Aku sama sekali tidak berniat menghancurkan karier siapa pun pagi itu.
Aku hanya ingin membuat mereka berhenti tertawa.
Setidaknya, itulah yang kukatakan pada diriku sendiri ketika suara seorang perempuan dari resepsionis Radio Pesona Bandung terdengar gugup di ujung telepon.
“Mohon tunggu sebentar, Pak. Saya sambungkan dengan direktur program kami.”
Nada tunggu terdengar.
Aku duduk di tepi tempat tidur apartemen sambil memandang jam dinding.
Pukul 08.17.
Aku seharusnya sudah turun ke lobi untuk berangkat ke kantor.
Namun setelah mendengar Rina menangis dan suaminya tertawa bersama para penyiar, aku tidak sanggup membiarkannya begitu saja.
Beberapa detik kemudian, seorang pria menjawab.

“Selamat pagi. Saya Arif, Direktur Program Radio Pesona Bandung. Dengan Bapak siapa?”
“Budi Santoso.”
Aku mempertahankan suara profesionalku.
“Dari lembaga pengawas penyiaran Jawa Barat. Kami menerima pengaduan terkait program Telepon Kejutan Senin yang baru saja disiarkan.”
Arif terdiam.
“Oh. Soal prank tadi?”
“Betul.”
Nada suaranya langsung berubah defensif.
“Tapi, Pak, itu program hiburan. Suaminya sendiri yang mengajukan. Kami punya persetujuan dari pihak pengirim.”
“Apakah Anda punya persetujuan dari perempuan yang direkam dan dipermalukan?”
Sunyi.
Aku melanjutkan.
“Dan saya dengar rekaman itu akan diputar ulang pukul dua belas?”
“Iya, tapi setelah prank selesai biasanya kami memberi tahu korban.”
“Apakah korban sudah memberi izin rekamannya disiarkan ulang?”
Lagi-lagi tidak ada jawaban.
Aku sebenarnya tidak tahu persis aturan penyiaran yang berlaku untuk kasus seperti itu.
Tetapi aku pernah bekerja di radio cukup lama untuk tahu satu hal.
Kalau seseorang menelepon dengan suara tenang, menyebut pengaduan, rekaman, izin, dan lembaga pengawas dalam satu kalimat, orang radio akan mulai berkeringat.
“Ada berapa pengaduan, Pak?” tanya Arif akhirnya.
Aku melihat radio di atas meja.
“Cukup untuk membuat kami memperhatikan siaran pagi Anda.”
Itu bukan jawaban.
Justru karena itulah terdengar menakutkan.
“Apakah kami akan dipanggil?”
“Saya belum bisa memberikan keterangan lebih lanjut.”
“Pak, sebentar. Jangan ditutup dulu.”
Untuk pertama kalinya aku hampir tertawa.
Beberapa menit sebelumnya, mereka melakukan hal yang sama kepada Rina.
Meminta seorang perempuan yang ketakutan tetap berada di telepon agar penderitaannya bisa menjadi hiburan.
Sekarang mereka yang memohon agar sambungan tidak terputus.
“Yang paling penting,” kataku, “jangan memutar ulang rekaman itu sampai persoalan ini jelas.”
Aku menutup telepon.
Jantungku berdegup keras.
Aku menatap ponsel beberapa detik.
Selesai.
Kupikir begitu.
Ternyata aku salah.
Aku baru saja mengenakan sepatu ketika radio yang masih menyala mendadak berhenti memutar lagu.
Suara penyiar yang tadi tertawa begitu keras terdengar kembali.
Kali ini berbeda.
“Pendengar Pesona, ada sedikit perubahan jadwal. Rekaman Telepon Kejutan Senin yang rencananya diputar ulang siang nanti untuk sementara dibatalkan.”
Aku membeku.
Penyiar perempuan di sebelahnya mencoba tertawa.
“Iya, ada sedikit evaluasi internal.”
Aku mengambil tas kerja dan tersenyum.
Setidaknya Rina tidak akan dipermalukan untuk kedua kalinya.
Aku mematikan radio lalu berangkat.
Kupikir cerita itu berakhir di sana.
Sekali lagi, aku salah.
Sekitar pukul sepuluh pagi, saat sedang mengikuti rapat di kantor, ponselku bergetar berkali-kali.
Nomor tak dikenal.
Aku mengabaikannya.
Lima menit kemudian nomor lain menelepon.
Lalu nomor lain.
Ketika rapat selesai, ada tujuh panggilan tak terjawab.
Aku menelepon salah satunya.
“Selamat siang. Dengan siapa?”
“Ini Budi?”
Suara laki-laki.
“Iya.”
“Saya Arif dari Radio Pesona.”
Darahku terasa turun ke kaki.
Bagaimana mereka mendapatkan nomorku?
“Pak Budi,” katanya pelan, “sebenarnya Bapak dari lembaga pengawas atau bukan?”
Aku diam.
Kesalahan terbesar seorang pembohong adalah berbicara terlalu banyak ketika kebohongannya mulai terbongkar.
“Kenapa bertanya begitu?”
“Karena kami sudah menghubungi kantor mereka.”
Selesai sudah.
“Mereka bilang tidak ada staf bernama Budi Santoso yang menghubungi kami pagi ini.”
Aku menarik napas.
Arif melanjutkan.
“Jadi, Anda siapa?”
Aku berjalan keluar ruang rapat menuju tangga darurat.
“Nama saya memang Budi Santoso.”
“Itu bukan yang saya tanyakan.”
“Saya mantan penyiar radio.”
“Di mana?”
“Yogyakarta.”
Arif mengembuskan napas panjang.
“Pak Budi, Anda sadar tindakan Anda bisa bermasalah?”
“Aku sadar.”
Untuk pertama kalinya aku berhenti menggunakan suara formal.
“Tapi kalian sadar tidak apa yang kalian lakukan kepada Rina pagi tadi?”
Arif terdiam.
“Kalian menelepon perempuan yang sedang bekerja. Kalian bilang dia punya utang delapan belas juta. Kalian ancam listrik rumahnya diputus. Kalian sebut jalur hukum. Ketika dia menangis dan memutus telepon, kalian menelepon lagi. Lalu suaminya tertawa bersama kalian.”
“Itu prank.”
“Kalau orang yang dikerjai tidak tertawa setelah tahu kebenarannya, mungkin kalian perlu bertanya apakah itu masih lucu.”
Suasana hening.
Kemudian Arif mengatakan sesuatu yang tidak kuduga.
“Rina belum tahu itu prank.”
Aku mengernyit.
“Apa?”
“Kami belum berhasil menghubunginya lagi.”
Dadaku terasa sesak.
“Suaminya?”
“Dia juga sedang mencoba.”
“Jadi perempuan itu sekarang masih percaya dia harus membayar delapan belas juta?”
Tidak ada jawaban.
Aku langsung menutup telepon.
Aku mencari nomor stasiun tersebut dan menelepon kembali.
Begitu tersambung, aku meminta nomor Dedi.
Mereka menolak memberikannya.
Aku marah.
“Kalau begitu kalian yang telepon dia sekarang. Pastikan istrinya tahu semuanya.”
Arif mengatakan mereka sedang mengusahakannya.
Sekitar satu jam kemudian, nomor yang sama menelepon.
“Pak Budi.”
“Apa?”
“Kami sudah bicara dengan Dedi.”
“Lalu?”
Suara Arif terdengar aneh.
“Rina tidak ada di kantor.”
Aku berdiri.
“Maksudnya?”
“Setelah telepon tadi pagi, dia izin pulang. Tapi dia tidak pulang ke rumah.”
Untuk pertama kalinya sejak semua ini dimulai, kemarahanku berubah menjadi takut.
“Suaminya tahu dia di mana?”
“Tidak.”
Pukul sebelas lewat sedikit, siaran Radio Pesona berubah total.
Tidak ada lagi candaan.
Tidak ada lagi efek suara lucu.
Segmen pagi dihentikan.
Aku mendengarkan melalui ponsel di meja kantor.
Arif sendiri masuk siaran.
“Kepada Ibu Rina, apabila Anda sedang mendengarkan siaran ini, kami ingin menyampaikan bahwa telepon yang Anda terima pagi tadi bukan berasal dari PLN. Tidak ada tagihan delapan belas juta rupiah. Tidak ada rencana pemutusan listrik. Telepon tersebut merupakan bagian dari program kami.”
Beberapa detik hening.
“Kami meminta maaf.”
Aku memejamkan mata.
Kalimat yang seharusnya mereka ucapkan beberapa menit setelah prank justru baru disampaikan berjam-jam kemudian.
Namun kejutan terbesar datang setelah makan siang.
Sekitar pukul satu, Arif menelepon lagi.
“Rina sudah ditemukan.”
Aku langsung berdiri.
“Di mana?”
“Di rumah kakaknya.”
Aku mengembuskan napas lega.
“Tapi ada masalah lain.”
Ternyata setelah menerima telepon pagi itu, Rina benar-benar panik.
Dia bekerja sebagai teller di sebuah bank swasta. Selama beberapa bulan terakhir, kondisi keuangan keluarganya sedang buruk. Dedi baru saja kehilangan pekerjaan tetap dan penghasilan mereka sebagian besar bergantung pada gaji Rina.
Delapan belas juta bukan angka lucu bagi mereka.
Itu hampir sama dengan tabungan darurat yang dikumpulkan Rina bertahun-tahun.
Karena percaya tagihan tersebut nyata, Rina meninggalkan kantor dan pergi menemui kakaknya untuk meminjam uang.
Dia bahkan berniat menjual gelang emas peninggalan ibunya.
Dan ketika akhirnya Dedi datang menjelaskan bahwa semuanya hanyalah prank radio, Rina tidak tertawa.
Dia hanya menatap suaminya.
Lalu bertanya satu kalimat.
“Kamu tahu aku takut kita kehilangan rumah dan listrik, tapi kamu pikir ketakutanku lucu?”
Dedi tidak mampu menjawab.
Malam itu aku kembali ke apartemen dengan perasaan campur aduk.
Aku menyalakan radio.
Tidak ada Telepon Kejutan Senin.
Yang terdengar justru suara Arif.
“Pagi ini kami melakukan sebuah kesalahan.”
Aku berhenti.
“Kami terlalu sibuk mencari reaksi yang dianggap menghibur sampai lupa bahwa di balik setiap sambungan telepon ada manusia sungguhan.”
Arif kemudian mengumumkan segmen tersebut dihentikan sementara.
Dia juga mengatakan pihak radio sudah menghubungi Rina secara pribadi dan menawarkan permintaan maaf resmi.
Aku mengira akhirnya semuanya selesai.
Lalu Arif mengatakan sesuatu yang membuatku hampir menjatuhkan gelas.
“Dan kepada seseorang bernama Budi yang menelepon studio pagi tadi dengan mengaku berasal dari lembaga pengawas penyiaran, kami tahu Anda sedang mendengarkan.”
Aku menegang.
“Kami juga tahu Anda berbohong.”
Aku menelan ludah.
“Tetapi telepon Anda membuat kami berhenti selama beberapa menit dan melihat apa yang sebenarnya sedang kami lakukan.”
Suara Arif berhenti sejenak.
“Besok pagi, kalau Anda bersedia, telepon kami lagi. Kali ini gunakan nama Anda sendiri.”
Aku tidak menelepon.
Setidaknya bukan keesokan harinya.
Dua hari kemudian, aku menerima pesan dari nomor tak dikenal.
Nama saya Rina.
Aku membaca kalimat itu tiga kali.
Saya mendapat nomor Bapak dari pihak radio. Katanya Bapak orang yang membuat mereka membatalkan siaran ulang.
Tanganku berhenti bergerak.
Pesan berikutnya masuk.
Terima kasih.
Hanya dua kata.
Aku tidak tahu harus menjawab apa.
Akhirnya aku mengetik bahwa aku juga meminta maaf karena menggunakan cara yang salah.
Balasannya datang beberapa menit kemudian.
Bapak memang berbohong kepada mereka.
Tapi setidaknya Bapak berbohong untuk menghentikan orang menangis, bukan untuk membuat orang menangis.
Aku terdiam lama.
Beberapa minggu kemudian, aku pulang ke Yogyakarta dan melupakan kejadian itu.
Atau setidaknya mencoba melupakannya.
Hampir setahun berlalu.
Suatu Senin pagi, ketika sedang mengantar istriku bekerja, radio mobil menyiarkan sebuah acara dari Bandung.
Aku hampir mengganti saluran ketika mendengar nama Radio Pesona.
Format acara pagi mereka sudah berubah.
Tidak ada lagi prank yang membuat orang panik.
Sebagai gantinya, mereka memiliki segmen baru.
Namanya Telepon yang Belum Sempat Diucapkan.
Pendengar boleh meminta penyiar menelepon orang tua, pasangan, saudara, atau sahabat untuk menyampaikan sesuatu yang selama ini sulit mereka katakan sendiri.
Terima kasih.
Permintaan maaf.
Pengakuan kesalahan.
Atau sekadar mengatakan rindu.
Pagi itu seorang laki-laki meminta radio menelepon istrinya.
Aku hampir tidak memperhatikan sampai penyiar menyebut namanya.
Dedi.
Tanganku langsung berhenti di setir.
Suara Rina muncul di radio.
“Halo?”
Dedi menarik napas panjang.
“Rin, aku cuma mau bilang satu hal.”
“Apa?”
“Setahun lalu aku membuat satu kota menertawakan ketakutanmu.”
Tidak ada jawaban.
“Aku pikir kalau sesuatu lucu buatku, berarti itu tidak akan menyakitimu. Aku salah.”
Suara Dedi mulai bergetar.
“Aku tidak minta kamu melupakan kejadian itu. Aku cuma ingin kamu tahu bahwa sejak hari itu aku belajar satu hal. Orang yang kita cintai bukan bahan hiburan.”
Di dalam mobil, istriku menatapku.
Dia tidak tahu apa-apa tentang cerita itu.
Rina akhirnya menjawab.
“Aku sudah memaafkanmu sejak lama, Ded.”
Dedi menangis.
“Tapi aku belum lupa.”
“Aku tahu.”
“Dan mungkin memang tidak perlu dilupakan.”
Aku menepi sebentar.
Entah kenapa mataku terasa panas.
Penyiar kemudian mengatakan segmen itu dibuat setelah sebuah kejadian setahun sebelumnya membuat seluruh tim mengevaluasi program mereka.
Mereka tidak menyebut namaku.
Syukurlah.
Namun sebelum lagu berikutnya diputar, Arif mengatakan satu kalimat.
“Kadang-kadang satu telepon memang bisa membuat orang takut. Tetapi satu telepon juga bisa membuat seseorang berhenti, berpikir, lalu berubah.”
Istriku menoleh.
“Kok kamu senyum?”
Aku menggeleng.
“Enggak apa-apa.”
Aku kembali menjalankan mobil.
Selama bertahun-tahun bekerja di radio, aku selalu percaya kekuatan terbesar sebuah siaran adalah membuat ribuan orang mendengarkan pada saat bersamaan.
Hari itu aku menyadari aku keliru.
Kekuatan terbesar sebuah suara bukan terletak pada berapa banyak orang yang mendengarnya.
Melainkan pada apa yang terjadi setelah seseorang benar-benar mau mendengarkan.
Dan terkadang, orang tidak membutuhkan lelucon untuk membuat pagi mereka lebih ringan.
Mereka hanya membutuhkan seseorang yang cukup peduli untuk berkata, sudah, berhenti sampai di sini.
