DIA MENUDUH TUKANG GAS MEMANFAATKAN IBU KANDUNGNYA YANG LANSIA, TAPI REKAMAN CCTV MALAH BONGKAR KEJAHATAN BESAR YANG DILAKUKAN OLEH ANAK-ANAKNYA SENDIRI!

Tangan Maya gemetar hebat.

Ponsel di genggamannya terlepas dan jatuh di atas meja makan.

Untuk beberapa detik, Maya tidak mampu berkata apa-apa. Suara Dimas dari rekaman CCTV tadi seolah masih menggema di kepalanya.

Uang tidak bisa duduk diajak minum kopi bareng Ibu.

Kalimat sederhana itu terasa jauh lebih menyakitkan daripada makian.

Maya menatap ibunya.

Bu Heni berdiri beberapa langkah darinya dengan kedua tangan terlipat di depan dada. Perempuan berusia 77 tahun itu tidak menangis. Justru ketenangannya membuat Maya semakin merasa bersalah.

“Kenapa Ibu tidak pernah cerita kalau Dimas sering membantu?”

Bu Heni tersenyum getir.

“Kalau Ibu cerita, kamu akan punya waktu mendengarkan?”

Maya terdiam.

Pertanyaan itu menghantam tepat di tempat yang paling sakit.

Bu Heni kemudian berjalan menuju lemari kayu di sudut ruang tamu. Dari laci paling bawah, ia mengeluarkan sebuah map cokelat yang terlihat sudah kusut.

“Kalau kamu memang mau melihat CCTV, jangan cuma lihat Dimas.”

Bu Heni meletakkan map itu di meja.

“Lihat kakak dan adikmu juga.”

Maya mengernyit.

“Rendy dan Erik?”

Bu Heni tidak menjawab.

Maya kembali mengambil ponselnya.

Ia membuka rekaman CCTV dari dua bulan sebelumnya dan mempercepat video.

Awalnya tidak ada yang aneh.

Sampai ia menemukan rekaman ketika Rendy datang ke rumah pada suatu Selasa siang.

Maya bahkan tidak tahu kakaknya pernah datang.

Dalam video itu, Rendy memasuki rumah sambil membawa beberapa lembar dokumen.

Ia duduk bersama Bu Heni di meja makan.

“Ibu tanda tangan di sini saja.”

“Ini apa?”

“Dokumen bank. Buat memperbarui data rekening Ibu.”

Bu Heni mengambil kacamatanya.

Namun sebelum sempat membaca, Rendy menunjuk beberapa bagian kertas.

“Enggak usah dibaca semua, Bu. Panjang. Aku anak Ibu sendiri.”

Bu Heni akhirnya menandatangani tiga lembar dokumen.

Maya memperbesar layar.

Jantungnya langsung berdegup lebih cepat.

Di salah satu lembar terlihat jelas logo sebuah perusahaan pembiayaan.

“Itu bukan dokumen bank,” gumam Maya.

Bu Heni mengangguk.

“Teruskan.”

Maya membuka rekaman berikutnya.

Dua minggu kemudian, Rendy datang lagi. Kali ini bersama seorang pria berkemaja putih yang membawa tas dokumen.

Pria itu memotret ruang tamu, halaman depan, bahkan bagian luar rumah.

Maya semakin bingung.

Kemudian terdengar suara pria tersebut.

“Kalau sertifikat asli sudah ada, proses agunannya bisa cepat, Pak.”

Darah Maya seperti berhenti mengalir.

Agunan.

Rumah ibu mereka sedang dijadikan jaminan.

Maya langsung berdiri.

“Kak Rendy menggadaikan rumah ini?”

Bu Heni masih belum menjawab.

Maya membuka map cokelat di atas meja.

Di dalamnya terdapat fotokopi sertifikat rumah, surat kuasa, dan dokumen pinjaman senilai hampir Rp900 juta.

Nama pemohon tercantum atas nama Bu Heni.

Namun nomor rekening pencairannya bukan milik Bu Heni.

Maya mengenali nomor rekening itu.

Itu rekening perusahaan milik Rendy.

“Astaga…”

Maya merasa lututnya melemas.

Belum selesai keterkejutannya, Bu Heni mengeluarkan satu amplop lagi.

“Kalau Rendy mengambil rumah Ibu, Erik mengambil uang Ibu.”

Maya menatap ibunya tidak percaya.

Bu Heni memperlihatkan buku rekening.

Selama hampir setahun, Erik mengatakan kepada kakak-kakaknya bahwa biaya obat dan dokter ibu mereka meningkat. Ia meminta Maya dan Rendy mengirim tambahan uang beberapa kali.

Namun dari catatan rekening Bu Heni, biaya pengobatan sebenarnya tidak sebesar yang dikatakan Erik.

Lebih buruk lagi, beberapa transfer keluar rutin dikirim dari rekening Bu Heni menuju sebuah rekening digital.

Totalnya lebih dari Rp180 juta.

“Itu rekening Erik?” tanya Maya.

Bu Heni menggeleng.

“Rekening istrinya.”

Maya menutup mulut.

“Kenapa Ibu diam saja?”

Bu Heni duduk perlahan.

“Karena Ibu ingin tahu sejauh mana anak-anak Ibu akan pergi.”

Maya menatap wajah tua itu.

Tiba-tiba ia menyadari sesuatu.

“Ibu sudah tahu semuanya?”

“Sudah.”

“Sejak kapan?”

“Sejak tiga bulan lalu.”

Maya hampir tidak percaya.

“Lalu kenapa Ibu tidak lapor polisi?”

Bu Heni menghela napas panjang.

“Karena sebelum melapor, Ibu ingin memastikan satu hal.”

“Apa?”

Bu Heni menatapnya lurus.

“Apakah masih ada satu saja anak Ibu yang datang ke rumah ini karena ingin melihat Ibu, bukan karena uang.”

Maya merasa dadanya seperti ditusuk.

Ia tidak lebih baik.

Ia memang tidak mengambil rumah.

Ia memang tidak mencuri uang.

Tetapi selama empat bulan, ia bahkan tidak pernah menyediakan satu sore untuk makan bersama ibunya.

Malam itu Maya menelepon Rendy.

“Kak, besok datang ke rumah Ibu.”

“Ada apa?”

“Ibu mau membicarakan pembagian aset.”

Rendy terdiam sebentar.

“Aset?”

“Iya. Rumah sama tabungan.”

Jawaban Rendy datang jauh lebih cepat daripada yang Maya harapkan.

“Jam berapa?”

Maya menutup telepon dengan perasaan mual.

Ia kemudian menelepon Erik.

Adiknya awalnya mengatakan sedang sibuk di Surabaya.

Namun ketika Maya menyebut Bu Heni ingin membicarakan warisan dan kemungkinan menjual rumah Buah Batu, nada Erik langsung berubah.

“Aku cari penerbangan malam ini.”

Keesokan harinya, ketiga anak Bu Heni akhirnya duduk di meja makan yang sama.

Sesuatu yang tidak pernah terjadi hampir dua tahun.

Rendy datang mengenakan kemeja rapi.

Erik tiba membawa buah tangan mahal dari bandara.

Maya duduk diam di samping ibunya.

Rendy membuka pembicaraan.

“Jadi Ibu mau jual rumah?”

Bu Heni tersenyum.

“Ibu cuma ingin membicarakan siapa yang pantas mengurus harta Ibu.”

Rendy langsung membungkukkan badan sedikit.

“Kalau masalah begitu, sebaiknya memang dibicarakan dari sekarang.”

Erik mengangguk.

“Benar. Biar nanti enggak ribut.”

Bu Heni memandang kedua putranya bergantian.

“Lalu menurut kalian, siapa yang paling pantas?”

Rendy tersenyum kecil.

“Aku anak paling tua.”

Erik langsung menyela.

“Tapi selama ini biaya kesehatan Ibu aku yang tanggung.”

Maya hampir tertawa mendengar kebohongan itu.

Pertengkaran kecil mulai terjadi.

Rendy mengungkit biaya listrik.

Erik membahas obat.

Keduanya bahkan mulai menghitung jumlah uang yang pernah mereka keluarkan untuk ibu mereka.

Bu Heni mendengarkan selama hampir sepuluh menit.

Kemudian ia berdiri.

“Sudah?”

Keduanya diam.

Bu Heni mengambil remote televisi.

Layar besar di ruang keluarga menyala.

Video CCTV mulai diputar.

Wajah Rendy langsung berubah ketika rekaman dirinya membawa dokumen pinjaman muncul.

“Kak Rendy,” kata Maya dingin, “mau jelaskan?”

Rendy berdiri.

“Itu bukan seperti yang kalian pikir.”

Video berikutnya menunjukkan pria dari perusahaan pembiayaan memotret rumah.

Rendy pucat.

“Aku cuma pinjam sementara buat menyelamatkan perusahaan.”

“Dengan memalsukan tujuan surat kuasa Ibu?” Maya membentak.

“Aku akan bayar!”

“Lalu kenapa Ibu tidak diberi tahu?”

Rendy tidak menjawab.

Bu Heni mengganti video.

Kini bukti transfer yang berkaitan dengan Erik muncul di layar.

Wajah Erik ikut berubah.

“Bu, aku bisa jelaskan.”

“Jelaskan uang seratus delapan puluh juta itu.”

Erik mulai berkeringat.

“Itu… investasi.”

“Investasi siapa?”

Erik terdiam.

Bu Heni menatap kedua putranya.

Anehnya, tidak ada kemarahan di wajahnya.

Hanya kelelahan.

“Ibu melahirkan kalian bukan untuk punya tiga mesin transfer.”

Ruangan mendadak sunyi.

“Ibu tidak pernah menghitung berapa uang yang kalian kirim.”

Bu Heni menepuk dadanya perlahan.

“Ibu menghitung berapa kali pintu itu terbuka dan salah satu anak Ibu masuk sambil bilang, Bu, hari ini kita makan apa?”

Maya menundukkan kepala.

Air matanya jatuh.

Namun kejutan belum selesai.

Bel rumah berbunyi.

Maya membukanya.

Dimas berdiri di depan pintu.

Ia tidak mengenakan seragam agen gas lagi.

Di sampingnya berdiri seorang pria berkacamata membawa tas kerja.

Dimas terlihat canggung ketika melihat seluruh keluarga berkumpul.

“Bu Heni, saya datang seperti yang Ibu minta.”

Rendy langsung berdiri.

“Ngapain tukang gas itu datang?”

Dimas tidak menjawab.

Pria berkacamata di sebelahnya maju.

“Saya Arief, kuasa hukum Bu Heni.”

Wajah Rendy langsung membeku.

Arief mengeluarkan dokumen.

Bu Heni ternyata sudah mencabut surat kuasa yang pernah diberikan kepada Rendy dan mengirimkan keberatan resmi kepada perusahaan pembiayaan sebelum pinjaman dapat dibebankan secara sempurna atas rumah tersebut.

Bukti transfer terkait Erik juga sudah dikumpulkan.

Namun Bu Heni belum melaporkan kedua anaknya.

Ia memberikan satu kesempatan.

Rendy harus mengembalikan seluruh dana yang sudah dicairkan dan membatalkan proses jaminan.

Erik harus mengembalikan uang ibunya.

Jika tidak, dokumen akan diteruskan kepada pihak berwenang.

Erik menatap Dimas.

“Dia yang menghasut Ibu?”

Bu Heni langsung menghentakkan telapak tangannya ke meja.

Untuk pertama kalinya suaranya meninggi.

“Jangan hina dia!”

Semua terdiam.

“Kalian tahu kenapa Dimas ada di sini?”

Tidak ada yang menjawab.

“Karena dia yang pertama sadar ada orang datang memotret rumah.”

Maya menoleh kepada Dimas.

Ternyata suatu hari ketika mengantar gas, Dimas melihat seorang pria asing mengambil gambar sertifikat dan bagian depan rumah.

Ia merasa curiga.

Dimas bertanya kepada Bu Heni.

Dari percakapan itulah Bu Heni mulai menyadari dokumen yang pernah ditandatanganinya bukan sekadar pembaruan data bank.

Dimas kemudian membantu menghubungi Arief.

Bukan karena Dimas mengenal pengacara mahal.

Arief adalah teman SMA-nya yang bekerja di lembaga bantuan hukum.

“Kalau Dimas tidak bertanya hari itu,” kata Bu Heni, “mungkin rumah ini sekarang sudah jadi jaminan utang Rendy.”

Maya merasa tenggorokannya tercekat.

Laki-laki yang ia tuduh memanfaatkan ibunya justru orang yang menyelamatkan rumah ibunya.

Sementara orang-orang yang memiliki darah yang sama dengan Bu Heni justru hampir mengambil semuanya.

Maya berdiri dan menghampiri Dimas.

“Mas…”

Suaranya pecah.

“Saya yang melaporkan Mas ke agen.”

Dimas terdiam.

“Saya membuat Mas diskors.”

“Saya tahu.”

Maya mengangkat wajah.

“Dari mana?”

“Atasan saya bilang keluarga Bu Heni yang melapor.”

Air mata Maya kembali mengalir.

“Kenapa Mas tidak datang marah?”

Dimas tersenyum tipis.

“Kalau saya datang marah-marah, Mbak akan makin yakin saya orang jahat.”

Maya tidak sanggup menjawab.

Hari itu juga ia pergi bersama Dimas ke pangkalan gas.

Di depan supervisor dan pemilik agen, Maya mencabut laporannya.

Ia menunjukkan rekaman CCTV dan mengakui bahwa tuduhannya dibuat berdasarkan prasangka.

Dimas akhirnya mendapatkan pekerjaannya kembali.

Namun sesuatu dalam keluarga Bu Heni sudah berubah selamanya.

Rendy menjual salah satu mobilnya dan sebagian saham perusahaan untuk mengembalikan dana pinjaman.

Erik mencicil uang yang telah diambilnya.

Bu Heni tidak memutus hubungan dengan keduanya.

Tetapi ia mencabut semua akses mereka terhadap rekening, dokumen, dan asetnya.

Maya sendiri melakukan sesuatu yang berbeda.

Ia tidak berjanji akan mengirim uang lebih banyak.

Ia justru mengurangi lembur setiap Jumat.

Setiap Jumat sore, mobilnya berhenti di depan rumah tua di Buah Batu.

Kadang ia membawa makanan.

Kadang tidak membawa apa-apa.

Mereka memasak bersama, menyiram tanaman, atau sekadar duduk sambil minum kopi.

Tiga bulan kemudian, Dimas datang mengantar gas seperti biasa.

Bu Heni sedang duduk di teras bersama Maya.

Setelah memasang tabung baru, Dimas hendak pergi.

Bu Heni memanggilnya.

“Dimas.”

“Iya, Bu?”

“Sebentar.”

Bu Heni masuk ke rumah dan kembali membawa toples kaca tempat ia biasa menyimpan uang receh.

Ia mengeluarkan selembar uang Rp50.000.

Maya langsung tertawa kecil.

Dimas buru-buru mundur.

“Waduh, jangan lagi, Bu.”

Bu Heni ikut tertawa.

“Siapa bilang buat kamu?”

Ia menyerahkan uang itu kepada Maya.

“Pergi beli martabak.”

Maya mengernyit.

“Kok aku?”

Bu Heni menunjuk Dimas.

“Karena Dimas sudah angkat galon, pasang gas, ganti lampu, bahkan menyelamatkan rumah Ibu.”

Kemudian ia menunjuk Maya.

“Sekarang giliran anak Ibu yang kerja sedikit.”

Mereka bertiga tertawa.

Namun sebelum Maya pergi, Bu Heni memanggilnya sekali lagi.

“Maya.”

Maya menoleh.

Bu Heni tersenyum.

“Kamera CCTV itu nanti jangan dicopot.”

Maya mengangguk.

“Buat keamanan, Bu?”

Bu Heni menggeleng.

“Bukan.”

Ia memandang kamera kecil di sudut ruang tamu.

“Biar kalau suatu hari kalian mulai merasa transfer uang sudah cukup disebut sayang, kalian bisa lihat rekamannya lagi.”

Senyum Maya perlahan menghilang.

Ia memahami maksud ibunya.

Selama ini mereka memasang kamera karena takut ada orang asing yang memanfaatkan seorang perempuan tua yang hidup sendirian.

Namun kamera itu justru membongkar kenyataan yang jauh lebih menyakitkan.

Bahwa bahaya tidak selalu datang dari orang asing.

Kadang orang asinglah yang datang mengganti lampu ketika anak sendiri terlalu sibuk.

Kadang orang asinglah yang mengangkat galon ketika keluarga hanya mengirim uang.

Dan kadang, orang yang paling menyakiti seorang ibu bukanlah mereka yang masuk tanpa izin ke rumahnya.

Melainkan anak-anak yang memiliki kunci rumah itu, tetapi terlalu lama tidak pernah menggunakannya.

Để lại một bình luận

Email của bạn sẽ không được hiển thị công khai. Các trường bắt buộc được đánh dấu *

Lên đầu trang