“Mas Dimas…”
“Itu apa?”
Suaraku keluar nyaris seperti bisikan. Aku ingin terdengar tenang, tetapi tenggorokanku terasa tercekat.
Dimas mundur satu langkah. Kedua tangannya buru-buru disembunyikan di belakang punggung.
“Bukan apa-apa, Bu.”
“Jangan bohong sama Ibu.”
Aku mendekat, lalu perlahan meraih pergelangan tangannya. Dimas sempat menolak, tetapi akhirnya menyerah.
Saat lengan bajunya tersingkap, dadaku seperti dihantam sesuatu.

Tulisan yang kulihat dari balik pintu ternyata hanya sebagian.
Di dekat pergelangan tangan kirinya tertulis, “ANAK YATIM.”
Di lengan kanan ada kata “GILA.”
Namun yang membuatku benar-benar kehilangan kekuatan adalah tulisan kecil dekat siku.
“MATI SAJA.”
Aku menutup mulut.
“Siapa yang melakukan ini?”
Dimas diam.
“Mas, lihat Ibu.”
Dia menunduk semakin dalam.
“Siapa?”
Bibirnya bergetar.
“Aku sendiri.”
Aku terpaku.
Jawaban itu jauh lebih menakutkan daripada apa pun yang kubayangkan.
“Apa maksudmu?”
Dimas menarik tangannya dan memeluk tubuhnya sendiri.
“Mereka yang bilang. Aku cuma… nulis ulang.”
“Mereka siapa?”
Beberapa detik berlalu.
Lalu pertahanan yang selama berminggu-minggu dia bangun akhirnya runtuh.
“Anak-anak sekolah.”
Tangisnya pecah.
Aku segera memeluknya.
Tubuh anakku gemetar begitu hebat sampai aku bisa merasakannya melalui piyama yang dia kenakan.
Malam itu, di lantai kamar mandi pada pukul tiga dini hari, aku akhirnya mendengar cerita yang seharusnya sudah kuketahui berminggu-minggu sebelumnya.
Semuanya bermula dari insiden di sekolah.
Tiga minggu sebelumnya, seorang siswa bernama Kevin kehilangan uang sebesar satu juta rupiah dari tasnya. Saat kelas diperiksa, uang itu ditemukan di dalam tas Dimas.
Dimas bersikeras bahwa dia tidak mengambilnya.
Guru piket memanggilnya.
Beberapa teman langsung menuduh.
Seseorang merekam ketika Dimas menangis dan berkata berulang kali bahwa dia tidak bersalah.
Video itu tersebar di grup kelas.
Lalu seseorang mengunggah potongannya ke media sosial.
Mereka memberi tulisan di atas video itu.
“Kalau bohong jangan nangis.”
Sejak hari itu, semuanya berubah.
Ada yang memanggilnya pencuri.
Ada yang menyebutnya pembohong.
Ketika Dimas marah dan membanting meja karena tidak tahan, mereka mulai menyebutnya gila.
Lalu seseorang mengetahui bahwa ayahnya sudah meninggal.
Ejekan berikutnya menjadi jauh lebih kejam.
“Pantas saja.”
“Nggak ada bapak yang ngajarin.”
“Anak yatim memang cari perhatian.”
Aku mendengarnya dengan tubuh kaku.
“Kenapa kamu nggak cerita ke Ibu?”
Dimas mengusap air matanya.
“Karena Ibu capek.”
Jawaban sederhana itu menghancurkanku.
“Apa?”
“Ibu pulang kerja malam. Kadang masih buka laptop. Ibu juga sering bilang harus kuat karena sekarang cuma kita berdua.”
Dia menatapku untuk pertama kalinya.
“Aku pikir kalau aku cerita, Ibu bakal tambah capek.”
Aku langsung memeluknya lagi.
Selama ini aku selalu mengira kalimat “kita harus kuat” membuat anakku merasa aman.
Ternyata Dimas menerjemahkannya dengan cara berbeda.
Dia merasa tidak boleh menjadi beban.
“Dengar Ibu,” kataku sambil memegang wajahnya. “Kamu nggak pernah jadi beban. Tidak akan pernah.”
Dimas menangis.
Kemudian aku menanyakan tulisan di lengannya.
Dia menjelaskan bahwa beberapa anak memang pernah menulis kata-kata itu menggunakan spidol ketika dia tertidur di ruang UKS.
Tetapi setelah kejadian tersebut, Dimas mulai melakukan sesuatu yang bahkan lebih menyakitkan.
Setiap kali mendengar ejekan baru, dia menuliskannya sendiri di kulitnya sebelum tidur.
“Kenapa?”
“Aku nggak tahu.”
Dia menatap tulisan hitam itu.
“Mungkin kalau aku bisa hapus semuanya, besok aku bisa lupa.”
Tapi tinta permanen tidak mudah hilang.
Jadi setiap pukul tiga dini hari, ketika yakin aku sudah tertidur, dia masuk kamar mandi dan menggosok lengannya sampai tulisan itu memudar.
Kadang kulitnya sampai merah dan perih.
Aku mengambil handuk itu dari lantai dan membuangnya.
“Mulai malam ini, kamu nggak perlu menghapus apa pun sendirian.”
Keesokan paginya aku tidak mengirim Dimas ke sekolah.
Aku menghubungi wali kelas dan meminta pertemuan dengan kepala sekolah.
Awalnya pihak sekolah menganggap persoalan itu sebagai konflik antarsiswa.
“Anak-anak seusia mereka kadang bercanda kelewatan, Bu Ratih.”
Aku meletakkan ponsel di atas meja.
Di layar terlihat foto lengan Dimas yang kuambil pagi itu.
Ruangan mendadak sunyi.
“Kalau seorang anak mandi diam-diam pukul tiga pagi untuk menghapus kata ‘mati saja’ dari tubuhnya, menurut Bapak itu masih bercanda?”
Tidak ada yang menjawab.
Sekolah akhirnya memulai pemeriksaan.
Namun dua hari kemudian, keadaan justru memburuk.
Sebuah akun anonim mengunggah foto Dimas.
Wajahnya diberi gambar badut.
Keterangan di bawahnya berbunyi, “Drama dimulai. Sekarang bawa emak.”
Dimas melihat unggahan itu.
Malamnya dia tidak mau makan.
Saat aku mengetuk kamarnya, dia berkata pelan dari balik pintu.
“Bu, kita pindah saja.”
Hatiku sakit mendengarnya.
Tetapi kali ini aku tidak mau mengambil keputusan berdasarkan kemarahan.
Aku meminta sekolah memeriksa rekaman CCTV pada hari ketika uang Kevin hilang.
Pihak sekolah mengatakan kamera di dalam kelas tidak mengarah langsung ke area tas siswa.
Aku hampir putus asa.
Sampai seorang petugas kebersihan bernama Pak Joko mendatangiku ketika aku hendak pulang.
“Bu Ratih.”
Dia terlihat ragu.
“Saya mungkin tahu sesuatu.”
Menurut Pak Joko, pada hari kejadian, dia melihat seorang siswa keluar dari kelas ketika semua anak sedang berada di laboratorium.
Namanya Arga.
Salah satu teman dekat Kevin.
“Kenapa Bapak baru bicara sekarang?”
“Saya kira bukan urusan saya, Bu. Tapi setelah dengar anak Ibu sampai nggak mau sekolah… saya merasa bersalah.”
Sekolah memeriksa rekaman kamera koridor.
Benar.
Pada pukul 10.17, Arga masuk ke kelas yang kosong.
Dia keluar sekitar dua menit kemudian.
Dimas baru kembali bersama rombongan kelas hampir lima belas menit setelahnya.
Arga dipanggil bersama orang tuanya.
Awalnya dia menyangkal.
Namun ketika diperlihatkan rekaman dan diberi tahu bahwa beberapa siswa lain juga akan dimintai keterangan, wajahnya berubah.
Akhirnya dia mengaku.
Uang Kevin sebenarnya ditemukan Arga di lantai dekat meja Kevin.
Dia berniat mengembalikannya.
Namun beberapa hari sebelumnya dia bertengkar dengan Dimas karena tugas kelompok.
Entah karena kesal atau sekadar ingin membuat lelucon, dia memasukkan uang itu ke tas Dimas.
Dia mengira masalahnya akan selesai ketika Dimas panik.
Dia tidak menyangka seluruh kelas akan menuduh Dimas.
Yang lebih mengejutkan, Arga bukan pembuat akun anonim.
Penyelidikan berlanjut.
Dan nama yang muncul justru Kevin.
Kevin mengaku dia membuat akun itu bersama dua siswa lain.
Alasannya membuatku sulit mempercayai betapa kejamnya anak-anak bisa menjadi ketika mereka merasa semua hanya hiburan.
“Awalnya cuma lucu-lucuan.”
Kalimat itu terus terngiang di kepalaku.
Lucu-lucuan.
Sementara anakku menggosok kulitnya sendiri setiap malam.
Sekolah memberikan sanksi kepada siswa yang terlibat dan mengadakan pertemuan dengan orang tua mereka.
Namun aku tidak meminta mereka mempermalukan anak-anak itu di depan sekolah.
Aku hanya meminta satu hal.
Mereka harus memahami akibat dari apa yang mereka lakukan.
Dalam pertemuan tertutup, Dimas duduk di sampingku.
Arga berada di seberang meja bersama ibunya.
Kevin duduk beberapa kursi darinya.
Tidak ada yang berani menatap Dimas.
Kepala sekolah mempersilakan Dimas berbicara.
Dia diam cukup lama.
Lalu perlahan menggulung lengan bajunya.
Bekas kemerahan akibat gosokan masih terlihat samar.
“Aku nggak mau kalian dikeluarkan,” katanya.
Semua orang menatapnya.
“Aku cuma mau kalian tahu kalau setelah kalian pulang dan lupa sama lelucon kalian, aku masih ingat.”
Kevin mulai menangis.
Dimas melanjutkan.
“Setiap malam aku nulis semua kata yang kalian bilang.”
Arga menatapnya dengan wajah pucat.
“Kenapa?”
Dimas tersenyum kecil, tetapi matanya berkaca-kaca.
“Karena lama-lama aku pikir mungkin kalian benar.”
Ruangan itu langsung sunyi.
Bahkan aku harus menahan tangis.
Beberapa minggu berikutnya tidak langsung menjadi mudah.
Dimas belum berani kembali ke kelas penuh waktu.
Aku membawanya menemui psikolog anak.
Sekolah mengatur pendampingan dan memisahkan beberapa siswa yang terlibat selama proses pemulihan.
Ada hari ketika Dimas terlihat seperti dirinya yang dulu.
Ada pula hari ketika dia tiba-tiba diam selama berjam-jam.
Namun sedikit demi sedikit, perubahan mulai terlihat.
Dia kembali membaca di ruang keluarga.
Dia mulai makan dengan lebih lahap.
Dan suatu sore, aku melihat sesuatu yang sudah lama tidak kulihat.
Dimas mengenakan kaus berlengan pendek.
Aku hampir menangis hanya karena melihat kedua lengannya terkena cahaya matahari.
Dua bulan setelah kejadian itu, sekolah mengadakan kegiatan kelas tentang perundungan.
Dimas diminta berbicara.
Aku tidak menyuruhnya menerima.
Keputusan itu sepenuhnya miliknya.
Ternyata dia bersedia.
Aku duduk di barisan belakang aula.
Dimas berdiri di depan puluhan siswa dengan tangan sedikit gemetar.
Dia membawa sebuah spidol hitam.
Spidol yang sama jenisnya dengan yang dulu dia gunakan setiap malam.
“Aku pernah percaya kata-kata orang lain lebih daripada aku percaya diriku sendiri,” katanya.
Dia mengangkat spidol itu.
“Kalau sesuatu ditulis pakai spidol permanen, kita pikir tulisan itu nggak bisa hilang.”
Semua anak memperhatikannya.
“Tapi ternyata bukan tintanya yang paling susah dihapus.”
Dia menyentuh dadanya.
“Yang paling susah dihapus itu ketika kata-katanya sudah masuk ke sini.”
Aku menunduk karena air mataku jatuh.
Kemudian Dimas mengatakan sesuatu yang tidak pernah kuduga.
“Arga, boleh maju?”
Suasana aula berubah tegang.
Arga yang duduk di barisan tengah terlihat terkejut.
Perlahan dia berdiri dan berjalan ke depan.
Dimas memberikan spidol itu kepadanya.
Aku sempat takut.
Namun Arga tidak menulis apa pun.
Dia menatap spidol tersebut beberapa detik, lalu mematahkannya menjadi dua.
“Aku minta maaf.”
Dimas mengangguk.
Tidak ada pelukan dramatis.
Tidak ada persahabatan mendadak.
Hanya dua anak berusia tiga belas tahun yang akhirnya memahami bahwa satu tindakan bodoh bisa meninggalkan luka jauh lebih lama daripada yang mereka bayangkan.
Malam itu, aku terbangun pukul 02.53.
Jam yang sama seperti malam ketika semuanya terbongkar.
Aku langsung duduk.
Rumah sangat sunyi.
Kemudian terdengar pintu kamar Dimas terbuka.
Jantungku berdegup kencang.
Aku bangkit dan berjalan ke lorong.
Dimas berdiri di depan kamar mandi.
Untuk sesaat, ketakutan lama kembali menghantamku.
Namun dia tidak masuk.
Dia berjalan ke dapur, mengambil air minum, lalu melihatku.
“Ibu belum tidur?”
Aku tersenyum.
“Kebangun.”
Dia mengangguk dan hendak kembali ke kamar.
Namun sebelum pergi, dia berhenti.
“Bu.”
“Ya?”
“Besok aku mau masuk sekolah dari pagi sampai selesai.”
Aku menatapnya.
“Yakin?”
Dimas mengangguk.
Kemudian dia menarik lengan bajunya sedikit.
Kulitnya bersih.
Tidak ada tulisan.
Tidak ada bekas tinta.
“Yakin.”
Aku menghampirinya dan memeluknya.
Barulah beberapa hari kemudian aku menemukan sesuatu yang membuatku kembali menangis.
Saat mengganti seprai di kamarnya, aku menemukan buku kecil terselip di bawah bantal.
Aku tidak berniat membacanya.
Namun buku itu terbuka pada halaman terakhir.
Di sana ada tulisan tangan Dimas.
Bukan “aneh”.
Bukan “pembohong”.
Bukan “anak yatim”.
Bukan “gila”.
Ada empat kalimat baru.
“Aku tidak aneh.”
“Aku tidak bersalah.”
“Aku tidak sendirian.”
“Aku masih ingin hidup.”
Di bawahnya ada satu kalimat yang ditulis dengan huruf lebih kecil.
“Malam ketika Ibu membuka pintu kamar mandi, sebenarnya aku berharap Ibu melihatku.”
Tanganku langsung gemetar.
Saat itu aku akhirnya memahami sesuatu yang selama ini tidak pernah terpikirkan.
Mungkin Dimas tidak benar-benar berhasil menyembunyikan semuanya dariku.
Mungkin suara shower setiap pukul tiga pagi itu adalah caranya meminta pertolongan ketika dia sendiri tidak tahu bagaimana mengucapkan kata “tolong”.
Malam itu aku duduk di tepi tempat tidurnya sambil menangis.
Dimas terbangun dan menatap buku di tanganku.
Dia tidak marah.
Dia hanya bergeser, memberiku tempat untuk duduk.
Aku memeluknya.
“Maaf Ibu terlambat melihat.”
Dimas terdiam sebentar.
Kemudian dia menjawab pelan.
“Tapi Ibu akhirnya melihat.”
Dan untuk pertama kalinya setelah berbulan-bulan, kalimat itu terasa cukup.
Karena sejak malam itu aku belajar bahwa anak yang paling jarang mengeluh bukan berarti anak yang paling baik-baik saja.
Kadang mereka hanya paling pandai menyembunyikan luka.
Dan ketika seorang anak tiba-tiba berubah, menarik diri, menutup tubuhnya, kehilangan selera makan, atau melakukan kebiasaan aneh yang tidak pernah dilakukannya sebelumnya, mungkin yang mereka butuhkan bukan pertanyaan, “Kenapa kamu begini?”
Mungkin mereka sedang menunggu seseorang cukup dekat untuk berkata,
“Aku melihatmu. Kamu tidak harus menghadapi ini sendirian.”
