Aku menatap Alya, berharap dia segera mengatakan bahwa semua itu hanya salah paham.
Namun wajahnya terlalu serius.
“Apa maksudmu aku tidak akan bertemu Ibu lagi?”
Alya tidak menjawab pertanyaanku. Dia justru menatap Ibu.
“Ibu yang cerita, atau aku?”
Ibu Sulastri menunduk. Jemarinya meremas ujung selimut.
“Alya saja.”
Aku duduk kembali.
Alya membuka map biru itu dan mengeluarkan beberapa lembar dokumen.
“Seminggu lalu aku datang ke rumah ibumu karena Bu Marni meneleponku.”
“Bu Marni tetangga sebelah?”
Alya mengangguk.
“Dia masih menyimpan nomorku. Katanya sudah beberapa hari tidak melihat Ibu keluar rumah. Biasanya setiap subuh Ibu menyapu halaman. Dia curiga karena bunga melati di depan rumah sampai layu.”
Dadaku mulai sesak.
“Aku datang sekitar jam sembilan pagi. Pintu depan terkunci. Aku telepon Ibu, tidak dijawab. Akhirnya Bu Marni membantuku masuk lewat pintu belakang.”
Alya berhenti sejenak.
“Aku menemukan Ibu di gudang.”
Aku menoleh cepat kepada Ibu.
“Gudang?”
Ibu mulai menangis.
Alya melanjutkan dengan suara lebih pelan.

“Kakinya cedera. Tidak ada makanan di sana selain setengah botol air mineral dan beberapa biskuit. Ponselnya juga tidak ada.”
Aku merasa tengkukku panas.
“Siapa yang melakukan itu?”
Ibu menjawab dengan suara nyaris tak terdengar.
“Rani.”
Aku berdiri.
Untuk beberapa detik aku benar-benar tidak tahu harus melakukan apa.
Perempuan yang setiap malam meneleponku.
Perempuan yang selalu berkata, “Mas, jangan khawatir. Aku akan menjaga Ibu seperti ibuku sendiri.”
Perempuan itu mengurung ibuku di gudang?
“Kenapa?”
Ibu menutup wajah.
“Karena Ibu tidak mau tanda tangan.”
“Tanda tangan apa?”
Alya menyodorkan dokumen lain.
Surat kuasa penjualan rumah.
Nama Ibu tercetak di bagian pemberi kuasa.
Nama Nina, adikku, tercetak sebagai penerima kuasa.
Tanda tangan Ibu belum ada.
Aku membaca setiap halaman dengan tangan gemetar.
Rumah peninggalan Ayah ternyata hendak dijual seharga Rp620 juta.
Namun ada sesuatu yang aneh.
“Kenapa rumah harus dijual kalau pinjamannya cuma Rp185 juta?”
Alya menatapku.
“Karena utangnya bukan cuma itu.”
Dia mengeluarkan tiga lembar lagi.
Pinjaman daring.
Utang koperasi.
Tagihan kartu kredit.
Semua atas nama Nina.
Totalnya hampir Rp340 juta.
Aku memejamkan mata.
Nina memang beberapa kali meminta uang kepadaku. Katanya bisnis kosmetiknya sedang berkembang dan membutuhkan modal.
Aku pernah memberinya Rp25 juta.
Ternyata itu hanya menutup lubang kecil dari utang yang jauh lebih besar.
“Tapi Rani ada hubungannya apa?”
Ibu menjawab.
“Nina kenal Rani sebelum kamu mengenalnya.”
Aku menatapnya.
“Apa?”
“Mereka berteman.”
Dunia terasa berhenti.
Ibu mulai menceritakan semuanya.
Dua tahun lalu, saat rumah tanggaku dengan Alya mulai sering bertengkar, Nina terus mengatakan bahwa Alya diam-diam ingin menguasai rumah Ibu.
Beberapa kuitansi pembelian bahan bangunan ditemukan di kamar Alya.
Ada fotokopi sertifikat rumah di tasnya.
Bahkan Ibu pernah mendengar Alya berbicara dengan seseorang melalui telepon tentang nilai jual tanah.
Semua itu membuat kami percaya bahwa Alya sedang merencanakan sesuatu.
Aku tidak pernah memberi kesempatan kepada Alya menjelaskan.
Aku memilih mempercayai adikku sendiri.
Padahal kuitansi itu milik Nina.
Fotokopi sertifikat sengaja dimasukkan ke tas Alya.
Dan percakapan telepon yang didengar Ibu sebenarnya percakapan Alya dengan notaris yang sedang membantunya mengecek sertifikat.
“Kenapa kamu mengecek sertifikat?” tanyaku.
Alya menatapku lama.
“Karena waktu itu aku sudah curiga Nina menggunakan rumah Ibu sebagai jaminan utang.”
Aku terdiam.
“Kenapa tidak bilang kepadaku?”
“Aku bilang.”
Jawabannya menusuk lebih tajam daripada bentakan.
“Aku bilang berkali-kali. Kamu yang tidak percaya.”
Aku mengingat malam terakhir kami.
Alya menangis sambil mengatakan bahwa Nina memanipulasi Ibu.
Aku justru membentaknya.
Aku menuduhnya serakah.
Aku menyuruhnya keluar.
Lalu beberapa bulan kemudian, Nina mengenalkanku kepada Rani.
Katanya Rani perempuan baik yang cocok untukku.
Tiba-tiba semuanya terasa menjijikkan.
Aku mengambil ponsel dan menelepon Nina.
Kali ini dia mengangkat.
“Kak?”
“Di mana kamu?”
“Di Jogja. Kenapa?”
“Pulang.”
“Ada apa?”
“Pulang sekarang.”
Aku memutus sambungan.
Setelah itu aku menelepon Rani lagi.
Tetap tidak dijawab.
Aku hendak pergi mencarinya, tetapi Alya menahanku.
“Jangan gegabah.”
“Dia mengurung ibuku.”
“Aku tahu.”
“Lalu aku harus diam?”
“Kalau kamu datang sambil marah, mereka akan menghilangkan bukti.”
Aku menatap Alya.
Untuk pertama kalinya sejak bertemu kembali, aku menyadari sesuatu.
Dia sudah memikirkan semua ini jauh lebih matang daripada aku.
“Apa yang harus kita lakukan?”
Alya mengeluarkan ponselnya.
“Aku sudah membuat laporan.”
Ternyata setelah membawa Ibu ke rumah sakit, Alya tidak langsung menghadapi Rani.
Dia memotret kondisi gudang.
Menyimpan rekam medis.
Meminta Bu Marni dan dua tetangga lain memberikan kesaksian.
Dia bahkan berhasil mendapatkan rekaman CCTV sebuah warung di seberang rumah.
Rekaman itu menunjukkan Rani dan Nina beberapa kali datang membawa seorang pria yang diduga perantara jual beli tanah.
Aku merasa semakin sulit bernapas.
Namun kejutan terbesar belum datang.
Alya membuka satu rekaman suara.
Suara Ibu terdengar lemah.
Kemudian suara Rani.
“Tanda tangan saja, Bu. Rumah ini terlalu besar untuk Ibu.”
“Aku tidak mau.”
“Kalau tidak mau, ya tinggal di situ sampai berubah pikiran.”
Lalu terdengar suara pintu ditutup.
Aku mengepalkan tangan sampai kuku menancap ke telapak.
“Cukup.”
Malam itu aku tidak pulang ke rumah lama.
Aku tidur di lantai rumah kontrakan Alya.
Atau lebih tepatnya, aku tidak tidur.
Sekitar pukul dua dini hari, aku mendengar Ibu memanggil namaku.
Aku masuk ke kamarnya.
Dia sedang menangis.
“Maafkan Ibu.”
Aku duduk di samping tempat tidur.
“Ibu tidak salah.”
“Ibu salah. Ibu ikut memfitnah Alya.”
Aku tidak sanggup menjawab.
Karena sebenarnya orang yang paling bersalah adalah aku.
Aku suaminya.
Seharusnya aku menjadi orang pertama yang mendengarkannya.
Sebaliknya, aku menjadi orang pertama yang menghukumnya.
Pagi berikutnya, sekitar pukul sembilan, Rani akhirnya menelepon.
Suaranya terdengar santai.
“Mas sudah sampai?”
“Sudah.”
“Kok tidak bilang? Aku sedang di rumah teman.”
“Pulanglah.”
“Kenapa?”
“Aku bawa oleh-oleh.”
Dia tertawa kecil.
“Ya sudah. Setengah jam lagi.”
Aku datang ke rumah lama bersama dua petugas kepolisian yang sebelumnya dihubungi Alya. Mereka menunggu tidak jauh dari rumah karena laporan awal masih harus dilengkapi.
Rani datang empat puluh menit kemudian.
Begitu melihatku di ruang tamu, wajahnya langsung cerah.
Namun senyumnya hilang ketika melihat map biru di atas meja.
“Mas dapat itu dari mana?”
Aku tidak menjawab.
“Aku cuma ingin bertanya satu hal. Di mana Ibu?”
Rani berkedip.
“Bukannya di rumah?”
“Di kamar mana?”
Wajahnya memucat.
Dia mulai berbicara tidak jelas.
Katanya Ibu pergi ke rumah saudara.
Katanya mungkin sedang menginap.
Katanya dia sendiri sudah dua hari tidak pulang.
Aku hanya mendengarkan.
Kemudian aku memutar rekaman suaranya.
Tubuh Rani langsung kaku.
“Mas, dengarkan dulu.”
“Aku sedang mendengarkan.”
“Itu tidak seperti yang kamu pikirkan.”
“Lalu seperti apa?”
Dia menangis.
Katanya semua itu ide Nina.
Katanya Nina terlilit utang karena bisnis gagal.
Katanya rumah harus dijual sebelum debt collector datang.
Katanya dia hanya ingin membantu keluarga.
Aku hampir tertawa.
“Membantu dengan mengurung perempuan berusia enam puluh tujuh tahun yang sedang sakit?”
Rani terdiam.
Saat itulah pintu terbuka.
Nina masuk.
Begitu melihatku, Rani, dan map di meja, dia langsung mundur.
“Nina.”
Dia berhenti.
“Mas, aku bisa jelaskan.”
“Bagus. Jelaskan di depan polisi.”
Dua petugas masuk.
Wajah Nina berubah pucat.
Yang terjadi setelah itu berlangsung jauh lebih panjang daripada yang kubayangkan.
Pemeriksaan dilakukan.
Dokumen disita.
Beberapa tanda tangan ternyata dipalsukan.
Pria yang menjadi perantara penjualan rumah juga diperiksa.
Dari penyelidikan diketahui bahwa Rani bukan sekadar membantu Nina.
Dia dijanjikan bagian Rp80 juta jika rumah berhasil terjual.
Lebih buruk lagi, sebagian uang yang kukirim setiap bulan untuk Ibu ternyata dipindahkan Rani ke rekening Nina.
Selama hampir setahun.
Namun ada satu hal yang paling menghancurkanku.
Polisi menemukan percakapan lama antara Rani dan Nina.
Tanggalnya bahkan sebelum aku bercerai dari Alya.
Dalam salah satu pesan, Nina menulis,
“Kalau Alya sudah keluar, nanti aku kenalkan kamu sama Kak Ardi. Dia gampang percaya kalau soal Ibu.”
Aku membaca kalimat itu berkali-kali.
Jadi perceraianku bukan sekadar akibat kesalahpahaman.
Ada orang yang sengaja menanam kebohongan.
Namun tetap saja, keputusan terakhir ada di tanganku.
Aku yang memilih tidak percaya kepada istriku sendiri.
Beberapa bulan kemudian, proses hukum berjalan.
Aku menggugat cerai Rani.
Rumah Ibu berhasil diselamatkan karena penjualan belum sempat disahkan.
Nina beberapa kali meminta bertemu.
Aku menolak.
Bukan karena membencinya.
Aku hanya belum tahu bagaimana menatap adikku sendiri tanpa mengingat tubuh Ibu yang kurus di punggung Alya.
Kondisi Ibu perlahan membaik.
Berat badannya naik.
Kakinya mulai bisa digunakan berjalan dengan bantuan tongkat.
Aku meminta berhenti dari proyek Balikpapan dan mencari pekerjaan yang lebih dekat.
Suatu sore, aku datang ke rumah kontrakan Alya membawa buah.
Ibu sedang tidur.
Alya duduk di teras sambil melipat pakaian.
Aku duduk di sampingnya.
“Alya.”
Dia menoleh.
“Terima kasih.”
“Untuk apa?”
“Untuk Ibu.”
Dia tersenyum tipis.
“Aku melakukannya bukan untukmu.”
“Aku tahu.”
Hening cukup lama.
Kemudian aku mengatakan sesuatu yang sudah berbulan-bulan kusimpan.
“Aku masih mencintaimu.”
Tangannya berhenti melipat pakaian.
Aku menunduk.
“Aku tidak meminta kita kembali seperti dulu. Aku cuma ingin kamu tahu.”
Alya tidak menjawab beberapa detik.
Kemudian dia berkata,
“Ardi, dulu aku menunggu kalimat itu.”
Dadaku berdebar.
“Tapi sekarang?”
“Sekarang aku tidak membutuhkannya lagi.”
Aku mengangguk.
Aneh, tetapi aku tidak merasa marah.
Mungkin karena untuk pertama kalinya aku benar-benar memahami bahwa penyesalan tidak selalu memberikan hak untuk mendapatkan kesempatan kedua.
“Aku mengerti.”
Alya menatap halaman.
“Aku memaafkanmu. Tapi memaafkan bukan berarti harus kembali.”
Aku tersenyum pahit.
“Ya.”
Aku bangkit hendak masuk menemui Ibu.
Namun Alya memanggilku.
“Ardi.”
Aku menoleh.
“Ada satu hal yang belum pernah kukatakan.”
“Apa?”
“Waktu kita bercerai, sebenarnya aku sedang hamil.”
Dunia mendadak sunyi.
Aku bahkan bisa mendengar suara kipas dari ruang tengah.
“Apa?”
“Aku baru tahu beberapa hari setelah sidang terakhir.”
Aku merasa lututku kehilangan tenaga.
“Anaknya?”
Alya menatapku lama.
Lalu pandangannya beralih ke sebuah foto kecil di atas rak dekat pintu.
Seorang anak perempuan berusia sekitar satu tahun tersenyum sambil memeluk boneka kelinci.
Selama beberapa bulan aku melihat foto itu, tetapi selalu mengira dia keponakan Alya.
Aku mendekati foto tersebut.
Tanganku gemetar.
“Dia di mana?”
“Di rumah kakakku. Aku tidak mau membawanya ke sini selama masalah Ibu belum selesai.”
Aku menoleh.
“Kenapa kamu tidak pernah bilang?”
“Karena waktu itu kamu sudah menikah dengan Rani. Dan setelah apa yang terjadi, aku tidak yakin kehadiranmu akan membuat hidupnya lebih baik.”
Aku tidak mampu membantah.
“Namanya siapa?”
“Kayla.”
Air mataku jatuh tanpa bisa kutahan.
Hari itu aku sadar, dalam dua tahun aku hampir kehilangan dua orang sekaligus.
Ibuku karena keserakahan orang yang kupercaya.
Dan anakku karena kebodohanku sendiri.
Aku tidak meminta Alya menerimaku kembali.
Aku hanya meminta satu hal.
“Izinkan aku mengenal Kayla.”
Alya menatapku cukup lama sebelum akhirnya mengangguk.
“Pelan-pelan.”
Satu tahun kemudian, Ibu kembali tinggal di rumah lamanya.
Bukan bersama Rani.
Bukan bersama Nina.
Aku yang tinggal bersamanya.
Setiap akhir pekan, sebuah mobil kecil biasanya berhenti di depan rumah.
Kayla akan turun sambil berlari dan berteriak memanggilku.
“Ayah!”
Alya selalu berdiri beberapa langkah di belakangnya.
Hubungan kami tidak kembali seperti dahulu.
Setidaknya belum.
Dan mungkin tidak akan pernah.
Tapi aku tidak lagi memaksa hidup mengembalikan sesuatu yang pernah kuhancurkan.
Aku belajar hadir.
Belajar mendengar.
Belajar bahwa kepercayaan tidak dibangun dari siapa yang paling dekat hubungan darahnya, siapa yang paling pandai berbicara, atau siapa yang terlihat paling perhatian.
Kepercayaan harus berjalan bersama bukti dan keberanian untuk mendengar kedua sisi.
Suatu sore, aku duduk di teras bersama Ibu ketika Kayla bermain dengan bunga melati.
Ibu memandangku dan bertanya pelan,
“Kalau waktu bisa diputar, apa yang ingin kamu ubah?”
Aku menatap Alya yang sedang membantu Kayla mengikat rambut.
Dulu aku mungkin akan menjawab bahwa aku ingin mencegah perceraian kami.
Namun sekarang aku mengerti sesuatu.
“Aku tidak ingin memutar waktu, Bu.”
Ibu menatapku heran.
Aku tersenyum.
“Aku cuma berharap dulu aku mau mendengar sebelum menghakimi.”
Karena terkadang yang menghancurkan sebuah keluarga bukanlah kebohongan yang paling besar.
Melainkan satu kebohongan kecil yang kita pilih untuk percaya, lalu kita pertahankan dengan ego, sampai orang yang mengatakan kebenaran akhirnya lelah menjelaskan.
