“Sayang, apa maksud Bapak ini tentang orang yang berduka?”
Pertanyaan Fanny membuat suasana di pinggir jalan itu mendadak terasa jauh lebih sunyi.
Pria berjas yang mengaku sebagai Fajar tidak menjawab.
Hendra menatapnya lama. Tatapan seorang ayah yang selama bertahun-tahun menahan marah, kehilangan, dan rasa bersalah.
“Aku tanya sekali lagi,” katanya. “Siapa nama aslimu?”

Pria itu mengatupkan rahang.
“Saya Fajar Baktiar.”
Hendra mengeluarkan sebuah foto lama dari saku kemejanya.
Foto dua anak laki-laki berusia sekitar tujuh belas tahun berdiri di depan rumah sederhana mereka di Surabaya. Yang satu adalah Fajar. Yang lain tersenyum sambil merangkul bahunya.
Rian.
Fanny mengambil satu langkah mundur.
Wajah pria di foto itu memang lebih kurus dan jauh lebih muda, tetapi bentuk hidung, garis rahang, dan tahi lalat kecil di dekat telinga kanannya tidak mungkin keliru.
“Rian?” bisik Fanny.
Pria berjas itu langsung menoleh.
“Jangan dengarkan mereka.”
Hendra tertawa pendek tanpa sedikit pun kegembiraan.
“Jadi kau masih ingat nama itu.”
Dua polisi mendekat.
Salah seorang memperkenalkan diri sebagai AKP Dimas. Ia kemudian menunjukkan surat perintah.
“Rian Prasetyo, Anda diminta ikut bersama kami untuk pemeriksaan terkait dugaan pemalsuan identitas, penipuan, pemalsuan dokumen, dan penyelidikan atas kematian Fajar Baktiar.”
Wajah Rian berubah pucat.
“Kematian?”
Fanny hampir menjatuhkan ponselnya.
Dia memandang tunangannya seolah baru pertama kali melihat lelaki itu.
“Katamu orang tuamu masih hidup. Katamu namamu Fajar.”
Rian mencoba meraih tangan Fanny.
“Fan, aku bisa jelaskan.”
“Jangan sentuh aku!”
Fanny mundur cepat.
Aminah masih duduk di tanah. Salah seorang petugas hendak membantunya berdiri, tetapi Aminah mengangkat tangan.
Ia menatap Rian.
Empat tahun lalu, Aminah sebenarnya sudah mengetahui bahwa putranya tidak akan pernah pulang.
Malam itu Hendra datang ke rumah setelah empat tahun menghilang. Rambutnya telah memutih, tubuhnya jauh lebih kurus, dan langkahnya pincang akibat kecelakaan saat mencari Fajar di Jakarta.
Ia membawa sebuah kotak kecil.
Di dalamnya terdapat jam tangan murah berwarna hitam.
Aminah mengenalinya.
Jam itu hadiah ulang tahun Fajar ketika berusia delapan belas tahun.
Di bagian belakangnya terdapat goresan kecil berbentuk huruf A yang dibuat Fajar sendiri.
“Aku menemukan orang yang terakhir melihat anak kita,” kata Hendra malam itu.
Lalu keluarlah kenyataan yang menghancurkan seluruh harapan Aminah.
Sepuluh tahun sebelumnya, beberapa bulan setelah Fajar mulai kuliah di Jakarta, ia mengajak Rian tinggal bersamanya.
Rian saat itu datang ke Jakarta tanpa pekerjaan tetap.
Fajar merasa kasihan.
Seperti ketika mereka masih kecil, ia kembali membagi apa pun yang dimilikinya.
Kamar kos.
Makanan.
Bahkan uang kiriman Aminah.
Namun hidup Rian berubah setelah mengenal sekelompok orang yang menjalankan investasi ilegal menggunakan identitas mahasiswa dan pekerja muda.
Rian terlilit utang.
Ia membutuhkan identitas bersih untuk membuka rekening dan mendirikan perusahaan.
Fajar memiliki semuanya.
Kartu mahasiswa.
Rekening bank.
Dokumen akademik.
Dan yang paling penting, riwayat hidup yang tidak memiliki masalah hukum.
Awalnya Rian hanya meminjam nama Fajar.
Namun ketika Fajar mengetahui rekeningnya digunakan untuk transaksi mencurigakan, mereka bertengkar hebat.
Malam itulah Fajar menghilang.
Hendra membutuhkan bertahun-tahun untuk menemukan saksi terakhir.
Seorang mantan penjaga gudang di kawasan Bekasi mengaku pernah melihat Rian dan Fajar bertengkar di sebuah bangunan kosong.
Fajar tidak pernah keluar dari sana.
Rian keluar sendirian.
Beberapa minggu kemudian, seseorang mulai menggunakan identitas Fajar untuk membuka rekening perusahaan.
“Kalau sudah tahu empat tahun lalu, kenapa kalian diam?” teriak Rian tiba-tiba.
Hendra menatapnya.
“Karena kami belum punya jasad.”
Rian terdiam.
“Kami hanya punya kesaksian,” lanjut Hendra. “Kalau aku langsung menuduhmu, kau akan menghilang. Jadi kami menunggu.”
Rian tertawa gugup.
“Kalian tidak punya bukti.”
AKP Dimas memberi isyarat kepada tim forensik.
Seorang petugas membuka sebuah tas bukti.
Di dalamnya terdapat beberapa benda yang dibungkus plastik transparan.
Jam tangan.
Potongan kartu mahasiswa.
Dan sebuah liontin logam kecil.
Kaki Rian terlihat goyah.
“Dua minggu lalu,” kata Dimas, “kami menemukan sisa kerangka manusia di bawah lantai gudang lama yang sedang dibongkar untuk pembangunan.”
Aminah memejamkan mata.
Hendra menggenggam bahunya.
“Hasil pemeriksaan awal menunjukkan korban laki-laki, usia sekitar dua puluh dua tahun saat meninggal. Kami juga menemukan benda pribadi yang dikenali keluarga.”
Rian berusaha mempertahankan ekspresi tenangnya.
“Itu bukan bukti kalau saya melakukan sesuatu.”
“Benar,” jawab Dimas. “Karena itu kami melakukan pemeriksaan DNA.”
Dimas mengeluarkan sebuah amplop.
“Hasilnya keluar pagi ini.”
Aminah membuka mata.
“Kerangka tersebut memiliki kecocokan biologis sebagai anak kandung Bapak Hendra dan Ibu Aminah.”
Fanny menutup mulut.
Air matanya langsung jatuh.
Ia menatap lelaki yang selama dua tahun terakhir tidur di sampingnya, merencanakan pernikahan dengannya, dan memperkenalkan dirinya kepada semua orang sebagai Fajar Baktiar.
“Kamu hidup memakai nama orang yang sudah meninggal?”
Rian tidak menjawab.
Ia justru menatap Aminah.
“Kalau Ibu sudah tahu, kenapa selama ini Ibu tetap membalas pesan saya?”
Pertanyaan itu membuat semua orang terdiam.
Aminah perlahan berdiri.
Tangannya masih terluka.
Debu menempel di bajunya.
“Karena Ibu ingin melihat sejauh apa kamu akan berbohong.”
Rian menelan ludah.
Pesan-pesan yang diterima Aminah selama bertahun-tahun ternyata bukan sekadar pesan untuk menenangkan seorang ibu.
Rian membutuhkannya.
Ia memerlukan bukti bahwa “orang tua Fajar” masih berkomunikasi dengannya jika suatu saat identitasnya dipertanyakan.
Karena itulah nomor yang digunakan selalu berganti.
Ia tidak pernah menelepon.
Tidak pernah melakukan panggilan video.
Hanya pesan.
Fajar baik-baik saja.
Jangan cari Fajar.
Nanti Fajar pulang.
Namun empat tahun terakhir, Aminah tidak lagi mempercayainya.
Ia menyimpan semuanya.
Setiap pesan.
Setiap nomor.
Setiap tanggal.
Semuanya diserahkan kepada Hendra dan polisi.
Rian mulai panik.
“Aku tidak membunuh dia!”
Kalimat itu keluar begitu saja.
Dimas langsung menatapnya.
Tak seorang pun sebelumnya mengatakan Fajar dibunuh.
Rian menyadari kesalahannya.
Ia menutup mulut.
Namun terlambat.
“Aku tidak membunuhnya,” ulangnya lebih pelan. “Itu kecelakaan.”
Hendra maju satu langkah.
“Apa yang terjadi?”
Rian menggeleng.
“Aku tidak mau bicara.”
“SEPULUH TAHUN!”
Suara Aminah mendadak menggelegar.
Semua orang terkejut.
Wanita yang sejak tadi terlihat rapuh itu kini berdiri tegak meski tubuhnya gemetar.
“Sepuluh tahun Ibu menunggu anak Ibu pulang!”
Air matanya akhirnya mengalir.
“Setiap Lebaran Ibu memasak opor kesukaannya. Setiap ada bus berhenti dekat gang, Ibu keluar rumah karena mengira Fajar pulang. Kamu tahu itu, Rian. Kamu tumbuh di rumah Ibu. Kamu makan dari piring yang sama dengan Fajar.”
Rian menunduk.
“Apa yang kamu lakukan pada anak Ibu?”
Rian bernapas berat.
“Aku cuma mau meminjam identitasnya sebentar.”
Ia akhirnya bicara.
Malam itu Fajar mengetahui namanya digunakan untuk mendirikan perusahaan fiktif.
Fajar marah dan mengancam melapor ke polisi.
Mereka bertengkar di gudang.
Rian mencoba merebut ponsel Fajar.
Fajar terjatuh dari tangga beton.
Kepalanya menghantam lantai.
“Aku panik,” ujar Rian.
“Kamu bisa membawa dia ke rumah sakit,” kata Hendra.
“Aku takut.”
“Jadi kamu menguburnya?”
Rian menangis.
“Aku pikir hidupku selesai.”
Hendra mengepalkan tangan.
Namun Aminah memegang lengannya.
Jangan.
Satu kata itu cukup.
Aminah tidak ingin kehilangan suaminya juga.
Polisi memasang borgol di tangan Rian.
Tetapi sebelum dibawa pergi, Rian menoleh kepada Aminah.
“Aku sebenarnya datang hari ini karena butuh tanda tangan Ibu.”
Aminah mengangguk.
“Aku tahu.”
Rian terkejut.
Perusahaan yang dibangun Rian dengan identitas Fajar kini sedang mengurus penjualan saham kepada investor asing. Dalam proses verifikasi, ditemukan perbedaan data lama sehingga diperlukan dokumen tambahan mengenai keluarga.
Itulah sebabnya setelah sepuluh tahun, “Fajar” tiba-tiba pulang.
Bukan karena rindu.
Bukan karena penyesalan.
Melainkan karena tanda tangan.
“Aku cuma ingin hidup lebih baik,” kata Rian.
Aminah menatapnya dengan kesedihan yang lebih besar daripada kemarahannya.
“Dulu kamu sudah punya kesempatan hidup lebih baik.”
Rian terdiam.
“Ibu memberimu makan. Fajar membagikan bajunya. Ayah mengajarimu naik motor. Rumah kami tidak kaya, tapi pintunya selalu terbuka untukmu.”
Aminah menarik napas.
“Yang membuatmu miskin bukan karena kamu tidak punya uang, Rian. Kamu menjadi miskin ketika merasa harus mengambil hidup orang lain supaya hidupmu sendiri terlihat berharga.”
Rian dibawa menuju mobil polisi.
Fanny berdiri terpaku.
Live yang tadi ia lakukan ternyata belum benar-benar berhenti.
Ribuan orang telah menyaksikan sebagian kejadian itu.
Namun kali ini ia tidak peduli.
Ia menghapus video tersebut.
Beberapa bulan kemudian, identitas Fajar Baktiar dipulihkan secara hukum.
Perusahaan-perusahaan yang menggunakan namanya diperiksa. Sejumlah aset dibekukan, dan penyelidikan terhadap jaringan penipuan yang pernah melibatkan Rian berkembang jauh lebih besar.
Jenazah Fajar akhirnya dibawa pulang ke Surabaya.
Pada hari pemakaman, Aminah mengenakan pakaian terbaik yang ia punya.
Tidak banyak orang mengetahui bahwa sebelum peti diturunkan, Aminah meletakkan sesuatu di atasnya.
Sebuah ijazah.
Bukan ijazah perguruan tinggi.
Melainkan ijazah SMA milik Fajar yang selama sepuluh tahun disimpannya di lemari.
“Ibu dulu ingin melihat kamu pulang membawa gelar,” bisiknya.
Tangannya mengusap permukaan peti.
“Ternyata Ibu cuma ingin kamu pulang.”
Hendra berdiri di sampingnya sambil menangis.
Untuk pertama kalinya setelah bertahun-tahun, mereka berdua tidak lagi menunggu.
Malam setelah pemakaman, Aminah membuka lemari lama Fajar.
Di bagian paling bawah terdapat sebuah kotak yang dulu tidak pernah berani ia buka.
Kotak itu dikirim dari Jakarta sembilan tahun lalu tanpa nama pengirim.
Saat itu Aminah mengira isinya hanya buku-buku kuliah.
Namun di sela salah satu buku, Hendra menemukan sebuah amplop tipis.
Tulisan di depannya membuat tangan Aminah gemetar.
Untuk Ibu.
Tulisan Fajar.
Surat itu rupanya ditulis beberapa hari sebelum kematiannya.
Bu, kalau nanti Fajar berhasil, hal pertama yang ingin Fajar lakukan adalah membeli kembali tanah Ibu. Fajar tahu Ibu menjualnya untuk biaya hidup Fajar. Fajar juga tahu Ibu sering bilang tidak lapar supaya uang makan bisa dikirim ke Jakarta.
Fajar tidak pernah lupa.
Kalau orang bertanya siapa yang membuat Fajar bisa sampai sejauh ini, jawabannya bukan beasiswa.
Jawabannya Ibu.
Aminah tidak sanggup membaca baris berikutnya.
Hendra melanjutkannya dengan suara patah.
Suatu hari nanti, Fajar ingin Ibu berhenti bekerja. Bukan karena pekerjaan Ibu memalukan, tetapi karena tangan yang sudah bekerja keras membesarkan Fajar pantas beristirahat.
Aminah memeluk surat itu.
Sepuluh tahun ia hidup dengan ketakutan bahwa anaknya mungkin telah melupakan dirinya.
Kini ia tahu sesuatu yang jauh lebih menyakitkan sekaligus menenangkan.
Fajar tidak pernah melupakannya.
Setahun kemudian, sebuah rumah kecil berdiri di atas sebidang tanah di pinggiran Surabaya.
Di halaman depannya terdapat papan sederhana.
Rumah Belajar Fajar.
Aminah dan Hendra menggunakan sebagian uang hasil penjualan tanah yang akhirnya berhasil mereka beli kembali untuk mendirikan tempat belajar gratis bagi anak-anak dari keluarga kurang mampu.
Tidak ada foto besar Fajar di sana.
Hanya satu foto kecil di meja Aminah.
Foto dua anak laki-laki berseragam SMA.
Fajar dan Rian.
Seorang tetangga pernah bertanya mengapa Aminah tidak membuang foto itu.
Aminah hanya tersenyum tipis.
“Supaya saya ingat bahwa seorang anak bisa tumbuh menjadi apa saja.”
Ia menatap foto itu lama.
“Kasih sayang bisa memberi seseorang kesempatan. Tapi pada akhirnya, setiap orang tetap memilih sendiri akan menjadi siapa.”
Di luar, suara anak-anak memenuhi halaman.
Aminah berdiri dan berjalan menuju mereka.
Tangannya masih kasar.
Punggungnya masih sedikit membungkuk.
Namun ia tidak lagi mendorong gerobak melewati jalan-jalan Surabaya sambil menunggu seseorang pulang.
Sebab setelah sepuluh tahun, yang terkubur akhirnya ditemukan.
Bukan hanya jasad Fajar.
Melainkan juga kebohongan yang telah mencuri namanya.
Dan di atas tanah tempat seorang ibu pernah menjual hampir seluruh hidupnya demi masa depan putranya, kini tumbuh sesuatu yang tidak bisa dicuri oleh siapa pun.
Nama baik Fajar.
Bukan sebagai pengusaha kaya.
Bukan sebagai pria dengan mobil mewah.
Melainkan sebagai seorang anak yang sampai hari terakhir hidupnya tidak pernah merasa malu memiliki ibu bernama Aminah.
