Rian baru saja berjongkok di samping tubuh Pak Suwandi ketika matanya menangkap sesuatu yang membuat tengkuknya meremang.
Di bawah meja makan, ada sebuah kursi yang terbalik. Sebuah cangkir pecah berserakan di lantai. Namun yang paling membuat Rian gelisah adalah jejak lumpur yang memanjang dari pintu belakang menuju ruang makan.
Jejak itu bukan berasal dari sandal rumah milik Pak Suwandi.
Ukurannya jauh lebih besar.

“Pak… Pak Suwandi, dengar saya?”
Rian menepuk pelan bahu lelaki tua itu.
Tidak ada jawaban.
Ia mendekatkan telinganya ke wajah Pak Suwandi. Napas lelaki itu sangat lemah, hampir tidak terdengar.
“Masih hidup…”
Rian langsung mengambil ponselnya dan menghubungi layanan darurat.
Tangannya gemetar saat menjelaskan alamat rumah.
“Seorang pria lansia tidak sadarkan diri. Napasnya lemah. Tolong cepat.”
Petugas di telepon meminta Rian memastikan jalan napas Pak Suwandi tidak terhalang dan menunggu ambulans.
Namun saat Rian hendak menggeser posisi tubuh lelaki tua itu dengan hati-hati, tangannya menyentuh sesuatu di bawah telapak Pak Suwandi.
Selembar kertas kecil.
Rian menariknya perlahan.
Hanya ada satu tulisan dengan tinta biru yang tampak dibuat terburu-buru.
Jangan percaya Dimas.
Rian mengernyit.
Dimas?
Ia pernah mendengar nama itu.
Beberapa bulan lalu, saat mengantarkan pupuk tanaman, Pak Suwandi sempat bercerita tentang seorang keponakan bernama Dimas yang tinggal di Bekasi.
“Anak itu satu-satunya keluarga yang masih sering datang,” kata Pak Suwandi waktu itu.
Kalau begitu, kenapa sekarang ada pesan seperti ini?
Suara keras tiba-tiba terdengar dari arah belakang rumah.
Brak.
Rian berdiri seketika.
“Siapa di sana?”
Tidak ada jawaban.
Ia menelan ludah.
Pikirannya mulai kacau. Ia ingin tetap berada di sisi Pak Suwandi, tetapi ia juga takut ada orang lain di dalam rumah.
Rian mengambil gagang sapu yang bersandar di dinding sebagai pegangan, lalu melangkah perlahan menuju lorong belakang.
Pintu dapur terbuka sedikit.
Angin hujan mendorongnya hingga berdecit.
Saat Rian mendekat, ia melihat pintu belakang rumah ternyata tidak terkunci.
Di lantai dekat pintu ada lumpur basah.
Jejak yang sama seperti di ruang makan.
Seseorang jelas masuk atau keluar dari sana belum lama ini.
Tiba-tiba suara ambulans terdengar dari kejauhan.
Rian mengembuskan napas lega dan langsung berlari kembali ke depan.
Beberapa menit kemudian, dua petugas medis masuk membawa peralatan.
Mereka memeriksa Pak Suwandi dengan cepat.
“Nadinya lemah. Kita harus segera bawa ke rumah sakit.”
Rian membantu membuka jalan.
Saat tandu dikeluarkan dari rumah, seorang petugas bertanya, “Mas keluarga pasien?”
“Bukan. Saya kurir. Saya menemukan beliau.”
Petugas itu mengangguk singkat.
Tak lama kemudian sebuah mobil patroli kepolisian juga tiba setelah mendapat laporan bahwa pintu rumah rusak dan ada kemungkinan terjadi tindak kejahatan.
Seorang polisi bernama Bripka Arif meminta Rian tetap di lokasi.
Rian menjelaskan semuanya dari awal.
Tentang paket yang tidak diambil.
Tentang nomor telepon yang tidak aktif.
Tentang dirinya memanjat pagar.
Tentang kondisi Pak Suwandi.
Namun saat sampai pada kertas kecil yang ditemukannya, Rian berhenti sesaat.
Ia menatap Bripka Arif.
“Saya menemukan ini di bawah tangannya.”
Polisi itu menerima kertas tersebut menggunakan sarung tangan.
Wajahnya langsung serius.
“Dimas ini siapa?”
“Setahu saya keponakannya.”
Polisi lain mulai memeriksa ruang belakang.
Tak sampai sepuluh menit, mereka menemukan sesuatu yang lebih mencurigakan.
Sebuah lemari kecil di kamar Pak Suwandi terbuka.
Isinya berantakan.
Beberapa map dokumen tercecer di kasur.
Bripka Arif melihat Rian.
“Mas yakin tidak menyentuh apa pun di kamar?”
“Yakin, Pak. Saya cuma masuk sampai ruang makan dan dapur.”
Polisi itu mengangguk.
Kemudian mereka meminta Rian datang ke kantor polisi setelah kondisi Pak Suwandi lebih jelas untuk memberikan keterangan lengkap.
Rian mengira semuanya selesai sampai di situ.
Ternyata tidak.
Malam itu, sekitar pukul sembilan, ketika Rian sedang makan mi instan di kamar kosnya, ponselnya berdering.
Nomor tidak dikenal.
“Mas Rian?”
“Iya.”
“Saya Arif dari kepolisian. Pak Suwandi sudah sadar sebentar di rumah sakit.”
Rian spontan berdiri.
“Beliau bagaimana, Pak?”
“Masih lemah. Dokter menduga serangan jantung yang diperparah stres berat. Tapi sebelum kembali tertidur, beliau menyebut nama Anda.”
“Saya?”
“Iya. Besok pagi, kalau sempat, datang ke rumah sakit.”
Rian hampir tidak tidur malam itu.
Keesokan paginya, sebelum mulai mengantar paket, ia pergi ke rumah sakit.
Pak Suwandi terbaring dengan selang oksigen di hidung. Wajahnya pucat, tetapi matanya terbuka.
Saat melihat Rian masuk, lelaki tua itu tersenyum tipis.
“Kamu memang keras kepala.”
Rian tertawa gugup.
“Pak malah bikin saya hampir kena jantung juga.”
Pak Suwandi menggerakkan tangan pelan.
“Duduk.”
Rian duduk di kursi samping ranjang.
Beberapa detik kemudian, wajah Pak Suwandi berubah serius.
“Dimas datang tiga hari lalu.”
Rian langsung teringat kertas itu.
“Dia melakukan sesuatu, Pak?”
Pak Suwandi menutup mata sebentar.
“Dia minta sertifikat rumah.”
“Untuk apa?”
“Katanya mau dipakai jaminan pinjaman usaha.”
Pak Suwandi menatap langit-langit.
“Saya menolak.”
Ternyata selama dua tahun terakhir, Dimas memiliki banyak utang karena usaha investasi daring yang gagal. Ia beberapa kali meminjam uang dari Pak Suwandi.
Awalnya hanya satu juta.
Kemudian lima juta.
Lalu puluhan juta.
Pak Suwandi selalu membantu karena merasa kasihan.
Namun beberapa minggu lalu, Dimas datang dan meminta sertifikat rumah.
Nilainya ratusan juta rupiah.
Pak Suwandi langsung menolak.
“Dia marah,” lanjutnya. “Katanya kalau saya mati, rumah itu juga akhirnya jadi milik keluarga.”
Rian merasakan bulu kuduknya berdiri.
“Apa dia menyerang Bapak?”
Pak Suwandi menggeleng lemah.
“Tidak.”
Jawaban itu justru membuat Rian bingung.
“Terus kenapa jejak lumpur ada di rumah?”
Pak Suwandi menarik napas perlahan.
“Dimas datang malam-malam. Dia mencari sertifikat sendiri.”
“Jadi dia membongkar kamar?”
Pak Suwandi mengangguk.
“Saya memergokinya.”
Saat itulah mereka bertengkar hebat.
Namun Dimas tidak memukul Pak Suwandi.
Menurut lelaki tua itu, Dimas hanya berteriak, mengancam, lalu pergi melalui pintu belakang karena Pak Suwandi mengancam akan menelepon polisi.
Setelah Dimas pergi, Pak Suwandi merasa dadanya sakit.
Ia mencoba mengambil ponsel.
Namun ponselnya sudah tidak ada.
Dimas membawanya.
Pak Suwandi sempat berjalan menuju meja makan sebelum tubuhnya jatuh.
“Pesan itu saya tulis karena takut dia kembali.”
Rian mengepalkan tangan.
“Kenapa Bapak tidak cerita ke tetangga sebelumnya?”
Pak Suwandi tersenyum pahit.
“Karena saya malu.”
Kalimat itu terdengar sederhana, tetapi Rian bisa merasakan beratnya.
Pak Suwandi selama ini selalu terlihat ceria. Selalu bercanda. Selalu menyapa orang.
Namun ternyata ia menyimpan masalah besar sendirian.
Polisi kemudian datang.
Mereka mendengar keterangan Pak Suwandi secara perlahan.
Setelah itu, pencarian terhadap Dimas dimulai.
Dua hari kemudian, Dimas ditemukan di sebuah rumah kontrakan di Tambun.
Ia tidak melawan.
Sertifikat rumah Pak Suwandi juga ditemukan di dalam tasnya.
Namun ada kejutan lain.
Ketika polisi memeriksa ponsel Pak Suwandi yang dibawa Dimas, mereka menemukan beberapa pesan yang menunjukkan bahwa ada orang lain yang menekan Dimas.
Seorang pria bernama Anton.
Anton adalah penagih utang ilegal.
Ia mengancam akan menyita motor dan seluruh barang Dimas jika utang tidak dibayar dalam waktu seminggu.
Tekanan itulah yang membuat Dimas nekat mengambil sertifikat rumah pamannya.
Beberapa minggu kemudian, kasusnya mulai diproses.
Pak Suwandi diperbolehkan pulang.
Rian kembali mengantarkan sebuah paket ke rumahnya.
Kali ini gerbang terbuka lebar.
Pak Suwandi duduk di kursi teras.
Wajahnya masih sedikit pucat, tetapi jauh lebih sehat.
“Mas Rian!”
Rian tersenyum.
“Kalau sekarang Bapak tidak keluar, saya tidak akan manjat pagar lagi. Capek.”
Pak Suwandi tertawa.
“Masuk dulu.”
Rian menyerahkan paket.
Namun ketika hendak pergi, Pak Suwandi menghentikannya.
“Tunggu.”
Ia masuk ke rumah dan kembali membawa sebuah kotak kecil.
“Ini buat kamu.”
Rian mengernyit.
“Apa ini?”
“Buka.”
Rian membuka kotak itu.
Matanya langsung membesar.
Sebuah ponsel lipat bekas berwarna hitam.
Kondisinya masih sangat bagus.
Rian terdiam cukup lama.
“Pak… ini…”
“Kemarin kamu pernah cerita sedang menabung buat beli ponsel untuk adikmu.”
Rian langsung menggeleng.
“Saya tidak bisa terima.”
Pak Suwandi justru menyodorkan kotak itu lebih dekat.
“Kenapa?”
“Harganya mahal.”
Pak Suwandi tersenyum.
“Nyawa saya juga mahal.”
Rian tertawa kecil, tetapi matanya mulai terasa panas.
“Pak, saya cuma melakukan apa yang seharusnya dilakukan siapa pun.”
Pak Suwandi menatapnya lama.
“Itulah masalahnya.”
Rian terdiam.
“Tidak semua orang melakukan apa yang seharusnya dilakukan.”
Kalimat itu membuat Rian kehilangan jawaban.
Akhirnya ia menerima ponsel tersebut dengan janji suatu hari akan membalas kebaikan Pak Suwandi.
Namun beberapa hari setelah itu, kejadian yang sama sekali tidak diduga terjadi.
Dimas meminta bertemu Pak Suwandi.
Awalnya polisi dan keluarga menolak.
Namun Pak Suwandi setuju.
Pertemuan dilakukan dengan pengawasan.
Saat Dimas masuk, wajah pemuda itu terlihat sangat berbeda dari sebelumnya.
Kurus.
Mata cekung.
Ia langsung menunduk.
“Om…”
Pak Suwandi tidak menjawab.
Dimas tiba-tiba berlutut.
“Saya salah.”
Suaranya bergetar.
“Saya benar-benar salah.”
Pak Suwandi menatapnya tanpa ekspresi.
Dimas mulai menangis.
Ia mengaku bahwa dirinya tidak pernah berniat membuat pamannya meninggal.
Ia hanya panik karena terlilit utang.
Setelah usaha yang dijalankannya bangkrut, ia terus menutup satu pinjaman dengan pinjaman lain sampai semuanya menjadi tidak terkendali.
“Kenapa kamu tidak bilang dari awal?” tanya Pak Suwandi.
Dimas menunduk.
“Saya takut Om kecewa.”
Pak Suwandi tersenyum getir.
“Kamu lebih takut saya kecewa daripada takut kehilangan saya?”
Pertanyaan itu membuat ruangan menjadi sunyi.
Dimas menangis semakin keras.
Pak Suwandi tidak langsung memaafkannya.
Ia hanya berkata satu hal.
“Kalau kamu benar-benar menyesal, buktikan setelah semua proses hukum selesai.”
Enam bulan berlalu.
Rian masih bekerja sebagai kurir.
Adiknya akhirnya bisa mengikuti kuliah daring menggunakan ponsel pemberian Pak Suwandi.
Sementara itu, kondisi Pak Suwandi semakin membaik.
Namun perubahan terbesar justru terjadi pada rumah tua di ujung kompleks itu.
Halaman yang dulu sepi kini lebih ramai.
Setiap Minggu sore, beberapa lansia di lingkungan sekitar berkumpul di sana.
Mereka minum teh, bermain catur, bertukar cerita, dan saling membantu jika ada yang membutuhkan.
Pak Suwandi menamai kelompok kecil itu Rumah Teman.
Ia mengatakan tidak ingin lagi ada orang tua di lingkungan mereka yang menghadapi masalah sendirian.
Suatu sore, saat Rian mengantarkan paket, ia melihat seorang pria sedang memperbaiki pompa air di halaman.
Pria itu menoleh.
Dimas.
Rian berhenti.
Dimas tersenyum canggung.
“Mas Rian.”
Rian mengangguk.
Setelah menjalani proses hukum dan menyelesaikan kewajibannya, Dimas kembali menemui pamannya.
Ia tidak langsung diterima seperti dulu.
Namun Pak Suwandi memberinya kesempatan.
Dimas mulai bekerja sebagai teknisi pompa dan peralatan rumah tangga.
Sebagian penghasilannya digunakan untuk membayar utangnya sedikit demi sedikit.
Rian menyerahkan paket kepada Pak Suwandi.
“Isinya apa lagi, Pak? Jangan bilang alat berkebun.”
Pak Suwandi tertawa.
“Bukan.”
“Apa?”
“Sepuluh kursi plastik.”
Rian melihat halaman yang semakin ramai.
“Untuk Rumah Teman?”
Pak Suwandi mengangguk.
Hujan gerimis mulai turun.
Persis seperti hari ketika Rian menemukan dua paket yang tidak pernah diambil.
Rian memandang pagar rumah.
Jika hari itu ia memilih pergi, mungkin cerita ini akan sangat berbeda.
Pak Suwandi seolah tahu apa yang dipikirkannya.
“Rian.”
“Iya, Pak?”
“Kadang hidup seseorang berubah bukan karena bantuan besar.”
Rian menatapnya.
Pak Suwandi tersenyum.
“Tapi karena ada satu orang yang cukup peduli untuk berhenti dan bertanya, kenapa sesuatu terlihat tidak seperti biasanya.”
Rian tersenyum.
Kemudian ia menaiki motornya dan melanjutkan perjalanan.
Di belakangnya, rumah tua yang dahulu sunyi kini dipenuhi suara orang-orang tertawa.
Dan sejak hari itu, setiap kali melihat sebuah paket tertinggal terlalu lama di depan rumah pelanggan, Rian tidak pernah lagi menganggapnya sekadar paket yang belum diambil.
