DI TENGAH RESEPSI PERNIKAHANKU, MANTAN ISTRIKU TIBA-TIBA DATANG

“Bu, sejak kapan Ibu tahu Keisha terlibat dalam semua ini?”

Ibuku, Bu Ratna, tidak langsung menjawab. Tangannya masih menggenggam map biru yang baru saja diberikannya kepadaku.

“Arga, Ibu baru menemukan dokumen itu tadi. Tapi ada sesuatu yang harus kamu ketahui.”

“Apa lagi, Bu?”

“Keisha pernah datang menemui Ibu tiga minggu sebelum perceraianmu dengan Nadira disahkan.”

Aku menatapnya tidak percaya.

“Untuk apa?”

“Ia membawa hasil pemeriksaan kehamilan Nadira.”

Darahku seolah berhenti mengalir.

“Jadi Ibu sudah tahu Nadira hamil?”

“Ibu tahu dia sedang menjalani program bayi tabung. Keisha mengatakan Nadira menggunakan embrio kalian tanpa persetujuanmu. Dia meminta Ibu tidak memberitahumu sampai urusan perceraian selesai.”

Aku mundur selangkah.

“Dan Ibu percaya begitu saja?”

Air mata mengalir di pipi Ibu.

“Ibu salah, Arga. Ibu pikir Keisha sedang melindungimu.”

Aku tertawa getir.

“Semua orang mengaku ingin melindungiku. Tapi kenapa justru aku menjadi orang terakhir yang mengetahui kebenarannya?”

Aku mengambil ponsel dan menelepon Keisha.

Tidak dijawab.

Aku mencoba lagi.

Kali ini nomor tersebut tidak dapat dihubungi.

Nadira muncul di ambang pintu. Wajahnya tampak pucat, sementara satu tangannya menopang perut yang semakin besar.

“Arga, kamu harus berhenti mengejar Keisha sendirian.”

Aku menatapnya.

“Kamu tahu dia akan melarikan diri?”

“Aku menduga dia akan panik begitu kamu mengetahui tentang surat kuasa itu.”

“Kenapa kamu tidak memberitahuku lebih awal?”

Nadira menghela napas.

“Karena aku baru mendapatkan salinannya kemarin. Selama berbulan-bulan aku mencoba mencari tahu bagaimana persetujuan transfer embrio itu bisa terbit.”

Aku menatap perutnya.

“Apa sebenarnya yang terjadi tujuh bulan lalu, Nadira?”

Mantan istriku terdiam beberapa saat.

“Dua minggu setelah kamu mengusirku, aku mendapat telepon dari klinik. Mereka mengatakan persetujuan penggunaan embrio sudah lengkap dan menanyakan apakah aku ingin melanjutkan jadwal transfer.”

Aku membeku.

“Kamu tidak curiga?”

“Aku curiga. Tapi saat itu aku masih berharap kita bisa memperbaiki hubungan. Aku mengira kamu diam-diam memberikan persetujuan karena masih ingin memiliki anak bersamaku.”

Matanya mulai berkaca-kaca.

“Aku datang ke klinik dan menanyakan langsung. Mereka menunjukkan dokumen atas namamu. Aku kemudian menandatangani persetujuanku sendiri.”

Aku menunduk.

“Jadi kamu memang memilih melanjutkan program itu?”

“Iya. Dan itu keputusan yang seharusnya kubicarakan langsung denganmu. Aku menyesal tidak melakukannya.”

Aku tidak mampu menjawab.

Nadira mengusap air matanya.

“Aku baru mengetahui tanda tanganmu kemungkinan dipalsukan ketika mencoba meminta salinan lengkap dokumen setelah dinyatakan hamil.”

Aku menatapnya.

“Kenapa kamu tetap mempertahankan kehamilan ini?”

Nadira mengangkat wajah.

“Karena bayi ini sudah ada dalam kandunganku, Arga. Dia bukan kesalahan yang harus kuhapus hanya karena orang dewasa membuat keputusan buruk.”

Dadaku terasa sesak.

Selama dua tahun pernikahan, kami menghabiskan begitu banyak malam membayangkan seperti apa wajah anak kami kelak.

Namun, sekarang, ketika impian itu hampir menjadi kenyataan, kami justru berdiri sebagai dua orang asing.

“Aku ingin memastikan prosedur itu benar-benar menggunakan embrio kita,” kataku perlahan.

Nadira mengangguk.

“Aku juga. Dan aku sudah meminta klinik menyimpan seluruh catatan laboratorium.”

Tiba-tiba ponselku berdering.

Nomor yang muncul adalah milik Rudi, kepala keamanan perusahaan.

“Pak Arga, maaf mengganggu. Ada masalah.”

“Apa?”

“Bu Keisha datang ke kantor pusat sekitar dua puluh menit lalu. Beliau meminta petugas IT menghapus arsip rekaman dan mengakses server keuangan.”

Aku langsung berdiri.

“Jangan izinkan siapa pun menghapus data!”

“Sudah kami hentikan, Pak. Tapi Bu Keisha pergi sebelum kami sempat meminta penjelasan.”

Aku menggenggam ponsel semakin erat.

“Pastikan seluruh perangkat dan catatan akses diamankan sesuai prosedur. Saya segera ke sana.”

Aku menoleh kepada Nadira.

“Kamu pulang dulu. Aku akan menyelesaikan masalah ini.”

Namun, Nadira menggeleng.

“Tidak, Arga. Masalah ini juga menyangkut anakku. Aku akan ikut sampai semuanya jelas.”

Aku ingin membantah, tetapi melihat keteguhan di matanya, aku akhirnya mengangguk.

Setelah meminta seorang kerabat mengantarnya beristirahat, aku pergi bersama Laras, pengacara perusahaan yang kuhubungi melalui telepon.

Di kantor pusat, tim keamanan memperlihatkan catatan akses Keisha.

Delapan bulan lalu, akun administrasinya digunakan untuk membuka laptop milik Nadira yang tertinggal di ruang kerjaku.

Pada malam yang sama, sistem mencatat transaksi Rp680 juta dari rekening perusahaan.

Aku menatap layar komputer.

“Apakah ini cukup untuk membuktikan Keisha yang melakukannya?”

Laras menggeleng.

“Belum. Kita perlu memeriksa otorisasi transaksi, perangkat yang digunakan, dan penerima uang. Tapi catatan ini memberi arah penyelidikan.”

Rudi kemudian menyerahkan sebuah laporan.

“Pak, kami juga menemukan bahwa rekening penerima atas nama sepupu Bu Nadira hanya digunakan sebagai rekening perantara.”

Aku langsung menoleh.

“Maksudnya?”

“Sebagian besar dana dipindahkan lagi dalam beberapa tahap ke rekening PT Kencana Artha Konsultan.”

Aku mengernyit.

“Perusahaan siapa?”

Rudi membuka dokumen.

“Direkturnya bernama Damar Adiningrum.”

Nama belakang itu membuatku membeku.

Adiningrum.

Sama seperti Keisha.

“Damar itu siapa?”

“Berdasarkan data yang kami dapatkan, dia kakak kandung Bu Keisha.”

Aku memejamkan mata.

Jadi uang yang selama ini kutuduhkan dicuri Nadira ternyata mengalir ke perusahaan keluarga Keisha.

Tetapi satu pertanyaan masih menggangguku.

Mengapa Keisha justru membantu Nadira menjalani program bayi tabung?

Kalau tujuannya merebutku, bukankah kehamilan Nadira akan menjadi ancaman terbesar?

Jawabannya datang ketika Laras menemukan sebuah dokumen tambahan di arsip administrasi.

Dokumen itu berjudul Rancangan Perjanjian Pengelolaan Aset Keluarga.

Aku membukanya.

Di dalamnya terdapat rincian aset pribadiku, saham perusahaan, serta ketentuan mengenai dana perwalian yang pernah kusiapkan untuk calon anakku.

Dua tahun lalu, ketika aku dan Nadira menjalani program bayi tabung, aku memang membuat perencanaan keuangan.

Aku ingin memastikan anak kami kelak memiliki dana pendidikan dan perlindungan finansial.

Namun, dokumen yang sedang kubaca berbeda.

Ada sebuah rancangan ketentuan tambahan yang menyatakan bahwa apabila aku meninggal atau dinyatakan tidak mampu mengelola aset, pasangan sahku akan diusulkan menjadi pengelola sementara dana keluarga sampai anak mencapai usia dewasa.

Aku menatap Laras.

“Dokumen ini belum pernah kutandatangani.”

Laras mengangguk.

“Dan ketentuan tersebut tidak otomatis berlaku. Tapi tampaknya seseorang sedang menyiapkan skema untuk mendapatkan kendali atas asetmu.”

Aku mulai memahami pola yang mengerikan.

Keisha ingin Nadira memiliki anak kandungku.

Namun, ia juga ingin Nadira tersingkir dari kehidupanku.

Jika aku menikah dengan Keisha dan suatu hari kehilangan kendali atas perusahaan, ia berharap bisa menempatkan dirinya sebagai pengelola aset yang diperuntukkan bagi anakku.

Aku menelan ludah.

“Jadi bayi ini bukan penghalang bagi Keisha.”

Laras menatapku serius.

“Justru mungkin menjadi bagian dari rencananya.”

Malam itu, aku menerima pesan dari Keisha.

Arga, kalau kamu ingin mengetahui semuanya, datanglah ke apartemen Damar. Sendirian.

Aku menunjukkan pesan tersebut kepada Laras.

Ia langsung menggeleng.

“Jangan datang sendirian. Kita sudah memiliki cukup alasan untuk menyerahkan bukti kepada penyidik.”

Aku mengangguk.

Kami melaporkan dugaan penggelapan dan pemalsuan dokumen kepada kepolisian, lalu menyerahkan salinan bukti yang sudah dikumpulkan.

Keesokan harinya, Keisha menghubungiku lagi.

Kali ini ia meminta bertemu di kantor pengacaranya.

Aku datang bersama Laras.

Begitu melihatku, Keisha langsung menangis.

“Arga, aku bisa menjelaskan semuanya.”

Aku duduk di hadapannya.

“Mulai dari uang Rp680 juta.”

Keisha menunduk.

“Damar terlilit utang. Dia memintaku membantu mengambil uang perusahaan untuk sementara.”

“Kamu menggunakan laptop Nadira?”

Keisha tidak menjawab.

Aku menatapnya dingin.

“Lalu kamu membuatku percaya bahwa istriku mencuri uang?”

Air matanya mengalir semakin deras.

“Aku mencintaimu, Arga.”

Aku menggeleng.

“Cinta tidak membuat seseorang menghancurkan hidup orang lain.”

Keisha terdiam.

Aku melanjutkan.

“Kenapa kamu mengurus persetujuan transfer embrio?”

Ia menggigit bibir.

“Aku tahu kamu sangat ingin menjadi ayah. Aku juga tahu Nadira tidak akan berhenti mencintaimu selama masih ada harapan memiliki anak bersamamu.”

“Jadi?”

“Aku pikir kalau dia hamil, dia akan berhenti memperjuangkan pernikahan kalian dan fokus membesarkan anaknya. Sementara kamu akan menikah denganku.”

Aku merasa mual mendengarnya.

“Dan setelah itu kamu ingin menguasai dana yang kusiapkan untuk anak tersebut?”

Keisha langsung menatapku.

“Damar yang membuat rancangan itu. Aku tidak pernah berniat menyakiti bayinya.”

“Tapi kamu berniat menggunakan keberadaannya untuk mendapatkan uang.”

Keisha menangis tanpa menjawab.

Aku memandang perempuan yang baru kemarin mengucapkan janji pernikahan denganku.

Riasan pengantinnya sudah hilang.

Tidak ada lagi gaun putih atau senyum manis di hadapan ratusan tamu.

Yang tersisa hanyalah seseorang yang telah membangun hubungan kami di atas kebohongan.

“Aku akan mengurus pemisahan kita melalui proses hukum,” kataku.

Keisha meraih tanganku.

“Arga, tolong. Kita baru menikah.”

Aku menarik tanganku perlahan.

“Justru karena baru menikah, aku tidak mau menghabiskan bertahun-tahun lagi untuk mempertahankan sesuatu yang sejak awal dibangun dengan penipuan.”

Aku meninggalkan ruangan tanpa menoleh.

Beberapa minggu kemudian, penyelidikan terhadap transaksi perusahaan terus berjalan. Damar dan Keisha dimintai keterangan mengenai dugaan penyalahgunaan dana dan pemalsuan dokumen.

Klinik fertilitas juga melakukan pemeriksaan internal terkait perubahan nomor kontak, verifikasi persetujuan, dan prosedur transfer embrio.

Catatan laboratorium menunjukkan bahwa embrio yang ditransfer kepada Nadira berasal dari program yang kami jalani ketika masih menikah. Namun, persoalan persetujuan palsu tetap menjadi masalah serius yang harus diperiksa secara terpisah.

Aku tidak lagi memandang kehamilan Nadira sebagai sesuatu yang harus diperdebatkan di depan orang banyak.

Aku justru mulai memikirkan seorang bayi yang sebentar lagi lahir ke dunia dengan begitu banyak konflik yang tidak pernah dimintanya.

Suatu sore, aku menemui Nadira di sebuah taman dekat apartemennya.

Ia sedang duduk di bangku sambil membaca buku panduan kehamilan.

Ketika melihatku, ia tersenyum kecil.

“Ada apa, Arga?”

Aku duduk di sampingnya.

“Aku ingin meminta maaf.”

Nadira menutup bukunya.

“Untuk apa?”

“Untuk semua hal yang pernah kukatakan. Untuk malam ketika aku mengusirmu. Untuk saat-saat ketika kamu mencoba menjelaskan, tapi aku memilih mempercayai orang lain.”

Nadira terdiam cukup lama.

Kemudian ia mengusap perutnya.

“Aku pernah sangat membencimu.”

Aku menunduk.

“Aku tahu.”

“Tapi setelah hamil, aku sadar tidak ingin anakku tumbuh dengan mendengar cerita buruk tentang ayahnya setiap hari.”

Air mataku mengalir.

“Nadira, aku tidak akan memintamu kembali hanya karena kamu mengandung anakku.”

Ia menatapku.

“Aku juga belum siap kembali, Arga.”

Aku mengangguk.

“Tapi kalau kamu mengizinkan, aku ingin hadir sebagai ayahnya.”

Nadira tersenyum tipis.

“Kita mulai dari situ.”

Dua bulan kemudian, Nadira melahirkan seorang bayi perempuan yang sehat di sebuah rumah sakit di Surabaya.

Aku berada di ruang tunggu ketika perawat memanggil namaku.

“Pak Arga, bayinya sudah lahir.”

Aku masuk dengan langkah gemetar.

Nadira terbaring lelah, tetapi wajahnya dipenuhi kelegaan.

Di sampingnya terdapat bayi kecil yang dibungkus selimut putih.

Ketika perawat meletakkannya dalam pelukanku, aku langsung menangis.

Begitu kecil.

Begitu hangat.

Dan sama sekali tidak tahu betapa rumitnya jalan yang harus dilalui sebelum ia lahir.

“Nadira,” bisikku, “siapa namanya?”

Mantan istriku tersenyum.

“Alya.”

Aku menatap bayi itu.

“Alya Pratama?”

Nadira mengangguk.

“Aku ingin dia memiliki nama ayahnya. Bukan karena kita harus kembali bersama, tapi karena dia berhak mengetahui asal-usulnya.”

Aku menangis semakin keras.

Namun, kejutan terbesar datang ketika Nadira mengeluarkan sebuah amplop kecil dari laci samping tempat tidur.

“Ada sesuatu yang belum pernah kuberikan kepadamu.”

Aku membukanya.

Di dalamnya terdapat selembar kertas tua.

Tulisan tanganku sendiri.

Aku langsung mengenalinya.

Dua tahun lalu, sebelum menjalani prosedur pengambilan sel telur, dokter pernah meminta kami menuliskan harapan untuk calon anak kami.

Aku bahkan sudah lupa pernah melakukannya.

Di kertas itu tertulis:

Untuk anakku nanti.

Kalau suatu hari kamu membaca surat ini, Ayah ingin kamu tahu bahwa kamu sudah dicintai bahkan sebelum Ayah melihat wajahmu.

Ayah mungkin tidak akan selalu menjadi manusia yang sempurna.

Tapi Ayah berjanji akan terus belajar menjadi orang yang pantas kamu panggil Ayah.

Tanganku gemetar.

Aku membaca kalimat itu berkali-kali.

Dua tahun lalu, aku menuliskan janji tersebut dengan penuh harapan.

Namun, ketika Nadira benar-benar mengandung anak kami, aku justru hampir membiarkan kebohongan menghancurkan kesempatan untuk menepatinya.

Aku menatap Alya yang tertidur dalam pelukanku.

“Ayah terlambat datang, Sayang.”

Nadira menggeleng perlahan.

“Tidak, Arga. Kamu datang sebelum dia harus mencarimu.”

Aku memandang mantan istriku dengan mata berkaca-kaca.

Untuk pertama kalinya, aku benar-benar memahami sesuatu.

Aku tidak bisa memperbaiki masa lalu hanya dengan meminta maaf.

Aku tidak bisa menghapus tuduhan, perceraian, atau bulan-bulan penuh kesepian yang harus dilalui Nadira.

Namun, aku masih bisa memilih menjadi manusia yang lebih baik mulai hari itu.

Aku bisa hadir ketika Alya sakit.

Mengantarnya ke sekolah.

Mendengarkan ceritanya.

Dan memastikan ibunya tidak pernah lagi harus berjuang sendirian hanya karena aku terlalu cepat menghakimi.

Aku mencium kening putriku dengan lembut.

Di luar jendela, matahari sore mulai tenggelam di balik gedung rumah sakit.

Dulu, aku mengira keluarga yang bahagia harus selalu terlihat sempurna.

Pernikahan mewah.

Rumah besar.

Foto bersama yang dipajang di ruang tamu.

Namun, kini aku tahu bahwa keluarga tidak dibangun dari penampilan yang indah di hadapan orang lain.

Keluarga dibangun dari kejujuran, tanggung jawab, dan keberanian memperbaiki kesalahan.

Aku tidak tahu apakah suatu hari Nadira akan kembali menjadi istriku.

Dan aku tidak ingin memaksanya.

Untuk sekarang, cukup bagiku mengetahui bahwa seorang bayi perempuan bernama Alya telah memberiku kesempatan kedua.

Bukan untuk mendapatkan kembali kehidupan lamaku.

Melainkan untuk menjadi ayah yang seharusnya sudah kupersiapkan sejak dua tahun lalu.

Karena terkadang, keajaiban terbesar bukanlah ketika seseorang mendapatkan apa yang selama ini diinginkannya.

Melainkan ketika ia akhirnya memahami tanggung jawab yang menyertai keinginan tersebut.

Để lại một bình luận

Email của bạn sẽ không được hiển thị công khai. Các trường bắt buộc được đánh dấu *

Lên đầu trang