DUA ANAK SUAMIKU DATANG MEMBAWA KOPER RUSAK DAN MEMOHON UNTUK TIDUR

Nomor pegawai itu kuhafal. Setiap bulan, angka yang sama tercetak di slip gajiku.

Damar menatap lembar tersebut, lalu menggeleng.

“Aku nggak pernah memberikan data kamu.”

Suara lelaki di telepon kembali terdengar.

“Biaya penempatan sudah keluar. Kalau dibatalkan, keluarga wajib melunasi.”

“Anak-anak ini tidak akan pergi ke mana pun,” jawabku. “Kirimkan identitas lembaga, nama penanggung jawab, dan dasar tagihannya.”

Ia memutus sambungan.

Salma langsung menangis.

“Maaf, Bu. Aku cuma nggak mau Zahra dibawa duluan.”

Aku meletakkan dokumen di meja, lalu berjongkok di depannya.

“Kamu tidak salah karena membawa surat ini. Sekarang ceritakan pelan-pelan. Siapa yang mau membawa kalian?”

“Om Riko. Temannya Ibu.”

Zahra muncul dari kamar sambil memeluk handuk bersih yang kuberikan tadi.

“Katanya di asrama kami harus membantu melayani tamu. Kakak bilang itu bukan sekolah.”

Dadaku mencelos.

Damar hendak bertanya lagi, tetapi kutahan lengannya. Kedua anak itu sudah gemetar.

“Kalian istirahat dulu. Ayah dan Ibu yang mengurus.”

Kata Ibu keluar begitu saja. Salma menatapku sebentar sebelum menuntun adiknya kembali ke kamar.

Malam itu kami menghubungi polisi dan meminta arahan untuk melaporkan dugaan pemalsuan dokumen serta rencana membawa anak-anak tanpa persetujuan yang sah. Aku memotret semua berkas, menyimpan nomor penelepon, dan tidak menghapus percakapan apa pun.

Damar duduk di sampingku, memandangi surat tunggakan sekolah.

“Aku pikir selama uangnya terkirim, mereka aman.”

“Besok kamu mulai memastikan sendiri.”

Ia mengangguk tanpa membela diri.

Menjelang tengah malam, Melati datang.

Bel berbunyi berkali-kali, disusul gedoran.

“Damar! Suruh anak-anak keluar!”

Kami tetap di balik pagar. Lampu teras kunyalakan, sementara Damar meminta Pak RT datang menemani.

“Mereka sedang tidur,” katanya.

“Aku ibunya!”

“Aku ayahnya. Kita perlu bicara tentang dokumen ini.”

Melati terdiam ketika melihat amplop cokelat di tangan Damar.

Lalu tatapannya beralih kepadaku.

“Kamu mengajari mereka melawan?”

“Saya memberi mereka makan dan tempat tidur.”

“Kamu tidak tahu susahnya membesarkan anak!”

Aku hampir membalas, tetapi terdengar suara kecil dari belakang.

“Bu, Zahra jangan dikirim.”

Salma berdiri di pintu rumah.

Melati maju mendekati pagar.

“Kamu bikin Ibu malu. Itu program bagus. Kalian dapat keterampilan, Ibu bisa bekerja.”

“Sekolah kami saja belum dibayar,” kata Salma. “Om Riko bilang kalau Zahra tidak menurut, tangannya diikat lagi.”

Damar mencengkeram pagar.

“Lagi?”

Melati memalingkan wajah.

“Anak kecil suka membesar-besarkan.”

Aku teringat lecet di pergelangan tangan Zahra. Di sampingku, Pak RT mengeluarkan ponsel dan menelepon petugas yang tadi menerima laporan kami.

Melati pulang sebelum petugas datang. Kami tidak mengejarnya.

Keesokan paginya, aku membawa Salma dan Zahra untuk diperiksa dan didampingi petugas yang menangani perempuan serta anak. Damar menyerahkan bukti transfer bulanan. Di hadapan pendamping, Salma akhirnya bercerita tanpa harus menjaga perasaan orang dewasa.

Melati memiliki utang kepada Riko. Awalnya, lelaki itu datang menawarkan usaha jual beli pakaian. Setelah uangnya habis dan tagihan menumpuk, ia menawarkan jalan keluar berupa program pelatihan berasrama.

Biayanya akan dipotong dari penghasilan anak-anak setelah ditempatkan bekerja.

“Zahra masih sembilan tahun,” bisikku.

Pendamping mengangguk dengan wajah serius.

“Kami akan menelusuri lembaganya.”

Hari Senin, sebelum pukul enam, sebuah mobil berhenti di rumah Melati.

Petugas sudah menunggu berdasarkan informasi penjemputan dalam dokumen. Lelaki yang datang dimintai keterangan. Riko ditemukan siang harinya di kantor lembaga tersebut.

Tempat yang disebut asrama itu ternyata hanya rumah kontrakan dengan beberapa kamar. Tidak ada ruang kelas seperti dalam brosur. Sejumlah dokumen anak lain turut diamankan untuk diperiksa.

Namun, pertanyaan tentang nomor pegawaiku belum terjawab.

Jawabannya datang dari bagian personalia kantorku.

Seminggu sebelumnya, seseorang mengirim surat permohonan verifikasi pekerjaan atas namaku. Lampirannya berupa slip gaji lama, salinan kartu pegawai, dan surat persetujuan potongan pendapatan.

Tanda tanganku dipalsukan.

Aku membuka lampiran itu bersama Damar.

Slip tersebut berasal dari dua tahun lalu, saat kami mengajukan kredit kendaraan.

“Berkas ini pernah kusimpan di rumah Ibu,” katanya perlahan.

Sore harinya, ibu Damar datang dengan wajah pucat.

“Aku cuma mengirim foto dokumen,” akunya. “Melati bilang perlu penjamin administrasi supaya anak-anak dapat beasiswa.”

“Kenapa tidak bertanya kepada saya, Bu?”

“Aku takut kamu menolak. Dulu kamu bilang belum siap mengurus mereka.”

Kalimat itu membuat ruangan terasa sempit.

“Saya belum siap menjadi orang tua,” jawabku. “Itu tidak berarti Ibu boleh memakai identitas saya atau menyerahkan mereka kepada orang asing.”

Ibu Damar menangis. Kali ini, aku membiarkannya menjawab pertanyaan petugas tanpa mencoba menenangkan semua orang.

Proses berikutnya berlangsung berminggu-minggu. Dokumen diperiksa, keterangan dicocokkan, dan keadaan kedua anak itu dinilai. Riko menjalani proses hukum, sementara keterlibatan Melati ikut diselidiki.

Damar mengurus tempat tinggal anak-anak melalui jalur yang semestinya. Ia melunasi tunggakan langsung ke sekolah, bertemu wali kelas, dan meminta perubahan jam kerja agar bisa mengantar mereka.

Aku pun belajar.

Belajar mengetuk sebelum masuk kamar Salma. Belajar bahwa Zahra selalu menyimpan makanan karena takut besok tidak kebagian. Belajar tidak tersinggung ketika mereka belum berani percaya.

Suatu malam, aku menemukan dua lembar roti tawar di bawah bantal Zahra.

Aku menggantinya dengan kotak makanan kecil.

“Kalau lapar malam-malam, simpan di sini, ya. Besok tetap ada sarapan.”

Ia memeluk kotak itu lama sekali.

Sebulan kemudian, Salma menyerahkan uang dalam amplop.

“Ini sisa uang jajan kami, Bu. Buat mengganti makan.”

Aku menarik kursi di sampingnya.

“Kalian tidak punya utang karena tinggal di rumah ini.”

“Tapi dulu Ibu nggak mau mengasuh kami.”

Aku terdiam.

“Ayah bilang begitu?”

Salma mengangguk.

Aku menggenggam tangannya.

“Dulu Ibu takut tidak bisa menjaga kalian dengan baik. Sampai sekarang juga masih belajar. Tapi kalian tidak perlu membayar supaya boleh tinggal.”

Malamnya, Zahra menempelkan kertas pada pintu kamar kosong yang kini menjadi kamar mereka.

Tulisan tangannya miring, dengan beberapa huruf terlalu besar.

Kamar Salma dan Zahra.

Di bawahnya ada kalimat kecil yang ditambahkan Salma.

Bukan tempat menunggu sampai Senin.

Aku berdiri lama di depan pintu itu.

Lalu untuk pertama kalinya, dari dalam kamar terdengar keduanya tertawa tanpa lebih dahulu mengecilkan suara.DUA ANAK SUAMIKU DATANG MEMBAWA KOPER RUSAK DAN MEMOHON UNTUK TIDUR

Để lại một bình luận

Email của bạn sẽ không được hiển thị công khai. Các trường bắt buộc được đánh dấu *

Lên đầu trang