DIUSIR OLEH BIBIKU TEPAT SAAT AKU BERUSIA 18 TAHUN, AKU MEMBELI

“Pak Adrian Mahardika sudah tahu bahwa Anda membuka loker ini.”

Aku menatap manajer bank itu dengan jantung berdebar kencang.

“Bagaimana dia bisa tahu? Saya bahkan belum sepuluh menit berada di sini!”

Pria bernama Pak Budi itu menarik napas panjang.

“Karena Pak Adrian meninggalkan instruksi khusus. Jika suatu hari seseorang bernama Nara Adhisty datang membawa kunci loker 317, kami diminta menghubungi perwakilan hukumnya.”

“Jadi, selama ini dia menungguku?”

Pak Budi mengangguk.

“Sudah hampir delapan belas tahun.”

Aku memandangi akta kematian di tanganku.

“Kalau begitu, jelaskan kenapa dokumen ini menyatakan saya meninggal saat lahir!”

“Maaf, Mbak. Saya tidak mengetahui isi dokumen yang disimpan di sini.”

Aku berusaha menenangkan diri.

Di dalam amplop ternyata masih ada dua lembar kertas.

Salah satunya merupakan salinan catatan persalinan dari sebuah rumah sakit di Semarang.

Aku membaca setiap baris dengan saksama.

Nama ibu kandungku tercantum di sana.

Melati Puspitasari.

Namun, ada sesuatu yang membuatku membeku.

Pada bagian keterangan kelahiran tertulis bahwa ibuku melahirkan bayi perempuan kembar.

Bayi pertama lahir pukul 04.12.

Bayi kedua lahir pukul 04.19.

Aku menahan napas.

Kembar?

Selama delapan belas tahun, tidak seorang pun pernah mengatakan bahwa aku memiliki saudara kembar.

Tanganku gemetar ketika membaca bagian berikutnya.

Bayi pertama dinyatakan meninggal tidak lama setelah dilahirkan.

Bayi kedua berhasil diselamatkan setelah mendapatkan penanganan darurat.

Aku langsung memahami sesuatu.

Akta kematian yang kupegang mungkin bukan milikku.

Melainkan milik saudara kembarku.

Namun, mengapa namanya sama persis?

Aku membuka lembar terakhir.

Di sana terdapat catatan tulisan tangan.

Bayi yang meninggal telah didaftarkan dengan nama Nara Adhisty. Bayi yang selamat belum sempat diberi nama resmi. Untuk melindunginya dari pihak yang mengancam keluarga Melati, identitas bayi yang meninggal kemudian digunakan secara tidak sah oleh pihak keluarga.

Aku menjatuhkan kertas itu ke meja.

“Jadi… selama ini aku hidup menggunakan identitas saudara kembarku?”

Pak Budi tidak menjawab.

Aku merasakan seluruh ruangan berputar.

Sebelum sempat berpikir lebih jauh, pintu ruangan diketuk.

Pak Harun muncul dengan wajah cemas.

“Nara, ada seorang laki-laki ingin bertemu denganmu.”

“Siapa, Pak?”

“Katanya pengacara Pak Adrian.”

Aku menggeleng cepat.

“Saya tidak mau bertemu siapa pun sebelum tahu apa yang sebenarnya terjadi.”

Namun, sebuah suara laki-laki terdengar dari belakang Pak Harun.

“Kalau begitu, izinkan saya menjelaskan alasan ayahmu menyembunyikanmu selama ini.”

Aku langsung menoleh.

Seorang pria paruh baya mengenakan jas abu-abu berdiri di ambang pintu.

Namanya Damar Prasetyo.

Ia memperkenalkan diri sebagai pengacara keluarga Mahardika.

“Ayahku?” tanyaku.

Pak Damar mengangguk.

“Adrian Mahardika adalah ayah kandungmu.”

Aku menatapnya tanpa berkedip.

“Kalau dia ayahku, kenapa selama delapan belas tahun dia membiarkanku tinggal bersama perempuan yang bahkan tidak mau memberiku makan dengan layak?”

Pak Damar menunduk.

“Karena dia percaya Ratih menjalankan perjanjian pengasuhan dengan baik.”

Aku tertawa pahit.

“Perjanjian? Jadi aku hanya anak yang dititipkan dengan bayaran bulanan?”

“Tidak sesederhana itu, Nara.”

“Kalau begitu, jelaskan!”

Pak Damar membuka map yang dibawanya.

Delapan belas tahun lalu, Adrian dan Melati menikah diam-diam karena keluarga besar Adrian menentang hubungan mereka.

Saat itu, Adrian sedang berselisih dengan pamannya mengenai kepemilikan perusahaan keluarga.

Ketika Melati hamil, konflik tersebut semakin memburuk.

“Paman Adrian khawatir kelahiran anak kandung Adrian akan memperkuat kedudukannya sebagai penerus perusahaan,” jelas Pak Damar.

Aku mengernyit.

“Lalu?”

“Beberapa minggu sebelum persalinan, Melati menerima ancaman. Setelah salah satu bayi meninggal, Adrian dan Melati memutuskan menyembunyikan bayi yang selamat sampai situasi aman.”

Aku menatap foto lama di tanganku.

“Jadi mereka menyerahkanku kepada Bibi Ratih?”

“Ratih adalah sepupu Melati. Dia bersedia mengasuhmu dengan syarat seluruh kebutuhanmu dibiayai.”

Aku mengepalkan tangan.

“Lalu kenapa mereka tidak pernah datang menjemputku?”

Pak Damar terdiam.

Pertanyaan itu rupanya lebih sulit dijawab daripada yang lain.

“Melati meninggal ketika kamu berusia dua tahun akibat penyakit yang dideritanya sejak persalinan.”

Dadaku terasa sesak.

“Dan Adrian?”

“Dia mengalami kecelakaan berat beberapa bulan setelahnya. Selama hampir empat tahun, kondisinya tidak memungkinkan untuk mengurusmu.”

Aku menatapnya tajam.

“Tapi setelah sembuh?”

Pak Damar menghela napas.

“Adrian mencoba menemuimu. Namun, Ratih mengatakan kamu mengalami trauma dan tidak ingin bertemu orang asing. Dia juga mengancam akan membawa masalah identitasmu ke pihak berwenang jika Adrian mengambilmu secara paksa.”

Aku menggeleng.

“Itu bohong. Aku bahkan tidak tahu siapa ayahku!”

“Sekarang kami mengetahuinya.”

Air mataku mengalir.

“Dia seharusnya datang sendiri. Seharusnya bertanya langsung kepadaku!”

Pak Damar tidak membantah.

“Benar. Dia telah membuat kesalahan besar.”

Aku menggenggam dokumen itu.

“Kalau begitu, aku ingin bertemu dengannya.”

Sore itu, aku dibawa ke sebuah rumah besar di kawasan Candi, Semarang.

Pak Harun bersikeras ikut menemaniku.

Ketika mobil berhenti di halaman, aku melihat seorang pria berusia sekitar lima puluh tahun duduk di kursi roda dekat teras.

Wajahnya sama seperti pria dalam foto lama yang kutemukan.

Adrian Mahardika.

Begitu melihatku, ia berusaha berdiri.

Namun, kaki kanannya tampak kesulitan menopang tubuh.

“Nara?”

Suaranya bergetar.

Aku berhenti beberapa langkah di depannya.

Ia menatap wajahku dengan mata berkaca-kaca.

“Kamu benar-benar mirip ibumu.”

Aku tidak menjawab.

Adrian mengangkat tangan, seolah ingin menyentuh pipiku.

Namun, aku spontan mundur.

Tangannya terhenti di udara.

“Maaf,” bisiknya.

Aku menahan tangis.

“Selama tujuh belas tahun, Bapak mengirim uang untukku?”

Ia mengangguk.

“Setiap bulan.”

“Bapak tahu aku bekerja sepulang sekolah?”

Adrian membeku.

“Bekerja?”

“Aku memperbaiki kipas angin, televisi, dan setrika supaya bisa membeli buku sekolah. Bibi selalu bilang tidak punya uang.”

Wajah Adrian berubah pucat.

“Ratih mengirim laporan setiap bulan. Ada foto kamu sedang belajar, laporan sekolah, dan kuitansi biaya hidup.”

Aku tertawa getir.

“Foto-foto itu mungkin benar. Tapi ceritanya tidak.”

Aku mengeluarkan ponsel dan menunjukkan foto gudang tempatku tidur setelah diusir.

“Ini tempat tinggalku sekarang.”

Adrian menutup mulut.

Air matanya mengalir.

“Ya Tuhan…”

Aku menatapnya.

“Bapak membayar jutaan rupiah setiap bulan, tapi tidak pernah memastikan apakah anak Bapak benar-benar mendapatkan uang itu?”

Adrian menunduk.

“Aku terlalu percaya kepada orang yang salah.”

“Tidak, Pak. Bapak terlalu takut menghadapi kenyataan.”

Ia tidak membantah.

Untuk beberapa saat, kami hanya mendengar suara angin di halaman.

Kemudian Adrian berkata pelan.

“Aku tidak akan memintamu memanggilku Ayah hari ini. Tapi izinkan aku memperbaiki apa yang masih bisa diperbaiki.”

Aku mengusap air mata.

“Aku belum bisa memaafkan Bapak.”

“Aku mengerti.”

“Tapi aku ingin tahu satu hal lagi.”

“Apa?”

“Kenapa bengkel bekas kebakaran itu menyimpan seluruh dokumenku?”

Adrian mengangkat wajah.

Untuk pertama kalinya, ada ekspresi terkejut di matanya.

“Kamu membeli bengkel itu?”

Aku mengangguk.

“Dengan uang tabunganku.”

Adrian langsung menangis.

“Nara… bengkel itu milik ibumu.”

Aku membeku.

“Apa?”

“Dulu Melati membuka bengkel jam kecil di sana. Dia sangat pandai memperbaiki barang. Ketika hamil, dia menyiapkan kotak dokumen di bawah lantai untuk berjaga-jaga kalau sesuatu terjadi pada keluarga kita.”

Aku terdiam.

“Lalu kenapa bengkel itu terbakar?”

Adrian menatap Pak Damar.

“Karena seseorang mencoba menghancurkan dokumen yang disimpan Melati.”

Dadaku kembali berdebar.

“Siapa?”

Adrian menarik napas panjang.

“Orang yang sama yang selama ini menerima uang pengasuhanmu.”

Aku membeku.

“Bibi Ratih?”

Adrian mengangguk.

“Enam bulan lalu, aku mulai curiga karena Ratih menolak permintaanku untuk berbicara langsung denganmu. Aku meminta penyelidik memeriksa laporan pengasuhan. Ketika Ratih mengetahui hal itu, dia panik.”

Aku teringat pengumuman lelang bengkel.

“Jadi dia membakar bengkel untuk menghancurkan bukti?”

“Penyelidikan awal menunjukkan ada indikasi kebakaran disengaja, tetapi pelakunya belum dipastikan. Ratih memiliki akses ke tempat itu sebelum kebakaran.”

Aku mengepalkan tangan.

“Dan dia mengusirku karena tahu Bapak mulai mencari kebenaran?”

“Itu kemungkinan yang sedang kami selidiki.”

Aku menunduk.

Selama ini, aku mengira Bibi Ratih membenciku karena merasa terbebani.

Ternyata mungkin ada alasan yang jauh lebih buruk.

Dia takut sumber uangnya hilang.

Dua hari kemudian, aku datang ke rumah Ratih bersama Pak Harun dan pengacara.

Ketika membuka pintu, bibiku langsung terkejut.

“Nara? Kamu mau apa lagi?”

Aku meletakkan salinan catatan pembayaran di meja.

“Aku ingin tahu ke mana uang Rp18.750.000 yang diterima Bibi tiga minggu lalu.”

Wajah Ratih langsung pucat.

“Uang apa?”

“Jangan bohong lagi, Bi.”

Aku menunjukkan foto kuitansi selama bertahun-tahun.

Ratih mundur perlahan.

“Dari mana kamu mendapatkan semuanya?”

“Dari bengkel yang kubeli.”

Ia langsung mencengkeram tepi meja.

“Bengkel itu sudah terbakar!”

“Dokumennya tidak.”

Untuk pertama kalinya, perempuan yang selama delapan belas tahun selalu memarahiku itu kehilangan kata-kata.

Pak Damar menjelaskan bahwa seluruh pembayaran sedang diperiksa dan laporan mengenai dugaan penyalahgunaan dana pengasuhan akan diserahkan kepada pihak berwenang.

Ratih tiba-tiba menangis.

“Aku membesarkanmu, Nara! Aku memberimu makan sejak bayi!”

Aku menatapnya.

“Dan aku berterima kasih karena Bibi pernah menjagaku.”

Ia langsung mengangkat wajah.

“Tapi bukan berarti Bibi boleh mengambil uang yang seharusnya digunakan untuk kebutuhanku, lalu mengusirku ketika aku sudah dianggap tidak berguna.”

Ratih menunduk.

Aku melanjutkan dengan suara bergetar.

“Aku tidak marah karena harus bekerja. Aku justru bangga bisa mencari uang sendiri. Tapi aku sakit hati karena setiap kali meminta uang untuk buku sekolah, Bibi membuatku merasa seperti beban.”

Air mata Ratih jatuh ke meja.

“Aku takut kehilangan semuanya,” bisiknya.

“Dan karena ketakutan itu, Bibi membuatku merasa tidak punya siapa-siapa.”

Aku meninggalkan rumah tanpa menunggu jawabannya.

Beberapa minggu kemudian, hasil pemeriksaan dokumen memperjelas bahwa akta kematian yang kutemukan berkaitan dengan saudara kembarku yang meninggal saat lahir.

Penggunaan identitas tersebut merupakan pelanggaran administrasi serius yang harus diperbaiki melalui prosedur hukum.

Adrian membantu mengurus dokumen kelahiranku yang sebenarnya berdasarkan catatan rumah sakit dan bukti keluarga.

Aku akhirnya mengetahui nama yang dahulu dipilih ibuku untuk bayi yang selamat.

Nara Kirana Mahardika.

Kirana.

Cahaya.

Nama itu tertulis dalam surat Melati yang ditemukan di bagian lain kotak besi.

Aku menangis ketika membacanya.

Ibuku ternyata pernah menuliskan harapan sederhana.

Jika suatu hari Kirana tumbuh tanpa kami, semoga dia menemukan orang-orang baik yang membuatnya percaya bahwa dunia tidak sepenuhnya kejam.

Aku langsung teringat Pak Harun.

Laki-laki sederhana yang memberiku kunci gudang ketika aku tidak memiliki tempat tidur.

Orang yang datang membawa sapu ketika semua orang menganggap bengkelku tidak layak diperbaiki.

Aku menemui beliau sore itu.

“Pak, saya ingin menunjukkan sesuatu.”

Aku menyerahkan salinan surat ibuku.

Pak Harun membacanya perlahan.

Kemudian beliau tersenyum.

“Ibumu pasti bangga kepadamu, Nara.”

Aku menggeleng sambil menangis.

“Kalau Bapak tidak menolong saya malam itu, mungkin saya tidak akan sampai di sini.”

Pak Harun menepuk bahuku.

“Kamu yang bekerja keras. Saya cuma meminjamkan gudang.”

Aku tersenyum.

“Dan sapu.”

Beliau tertawa.

Tiga bulan kemudian, bengkel bekas kebakaran itu mulai berubah.

Atapnya diperbaiki.

Dindingnya dicat ulang.

Meja kerja lama dibersihkan.

Aku menggunakan sebagian penghasilanku sendiri dan menerima bantuan Adrian untuk memperbaiki bagian bangunan yang berbahaya.

Namun, aku menolak ketika ia menawarkan rumah besar.

“Aku ingin tetap tinggal di sini dulu, Pak.”

Adrian mengangguk.

“Aku mengerti.”

“Aku ingin punya sesuatu yang kubangun dengan tanganku sendiri.”

Ia tersenyum.

“Kalau begitu, izinkan aku menjadi pelanggan pertamamu.”

Aku tertawa.

Untuk pertama kalinya, hubungan kami terasa sedikit lebih hangat.

Pada hari pembukaan bengkel, aku memasang papan nama sederhana di depan pintu.

Bengkel Kirana.

Servis Elektronik dan Jam.

Pak Harun datang membawa nasi tumpeng kecil.

Adrian hadir dengan kursi rodanya.

Beberapa tetangga ikut membantu menata kursi.

Ketika semua orang sudah berkumpul, Adrian menyerahkan sebuah kotak kayu kecil kepadaku.

“Ada satu benda peninggalan ibumu yang belum pernah kuberikan.”

Aku membukanya.

Di dalamnya terdapat sebuah jam tangan perempuan.

Jarumnya berhenti pada pukul 04.19.

Waktu kelahiranku.

Di bagian belakangnya terukir tulisan kecil.

Untuk Kirana, cahaya yang membuat Ibu bertahan.

Air mataku langsung mengalir.

Aku menggenggam jam itu erat-erat.

Delapan belas tahun lalu, ibuku menyelamatkanku dari kelahiran yang sulit.

Selama bertahun-tahun, ayahku mencoba menjagaku dari jauh, meskipun caranya penuh kesalahan.

Dan ketika semua perlindungan itu gagal, seorang laki-laki sederhana bernama Pak Harun justru membuka pintu gudangnya untukku.

Aku memandang bengkel kecil yang kini dipenuhi cahaya sore.

Dulu, ketika Bibi Ratih mengusirku tepat pada hari ulang tahunku, aku mengira itulah hari paling buruk dalam hidupku.

Ternyata, malam itu menjadi awal perjalanan yang membawaku menemukan jati diriku.

Aku tidak menemukan emas di bawah lantai bengkel.

Aku tidak menemukan uang yang bisa langsung membuatku kaya.

Aku menemukan kisah seorang ibu yang mencintaiku sebelum aku lahir.

Seorang ayah yang harus belajar bahwa kasih sayang tidak cukup hanya diwujudkan melalui transfer bank.

Dan sebuah pelajaran yang akan kuingat seumur hidup.

Bahwa nilai seorang anak tidak pernah ditentukan oleh berapa banyak uang yang dikeluarkan orang lain untuk membesarkannya.

Aku menutup kotak jam tangan itu sambil tersenyum.

Untuk pertama kalinya, aku merasa benar-benar memiliki rumah.

Bukan karena bangunannya sudah diperbaiki.

Melainkan karena akhirnya aku tahu siapa diriku, dari mana aku berasal, dan siapa orang-orang yang tulus ingin tetap berada di sisiku.

Để lại một bình luận

Email của bạn sẽ không được hiển thị công khai. Các trường bắt buộc được đánh dấu *

Lên đầu trang