Di balik tiang beton itu, aku melihat ibuku berlutut di atas lantai pasar yang basah dan kotor.
Bukan di depan seorang pria.
Bukan pula di depan meja judi.
Di hadapannya ada tumpukan karung sampah yang baru saja dibuang dari restoran dan bar di sekitar kawasan itu.
Tangannya yang kurus, yang selama bertahun-tahun kukira terlalu malas untuk bekerja, sedang mengorek satu demi satu kantong plastik hitam dengan tangan telanjang.
Aku membeku.
Seorang lelaki bertubuh besar keluar dari pintu belakang sebuah bar sambil menyeret dua kantong sampah.
“Elena! Cepat sedikit!” bentaknya. “Kalau truk sampah datang, habis barangmu.”
“Iya, Pak. Terima kasih.”
Ibu buru-buru mengambil kantong itu.
Ketika plastiknya terbuka, puluhan botol bir kosong berjatuhan ke tanah. Sebagian masih menyisakan cairan alkohol. Puntung rokok, tisu kotor, sisa makanan, dan pecahan kaca bercampur di dalamnya.
Ibu memunguti botol-botol itu satu per satu.
Tangannya gemetar.
Beberapa kali ujung jarinya terkena sisa minuman hingga alkohol membasahi lengan jaketnya.
Saat itulah aku mengerti dari mana bau yang selama ini kubenci berasal.
Bukan karena Ibu meminumnya.

Bau itu berasal dari botol-botol yang ia kumpulkan setiap malam.
Aku menutup mulut agar isakanku tidak terdengar.
Belum sempat aku pulih dari keterkejutan, seorang perempuan tua keluar dari belakang warung karaoke membawa beberapa kardus.
“Ini, Elena. Ada kaleng juga.”
“Terima kasih, Bu.”
“Kamu masih mengumpulkan semuanya sendiri?”
Ibu tersenyum.
“Kalau masih bisa jalan, ya harus kerja.”
“Anakmu belum tahu?”
Senyum Ibu perlahan menghilang.
“Jangan sampai tahu.”
Dadaku seperti dihantam palu.
Perempuan itu menghela napas.
“Empat tahun kamu begini. Siang tidur dua tiga jam, malam bekerja sampai subuh. Kenapa tidak bilang saja pada anakmu?”
Ibu diam cukup lama sebelum menjawab.
“Dia kuliah keperawatan. Teman-temannya anak orang berada. Saya tidak mau dia merasa rendah diri karena ibunya pemulung malam.”
Air mataku langsung jatuh.
Pemulung.
Perempuan yang selama ini kusebut pemabuk ternyata memunguti botol bekas saat seluruh kota tertidur.
Namun malam itu belum selesai menghancurkan kesombonganku.
Setelah karungnya penuh, Ibu memanggulnya ke sebuah gudang barang bekas sekitar satu kilometer dari pasar.
Aku terus mengikutinya.
Pemilik gudang menimbang botol, kaleng, dan kardus yang dibawanya.
“Seratus delapan puluh lima ribu.”
Ibu menerima uang itu, menghitungnya, lalu bertanya dengan hati-hati, “Pak, boleh saya ambil pekerjaan tambahan lagi?”
“Pekerjaan apa?”
“Apa saja. Saya butuh uang sebelum Jumat.”
Lelaki itu menatapnya.
“Masih kurang berapa?”
Ibu membuka dompet kain kecil.
Di dalamnya ada beberapa lembar uang yang dilipat sangat rapi.
“Sekitar empat juta lagi.”
“Untuk apa sebanyak itu?”
“Biaya upacara anak saya.”
Nada suaranya berubah ketika menyebutku.
Ada kebanggaan yang begitu jelas di sana.
“Dia sebentar lagi jadi perawat.”
Aku menggigit bibir sampai terasa sakit.
Aku ingin berlari memeluknya.
Namun kakiku tidak mampu bergerak.
Pemilik gudang menggeleng.
“Empat juta dalam dua hari tidak mungkin dari barang bekas.”
“Ada pekerjaan lain?”
Lelaki itu berpikir sejenak.
“Pasar ikan butuh orang membersihkan saluran pembuangan sebelum subuh. Tapi berat. Bau. Banyak pecahan kaca juga.”
“Saya kerjakan.”
“Bayarannya cuma tiga ratus ribu.”
“Tidak apa-apa.”
Malam itu aku mengikuti Ibu sampai ke pasar ikan.
Aku melihatnya mengangkat peti, menyapu lumpur, membersihkan darah ikan, mengangkat sampah, dan memasukkan sisa-sisa busuk ke dalam karung.
Beberapa pekerja merokok di dekatnya.
Asap menempel pada pakaian dan rambutnya.
Sekarang aku tahu asal bau rokok itu.
Menjelang pukul tiga pagi, Ibu terlihat limbung.
Tiba-tiba tangannya memegang dada.
Ia berhenti bekerja.
Aku hampir keluar dari persembunyian.
Namun beberapa detik kemudian Ibu menarik napas panjang dan kembali mengangkat ember.
Seolah tubuhnya tidak punya hak untuk sakit.
Aku pulang lebih dulu sebelum dia melihatku.
Di rumah, aku masuk ke kamar dan menangis tanpa suara.
Untuk pertama kalinya aku memperhatikan semua hal yang selama ini kuabaikan.
Sandal Ibu yang solnya hampir terlepas.
Telapak tangannya yang penuh luka kecil.
Batuknya yang semakin sering.
Kukunya yang selalu hitam di bagian tepi.
Aku teringat setiap uang kuliah yang selalu tersedia tepat sebelum tenggat.
Seragam praktikku.
Buku-buku anatomi.
Biaya transportasi.
Obat Angelo.
Semua itu selama ini datang entah dari mana.
Dan aku tidak pernah bertanya.
Aku hanya menuntut.
Ketika Ibu pulang pukul empat lewat dua puluh menit, aku pura-pura tidur.
Dari balik pintu kamar, aku mendengar ia batuk lama di kamar mandi.
Lalu terdengar suara muntah.
Tanganku menutup mulut.
Pagi harinya aku tidak masuk kuliah.
Aku membuka lemari Ibu untuk mencari obat.
Di bagian paling bawah terdapat sebuah kotak biskuit tua.
Ketika kubuka, aku menemukan puluhan kuitansi.
Biaya kuliah.
Buku.
Seragam.
Obat Angelo.
Semua disusun berdasarkan tanggal.
Di antara kuitansi itu terdapat sebuah amplop rumah sakit.
Aku membukanya.
Hasil pemeriksaan Ibu bertanggal hampir delapan bulan lalu.
Dokter mencurigai penyakit paru kronis dan meminta pemeriksaan lanjutan karena ditemukan kelainan pada paru-parunya.
Ada catatan dengan tinta merah.
Pemeriksaan lanjutan sangat disarankan sesegera mungkin.
Aku terduduk di lantai.
Delapan bulan.
Selama delapan bulan Ibu menyimpan surat itu sementara ia terus bekerja di antara asap rokok, debu, sampah, dan udara malam.
Di bawah surat rumah sakit ada buku tabungan.
Saldo terakhir hanya Rp2.140.000.
Di halaman belakang, ada tulisan tangan Ibu.
Untuk pinning Alyssa.
Aku menangis sampai tubuhku gemetar.
Sore itu, ketika Ibu bangun, aku sudah menunggunya.
“Ma.”
Ibu menatapku, mungkin heran karena suaraku berbeda.
“Kenapa, Nak?”
Aku ingin meminta maaf.
Namun rasa malu membuat kata-kata tertahan.
Sebelum aku sempat bicara, Angelo keluar dari kamar sambil memegangi dada.
“Kak…”
Napasnya berbunyi.
Wajahnya pucat.
Serangan asma.
Aku langsung mengambil nebulizer.
Tetapi setelah beberapa menit kondisinya tidak membaik.
Kami membawanya ke rumah sakit.
Di ruang IGD, dokter mengatakan Angelo membutuhkan observasi dan obat tambahan.
Biayanya membuat kepalaku berputar.
Ibu tanpa ragu mengeluarkan buku tabungannya.
“Ambil semuanya.”
Aku menatapnya.
“Itu uang untuk upacaraku.”
Ibu menoleh kepadaku.
“Upacara bisa dicari jalan lain. Adikmu tidak bisa menunggu.”
Saat itu sesuatu dalam diriku benar-benar runtuh.
Perempuan yang kemarin kutuduh tidak punya harga diri ternyata berkali-kali mengorbankan hidupnya agar kami tetap berdiri.
Malam berikutnya Ibu kembali bersiap pergi bekerja.
Aku berdiri di depan pintu.
“Mama jangan pergi.”
Ibu terkejut.
“Kenapa?”
“Aku tahu.”
Wajahnya langsung pucat.
Aku mengeluarkan amplop rumah sakit.
Tangannya gemetar.
“Kenapa Mama tidak bilang?”
Ibu menunduk.
“Karena kamu sudah punya terlalu banyak yang dipikirkan.”
Aku menangis.
“Dan kenapa Mama membiarkan orang-orang mengira Mama perempuan murahan?”
Ibu tersenyum tipis.
“Kalau Mama menjelaskan kepada setiap orang yang menghina, kapan Mama punya waktu untuk mencari uang?”
Kalimat itu terasa lebih menyakitkan daripada tamparan.
Aku memeluknya.
Untuk pertama kalinya setelah bertahun-tahun, aku memeluk ibuku tanpa merasa malu.
“Maafkan aku, Ma.”
Tubuh Ibu kaku beberapa detik sebelum kedua tangannya memelukku kembali.
“Aku bilang Mama pemabuk. Aku jijik sama Mama. Aku bahkan…”
Suaraku patah.
Ibu mengusap rambutku.
“Sudah.”
“Tidak. Aku harus mengatakannya. Aku anak yang jahat.”
“Kamu bukan jahat. Kamu cuma belum tahu.”
Aku menangis semakin keras.
Malam itu aku melarangnya bekerja.
Tetapi masalah uang belum selesai.
Jumat pagi, biaya upacaraku masih kurang lebih dari tiga juta rupiah.
Aku sudah memutuskan tidak akan ikut.
Aneh, aku justru merasa tenang.
Dulu upacara itu terasa seperti seluruh masa depanku.
Sekarang aku tahu ada sesuatu yang lebih penting daripada naik ke panggung.
Pukul dua siang, aku datang ke kampus untuk menyerahkan surat pengunduran diri dari acara.
Namun ketika sampai di kantor administrasi, petugas memandangku heran.
“Pengunduran diri apa?”
“Saya belum melunasi biaya.”
Perempuan itu memeriksa komputer.
“Lunas.”
Aku terpaku.
“Siapa yang membayar?”
“Seorang perempuan datang sekitar satu jam lalu.”
Jantungku berdegup keras.
Aku berlari pulang.
Ibu tidak ada.
Aku menelepon berkali-kali.
Tidak diangkat.
Aku langsung menuju pasar.
Tidak ada.
Gudang barang bekas juga kosong.
Akhirnya seorang pekerja berkata, “Elena tadi dibawa ambulans.”
Dunia seakan gelap.
Aku berlari ke rumah sakit.
Di IGD, aku menemukan Ibu terbaring dengan infus di tangannya.
Dokter mengatakan ia pingsan setelah bekerja mengangkat barang berat.
Tekanan darahnya turun drastis.
Namun yang membuatku tidak mengerti adalah bagaimana biaya upacaraku bisa lunas.
Baru keesokan harinya aku mengetahui jawabannya.
Pemilik gudang barang bekas datang menjenguk.
Ia menyerahkan sebuah kantong plastik kepadaku.
Di dalamnya ada kalung tipis dengan liontin kecil.
“Ini milik ibumu.”
Aku mengenal kalung itu.
Satu-satunya perhiasan yang selalu Ibu simpan.
Peninggalan Ayah.
“Dia menjual cincin kawinnya kemarin,” kata lelaki itu.
Aku menatapnya.
“Cincin?”
“Iya. Katanya masih kurang untuk biaya kuliahmu. Saya antar dia ke toko emas.”
Aku tidak mampu berkata apa-apa.
“Kalung itu juga mau dijual. Saya larang.”
Tangisku pecah.
Jumat sore, beberapa jam sebelum upacara dimulai, aku duduk di samping tempat tidur Ibu.
“Aku tidak mau pergi.”
Ibu membuka mata.
“Kamu harus pergi.”
“Tapi Mama di rumah sakit.”
“Alyssa.”
Ia menggenggam tanganku.
“Mama memungut ribuan botol supaya suatu hari tanganmu memegang alat medis, bukan sampah seperti tangan Mama. Jangan buat semua itu berhenti di sini.”
Aku menunduk dan mencium tangannya yang kasar.
Sore itu aku datang ke kampus.
Seragam putihku rapi.
Tetapi kali ini aku tidak merasa lebih bersih atau lebih terhormat daripada ibuku.
Saat namaku dipanggil, aku berjalan ke atas panggung.
Topi perawat dipasang di kepalaku.
Pin disematkan di dada.
Lilin dinyalakan.
Di tengah tepuk tangan ratusan orang, mataku justru tertuju pada satu kursi kosong yang seharusnya ditempati Ibu.
Setelah acara selesai, aku meminta mikrofon.
Tanganku gemetar.
“Saya ingin mengatakan sesuatu.”
Ruangan perlahan sunyi.
“Selama bertahun-tahun, saya malu kepada ibu saya.”
Beberapa teman menatapku.
“Saya mengira beliau pemabuk karena setiap pagi pulang dengan bau alkohol dan rokok. Saya percaya gosip orang lain sebelum bertanya kepada perempuan yang membesarkan saya.”
Aku menarik napas.
“Ternyata bau alkohol itu berasal dari botol bekas yang ia kumpulkan. Bau rokok berasal dari tempat-tempat yang ia bersihkan setiap malam. Dan pakaian kotornya bukan karena ia tidak punya harga diri, melainkan karena ia menjual tenaganya agar seragam saya selalu bersih.”
Air mataku jatuh.
“Hari ini saya memakai pin ini karena tangan ibu saya penuh luka.”
Ruangan benar-benar hening.
Kemudian seseorang mulai bertepuk tangan.
Disusul yang lain.
Aku tidak peduli.
Aku tidak mengatakannya untuk tepuk tangan.
Aku mengatakannya karena untuk pertama kalinya dalam hidup, aku ingin seluruh dunia tahu siapa Elena sebenarnya.
Beberapa minggu kemudian, hasil pemeriksaan lanjutan Ibu keluar.
Kami takut mendengar diagnosis terburuk.
Ternyata kelainan di paru-parunya belum berkembang menjadi kanker seperti yang kami khawatirkan, tetapi dokter menemukan infeksi kronis dan gangguan pernapasan akibat paparan debu serta asap dalam waktu lama. Ia harus berhenti bekerja di lingkungan tersebut dan menjalani pengobatan teratur.
Aku mengambil pekerjaan paruh waktu di sebuah klinik sambil menyelesaikan kuliah.
Beberapa dosen yang mendengar kisah kami membantu menghubungkan Ibu dengan pekerjaan sebagai penjaga kantin rumah sakit pada siang hari.
Hidup kami tidak langsung menjadi mudah.
Kami masih menghitung uang sebelum membeli sesuatu.
Atap rumah masih bocor ketika hujan deras.
Angelo masih membutuhkan obat.
Namun ada satu hal yang tidak pernah kembali ke rumah kami.
Rasa malu.
Dua tahun kemudian, pada hari pertama aku resmi bekerja sebagai perawat, aku pulang mengenakan seragam putih.
Ibu sedang duduk di depan rumah sambil mengupas mangga.
Aku berdiri di hadapannya.
“Ma.”
“Hm?”
Aku melepas pin perawat dari dadaku.
Lalu kusematkan pin itu di bagian depan bajunya.
Ibu langsung panik.
“Eh, jangan. Itu punyamu.”
Aku menggeleng.
“Bukan.”
Aku menggenggam tangannya.
“Ini punya Mama.”
Matanya berkaca-kaca.
Aku tersenyum sambil menahan tangis.
“Dulu aku pikir kehormatan seseorang bisa dilihat dari pakaiannya, pekerjaannya, atau apa kata tetangga.”
Aku menatap telapak tangannya yang masih menyimpan bekas luka.
“Ternyata aku salah.”
Ibu memelukku.
Dan saat itu aku akhirnya memahami sesuatu yang tidak pernah diajarkan di universitas mana pun.
Ada orang yang pulang dengan pakaian kotor tetapi membawa pulang kehidupan yang bersih untuk anak-anaknya.
Ada tangan yang setiap malam menyentuh sampah agar tangan anaknya kelak bisa menyembuhkan orang lain.
Dan terkadang, orang yang paling cepat kita hakimi adalah orang yang diam-diam telah mengorbankan segalanya agar kita memiliki masa depan.
