
Bel kembali berbunyi ketika aku memasukkan paspor ke dalam tas.
Sepupuku, Nisa, keluar dari kamar.
“Mau kubilang kamu tidak ada?”
Aku menggeleng.
“Aku ingin mengambil rantainya.”
Nisa membuka pintu, lalu tetap berdiri di dekatku. Fajar langsung masuk sambil membawa kotak beludru. Keisya mengikuti dengan mata sembap.
“Kami sudah mencari yang mirip,” kata Fajar.
Ia membuka kotak itu. Sebuah gelang emas putih berkilau di bawah lampu.
Aku tidak menyentuhnya.
“Gelangku.”
Keisya mengeluarkan kantong plastik kecil dari tas. Rantai perak itu terlipat di dalamnya, tanpa liontin daun.
Saat kutuang ke telapak tangan, pengaitnya tersangkut pada kulitku. Aku teringat Ayah memasangkannya sambil memakai kacamata baca yang terus melorot.
“Kalau nanti gambarmu jadi bangunan sungguhan, jangan lupa ajak Ayah melihat,” katanya waktu itu.
Ayah meninggal sebelum aku menyelesaikan semester terakhir.
“Lokasi foto terakhir di mana?” tanyaku.
“Halaman gedung alumni,” jawab Keisya.
“Jam berapa kalian meninggalkannya?”
Fajar menghela napas.
“Alya, sekarang sudah malam. Besok kita cari.”
“Aku bertanya kepada Keisya.”
Ia tampak tersinggung, tetapi aku tidak lagi punya tenaga untuk menjaga perasaannya.
Keisya menyebutkan waktu dan nama fotografer. Nisa segera mencatatnya.
Baru saat itu Fajar melihat koper di dekat pintu.
“Kamu mau ke mana?”
Aku meletakkan rantai di atas meja.
“Berangkat.”
“Berangkat ke mana?”
Kuambil kotak cincin dari tas, lalu kusodorkan kepadanya.
“Aku membatalkan pertunangan kita.”
Fajar tertawa pendek, menunggu aku ikut tertawa.
Ketika aku tetap diam, wajahnya berubah.
“Karena gelang?”
“Karena aku bilang tidak, dan kamu tetap mengambilnya dari tanganku.”
“Aku sudah meminta maaf.”
“Kamu memintaku berhenti mencari masalah.”
Ia menatap Keisya, seolah berharap perempuan itu membantunya.
Namun, Keisya justru memandangi rantai di meja.
“Ada yang harus kukatakan,” katanya pelan.
Fajar menegang.
“Keisya, kita sudah sepakat—”
“Liontinnya tidak jatuh saat pindah lokasi.”
Ruangan mendadak sunyi.
Aku merasakan kuku-kukuku menekan telapak tangan.
“Apa yang terjadi?”
Keisya menarik napas tersendat.
“Aku ingin memindahkannya ke kalungku untuk foto. Pengait kecilnya susah dibuka. Fajar mencoba membantu memakai ujung kunci.”
Aku menatap Fajar.
Ia mengalihkan pandangan.
“Lalu?”
“Pengaitnya bengkok. Liontinnya terlepas dan memantul. Kami mencarinya di sela batu halaman, tapi tidak ketemu.”
Mereka bukan sekadar meminjam gelangku. Mereka membongkarnya setelah aku menolak memberikannya.
“Kenapa berbohong?”
Fajar bergerak mendekat.
“Karena aku tahu reaksimu akan seperti ini.”
Nisa langsung berdiri di antara kami.
“Cukup. Alya sudah meminta kalian pulang.”
Fajar memandangku lama, kemudian mengambil kotak cincin dari tanganku.
“Kamu akan menyesal mengambil keputusan saat emosi.”
Mungkin dahulu aku akan takut mendengar kalimat itu.
Malam itu, aku hanya membuka pintu lebih lebar.
Setelah mereka pergi, aku menghubungi fotografer. Ia masih menyelesaikan pekerjaan di kampus dan bersedia memeriksa foto-foto terakhir.
Aku dan Nisa kembali ke gedung alumni.
Halaman sudah sepi. Gelas plastik berserakan di dekat tong sampah, sementara petugas kebersihan menyapu kelopak bunga dari tangga.
Kami meminta izin mencari di area yang disebut Keisya.
Selama hampir dua jam, aku berjongkok dengan senter ponsel, memeriksa sela batu satu per satu. Lutut kebayaku kotor. Nisa beberapa kali mengingatkan bahwa aku harus beristirahat sebelum penerbangan.
Aku tahu.
Namun, pulang tanpa mencoba terasa lebih menyakitkan daripada kelelahan itu sendiri.
Menjelang tengah malam, fotografer menghampiri kami.
Dalam salah satu fotonya, liontin daun masih terlihat di meja kecil dekat pot besar. Rupanya, benda itu tidak langsung masuk ke sela batu seperti yang mereka kira.
Kami menggeser pandangan ke meja yang sekarang sudah kosong.
Petugas kebersihan mengernyit.
“Tadi barang-barang kecil di situ dikumpulkan satpam. Coba besok pagi.”
Aku menelan kecewa.
Besok pagi, aku sudah harus berada di bandara.
Nisa menyentuh bahuku.
“Aku yang urus. Kamu boleh pergi meskipun ini belum selesai.”
Kalimat itu membuatku menangis untuk pertama kalinya sejak sesi foto.
Pukul empat pagi, Ibu menelepon. Ia sudah tahu tentang pertunanganku dari Nisa.
“Maaf, Bu,” kataku. “Liontin Ayah hilang.”
Di seberang, Ibu diam sebentar.
“Kamu yang melepasnya?”
“Bukan.”
“Kalau begitu, jangan minta maaf untuk perbuatan orang lain.”
Aku menangis semakin keras.
“Aku takut pergi tanpa membawanya.”
“Ayahmu memberikan gelang itu supaya kamu ingat dia mendukungmu. Bukan supaya kamu berhenti melangkah setiap kali takut kehilangan.”
Aku berangkat dengan rantai perak terbungkus saputangan di dalam tas.
Fajar mengirim puluhan pesan. Mulanya marah, lalu memohon, kemudian menanyakan penerbanganku. Aku hanya mengirim satu balasan.
Aku aman. Untuk barang dan urusan pertunangan, hubungi Nisa.
Setelah itu, kumatikan ponsel.
Melbourne tidak langsung menyembuhkan apa pun.
Pada minggu pertama, aku salah naik trem, menangis saat makan malam, dan berkali-kali ingin menelepon seseorang hanya untuk menceritakan hari yang buruk. Aku belajar menahan dorongan menghubungi Fajar, lalu mulai menelepon Ibu atau berjalan keluar kamar.
Pekerjaan pun menuntutku belajar lagi. Gambarku dikoreksi, presentasiku terbata, dan aku pulang lelah dengan kepala penuh istilah baru.
Namun, setiap pagi aku pergi karena ingin berada di sana.
Tiga minggu kemudian, paket dari Nisa tiba.
Di dalamnya ada kotak kecil dan secarik pesan.
Satpam menyimpannya di laci barang temuan. Aku baru berhasil mengambilnya setelah menunjukkan foto dan ciri ukirannya. Maaf lama. Jangan dibuka sambil berdiri.
Aku duduk di tepi tempat tidur.
Liontin daun itu terbaring di atas kapas.
Ada goresan tipis di permukaannya, tetapi inisialku masih utuh.
Di bawah kotak terselip foto lain, dicetak oleh fotografer wisuda. Aku berdiri sendirian di depan perpustakaan, memegang map ijazah, wajah lelah tetapi tersenyum.
Pada bagian belakangnya, Nisa menulis satu kalimat.
Ternyata foto terbaikmu hari itu tidak membutuhkan dia di sebelahmu.
Beberapa bulan kemudian, setelah gelang diperbaiki, aku memakainya saat mengunjungi lokasi proyek pertamaku.
Di depan kerangka bangunan, aku mengangkat ponsel dan mengambil foto untuk Ibu.
Lalu, tanpa sadar, aku menyentuh liontin kecil di pergelangan tangan.
“Ayah,” bisikku, “aku sudah sampai.”
