Di Malam Ulang Tahun Suamiku, Aku Menemukan

Malam itu, hembusan angin jalanan Jakarta terasa membekukan hingga ke tulang. Pesan singkat dari pengacaraku menggantung di layar ponsel bagaikan petir di tengah malam yang sepi. Angka saham yang tertera di sana bukan sekadar dokumen bisnis, melainkan sebuah pengkhianatan terencana yang telah menggerogoti investasi keluarga Mahendra selama berbulan-bulan. Aku menatap Reza dan Maya bergantian. Drama asisten malang dan suami yang terintimidasi yang mereka mainkan di hadapanku seketika berubah menjadi lelucon yang teramat menjijikkan.

Aku menyimpan ponselku kembali ke dalam tas dengan gerakan yang sangat tenang. Tidak ada emosi meluap-luap, tidak ada air mata yang menetes. Keheningan itu justru membuat Reza merasa tidak nyaman. Ia melangkah mendekatiku dengan raut wajah yang kembali mengeras, mencoba mengintimidasi seperti biasanya.

“Kenapa, Nadira? Mau membatalkan acara makan malam keluarga hanya karena gengsimu tidak mau duduk di kursi belakang?” tanya Reza dengan nada mencemooh yang dingin.

Aku menatapnya lurus tepat di manik matanya. “Reza, makan malam dengan ibumu tetap jadi. Tapi kamu dan Maya, ikuti mobilku dari belakang. Ada hal yang harus diselesaikan di hadapan orang tuamu.”

Reza tertawa sinis, menyisir rambutnya ke belakang dengan jari-jarinya. “Jangan konyol, Nadira. Ibu sedang tidak fit. Jangan membawa drama rumah tangga kita yang sepele ini ke hadapan Ibu.”

“Sepele?” Aku mengulang kata itu dengan senyuman tipis yang tak sampai ke mata. “Pengalihan lima belas persen saham anak perusahaan Mahendra Group atas nama Maya Lestari kamu sebut sepele?”

Begitu kata-kata itu meluncur dari bibirku, wajah Reza yang tadinya pucat pasrah seketika berubah menjadi abu-abu. Maya, yang tadinya berpura-pura mengusap air mata di pinggir jalan, mematung dengan mulut sedikit terbuka. Seluruh topeng kepolosan yang ia kenakan hancur berkeping-keping dalam satu detik.

Tanpa menunggu tanggapan mereka, aku langsung melangkah masuk ke dalam mobil jemputan yang baru saja tiba. Sepanjang perjalanan menuju kediaman utama Pradana, pikiranku bekerja dengan sangat cepat. Maya bukan sekadar simpanan biasa. Ia adalah pion yang dimanfaatkan Reza untuk mengeruk keuntungan finansial keluarga Mahendra secara perlahan sebelum ia mengajukan gugatan cerai atau membiarkan pernikahan ini mati dengan sendirinya.

Sesampainya di kediaman Pradana yang megah, suasana hangat menyambut kami. Bu Ratih duduk di ruang tengah bersama ayahnya Reza, Pak Hendra Pradana, seorang pengusaha senior yang sangat disegani. Ketika aku melangkah masuk, Bu Ratih tersenyum lebar dan langsung berdiri untuk memelukku hangat.

“Nadira, akhirnya kamu datang, Nak. Reza bilang kamu sibuk sekali di Singapura,” bisik Bu Ratih lembut sambil mengusap punggungku.

Tak lama kemudian, Reza masuk disusul oleh Maya yang mengekor di belakang dengan wujud yang amat canggung. Pak Hendra mengernyitkan alisnya begitu melihat keberadaan Maya di acara makan malam keluarga yang privat ini.

“Reza, kenapa asistenmu ikut ke sini?” tanya Pak Hendra dengan suara berat dan berwibawa.

Sebelum Reza sempat merangkai kebohongan baru, aku memotongnya dengan nada suara yang lantang dan jelas. “Maya datang ke sini untuk mengembalikan aset keluarga Mahendra, Ayah, Ibu.”

Suasana ruangan seketika berubah mencekam. Bu Ratih memandangku bingung, sementara Pak Hendra meletakkan cangkir tehnya dengan ketukan keras di meja. Reza mencoba meraih lenganku dengan kasar, “Nadira, cukup! Kita bicara di luar!”

“Lepaskan!” gertakku tegas, menepis tangannya hingga ia mundur beberapa langkah.

Aku mengeluarkan berkas transaksi yang baru saja dikirimkan pengacaraku melalui surat elektronik dan mencetaknya di kantor tadi. Aku membeberkan lembaran-lembaran kertas itu tepat di atas meja kaca di hadapan Pak Hendra dan Bu Ratih.

“Selama enam bulan terakhir, Reza telah memalsukan stempel dan tanda tangan persetujuan atas nama saya untuk mengalihkan sebagian kepemilikan saham modal ventura keluarga Mahendra kepada Maya Lestari. Bukan hanya itu, kimono, perhiasan, dan aset pribadi saya di rumah sudah ia bagi secara cuma-cuma untuk wanita ini,” terangku dengan nada dingin yang menusuk.

Pak Hendra mengambil berkas tersebut. Matanya meneliti setiap baris tulisan dengan raut wajah yang semakin menggelap. Beliau adalah pria hukum dan bisnis yang sangat paham aturan. Ketika melihat tanda tangan palsu dan nama Maya tertera di sana, beliau membanting berkas itu ke meja hingga mengejutkan semua orang di ruangan.

“Reza! Apa-apaan ini?!” teriak Pak Hendra dengan suara menggelegar. “Kamu menyalahgunakan kepercayaan keluarga Mahendra demi wanita ini?!”

Reza berlutut di hadapan ayahnya dengan tubuh bergetar. “Ayah… ini tidak seperti yang terlihat. Maya hanya membantu saya mengelola—”

“Cukup, Reza!” potong Bu Ratih yang kini menatap putranya dengan tatapan kekecewaan yang sangat mendalam. Air mata menetes dari sudut mata wanita tua itu. “Ibu tidak pernah mengajarimu menjadi pria penipu dan pengkhianat!”

Maya yang ketakutan mencoba mengundurkan diri menuju pintu keluar, tetapi dua orang penjaga rumah yang sigap atas isyarat Pak Hendra langsung menutup akses keluar. Pak Hendra menatap Maya dengan dingin. “Jangan coba-coba melangkah keluar dari rumah ini sebelum tim hukum kami dan kepolisian tiba untuk mengamankan bukti penggelapan modal ini.”

Maya tersungkur di lantai, menangis histeris sambil memohon ampun, menyeret nama Reza dan menyalahkannya atas semua ide pengalihan aset tersebut. Reza hanya bisa menunduk pasrah di lantai, kehilangan seluruh keangkuhan dan kekuasaan yang selama ini ia banggakan.

Aku berdiri tegak di tengah kehancuran mereka. Tidak ada kepuasan dendam yang meluap, yang ada hanyalah kelegaan yang luar biasa karena telah terlepas dari cengkeraman kebohongan yang beracun.

Aku berjalan mendekati Bu Ratih, mencium tangannya dengan takzim untuk terakhir kalinya. “Ibu, terima kasih atas segala kebaikan Ibu selama tiga tahun ini. Tapi ikatan ini harus berakhir di sini. Surat gugatan cerai dan laporan kepolisian atas tindak pidana pemalsuan dokumen sudah resmi diproses malam ini.”

Tanpa memandang Reza yang terus memanggil namaku dengan suara terisak, aku berbalik dan melangkah keluar dari pintu besar rumah keluarga Pradana. Di luar, hujan telah reda, menyisakan udara malam yang bersih dan segar. Aku menghirup napas dalam-dalam, menyadari bahwa terkadang hilangnya sesuatu dalam hidup kita bukan sebuah kerugian, melainkan cara alam semesta membersihkan jalan agar kita bisa melangkah menuju masa depan yang lebih bermakna.

Để lại một bình luận

Email của bạn sẽ không được hiển thị công khai. Các trường bắt buộc được đánh dấu *

Lên đầu trang