Saya tidak marah ketika perempuan itu menyebut dirinya ibu saya.
Saya juga tidak menangis ketika pria di sebelahnya mengangkat hasil tes DNA sambil mengatakan bahwa darah mereka mengalir di tubuh saya.
Yang membuat dada saya terasa sesak justru satu kalimat berikutnya.

“Kirana tetap anak kami. Jadi wajar kalau keluarga kami ikut menikmati keberhasilannya.”
Balai Desa Batu Hitam mendadak sunyi.
Saya menatap perempuan bernama Ratih itu cukup lama. Usianya sekitar lima puluhan, rambutnya tertata rapi, tas mahal menggantung di lengannya. Di sampingnya berdiri suaminya, Surya, sedangkan pemuda yang mereka sebut adik kandung saya bernama Kevin.
Kevin maju dengan percaya diri.
“Kami tidak meminta semuanya. Pengelolaan proyek saja serahkan kepada perusahaan saya. Toh kita keluarga.”
Beberapa warga mulai berbisik.
Pak Mulyono bangkit dari kursinya.
“Keluarga?”
Suara ayah angkat saya bergetar.
“Dua puluh lima tahun anak ini hidup tanpa tahu siapa orang tua kandungnya. Sekarang kalian datang setelah dia membawa proyek besar lalu bicara soal keluarga?”
Surya membalas dengan dingin.
“Pak, ini urusan keluarga kami.”
Pak Mulyono mengepalkan tangan.
Saya segera menghampirinya.
“Pak, duduk dulu.”
“Tapi, Nduk…”
“Biar Kirana yang bicara.”
Saya kembali menghadap Ratih.
“Tes DNA itu asli?”
Ratih langsung menyerahkan dokumennya.
“Silakan diperiksa.”
Saya menerimanya.
Nama laboratorium tercetak jelas. Hasilnya menunjukkan probabilitas hubungan biologis yang sangat tinggi.
Saya menarik napas.
“Baik. Saya percaya untuk sementara.”
Wajah Ratih langsung berubah lega.
Ia bahkan mencoba memeluk saya.
Saya mundur satu langkah.
“Tapi saya punya pertanyaan.”
Ratih berhenti.
“Dua puluh lima tahun lalu, apakah Ibu membuang saya di depan balai desa?”
Wajahnya berubah pucat.
“Tidak sesederhana itu.”
“Jawab saja.”
Ratih menunduk.
Surya mengambil alih.
“Waktu itu kondisi ekonomi kami sulit.”
Saya hampir tertawa.
Sulit?
Saya menunjuk Kevin.
“Kalau begitu, berapa umur dia?”
Kevin terlihat tidak nyaman.
“Dua puluh tiga.”
Hanya terpaut dua tahun dari saya.
Saya menatap Ratih.
“Dua tahun setelah membuang bayi karena miskin, kalian bisa membesarkan anak berikutnya?”
Tidak ada jawaban.
Warga mulai gaduh.
Kevin tiba-tiba berkata, “Kak, jangan mempermalukan orang tua sendiri.”
Saya menoleh kepadanya.
“Jangan panggil saya Kak dulu. Kita baru bertemu sepuluh menit.”
Wajah Kevin memerah.
Surya membanting telapak tangannya ke meja.
“Cukup! Kami datang baik-baik.”
“Datang baik-baik sambil membawa wartawan dan meminta proyek?”
Surya terdiam.
Saya kemudian memandang wartawan di belakang.
“Siapa yang mengundang media tambahan hari ini?”
Sekretaris desa mengangkat tangan.
“Bukan kami, Mbak. Mereka datang bersama keluarga itu.”
Saat itulah saya mengerti.
Mereka tidak datang untuk menemukan anak.
Mereka datang untuk menciptakan tekanan.
Saya menutup map tes DNA.
“Acara penandatanganan tetap dilanjutkan.”
Ratih langsung panik.
“Kirana, dengarkan Ibu dulu.”
“Silakan bicara setelah acara.”
“Tapi proyek itu…”
“Proyek ini bukan uang pribadi saya.”
Saya menatap seluruh ruangan.
“Investasi ini milik konsorsium. Setiap rupiah memiliki mekanisme audit. Tidak ada satu pun anggota keluarga saya yang otomatis mendapat hak mengelolanya.”
Kevin tersenyum sinis.
“Tapi perusahaan saya memenuhi syarat.”
“Perusahaan apa?”
“PT Karya Mandiri Nusantara.”
Saya mengangguk perlahan.
Nama itu tidak asing.
Tiga bulan sebelumnya, tim legal kami pernah menolak perusahaan tersebut sebagai calon kontraktor karena laporan keuangannya bermasalah dan memiliki utang besar.
Saya mengambil ponsel dan mengirim pesan kepada staf saya.
Periksa PT Karya Mandiri Nusantara. Sekarang.
Kevin masih berbicara tentang pengalaman perusahaannya ketika ponsel saya bergetar.
Jawaban staf hanya dua kalimat.
Direktur utama: Kevin Pratama Surya.
Total utang terindikasi lebih dari sebelas miliar rupiah.
Saya menatap Kevin.
“Perusahaanmu sedang terlilit utang?”
Senyumnya hilang.
Surya berdiri.
“Informasi dari mana itu?”
“Jadi benar?”
Kevin membentak.
“Itu urusan bisnis!”
Saya akhirnya memahami alasan kedatangan mereka.
Mereka membutuhkan proyek Desa Batu Hitam untuk menyelamatkan perusahaan Kevin.
Tetapi masih ada sesuatu yang mengganjal.
Bagaimana mereka mendapatkan sampel DNA saya?
Saya belum pernah bertemu mereka.
“Tes ini dilakukan dari sampel apa?”
Ratih terlihat gugup.
“Rambut.”
“Rambut saya dari mana?”
Tidak ada jawaban.
Saya mendekati mereka.
“Dari mana?”
Kevin akhirnya berkata, “Kami menyewa orang.”
“Menyewa siapa?”
Ratih tiba-tiba menangis.
“Cukup, Kirana. Ibu hanya ingin menemukan anak Ibu.”
Tangisannya terdengar meyakinkan.
Namun saya sudah terlalu lama bekerja menghadapi negosiasi untuk tidak mengenali seseorang yang sedang menghindari pertanyaan.
Saya meminta acara dihentikan sementara.
Malam itu, saya pulang ke rumah Pak Mulyono.
Rumah kecil tersebut hampir tidak berubah.
Bu Ningsih membuat teh hangat sementara Pak Mulyono duduk diam di teras.
Saya duduk di sebelahnya.
“Bapak takut saya pergi?”
Pak Mulyono menunduk.
“Orang tua kandungmu sudah datang.”
Saya menggenggam tangannya.
“Orang tua kandung memberi saya darah. Bapak dan Ibu memberi saya kehidupan.”
Matanya langsung basah.
“Dulu Bapak tidak punya apa-apa.”
“Bapak punya rumah.”
“Rumahnya bocor.”
“Bapak punya sepeda.”
“Remnya rusak.”
Saya tertawa kecil.
“Bapak punya kasih sayang. Itu yang paling mahal.”
Pak Mulyono akhirnya tersenyum.
Kemudian Bu Ningsih keluar membawa sebuah kotak kayu tua.
“Ada sesuatu yang selama ini Ibu simpan.”
Dari dalamnya, beliau mengeluarkan kain sarung yang dahulu ditemukan bersama saya.
Saya mengenalinya dari foto.
Namun Bu Ningsih menunjukkan bagian ujung kain yang selama ini terlipat.
Ada bordiran kecil.
RS Kasih Bunda.
Saya langsung berdiri.
Rumah sakit itu masih beroperasi di kota kabupaten.
Keesokan paginya saya pergi ke sana bersama staf legal.
Arsip dua puluh lima tahun lalu sebagian sudah didigitalisasi.
Kami menemukan sesuatu.
Pada tanggal yang diperkirakan sebagai hari kelahiran saya, terdapat pasien bernama Ratih Prameswari.
Ia memang melahirkan bayi perempuan prematur.
Tetapi catatan berikutnya jauh lebih mengejutkan.
Bayi tersebut dinyatakan meninggalkan rumah sakit bersama kedua orang tuanya dalam kondisi hidup.
Alamat mereka saat itu bukan rumah kontrakan miskin.
Melainkan sebuah rumah milik keluarga Surya yang cukup besar di pusat kota.
Alasan kemiskinan mereka mulai runtuh.
Saya kemudian meminta penyelidikan legal terhadap riwayat keluarga tersebut.
Tiga hari kemudian, semuanya terbuka.
Surya berasal dari keluarga pengusaha.
Ketika menikahi Ratih, ayah Surya membuat aturan pembagian warisan keluarga. Anak laki-laki pertama akan memperoleh kendali terbesar atas perusahaan.
Saya lahir perempuan.
Dua tahun kemudian Kevin lahir.
Laki-laki.
Potongan terakhir teka-teki itu akhirnya masuk ke tempatnya.
Mereka tidak membuang saya karena tidak mampu membesarkan anak.
Mereka membuang saya karena keberadaan saya dianggap mengganggu rencana keluarga.
Saya merasa mual ketika membaca laporan itu.
Tetapi bukti terpenting datang dari orang yang tidak pernah saya duga.
Pak RT Darmo.
Beliau meminta saya datang ke rumahnya.
Di tangannya terdapat sebuah lonceng perunggu kecil.
Lonceng masa kecil saya.
“Kirana, ada sesuatu yang Pak RT sembunyikan selama dua puluh lima tahun.”
Saya membeku.
Beliau masuk ke kamar dan kembali membawa amplop plastik tua.
“Beberapa hari setelah kamu ditemukan, ada laki-laki datang menemui saya.”
“Siapa?”
“Dia mengaku sopir keluarga yang membuangmu.”
Dada saya berdegup keras.
“Kenapa Bapak tidak pernah cerita?”
“Dia takut dibunuh. Dia cuma menitipkan ini dan meminta saya membukanya kalau suatu hari orang yang membuangmu kembali.”
Di dalam amplop terdapat foto sebuah mobil tua.
Nomor polisinya terlihat jelas.
Di belakang foto tertulis satu nama.
Surya Pratama.
Ada pula surat tulisan tangan dari sopir tersebut.
Surya sendiri yang memerintahkannya membawa bayi perempuan itu sejauh mungkin. Tetapi sang sopir tidak tega meninggalkan saya di hutan seperti perintah awal. Ia memilih menaruh saya dekat balai desa karena berharap seseorang menemukan saya.
Saya menangis untuk pertama kalinya.
Bukan karena mengetahui bahwa ayah kandung saya pernah menginginkan saya lenyap.
Saya menangis karena seorang sopir yang bahkan tidak mengenal saya memilih memberikan kesempatan hidup kepada seorang bayi.
Seminggu kemudian, Ratih dan keluarganya kembali ke balai desa.
Kali ini mereka membawa pengacara.
Surya bahkan mengancam akan menggugat saya karena dianggap mencemarkan nama keluarga.
Saya sudah menunggu.
Balai desa kembali dipenuhi warga dan media.
Surya berkata lantang, “Kami hanya ingin hak keluarga kami dihormati.”
Saya mengangguk.
“Baik. Hari ini kita bicara soal hak.”
Saya menyalakan layar proyektor.
Catatan rumah sakit muncul.
Kemudian dokumen kepemilikan rumah keluarga mereka.
Lalu data perusahaan Kevin dan utangnya.
Terakhir, foto mobil Surya dua puluh lima tahun lalu muncul di layar.
Wajah Surya seketika kehilangan warna.
Ratih menutup mulut.
Saya membacakan sebagian isi kesaksian sopir.
Ruangan menjadi sunyi.
Kevin menoleh kepada ayahnya.
“Papa bilang Kak Kirana hilang waktu bayi.”
Surya tidak menjawab.
“Papa bilang ada orang menculik dia!”
Ratih menangis.
Kevin mundur beberapa langkah.
Untuk pertama kalinya saya melihat bahwa mungkin dia juga dibesarkan dengan kebohongan.
Ratih tiba-tiba berlutut.
“Kirana, maafkan Ibu.”
Saya menatapnya lama.
“Kenapa sekarang?”
Ratih terisak.
“Karena Ibu menyesal.”
“Kenapa bukan lima tahun lalu? Sepuluh tahun lalu? Kenapa tepat ketika saya membawa investasi puluhan miliar?”
Ratih tidak mampu menjawab.
Itu sudah cukup.
Surya akhirnya mengakui semuanya.
Bisnis Kevin hampir bangkrut. Mereka mengetahui keberadaan saya setelah membaca berita mengenai proyek Desa Batu Hitam. Mereka menyewa orang untuk mengambil sampel rambut saya dari salon yang pernah saya kunjungi, kemudian melakukan tes DNA secara diam-diam.
Rencana mereka sederhana.
Muncul sebagai keluarga kandung.
Membuat kisah reuni emosional.
Kemudian menggunakan hubungan keluarga untuk menekan saya memberikan kontrak kepada Kevin.
Namun rencana itu berakhir hari itu juga.
Beberapa bulan kemudian, proyek Desa Batu Hitam resmi berjalan.
Jalan utama diperbaiki.
Koperasi pertanian mendapatkan gudang baru.
Anak-anak desa memperoleh pusat belajar dan akses internet.
Tetapi ada satu keputusan yang membuat seluruh warga terkejut.
Saya tidak memberi nama gedung baru itu Kirana Center seperti usulan investor.
Saya menamainya Rumah Cahaya Darmo Mulyono.
Di pintu masuknya saya menggantung lonceng perunggu masa kecil saya.
Pak RT Darmo menangis ketika melihatnya.
Pak Mulyono bahkan tidak sanggup berkata-kata.
Sementara Ratih?
Saya tidak membencinya.
Saya juga tidak langsung menerimanya sebagai ibu.
Saya hanya mengatakan bahwa jika suatu hari ia benar-benar ingin mengenal saya tanpa membawa kepentingan apa pun, pintu untuk berbicara tidak akan selamanya tertutup.
Kevin memilih menjual sebagian asetnya dan menjalani restrukturisasi utang tanpa bantuan proyek saya.
Beberapa bulan kemudian dia datang sendirian ke Desa Batu Hitam.
Tanpa jas mahal.
Tanpa pengacara.
Tanpa kamera.
Dia berdiri di depan rumah Pak Mulyono sambil membawa sekotak martabak.
“Boleh saya bertemu Kak Kirana?”
Kali itu saya membiarkannya memanggil saya Kak.
Malamnya kami duduk di teras.
Kevin memandang lonceng kecil yang tergantung di dekat pintu.
“Kak pernah berharap dibesarkan keluarga kandung?”
Saya berpikir lama.
Kemudian saya menggeleng.
“Kalau hidup bisa diulang, saya tetap memilih ditemukan di Batu Hitam.”
Kevin menatap saya heran.
Saya tersenyum.
“Dulu seseorang membuang saya di dalam kardus karena menganggap saya tidak berharga.”
Dari kejauhan terdengar anak-anak berlari keluar dari Rumah Cahaya sambil tertawa.
Saya memandang Pak Mulyono dan Bu Ningsih yang sedang menyiram tanaman di halaman.
Lalu saya akhirnya memahami arti nama yang diberikan warga kepada saya dua puluh lima tahun lalu.
Kirana Cahaya.
Saya memang pernah dibuang dalam kegelapan.
Tetapi orang-orang yang sama sekali tidak memiliki hubungan darah dengan saya menyalakan begitu banyak cahaya hingga kegelapan itu tidak pernah berhasil menentukan siapa saya.
Darah menjelaskan dari mana kita berasal.
Namun keluarga adalah mereka yang memilih tetap tinggal ketika kita belum memiliki apa pun untuk diberikan.
