ENAM TAHUN MENABUNG DEMI MEMBELIKAN RUMAH UNTUK IBU,

Aku baru mengetahui alasan sebenarnya Arman memberikan hampir satu miliar rupiah kepada Rania ketika seorang perempuan asing datang ke rumah kami sambil membawa foto seorang anak kecil.

Perempuan itu berdiri di depan pagar pada pukul tujuh malam. Usianya sekitar lima puluh tahun, mengenakan kerudung abu-abu dan membawa tas kulit yang terlihat sudah lama dipakai.

“Maaf, apa benar ini rumah Pak Arman Pratama?” tanyanya.

Aku mengangguk.

“Saya istrinya. Ada keperluan apa, Bu?”

Perempuan itu tampak ragu.

“Nama saya Sulastri. Saya ibunya Rania.”

Jantungku langsung berdegup kencang.

Aku mempersilakannya masuk. Arman belum pulang sejak mengantarkan Ibu ke rumah susun sore tadi. Dia mengatakan harus menyelesaikan pekerjaan mendadak.

Bu Sulastri duduk dengan gelisah. Kedua tangannya terus meremas tali tas.

“Bu Nadira, saya datang karena sudah nggak sanggup melihat anak saya hidup dalam kebohongan.”

Aku menegakkan tubuh.

“Kebohongan apa?”

Bu Sulastri mengeluarkan sebuah foto.

Dalam foto itu, Rania sedang menggendong bayi laki-laki yang tersenyum ke arah kamera.

“Ini cucu saya, namanya Rayyan. Usianya dua tahun.”

Aku memperhatikan foto tersebut. Anak itu memiliki rambut hitam tebal dan mata bulat yang mengingatkanku kepada seseorang.

Namun, aku belum berani menyimpulkan apa pun.

“Kenapa Ibu menunjukkan foto ini kepada saya?”

Bu Sulastri menunduk.

“Karena Arman adalah ayahnya.”

Dunia seolah berhenti berputar.

Aku menatap perempuan itu tanpa berkedip.

“Maaf, Bu. Bisa diulangi?”

Air mata mulai menggenang di matanya.

“Rayyan anak kandung Arman.”

Aku merasa seluruh tubuhku mendadak dingin.

Selama enam tahun menikah, aku dan Arman belum dikaruniai anak. Kami pernah menjalani berbagai pemeriksaan, tetapi belum berhasil.

Arman selalu mengatakan bahwa kami tidak perlu terburu-buru.

Dia bahkan pernah memelukku ketika aku menangis setelah mendapatkan hasil pemeriksaan yang mengecewakan.

“Nggak apa-apa, Sayang. Kita masih punya satu sama lain.”

Sekarang, kalimat itu terdengar seperti kebohongan paling kejam yang pernah kudengar.

“Apakah ada bukti?” tanyaku dengan suara bergetar.

Bu Sulastri mengangguk.

Dia menunjukkan salinan hasil pemeriksaan DNA yang pernah dilakukan Rania dan Arman melalui laboratorium resmi.

Aku membaca nama yang tercantum di sana.

Arman Pratama.

Rayyan Maharani.

Kesimpulan pemeriksaan menyatakan bahwa Arman memiliki hubungan biologis sebagai ayah Rayyan dengan tingkat kepastian yang sangat tinggi.

Tanganku mulai gemetar.

“Sejak kapan hubungan mereka berlangsung?”

Bu Sulastri mengusap air matanya.

“Hampir empat tahun, Bu.”

Aku menutup mata.

Empat tahun.

Artinya, ketika aku sibuk bekerja lembur demi menambah tabungan rumah Ibu, suamiku diam-diam membangun keluarga lain.

Ketika aku menunda membeli pakaian baru, Arman menghabiskan waktu bersama Rania.

Ketika aku menangis karena belum memiliki anak, dia sudah menggendong putranya dari perempuan lain.

Dadaku terasa begitu sesak hingga aku harus menarik napas berulang kali.

“Lalu kenapa Ibu baru datang sekarang?”

Bu Sulastri menunduk semakin dalam.

“Karena Rania mulai berubah. Dia terus meminta uang kepada Arman. Katanya kalau tidak diberi, dia akan membongkar hubungan mereka.”

Aku membeku.

“Jadi hampir satu miliar rupiah itu…”

“Iya, Bu. Uang itu bukan untuk membayar utang mantan suaminya.”

Aku menggenggam ujung sofa.

“Untuk apa?”

“Rania membeli rumah di kawasan Cibubur. Dia bilang Arman sudah berjanji menyediakan tempat tinggal untuk dirinya dan Rayyan.”

Aku menatap foto anak kecil itu sekali lagi.

Aku tidak membenci Rayyan.

Dia tidak pernah meminta dilahirkan dalam keadaan seperti ini.

Namun, aku juga tidak bisa menerima kenyataan bahwa uang yang kukumpulkan demi kesehatan ibuku justru digunakan untuk membiayai kehidupan rahasia suamiku.

Malam itu, setelah Bu Sulastri pulang, aku tidak langsung menghubungi Arman.

Aku duduk sendirian di meja makan sampai hampir tengah malam.

Ketika Arman akhirnya datang, aku sudah menyiapkan foto dan salinan dokumen di hadapanku.

Dia membuka pintu dengan wajah lelah.

“Dira, kamu belum tidur?”

Aku tidak menjawab.

Aku hanya menggeser foto Rayyan ke arahnya.

Arman langsung berhenti berjalan.

Wajahnya memucat.

“Ini dari mana?”

Aku menatapnya.

“Anak siapa, Mas?”

Dia tidak menjawab.

“Arman, aku tanya sekali lagi. Rayyan anak siapa?”

Bibirnya bergerak, tetapi tidak ada suara yang keluar.

Aku mengeluarkan hasil pemeriksaan DNA.

“Aku sudah tahu semuanya.”

Arman perlahan duduk.

Untuk beberapa saat, dia hanya menatap lantai.

Kemudian berkata dengan suara hampir tidak terdengar.

“Maaf, Dira.”

Aku tertawa getir.

“Maaf?”

Air mataku mulai jatuh.

“Empat tahun kamu berselingkuh. Kamu punya anak dengan perempuan lain. Kamu mengambil hampir satu miliar uang tabungan kita. Dan sekarang kamu cuma bilang maaf?”

Arman mengusap wajahnya.

“Aku nggak pernah berniat menyakitimu.”

Aku menatapnya tidak percaya.

“Kalau begitu, kenapa kamu melakukan semua ini?”

Dia menarik napas panjang.

“Awalnya aku cuma dekat dengan Rania. Aku merasa nyaman bicara dengannya. Kemudian semuanya berjalan terlalu jauh.”

Aku menggeleng.

“Berselingkuh selama empat tahun bukan sesuatu yang terjadi tanpa pilihan, Mas.”

Arman terdiam.

Aku melanjutkan.

“Kamu punya kesempatan untuk berhenti. Kamu punya kesempatan untuk jujur. Tapi kamu memilih berbohong setiap hari.”

Dia menunduk.

“Rayyan nggak salah, Dira.”

“Aku tahu.”

Aku mengusap air mata.

“Justru karena dia nggak salah, kamu seharusnya bertanggung jawab tanpa mencuri masa depan orang lain.”

Arman mengangkat wajah.

“Aku akan mengembalikan uang itu.”

“Kapan?”

Dia terdiam.

Aku mengulangi pertanyaanku.

“Kapan, Mas?”

“Aku akan bicara dengan Rania.”

Aku tersenyum pahit.

“Jadi bahkan sekarang kamu belum tahu bagaimana mengembalikannya.”

Arman mencoba menggenggam tanganku, tetapi aku menariknya.

Malam itu, untuk pertama kalinya selama enam tahun menikah, aku meminta suamiku tidur di tempat lain.

Keesokan paginya, aku menemui seorang pengacara bernama Ratna Wibowo.

Aku membawa bukti tabungan, catatan transfer yang berhasil kuperoleh secara sah, dokumen pernikahan, serta informasi mengenai pembelian rumah Rania.

Bu Ratna mendengarkan semuanya dengan saksama.

“Bu Nadira, kita perlu memisahkan persoalan hubungan perkawinan, penggunaan harta bersama, dan tanggung jawab terhadap anak tersebut.”

Aku mengangguk.

“Saya ingin uang tabungan saya kembali.”

“Kita akan menelusuri sumber dana dan menyiapkan tuntutan sesuai bukti yang tersedia.”

Aku menarik napas panjang.

“Dan saya ingin bercerai.”

Bu Ratna menatapku.

“Ibu sudah yakin?”

Aku mengangguk.

“Saya sudah terlalu lama percaya kepada orang yang salah.”

Beberapa hari kemudian, aku menghubungi Rania melalui perantara pengacara.

Awalnya, dia menolak bertemu. Namun, setelah mengetahui bahwa persoalan penggunaan dana akan ditangani secara hukum, akhirnya dia bersedia datang.

Pertemuan berlangsung di kantor Bu Ratna.

Rania mengenakan blus putih dan membawa tas bermerek mahal.

Dia duduk dengan wajah tegang.

“Apa sebenarnya yang Ibu inginkan?” tanyanya.

Aku menatapnya.

“Aku ingin tahu apakah kamu mengetahui bahwa uang yang diberikan Arman berasal dari tabungan bersama kami.”

Rania terdiam.

Aku melanjutkan.

“Uang itu seharusnya digunakan untuk membeli apartemen ibuku yang sedang kesulitan berjalan.”

Wajahnya sedikit berubah.

“Arman bilang itu uang pribadinya.”

Aku menatapnya lama.

“Kalau begitu, sekarang kamu sudah tahu kenyataannya.”

Rania menunduk.

Namun, beberapa detik kemudian dia berkata,

“Aku juga punya hak. Rayyan anak Arman.”

Aku mengangguk.

“Benar. Rayyan berhak mendapatkan tanggung jawab dari ayahnya.”

Aku berhenti sebentar.

“Tapi hak anakmu tidak membuatmu berhak menggunakan tabungan orang lain tanpa persetujuan pemiliknya.”

Rania terdiam.

Kemudian aku menanyakan sesuatu yang sejak kemarin mengganggu pikiranku.

“Rania, siapa sebenarnya yang meminta uang hampir satu miliar itu?”

Dia menggigit bibir.

“Arman.”

Aku membeku.

“Apa?”

Rania menunduk.

“Aku cuma meminta dia membantu uang sekolah dan kebutuhan Rayyan. Tapi Arman sendiri yang bilang ingin membelikan rumah untuk kami.”

Aku merasa dadaku kembali sesak.

Jadi selama ini, Arman bukan sekadar terpaksa membantu perempuan yang sedang mengalami kesulitan.

Dia memang berencana menggunakan tabungan kami untuk membangun kehidupan lain.

Namun, kejutan terbesar datang ketika Rania mengeluarkan ponselnya.

“Ada sesuatu yang harus Ibu lihat.”

Dia menunjukkan percakapan dengan Arman.

Salah satu pesannya membuat tanganku berhenti bergerak.

Setelah rumah Cibubur selesai, aku akan mengurus perceraian dengan Nadira. Aku sudah terlalu lama menjalani dua kehidupan.

Aku membaca kalimat itu berulang kali.

Tanggalnya dua bulan sebelumnya.

Artinya, ketika Arman masih mengajakku melihat apartemen untuk Ibu, dia sebenarnya sudah merencanakan perpisahan kami.

Aku mengangkat wajah.

“Kenapa kamu menunjukkan ini?”

Rania mulai menangis.

“Karena Arman juga berbohong kepadaku. Dia bilang kalian sudah lama berpisah secara emosional dan cuma tinggal menunggu urusan administrasi.”

Aku tertawa pahit.

“Kami bahkan masih menabung dan merencanakan masa depan bersama.”

Rania menutup wajah.

Untuk pertama kalinya, aku melihat bahwa perempuan yang selama ini kuanggap sainganku ternyata juga mempercayai cerita yang diciptakan Arman.

Namun, kenyataan itu tidak menghapus tanggung jawabnya atas hubungan yang dijalaninya.

Beberapa minggu berikutnya berlangsung melelahkan.

Aku menjalani proses perceraian sambil memperjuangkan hak atas harta bersama.

Melalui pemeriksaan dokumen, terungkap bahwa sebagian besar pembayaran rumah di Cibubur memang berasal dari rekening tabungan yang selama ini digunakan untuk menyimpan penghasilan kami berdua.

Arman tidak lagi bisa menyangkalnya.

Dalam proses penyelesaian sengketa, dia akhirnya menyetujui pengembalian dana melalui penjualan rumah tersebut serta pembayaran bertahap atas kekurangannya.

Kesepakatan itu dituangkan secara tertulis melalui pendampingan hukum.

Namun, satu hal yang paling mengejutkanku terjadi ketika aku kembali mengunjungi kantor pemasaran apartemen.

Petugas yang dulu menyambut kami langsung mengenaliku.

“Bu Nadira, bagaimana kabar Ibu?”

Aku tersenyum.

“Baik. Saya ingin menanyakan apakah unit yang kemarin masih tersedia.”

Petugas memeriksa komputer.

Kemudian mengangguk.

“Masih, Bu.”

Aku mengembuskan napas lega.

Aku belum memiliki seluruh uang yang diperlukan saat itu. Namun, aku sudah menyiapkan rencana pembelian berdasarkan dana yang berhasil diamankan dan kemampuan keuanganku sendiri.

Beberapa bulan kemudian, setelah penyelesaian pembayaran berjalan sesuai kesepakatan, akhirnya aku bisa menandatangani dokumen pembelian apartemen tersebut.

Kali ini, aku datang tanpa Arman.

Aku hanya membawa Ibu.

Beliau duduk di kursi roda, mengenakan blus cokelat muda yang sama seperti hari ketika pembayaran kami gagal.

Ketika petugas mengatakan bahwa transaksi telah berhasil, Ibu langsung menangis.

“Dira, ini benar-benar rumah Ibu?”

Aku berlutut di sampingnya.

“Iya, Bu.”

Beliau menggenggam tanganku.

“Tapi kamu sudah kehilangan banyak sekali karena Ibu.”

Aku menggeleng.

“Bu, aku nggak kehilangan semuanya.”

Ibu menatapku.

“Aku memang kehilangan pernikahan yang selama ini kupercaya.”

Aku tersenyum sambil mengusap air matanya.

“Tapi aku masih punya Ibu. Aku masih punya pekerjaan. Dan sekarang aku tahu bahwa aku mampu membangun hidupku sendiri.”

Ibu langsung memelukku.

Beberapa minggu kemudian, kami memindahkan barang-barangnya.

Aku membelikan meja kecil untuk balkon, dua pot cabai, dan beberapa tanaman daun bawang.

Pagi pertama di apartemen itu, Ibu duduk di dekat jendela sambil menikmati teh hangat.

Sinar matahari masuk melalui tirai tipis.

Beliau tersenyum sambil menunjuk tanaman di balkon.

“Dira, cabainya nanti kalau berbuah bisa kita pakai masak sambal.”

Aku tertawa.

“Boleh, Bu. Tapi jangan sampai balkonnya penuh tanaman semua.”

Ibu ikut tertawa.

Suara tawanya memenuhi ruangan kecil tersebut.

Dan untuk pertama kalinya setelah berbulan-bulan, aku merasa damai.

Suatu sore, Arman menghubungiku.

“Dira, aku dengar apartemen Ibu sudah dibeli.”

“Iya.”

“Syukurlah.”

Aku terdiam.

Kemudian dia berkata,

“Aku menyesal sudah menghancurkan semuanya.”

Aku menatap langit dari balik jendela.

“Mas, aku berharap kamu benar-benar belajar dari apa yang terjadi.”

Arman menarik napas panjang.

“Apa kamu masih membenciku?”

Aku memikirkan pertanyaannya sebentar.

“Nggak.”

Dia terdiam.

“Tapi aku juga nggak ingin kembali.”

Sambungan telepon menjadi sunyi.

Aku melanjutkan.

“Aku cuma ingin kamu menjadi ayah yang bertanggung jawab untuk Rayyan. Jangan sampai anak itu tumbuh dengan kebohongan yang sama seperti yang pernah kamu berikan kepadaku.”

Arman menjawab pelan.

“Aku mengerti.”

Setelah menutup telepon, aku berjalan menuju balkon.

Ibu sedang menyiram tanaman cabai kecilnya.

Beliau menoleh.

“Siapa tadi, Nak?”

“Arman, Bu.”

Wajah Ibu sedikit berubah.

“Kamu baik-baik saja?”

Aku mengangguk.

“Baik, Bu.”

Beliau tersenyum dan kembali menyiram tanaman.

Aku berdiri di sampingnya, memandangi langit Bekasi yang mulai berwarna jingga.

Enam tahun aku mengumpulkan uang demi sebuah rumah.

Aku pernah mengira rumah itu hanya bisa terwujud jika aku dan suamiku terus bekerja bersama.

Namun, hidup mengajarkanku sesuatu yang tidak pernah kubayangkan.

Rumah bukan sekadar dinding, lantai, atau sertifikat kepemilikan.

Rumah adalah tempat seseorang merasa aman, dihargai, dan tidak perlu takut dikhianati oleh orang yang paling dipercayainya.

Aku memang kehilangan hampir satu miliar rupiah untuk sementara waktu.

Aku kehilangan pernikahan yang selama ini kupertahankan.

Namun, aku berhasil mendapatkan kembali sesuatu yang jauh lebih penting.

Keberanian untuk menentukan masa depanku sendiri.

Ketika Ibu menggenggam tanganku sambil tersenyum di balkon kecil itu, aku akhirnya memahami bahwa impianku tidak pernah benar-benar hilang.

Impian itu hanya sempat berada di tangan orang yang salah.

Dan sekarang, aku telah membawanya pulang.

Để lại một bình luận

Email của bạn sẽ không được hiển thị công khai. Các trường bắt buộc được đánh dấu *

Lên đầu trang