintaku memberi waktu sampai setelah pernikahan.”
Aku memandang Arga dengan perasaan hampa.
“Jadi kamu sebenarnya bisa kembali ke hotel?”
Dia tidak menjawab.
“Mas, jawab.”
“Aku bisa.”
Dua kata itu menghancurkan sisa kepercayaanku.
Bukan karena dia menolong Dinda.
Bukan karena perempuan itu duduk bersamanya di restoran.
Melainkan karena Arga memilih membiarkanku menunggu di depan hampir seratus tamu daripada menghadapi kenyataan bahwa dia telah menyembunyikan persoalan keuangan yang sangat besar.
Aku meletakkan dokumen tersebut di meja.
“Kamu tahu apa yang paling menyakitkan?”
Arga menatapku.
“Aku nggak pernah menuntut kamu kaya. Kalau bisnis kamu gagal, aku masih bisa menerima. Kalau kamu berutang, kita masih bisa membicarakannya. Tapi kamu memperlakukan aku seolah aku cuma boleh mengetahui bagian hidupmu yang sudah kamu rapikan.”
“Nadira, aku takut kehilangan kamu.”
“Dan sekarang kamu kehilangan aku karena kebohonganmu sendiri.”
Dinda mulai menangis.
“Nad, aku minta maaf. Aku tahu aku terlalu sering mengandalkan Arga.”
Aku menatapnya.
“Kalau kamu benar-benar menyadarinya, kenapa kamu selalu menelepon dia setiap kali ada masalah?”
Dinda mengusap matanya.
“Karena sejak kecil Arga selalu jadi orang pertama yang datang ketika aku kesulitan. Aku terbiasa. Aku nggak pernah mempertanyakan apakah kebiasaan itu menyakiti orang lain.”
Aku mengangguk pelan.
“Masalahnya bukan kamu membutuhkan teman. Masalahnya kalian berdua nggak pernah belajar membuat batas.”
Dinda tidak membantah.
Malam itu, aku meminta mereka pergi.
Arga sempat berusaha memelukku, tetapi aku mundur.
“Besok kita selesaikan urusan rumah lewat pengacara. Sekarang aku ingin sendiri.”
Ketika pintu tertutup, barulah aku menangis.
Aku duduk di lantai ruang tamu, memandangi cincin pertunangan yang tergeletak di dalam kotaknya.
Empat tahun.
Empat tahun aku membangun rencana masa depan bersama seseorang yang bahkan tidak mampu mempercayaiku dengan kenyataan hidupnya sendiri.
Keesokan paginya, Ayah datang setelah menerima teleponku.
Beliau membaca seluruh dokumen tanpa banyak bicara.
Ketika selesai, Ayah meletakkan kacamatanya di meja.
“Nadira, kamu sudah memeriksa status rumah itu?”
“Belum, Yah.”
“Kalau begitu, kita cari bantuan hukum. Jangan mengambil keputusan soal aset hanya berdasarkan perkataan Arga atau Dinda.”
Aku mengangguk.
Ayah tidak mencaci Arga. Beliau juga tidak menyuruhku kembali hanya karena keluarga besar sudah terlanjur mengetahui pertunangan kami.
Beliau membantuku menyusun langkah yang harus dilakukan.
Dalam beberapa hari berikutnya, aku menemui pengacara dan pihak pengembang perumahan.
Dari pemeriksaan dokumen, diketahui bahwa perjanjian utang Arga tidak otomatis memberikan hak kepada Dinda atas rumah tersebut. Terlebih lagi, Arga tidak dapat menjaminkan hak milikku tanpa persetujuanku.
Namun, kewajiban keuangan antara kami tetap perlu diselesaikan dengan jelas.
Aku meminta dibuatkan kesepakatan tertulis mengenai pembayaran yang telah kulakukan, pengunduran diri Arga dari rencana pembelian bersama, dan tanggung jawab atas kewajibannya sendiri.
Arga akhirnya menyetujui proses tersebut.
Aku tidak tahu apakah dia melakukannya karena benar-benar menyadari kesalahannya atau karena tidak memiliki pilihan lain.
Yang jelas, aku tidak mau lagi menggantungkan masa depanku pada janji tanpa bukti.
Sebulan kemudian, Dinda menghubungiku.
Dia meminta bertemu sebentar di sebuah kafe dekat kantor.
Aku sempat ragu, tetapi akhirnya menerima.
Dinda datang membawa sebuah map.
“Aku ingin mengembalikan sesuatu yang seharusnya sudah lama menjadi milikmu.”
Aku mengernyit.
“Apa lagi?”
Dia mengeluarkan selembar surat yang dilipat rapi.
Tulisan tangan Arga.
Tanggalnya delapan bulan sebelumnya.
Surat itu ternyata ditulis Arga ketika mereka bertengkar mengenai pembayaran utang.
Aku membacanya perlahan.
Di dalamnya, Arga mengakui bahwa sebagian besar uang yang dipinjam dari Dinda tidak digunakan untuk proyek kafe sebagaimana yang pernah dia ceritakan.
Aku langsung mengangkat kepala.
“Kalau bukan untuk kafe, dipakai untuk apa?”
Dinda menarik napas panjang.
“Untuk membantu biaya pengobatan ibunya.”
Aku terdiam.
Ibu Arga pernah menjalani operasi besar hampir tiga tahun lalu. Saat itu, keluarganya mengatakan seluruh biaya telah ditanggung asuransi dan tabungan pribadi.
Ternyata, ada sejumlah biaya lanjutan yang tidak sepenuhnya tertanggung.
Arga meminjam uang dari Dinda, lalu menggunakan sebagian dana tersebut untuk menutup kebutuhan pengobatan dan sebagian lainnya untuk membayar utang bisnis sebelumnya.
“Kenapa dia nggak pernah bilang?” tanyaku.
“Karena ibunya meminta agar masalah keuangan mereka nggak diketahui keluarga calon menantu.”
Aku memejamkan mata.
Kini aku mulai memahami alasan Arga begitu takut rahasianya terbongkar.
Namun, memahami bukan berarti membenarkan.
“Kenapa kamu memberitahuku sekarang?”
Dinda menatapku.
“Karena aku nggak mau kamu menghabiskan hidup dengan mengira semua ini hanya soal aku dan Arga.”
Aku terdiam.
Dinda melanjutkan.
“Aku memang terlalu bergantung padanya. Arga juga selalu merasa harus menyelamatkanku. Tapi masalah terbesar hubungan kalian bukan aku, Nad. Masalahnya dia terbiasa menyembunyikan kesulitan dari orang yang justru paling berhak mengetahuinya.”
Aku memandang surat tersebut.
“Kenapa dulu kamu nggak langsung mengatakan ini?”
“Aku menghormati permintaan Arga untuk menjaga masalah kesehatan ibunya. Tapi setelah melihat bagaimana dia menggunakan rahasia itu untuk terus berbohong kepadamu, aku sadar aku ikut membiarkan sesuatu yang salah.”
Untuk pertama kalinya, aku melihat Dinda bukan sebagai perempuan yang merebut perhatian tunanganku, melainkan sebagai seseorang yang juga terjebak dalam hubungan tanpa batas yang sehat.
Tetapi kesadaran itu tidak mengubah keputusanku.
Aku tetap tidak akan menikah dengan Arga.
Tiga bulan setelah pertunangan kami batal, persoalan pembelian rumah akhirnya diselesaikan. Namaku tetap tercatat dalam kesepakatan pembelian yang baru, sementara Arga melepaskan keterlibatannya sesuai penyelesaian tertulis yang disetujui bersama.
Aku mulai menata rumah itu sendiri.
Tidak lagi memilih warna dinding berdasarkan selera Arga.
Tidak lagi membayangkan ruang keluarga yang akan dipenuhi foto pernikahan kami.
Aku mengecat satu dinding dengan warna hijau sage, membeli meja makan kecil, dan meletakkan tanaman monstera di dekat jendela.
Untuk pertama kalinya, rumah itu benar-benar terasa sebagai tempat yang kubangun untuk diriku sendiri.
Suatu sore, Arga datang setelah terlebih dahulu meminta izin.
Dia terlihat lebih kurus.
“Aku cuma mau mengembalikan ini.”
Dia menyerahkan sebuah album foto kecil.
Album yang dulu kami buat untuk menyimpan kenangan empat tahun bersama.
Aku menerimanya.
“Terima kasih.”
Arga berdiri canggung di depan pintu.
“Nadira, aku sudah mulai menyelesaikan utangku. Aku juga sedang menjalani konseling.”
Aku mengangguk.
“Itu bagus, Mas.”
“Aku tahu kamu nggak akan kembali.”
Aku tidak menjawab.
Dia tersenyum pahit.
“Aku cuma ingin bilang, selama ini aku selalu merasa harus menjadi orang yang bisa diandalkan semua orang. Tapi aku nggak sadar bahwa setiap kali berusaha menyelamatkan orang lain, aku justru mengabaikan orang yang seharusnya berjalan bersamaku.”
Aku menatapnya.
“Mas, menjadi orang baik bukan berarti kamu harus selalu datang untuk semua orang. Kadang kamu justru harus tahu kapan mengatakan tidak.”
Arga mengangguk perlahan.
“Aku baru belajar itu setelah kehilangan kamu.”
Aku menarik napas panjang.
“Semoga kamu benar-benar belajar, bukan cuma karena ingin aku kembali.”
Dia tersenyum sedih.
“Semoga.”
Setelah Arga pergi, aku membuka album foto tersebut.
Ada foto perjalanan pertama kami ke Yogyakarta, ulang tahunku yang kedua puluh enam, dan hari ketika Arga pertama kali bertemu keluargaku.
Aku tersenyum mengingat beberapa momen indah.
Kenangan itu tidak tiba-tiba menjadi palsu hanya karena hubungan kami berakhir buruk.
Aku pernah bahagia bersamanya.
Aku pernah mencintainya dengan sungguh-sungguh.
Namun, aku tidak perlu kembali ke masa lalu hanya untuk membuktikan bahwa cinta itu pernah ada.
Malam itu, Ayah datang membawa makanan kesukaanku.
Kami makan bersama di meja kecil dekat jendela.
“Nadira,” kata Ayah tiba-tiba, “kamu masih menyesal?”
Aku berpikir sebentar.
“Kadang aku sedih, Yah. Tapi aku nggak menyesal membatalkan pertunangan.”
Ayah tersenyum.
“Bagus.”
Aku memandang cincin yang kini kusimpan di laci.
“Dulu aku kira kalau seseorang mencintai kita, dia pasti akan selalu memilih kita.”
Ayah menggeleng pelan.
“Nggak sesederhana itu, Nak. Orang bisa menyayangi banyak orang. Tapi dalam sebuah hubungan, dia harus tahu tanggung jawab mana yang perlu dijaga.”
Aku mengangguk.
Untuk pertama kalinya, kalimat itu terasa begitu jelas.
Bukan keberadaan Dinda yang menghancurkan hubunganku.
Bukan pula satu panggilan telepon di hari pertunangan.
Yang menghancurkannya adalah empat tahun ketika aku terus meminta tempat dalam kehidupan seseorang yang tidak pernah belajar memberiku kepastian.
Beberapa hari kemudian, aku menemukan sebuah amplop kecil terselip di halaman terakhir album foto.
Di dalamnya ada secarik kertas bertuliskan tangan Arga.
“Aku selalu mengira kamu akan terus menunggu, karena kamu selalu memaafkanku. Ternyata kesabaranku menerima cintamu justru membuatku lupa bahwa kamu juga bisa lelah. Maaf karena aku baru memahami nilaimu setelah kursi di sampingku benar-benar kosong.”
Aku membaca surat itu sekali, lalu menyimpannya kembali.
Tidak ada keinginan membalas.
Tidak ada dorongan menelepon.
Aku hanya menutup album dan meletakkannya di rak.
Keesokan paginya, aku berangkat bekerja lebih awal.
Di perjalanan, aku melewati hotel tempat pertunangan kami seharusnya berlangsung.
Dulu, setiap kali melihat bangunan itu, dadaku terasa sesak.
Namun, pagi itu aku justru tersenyum.
Aku teringat diriku yang berdiri di atas panggung, melepaskan cincin di depan hampir seratus orang, dengan tangan gemetar tetapi hati yang akhirnya mengambil keputusan.
Saat itu aku merasa telah kehilangan masa depan.
Sekarang aku tahu, aku hanya kehilangan rencana masa depan yang dibangun bersama orang yang tidak mampu menjaganya.
Masa depanku sendiri tidak pernah hilang.
Dan mungkin itulah pelajaran terbesar dari semua yang terjadi.
Cinta bukan tentang menjadi orang yang selalu bersedia menunggu.
Cinta juga bukan tentang siapa yang paling sering dibutuhkan ketika keadaan sulit.
Cinta adalah keberanian untuk hadir, berkata jujur, dan menjaga kepercayaan bahkan ketika kenyataan tidak menyenangkan.
Aku tidak membutuhkan lelaki yang selalu datang menyelamatkan semua orang.
Aku hanya membutuhkan seseorang yang tidak membuatku merasa sendirian ketika kami seharusnya menghadapi kehidupan bersama.
Dan sampai orang itu datang, aku tidak keberatan berjalan sendiri.
Karena aku akhirnya mengerti bahwa menunggu seseorang yang terus memilih pergi jauh lebih menyakitkan daripada melanjutkan hidup tanpa dirinya.
