Setelah Menampar Istrinya demi Wanita Lain, Arga Baru Tahu Laras Adalah Pewaris Prameswari Group yang Menentukan Nasib Proyek Rp3,4 Triliunnya

Sore itu, untuk pertama kalinya sejak mendirikan Mahendra Konstruksi, Arga merasa masa depannya hanya bergantung pada satu pertemuan.

Proyek kawasan terpadu senilai Rp3,4 triliun yang ditawarkan Prameswari Group bukan sekadar kontrak besar. Jika Mahendra Konstruksi berhasil mendapatkannya, perusahaan Arga bisa naik kelas. Bank-bank akan membuka fasilitas kredit baru, investor akan berdatangan, dan nama Arga Mahendra akan masuk ke jajaran pengusaha konstruksi yang diperhitungkan secara nasional.

Karena itulah ketika Dimas mengatakan mobil yang menjemput Laras pagi tadi berasal dari kantor pusat Prameswari Group, Arga hanya terdiam beberapa detik sebelum tertawa.

“Pasti kebetulan.”

“Tapi nomor kendaraannya sudah saya cek, Pak.”

“Laras kenal seseorang di sana mungkin.”

Dimas tidak menjawab.

Arga merapikan jasnya di depan cermin.

Baginya, kemungkinan Laras memiliki hubungan penting dengan Prameswari Group terdengar terlalu tidak masuk akal.

Empat tahun hidup bersama, Laras tidak pernah menunjukkan sesuatu yang istimewa.

Dia memakai pakaian sederhana, jarang membeli barang bermerek, bahkan masih menggunakan tas kanvas lama ketika pergi ke supermarket.

“Jangan pikirkan hal yang tidak penting,” kata Arga. “Fokus ke presentasi.”

Pukul empat sore, mobil Arga berhenti di depan gedung Prameswari Tower di kawasan Sudirman.

Beberapa jajaran direksi Mahendra Konstruksi sudah menunggunya.

Begitu memasuki ruang rapat di lantai tiga puluh dua, Arga langsung memasang senyum profesional.

Di seberang meja panjang duduk beberapa eksekutif Prameswari Group.

Namun kursi utama di ujung meja masih kosong.

“Maaf,” kata Arga kepada seorang pria berusia sekitar enam puluh tahun. “Apakah Pak Hadi akan hadir?”

Pria itu adalah Surya Atmadja, komisaris senior Prameswari Group.

Ekspresinya berubah sesaat.

“Pak Hadi meninggal dua bulan lalu.”

Senyum Arga langsung menghilang.

“Saya turut berduka. Saya tidak mengetahui kabar itu.”

Surya mengangguk.

“Sejak saat itu terjadi perubahan struktur kepemilikan. Karena proyek ini bernilai cukup besar, keputusan final akan diberikan oleh pemegang saham pengendali yang baru.”

Arga mengangguk penuh percaya diri.

“Kalau boleh tahu, siapa beliau?”

Surya belum sempat menjawab ketika pintu ruang rapat terbuka.

Semua orang dari pihak Prameswari Group berdiri.

Arga ikut berdiri secara refleks.

Suara langkah kaki terdengar mendekat.

Kemudian seorang perempuan masuk.

Jeans lama dan kaus putih yang dikenakannya pagi tadi sudah berganti dengan setelan kerja berwarna krem yang sederhana tetapi elegan.

Rambutnya diikat rapi.

Tidak ada perhiasan mencolok.

Tidak ada ekspresi marah.

Namun wajah itu sangat dikenal Arga.

Tangannya yang memegang pulpen langsung membeku.

“Laras?”

Beberapa orang menoleh kepadanya.

Laras berhenti di dekat kursi utama.

Tatapannya bertemu dengan Arga.

Tidak ada keterkejutan di wajahnya.

Seolah dia memang sudah tahu suaminya akan berada di sana.

Surya menarik kursi untuknya.

“Silakan, Bu Laras.”

Arga menatap Surya, lalu Laras, kemudian kembali menatap Surya.

“Apa maksudnya ini?”

Surya terlihat bingung.

“Pak Arga belum mengenal Ibu Laras Prameswari?”

Ruangan itu mendadak terasa terlalu sunyi.

“Beliau adalah cucu mendiang Pak Hadi Prameswari sekaligus pemegang saham pengendali baru Prameswari Group.”

Wajah Arga perlahan kehilangan warna.

Dimas yang duduk di sebelahnya bahkan tidak berani bergerak.

Laras duduk dengan tenang.

“Silakan lanjutkan presentasinya, Pak Arga.”

Nada suaranya formal.

Tidak ada sedikit pun kemarahan.

Justru itu yang membuat Arga semakin gugup.

Presentasi yang sudah dia persiapkan berminggu-minggu tiba-tiba terasa asing.

Beberapa kali dia salah menyebut angka.

Tangannya berkeringat ketika menjelaskan skema pembangunan.

Namun Laras tidak pernah memotong.

Dia mendengarkan sampai selesai.

Setelah presentasi berakhir, Surya membuka dokumen evaluasi.

“Secara teknis, proposal Mahendra Konstruksi termasuk tiga kandidat terakhir.”

Arga sedikit bernapas lega.

“Tetapi ada persoalan mengenai struktur pembiayaan.”

Direktur keuangan Prameswari Group mendorong sebuah dokumen ke tengah meja.

“Dalam enam bulan terakhir, rasio utang Mahendra Konstruksi meningkat cukup signifikan. Ada juga dua proyek yang mengalami keterlambatan pembayaran kepada subkontraktor.”

Arga langsung menjawab.

“Itu masalah arus kas sementara. Jika proyek ini disetujui, seluruh posisi keuangan kami akan jauh lebih kuat.”

Laras akhirnya berbicara.

“Jadi perusahaan Anda membutuhkan proyek Prameswari Group agar bisa memperbaiki arus kas?”

Arga terdiam.

Kalimat itu sederhana.

Namun dia tahu jawabannya bisa menghancurkan seluruh negosiasi.

“Kami melihatnya sebagai kemitraan strategis.”

Laras membuka satu halaman laporan.

“Dan bagaimana dengan jaminan pribadi senilai Rp420 miliar?”

Arga menegang.

Dia tidak pernah menceritakan hal itu kepada Laras.

“Dari mana kamu tahu?”

Laras mengangkat pandangan.

“Kita sedang berada dalam rapat bisnis, Pak Arga.”

Satu kalimat itu terasa seperti tembok yang tiba-tiba berdiri di antara mereka.

Bukan Arga.

Bukan suaminya.

Pak Arga.

Pertemuan berlangsung hampir dua jam.

Pada akhirnya Laras menutup dokumen.

“Prameswari Group tidak akan mengambil keputusan hari ini. Tim risiko akan melakukan evaluasi tambahan terhadap seluruh kandidat.”

Arga langsung menatapnya.

“Kita perlu bicara.”

“Semua hal terkait proyek dapat disampaikan melalui tim kami.”

“Bukan soal proyek.”

Laras diam.

“Lima menit,” kata Arga. “Tolong.”

Beberapa menit kemudian mereka berdiri di ruang tunggu privat.

Begitu pintu tertutup, Arga langsung bertanya.

“Kenapa kamu tidak pernah bilang?”

Laras menatapnya.

“Bilang apa?”

“Bahwa kamu cucu Hadi Prameswari.”

“Pernahkah kamu bertanya tentang keluargaku?”

Arga membuka mulut, tetapi tidak ada kata yang keluar.

Laras melanjutkan.

“Selama empat tahun, setiap kali aku mencoba bercerita tentang masa laluku, kamu bilang nanti. Setiap kali aku ingin bekerja lagi, kamu bilang tidak perlu karena penghasilanmu cukup. Lama-lama aku berhenti bercerita.”

“Aku tidak tahu.”

“Memang.”

Jawaban itu jauh lebih menyakitkan daripada bentakan.

Arga mendekat.

“Laras, soal semalam, aku salah.”

Untuk pertama kalinya, Laras melihat ketakutan di mata suaminya.

Namun anehnya, dia tidak merasakan kepuasan.

Hanya lelah.

“Kalau kamu baru meminta maaf setelah tahu siapa kakekku, itu bukan permintaan maaf yang aku butuhkan.”

“Aku meminta maaf karena menamparmu.”

“Kalau aku tetap Laras yang menurutmu tidak punya apa-apa, apakah kamu akan datang mencariku?”

Arga terdiam.

Dan diamnya sudah cukup menjadi jawaban.

Malam itu Arga pulang dengan kepala penuh kekacauan.

Maya sudah menunggunya.

“Bagaimana meeting-nya?”

Arga melemparkan kunci mobil ke meja.

“Kamu tahu Laras siapa?”

Maya mengerutkan kening.

“Ya Laras. Istrimu.”

“Dia pewaris Prameswari Group.”

Wajah Maya berubah.

“Apa?”

“Proyek Rp3,4 triliun itu sekarang berada di bawah keputusan perusahaan keluarganya.”

Maya terdiam beberapa detik.

Lalu sesuatu yang tidak diduga Arga terjadi.

“Kalau begitu kamu harus membujuk dia.”

Arga menatap Maya.

“Apa?”

“Kamu belum resmi bercerai. Minta maaf saja. Bawa bunga, perhiasan, apa pun. Setelah proyek ditandatangani, baru pikirkan lagi.”

Arga menatap perempuan yang selama ini dia bela mati-matian.

“Maksudmu aku harus pura-pura?”

Maya mendengus.

“Jangan naif, Kak. Kita sedang bicara Rp3,4 triliun.”

Untuk pertama kalinya, Arga mendengar kata “kita” dari Maya ketika membicarakan perusahaannya.

Tiba-tiba banyak hal yang sebelumnya dia abaikan terasa jelas.

Maya mulai sering datang setelah mengetahui Mahendra Konstruksi masuk tahap akhir tender Prameswari Group.

Dia selalu bertanya tentang proyek.

Tentang valuasi perusahaan.

Tentang bonus yang akan diterima Arga.

Bahkan tentang kemungkinan Arga membeli rumah baru setelah kontrak ditandatangani.

“Maya,” kata Arga perlahan. “Kenapa sebenarnya kamu kembali?”

Perempuan itu terdiam.

“Pertanyaan macam apa itu?”

“Jawab.”

Maya berdiri.

“Aku capek dituduh macam-macam.”

Dia mengambil tasnya lalu pergi.

Namun malam itu, untuk pertama kalinya Arga tidak mengejarnya.

Tiga hari kemudian, Arga datang ke apartemen sementara Laras.

Dia tidak membawa bunga.

Tidak membawa perhiasan.

Hanya sebuah amplop.

“Apa ini?” tanya Laras.

“Pernyataan tertulis bahwa aku menerima gugatan cerai tanpa menuntut aset apa pun.”

Laras menatapnya lama.

“Aku juga sudah mengakui bahwa tamparan malam itu adalah kesalahanku. Kalau kamu membutuhkan pernyataan itu untuk proses hukum, gunakan.”

Laras tidak langsung mengambil amplop tersebut.

“Kenapa?”

Arga tersenyum pahit.

“Karena ternyata kehilangan proyek tidak semenakutkan kehilangan kemampuan melihat diriku sendiri.”

Dia menunduk.

“Aku datang bukan untuk meminta kamu kembali. Aku juga tidak akan meminta proyek itu.”

Laras akhirnya menerima amplop.

“Aku benar-benar minta maaf.”

Untuk pertama kalinya, permintaan maaf itu terdengar berbeda.

Bukan karena Arga sudah berubah sepenuhnya.

Perubahan tidak terjadi dalam tiga hari.

Tetapi setidaknya kali ini dia tidak sedang menawar sesuatu.

Sebulan kemudian, perceraian mereka memasuki proses akhir.

Pada waktu yang hampir bersamaan, Prameswari Group mengumumkan pemenang tender proyek Rp3,4 triliun.

Mahendra Konstruksi tidak terpilih.

Namun keputusan itu bukan dibuat Laras seorang diri.

Bahkan sebelum evaluasi final dimulai, Laras secara resmi mengundurkan diri dari seluruh proses pengambilan keputusan yang berkaitan dengan perusahaan Arga karena konflik kepentingan.

Komite independen kemudian memilih perusahaan lain berdasarkan kemampuan keuangan, rekam jejak proyek, dan tingkat risiko.

Ketika menerima kabar tersebut, Arga hanya duduk lama di kantornya.

Dimas berdiri di depan meja.

“Pak, ada satu hal lagi.”

“Apa?”

“Bank meminta percepatan restrukturisasi utang.”

Arga memejamkan mata.

Inilah konsekuensi yang selama ini dia hindari.

Bukan hukuman Laras.

Bukan balas dendam Prameswari Group.

Melainkan akibat keputusan bisnisnya sendiri.

Enam bulan berlalu.

Arga menjual salah satu rumah investasinya, memangkas ekspansi, dan memulai restrukturisasi perusahaan.

Maya sudah lama menghilang.

Belakangan Arga mengetahui perempuan itu bertunangan dengan seorang pengusaha lain.

Anehnya, dia tidak marah.

Dia justru merasa malu karena pernah menghancurkan rumah tangganya demi seseorang yang bahkan tidak pernah benar-benar dia kenal.

Sementara itu, Laras kembali menjalani kehidupan yang sempat dia tinggalkan.

Dia tidak hanya duduk menikmati warisan.

Dia masuk ke perusahaan dari bawah struktur eksekutif, mempelajari laporan, mengunjungi proyek, berbicara dengan karyawan, dan membangun kembali hubungan dengan orang-orang yang dahulu mengenal ibunya.

Suatu sore, hampir setahun setelah perceraian mereka selesai, Laras menghadiri pembukaan pusat pendidikan yang didanai yayasan keluarga Prameswari.

Ketika hendak pulang, seorang staf menghampirinya.

“Bu Laras, ada kiriman.”

Sebuah kotak kecil.

Di dalamnya bukan perhiasan.

Bukan bunga.

Hanya sebuah kartu lama yang sudah menguning.

Laras langsung mengenalinya.

Itu kartu nama pertamanya ketika bekerja sebagai staf junior di sebuah perusahaan konsultan sebelum menikah.

Di belakang kartu itu terdapat tulisan tangan Arga.

Aku menemukannya ketika membereskan rumah. Dulu aku mengira membuatmu berhenti bekerja adalah caraku memberimu kehidupan yang nyaman. Sekarang aku sadar aku hanya memutusmu dari bagian dirimu yang paling kamu banggakan. Aku tidak meminta dimaafkan. Aku hanya ingin mengembalikan sesuatu yang seharusnya tidak pernah kubuat kamu tinggalkan.

Laras membaca tulisan itu dua kali.

Lalu memasukkan kartu tersebut ke dompetnya.

Dia tidak menelepon Arga.

Tidak pula mengirim pesan.

Beberapa hubungan memang tidak harus diperbaiki untuk memberikan pelajaran.

Ada kesalahan yang tidak bisa dihapus hanya karena seseorang akhirnya menyesal.

Namun ada pula luka yang tidak harus dibawa selamanya.

Laras berjalan menuju mobil ketika ponselnya berbunyi.

Surya menelepon.

“Bu Laras, maaf mengganggu. Ada dokumen lama milik Pak Hadi yang baru ditemukan di brankas pribadi beliau. Sepertinya ditujukan khusus untuk Ibu.”

“Apa isinya?”

“Lebih baik Ibu membacanya sendiri.”

Keesokan paginya, Laras datang ke kantor.

Di atas meja sudah tersedia sebuah amplop dengan tulisan tangan kakeknya.

Untuk Laras, cucuku.

Tangannya gemetar ketika membuka surat itu.

Isinya hanya satu halaman.

Laras, kalau surat ini sampai kepadamu, mungkin Kakek sudah tidak ada. Kakek tahu kamu memilih hidup tanpa nama keluarga kita karena ingin memastikan orang yang menikahimu mencintai dirimu, bukan Prameswari. Karena itu Kakek menghormati keputusanmu dan tidak pernah mengganggu kehidupanmu. Tetapi Kakek juga menyiapkan satu syarat terakhir dalam wasiat ini.

Laras berhenti membaca.

Matanya jatuh pada paragraf terakhir.

Seluruh saham Kakek memang diwariskan kepadamu. Tetapi jabatan tertinggi di Prameswari Group tidak otomatis menjadi milikmu. Kamu hanya boleh memimpin perusahaan jika setelah satu tahun dewan menilai kamu mampu berdiri dengan kemampuanmu sendiri, bukan karena nama keluarga.

Air mata Laras jatuh.

Tiba-tiba dia mengerti.

Warisan terbesar yang ditinggalkan kakeknya ternyata bukan saham, gedung, atau puluhan miliar rupiah.

Melainkan kesempatan untuk membuktikan bahwa dirinya tetap berharga bahkan tanpa semua itu.

Setahun kemudian, dalam rapat umum pemegang saham, dewan secara bulat menunjuk Laras sebagai Presiden Direktur Prameswari Group.

Bukan karena dia cucu Hadi Prameswari.

Melainkan karena selama setahun dia berhasil memperbaiki dua proyek bermasalah, meningkatkan efisiensi operasional, dan mempertahankan ribuan pekerjaan ketika salah satu anak perusahaan hampir mengalami restrukturisasi besar.

Saat tepuk tangan memenuhi ruangan, Laras tidak memikirkan Arga.

Dia juga tidak memikirkan Maya.

Dia hanya teringat dirinya sendiri pada malam ketika sebuah tamparan membuatnya percaya bahwa empat tahun hidupnya telah terbuang sia-sia.

Kini dia memahami sesuatu.

Malam itu memang mengakhiri pernikahannya.

Tetapi malam itu pula yang mengembalikannya kepada dirinya sendiri.

Dan terkadang, kehilangan seseorang yang tidak pernah benar-benar melihat nilai kita bukanlah akhir dari segalanya.

Justru itulah saat ketika kita akhirnya belajar melihat nilai diri kita sendiri.

Để lại một bình luận

Email của bạn sẽ không được hiển thị công khai. Các trường bắt buộc được đánh dấu *

Lên đầu trang