DIBUANG IBU KANDUNG DI TERMINAL BUS SAAT USIA 6 TAHUN! 12 TAHUN KEMUDIAN, IBU DATANG MEMINTA UANG BEASISWA, TIGA PREMAN TERMINAL LANGSUNG PASANG BADAN!

Hari ketika aku dibuang di Terminal Kampung Rambutan seharusnya menjadi hari ketika hidupku berakhir.

Namun justru di tempat itulah aku menemukan tiga orang yang kemudian mengajariku arti keluarga.

Setelah mengetahui rumah peninggalan Ayah telah dijual dan Ibu benar-benar pergi, aku menangis sampai suaraku hampir tidak terdengar lagi. Mbah Sumi memelukku erat di depan rumah yang kini sudah menjadi milik orang lain.

Mas Rian berdiri beberapa langkah dari kami. Rahangnya mengeras.

“Gila,” gumamnya. “Anak enam tahun ditinggal begitu saja.”

Mbak Lela menatapnya tajam.

“Jangan ngomong begitu di depan Nisa.”

Mas Doni yang sejak tadi diam akhirnya bertanya kepada Mbah Sumi, “Nisa mau tinggal sama siapa sekarang?”

Pertanyaan itu membuat semua orang terdiam.

Aku tidak punya kakek atau nenek yang bisa menampungku. Saudara almarhum Ayah tinggal jauh dan hubungan mereka sudah lama terputus. Mbah Sumi sendiri sudah tua dan hidup dari berjualan minuman di terminal.

Hari itu, untuk sementara aku dibawa ke rumah Mbah Sumi.

Tetapi malamnya, aku demam tinggi.

Dalam tidur, aku terus memanggil Ibu.

Mas Rian yang kebetulan datang membawa obat duduk di dekat pintu kamar sampai hampir subuh.

Ketika aku terbangun, aku melihatnya masih di sana.

“Mas…”

Dia langsung mendekat.

“Iya?”

“Ibu bakal balik enggak?”

Mas Rian terdiam cukup lama.

Lalu dia mengusap kepalaku.

“Entahlah.”

“Kalau Ibu enggak balik, Nisa tinggal sama siapa?”

Pertanyaan itu rupanya terus menghantuinya.

Beberapa hari kemudian, Mas Rian datang bersama Mbak Lela dan Mas Doni.

Mereka berbicara lama dengan Mbah Sumi.

Aku tidak mengerti apa yang mereka bicarakan sampai akhirnya Mas Rian masuk dan berjongkok di depanku.

“Nisa mau sekolah?”

Aku mengangguk cepat.

“Mau.”

“Mau rajin?”

“Mau.”

Dia tersenyum.

“Kalau begitu, sekolah yang benar. Soal makan, seragam, buku, biar kami yang pikirkan.”

Aku mengira dia bercanda.

Ternyata tidak.

Mereka bertiga menyewa sebuah kamar kontrakan kecil tidak jauh dari terminal. Atapnya seng, dindingnya lembap, dan ketika hujan deras, kami harus meletakkan ember di beberapa sudut karena air menetes dari langit-langit.

Hanya ada satu kasur busa.

Kasur itu diberikan kepadaku.

Mas Rian, Mbak Lela, dan Mas Doni tidur di lantai dengan tikar.

Pada awalnya, kehidupan kami jauh dari mudah.

Mas Rian masih dikenal sebagai pemuda berandalan. Rambutnya dicat pirang dan buku-buku jarinya penuh bekas luka.

Suatu hari, ketika dia mengantarku ke sekolah, seorang wali murid menarik anaknya menjauh.

“Jangan dekat-dekat orang seperti itu.”

Aku mendengarnya.

Mas Rian juga.

Sepanjang perjalanan pulang dia tidak banyak bicara.

Keesokan paginya, aku terkejut melihat rambut pirangnya sudah berubah hitam.

“Mas kok rambutnya hitam?”

“Bos terminal bilang kalau mau kerja tetap, harus kelihatan rapi.”

Belakangan aku tahu tidak pernah ada bos terminal yang mengatakan itu.

Mas Rian mengubah penampilannya karena tidak ingin aku malu saat dia datang ke sekolah.

Dia berhenti berkelahi dan mulai menjadi kuli panggul.

Punggungnya sering memar karena mengangkat barang terlalu berat. Telapak tangannya menjadi kasar dan pecah-pecah.

Namun setiap kali menerima upah, hal pertama yang dia tanyakan selalu sama.

“Nisa besok butuh bayar apa?”

Mbak Lela juga berubah.

Dia berhenti merokok setelah aku pernah batuk-batuk karena asap rokoknya.

Perhiasan imitasi, jaket kulit, bahkan sepatu kesayangannya dijual untuk membeli gerobak bekas.

Setiap pukul empat pagi, dia sudah bangun untuk memasak nasi, telur balado, ayam kecap, dan tumis sayur.

Aku sering terbangun mendengar suara penggorengan dari dapur kecil kami.

“Tidur lagi,” katanya setiap kali melihatku.

“Mbak belum tidur?”

“Nanti juga tidur.”

Padahal sering kali dia baru tidur setelah aku berangkat sekolah.

Mas Doni adalah yang paling sedikit bicara.

Pagi sampai sore dia mencuci bus. Malam hari dia bekerja di pasar induk.

Suatu malam, ketika aku kelas tiga SD, aku terbangun dan melihatnya duduk di luar kontrakan sambil mengoleskan balsem ke pinggangnya.

“Mas sakit?”

“Enggak.”

“Tapi wajah Mas kayak kesakitan.”

Dia tertawa kecil.

“Namanya juga orang tua.”

“Mas baru dua puluhan.”

Dia langsung tertawa lebih keras.

Itu mungkin pertama kalinya aku melihat Mas Doni tertawa sampai matanya berair.

Tahun-tahun berlalu.

Kami tidak pernah punya banyak uang, tetapi entah bagaimana aku tidak pernah terlambat membayar kebutuhan sekolah.

Ketika aku masuk SMP, aku mulai memahami betapa besar pengorbanan mereka.

Suatu hari sekolah mengadakan kunjungan edukasi. Biayanya cukup mahal.

Aku sengaja tidak memberikan surat pemberitahuan kepada mereka.

Namun Mbak Lela menemukannya di dalam tas.

“Kok enggak bilang?”

“Aku enggak mau ikut.”

“Kenapa?”

“Enggak pengin aja.”

Mbak Lela menatapku lama.

Malam itu aku mendengar mereka bertiga berbicara pelan.

Besoknya, uang kunjungan sekolah sudah tersedia di meja.

Bertahun-tahun kemudian aku baru tahu Mas Doni menjual satu-satunya telepon genggam yang dimilikinya.

Sejak saat itu, aku berjanji kepada diriku sendiri.

Aku harus belajar.

Bukan karena aku ingin menjadi kaya.

Aku hanya ingin suatu hari nanti ketiga orang itu tidak perlu lagi menghitung uang receh untuk memastikan aku bisa makan.

Saat SMA, aku hampir selalu pulang paling malam karena mengikuti kelas tambahan gratis di sekolah.

Mas Rian selalu menungguku di depan gang.

Kadang dengan sepeda motor tuanya.

Kadang hanya berdiri sambil membawa payung.

“Mas enggak usah jemput terus.”

“Kalau kamu kenapa-kenapa, Lela yang bunuh aku.”

Dari belakang, Mbak Lela berteriak, “Jangan bawa-bawa nama gue!”

Kami tertawa.

Itulah keluargaku.

Tidak sempurna.

Tidak punya hubungan darah.

Namun tidak pernah sekali pun membuatku merasa dibuang.

Ketika berusia delapan belas tahun, aku mengikuti seleksi masuk perguruan tinggi negeri.

Aku juga mengajukan program beasiswa.

Hari pengumuman tiba.

Tanganku gemetar ketika membuka situs dari ponsel Mas Rian.

Tulisan itu muncul di layar.

Aku diterima.

Bukan hanya itu.

Aku memperoleh beasiswa penuh.

Aku menjerit begitu keras sampai Mbak Lela menjatuhkan piring.

Mas Rian membaca pengumuman itu berulang kali seolah takut salah melihat.

Mas Doni berdiri membeku.

“Mas Doni?”

Dia berbalik.

Aku melihat bahunya bergerak.

Dia menangis diam-diam.

Malam itu kami merayakannya dengan ayam goreng, mi instan, dan empat botol teh dingin.

Mas Rian mengangkat gelas plastik.

“Mulai sekarang, ada calon sarjana di keluarga kita.”

“Belum kuliah juga.”

“Pokoknya calon.”

Mbak Lela tertawa.

Aku memandang mereka satu per satu.

Dalam hati, aku berjanji kelak akan membelikan mereka rumah yang tidak bocor saat hujan.

Namun kebahagiaan itu hanya bertahan beberapa hari.

Suatu sore, seseorang mengetuk pintu kontrakan.

Ketika kubuka, seorang perempuan berdiri di depanku.

Wajahnya lebih tua.

Rambutnya mulai beruban.

Namun aku masih mengenali mata itu.

Mata yang terakhir kali kulihat dari balik kaca jendela bus dua belas tahun sebelumnya.

“Ibu?”

Dia langsung menangis.

“Nisa…”

Tangannya hendak memelukku, tetapi tubuhku refleks mundur.

Mas Rian keluar dari dalam.

Wajahnya langsung berubah.

“Ngapain ke sini?”

Ibu menatapnya dengan tidak suka.

“Aku mau bicara sama anakku.”

Mbak Lela dan Mas Doni ikut keluar.

Ibu kemudian mengatakan Pak Budi sedang sakit keras di kampung. Biaya pengobatannya besar.

Entah dari mana, dia mengetahui aku mendapat beasiswa.

“Kata orang, kamu dapat uang beasiswa juga,” katanya. “Pinjamkan dulu ke Ibu.”

Aku tidak percaya.

“Pinjam?”

“Nanti kalau keadaan sudah membaik, Ibu ganti.”

“Selama dua belas tahun Ibu ke mana?”

Wajahnya menegang.

“Ibu punya kehidupan sendiri, Nisa.”

Aku tersenyum getir.

“Dan sekarang Ibu datang karena butuh uang?”

“Nisa, bagaimanapun juga aku ibu kandungmu.”

Mas Rian maju, tetapi aku menahan lengannya.

Aku ingin mendengar semuanya.

“Kenapa dulu Ibu meninggalkan aku?”

Ibu tidak menjawab.

“Kenapa?”

“Ayah tirimu tidak mau membesarkan anak orang lain!”

“Jadi Ibu memilih dia?”

“Ibu tidak punya pilihan!”

Kalimat itu membuat sesuatu di dalam dadaku pecah.

“Tidak punya pilihan?”

Aku menunjuk tiga orang di belakangku.

“Mereka juga tidak punya kewajiban memilih aku!”

Suaraku mulai bergetar.

“Mas Rian waktu itu cuma sembilan belas tahun. Mbak Lela delapan belas. Mas Doni bahkan hampir tidak punya uang untuk dirinya sendiri.”

Aku menatap Ibu.

“Tapi mereka memilih untuk tidak meninggalkanku.”

Wajah Ibu memerah.

Dia tiba-tiba menunjuk mereka.

“Tiga preman jalanan tidak berpendidikan ini sama sekali tidak pantas kamu anggap sebagai keluargamu, Nisa!”

Ruangan mendadak sunyi.

Mas Rian menunduk.

Aku tahu kalimat itu melukainya.

Aku langsung berdiri di depan mereka.

“Mereka memang pernah jadi preman.”

Air mataku akhirnya jatuh.

“Tapi mereka berjuang keras dari preman jalanan menjadi orang baik hanya untuk membesarkan aku.”

Aku menatap perempuan yang melahirkanku.

“Sementara Ibu, demi mengejar kenyamanan hidup bersama pria lain, tega berubah dari seorang ibu menjadi orang asing.”

Ibu mengangkat tangan seolah hendak menamparku.

Mas Rian langsung berdiri di depanku.

Mbak Lela menangkap pergelangan tangannya.

“Jangan sentuh anak gue.”

Ibu tertegun.

“Anak kamu?”

Mbak Lela menatapnya tanpa berkedip.

“Iya. Anak kami.”

Mas Doni yang biasanya diam akhirnya berbicara.

“Kalau datang untuk minta maaf, kami enggak akan menghalangi.”

Tatapannya dingin.

“Tapi kalau datang mengambil masa depan Nisa, silakan pulang.”

Ibu menangis sambil mengatakan Pak Budi benar-benar sakit.

Aku masuk ke kamar.

Beberapa menit kemudian aku kembali membawa sebuah amplop.

Mata Ibu langsung berubah.

Aku menyerahkannya.

Namun ketika dibuka, tidak ada uang di dalamnya.

Hanya selembar fotokopi dokumen lama.

Surat penjualan rumah peninggalan Ayah.

Wajah Ibu mendadak pucat.

Aku baru mengetahui kebenarannya beberapa bulan sebelumnya.

Mbah Sumi menyimpan salinan dokumen itu selama dua belas tahun.

Rumah tersebut ternyata diwariskan Ayah kepadaku. Ibu hanya ditunjuk sebagai wali sampai aku dewasa.

Penjualannya dilakukan tanpa prosedur yang semestinya.

“Aku sudah konsultasi dengan bantuan hukum kampus,” kataku.

Tangan Ibu mulai gemetar.

“Aku tidak akan mengambil uang Ibu. Aku juga tidak ingin membalas dendam.”

Aku menarik napas.

“Tapi jangan pernah datang lagi untuk mengambil sesuatu yang menjadi hakku.”

Ibu tidak mampu berkata-kata.

Dia pergi beberapa menit kemudian.

Aku mengira itulah akhir semuanya.

Ternyata belum.

Dua minggu setelahnya, aku menerima surat.

Bukan dari Ibu.

Dari Pak Budi.

Di dalamnya hanya ada beberapa kalimat tulisan tangan.

Dia mengaku bahwa dialah yang memaksa Ibu menjual rumah dan meninggalkanku. Dia juga mengaku bahwa sakit yang dideritanya membuatnya sadar bahwa selama bertahun-tahun dia hidup dari sesuatu yang seharusnya menjadi milikku.

Bersama surat itu terdapat dokumen kepemilikan sebidang tanah kecil di kampung.

Pak Budi telah mengalihkan tanah tersebut atas namaku sebagai pengembalian sebagian uang rumah.

Aku tidak tahu apakah harus marah atau lega.

Namun ada satu kalimat terakhir yang tidak pernah kulupakan.

“Orang yang membesarkanmu lebih pantas disebut keluarga daripada kami yang hanya memberimu darah.”

Empat tahun kemudian, aku lulus kuliah.

Pada hari wisuda, teman-temanku datang bersama ayah dan ibu mereka.

Aku datang bersama tiga orang.

Mas Rian mengenakan kemeja yang terlalu sempit karena tubuhnya semakin besar akibat bertahun-tahun mengangkat barang.

Mbak Lela memakai blazer yang dipinjam dari tetangga dan terus mengeluh karena merasa tidak nyaman.

Mas Doni memakai sepatu baru yang diam-diam kubelikan.

Ketika namaku dipanggil, aku melihat mereka bertiga berdiri paling cepat.

Mas Rian berteriak paling keras.

Mbak Lela menangis tanpa malu.

Mas Doni hanya tersenyum sambil mengusap matanya.

Setelah acara selesai, kami berfoto bersama.

Aku berdiri di tengah mereka sambil memegang ijazah.

Seorang fotografer bertanya, “Yang mana orang tua Mbak Nisa?”

Aku menoleh ke kiri dan kanan.

Lalu tersenyum.

“Semua.”

Bertahun-tahun lalu, aku pernah berpikir bahwa Terminal Kampung Rambutan adalah tempat paling kejam dalam hidupku karena di sanalah ibuku meninggalkanku.

Sekarang aku memahami sesuatu.

Terminal adalah tempat orang datang dan pergi.

Ada orang yang pergi dari hidup kita meskipun memiliki darah yang sama.

Ada pula orang asing yang memilih tinggal ketika semua orang sudah pergi.

Aku memang pernah dibuang oleh seorang ibu.

Tetapi pada malam yang sama, aku ditemukan oleh tiga manusia yang dianggap buruk oleh dunia.

Mereka tidak memberiku darah.

Mereka memberiku makan ketika lapar, memelukku ketika takut, bekerja ketika aku membutuhkan uang sekolah, dan mengubah hidup mereka ketika aku membutuhkan teladan.

Dan akhirnya aku mengerti.

Keluarga bukan selalu tentang siapa yang melahirkan kita.

Kadang keluarga adalah mereka yang sebenarnya bebas untuk pergi, tetapi setiap hari memilih untuk tetap tinggal.

Để lại một bình luận

Email của bạn sẽ không được hiển thị công khai. Các trường bắt buộc được đánh dấu *

Lên đầu trang