Hari pertama masuk universitas, aku baru saja tiba di asrama ketika Mama menyerahkan kunci mobil yang katanya sudah lama beliau siapkan sebagai hadiah karena aku berhasil masuk kuliah.

Bunyi klik itu nyaris tak terdengar di tengah suara musik dari pengeras suara van.

Namun bagiku, suara kecil itu terdengar seperti hitungan mundur sebuah bom.

Aku menatap pergelangan tangan Danica.

Lampu indikator mungil di bagian dalam gelang yang sebelumnya berwarna putih kini berkedip merah.

Danica sama sekali tidak menyadarinya.

Dia masih sibuk melakukan siaran langsung sambil tertawa ke arah kamera.

“Pokoknya malam ini jangan ada yang mikirin uang. Kita datang untuk bersenang-senang!”

Teman-teman langsung bersorak.

Aku menunduk ketika ponselku kembali bergetar.

Pesan Mama muncul.

“Angela, jangan lakukan apa pun. Sistem keamanan sudah mengirimkan lokasi dan identitas perangkat. Mama sedang menuju ke sana bersama pihak keamanan.”

Aku membaca pesan itu dua kali.

Lalu mengetik singkat.

“Jangan datang dulu. Beri aku sedikit waktu.”

Mama langsung menelepon.

Aku menolak panggilannya.

Beberapa detik kemudian beliau mengirim pesan lagi.

“Kamu mau melakukan apa?”

Aku melirik Danica.

“Memastikan gelang itu bukan satu-satunya barang yang dia curi.”

Aku memang marah.

Tapi sejak melihat rekaman CCTV tadi sore, ada sesuatu yang terasa janggal.

Danica mencuri gelangku dengan gerakan yang terlalu tenang.

Dia tahu persis laci mana yang harus dibuka.

Dia bahkan tahu kapan aku mandi.

Dan yang lebih aneh, selama orientasi dia tidak hanya memamerkan gelang.

Kunci mobil sport yang dia tunjukkan di kelas juga terasa familier.

Logo pada gantungan kuncinya sama dengan mobil yang Mama hadiahkan kepadaku pagi tadi.

Aku belum sempat melihat mobil itu secara langsung karena Mama hanya menyerahkan kuncinya sebelum pergi menghadiri rapat.

Saat tiba di resort, firasat burukku terbukti.

Sebuah mobil sport putih terparkir tepat di depan vila utama.

Danica turun dari van sambil membuka kedua tangannya.

“Surprise!”

Semua orang menjerit kagum.

Patricia berlari mendekati mobil itu.

“Ini mobilmu?”

Danica tersenyum puas.

“Daddy belikan minggu lalu.”

Darahku seperti berhenti mengalir.

Aku mengenali nomor pelatnya.

Itu mobilku.

Aku mengambil ponsel dan mengirim foto kepada Mama.

Balasannya datang kurang dari semenit.

“Itu mobil yang Mama belikan untukmu.”

Aku menahan napas.

Jadi bukan hanya gelang.

Danica telah mengambil mobilku juga.

Tapi bagaimana?

Aku memandang kunci mobil yang masih berada di tasku.

Barulah aku sadar.

Kunci yang Mama berikan pagi tadi adalah kunci cadangan.

Seseorang pasti mengambil kunci utama sebelum mobil dikirim kepadaku.

“Angela!”

Suara Patricia membuatku tersadar.

Dia berdiri di samping Danica sambil melipat tangan.

“Kamu nggak mau foto sama mobil Danica?”

Aku tersenyum tipis.

“Nanti saja.”

Patricia mendengus.

“Jangan iri.”

Aku tidak menjawab.

Malam itu pesta dimulai.

Danica memesan makanan mahal, menyewa DJ, bahkan memesan aktivitas kapal untuk keesokan paginya.

Semua orang memperlakukannya seperti putri konglomerat.

Tapi ketika staf resort datang membawa tagihan awal, aku melihat sesuatu yang menarik.

Danica menarik seorang pria berseragam ke sudut ruangan.

“Aku bayar besok pagi.”

“Maaf, Mbak. Sesuai kebijakan, deposit harus dibayar malam ini.”

Wajah Danica berubah.

Dia membuka aplikasi perbankannya.

Aku berdiri cukup dekat untuk melihat tangannya gemetar.

Transaksi pertama gagal.

Transaksi kedua juga gagal.

Dia mulai panik.

Patricia menghampiri.

“Ada masalah?”

Danica buru-buru tersenyum.

“Limit kartu.”

Lalu dia menatapku.

Tatapannya berhenti beberapa detik terlalu lama.

Saat itulah aku tahu.

Dia sedang memikirkan sesuatu.

Aku sengaja kembali ke kamar dan meletakkan tasku di atas meja.

Lalu aku masuk kamar mandi.

Tapi aku tidak menutup pintunya sepenuhnya.

Benar saja.

Beberapa menit kemudian terdengar langkah kaki.

Pelan.

Aku mengintip melalui celah pintu.

Danica masuk.

Dia melihat sekeliling sebelum membuka tasku.

Tangannya mengambil dompetku.

Aku merekam semuanya dengan ponsel.

Dia mengeluarkan sebuah kartu hitam.

Danica membeku.

Kartu itu memang tidak mencantumkan limit di bagian depan, tetapi orang yang terbiasa dengan barang mewah pasti mengenalinya.

Dia tersenyum.

Kemudian memotret nomor kartu tersebut.

Aku hampir keluar saat itu juga.

Namun ponselnya tiba-tiba berbunyi.

Danica mengangkat telepon.

“Ma?”

Aku menahan napas.

Suara perempuan dari seberang terdengar samar.

Danica berbisik cepat.

“Aku sudah dapat gelangnya. Mobil juga aman. Besok aku cari cara ambil kartu aksesnya.”

Aku merasa seluruh tubuhku dingin.

Kartu akses?

“Aku tahu,” lanjutnya. “Tapi Tante bilang selama Angela belum curiga, kita masih punya waktu.”

Aku menegang.

Tante?

Siapa yang dia maksud?

Setelah Danica pergi, aku langsung menelepon Kakakku.

“Ada orang lain.”

“Apa?”

“Danica nggak bekerja sendiri.”

Aku menceritakan percakapan tadi.

Kakakku terdiam cukup lama.

Kemudian suaranya berubah serius.

“Angela, keluar dari vila itu sekarang.”

“Kenapa?”

“Aku baru cek data keluarga Danica.”

Jantungku berdegup lebih cepat.

“Ibunya pernah bekerja untuk perusahaan Mama.”

Aku berdiri kaku.

“Siapa namanya?”

“Marissa Villareal.”

Nama itu seperti menarik sebuah ingatan lama dari kepalaku.

Aku pernah mendengarnya.

Marissa adalah mantan asisten pribadi Mama yang diberhentikan tiga tahun lalu karena dugaan penggelapan dana perusahaan.

Kasusnya tidak pernah sampai pengadilan karena sebagian uang dikembalikan dan Mama memilih menyelesaikannya secara internal.

Tapi rupanya Marissa tidak pernah melupakan penghinaan itu.

“Angela,” kata Kakakku, “ini bukan pencurian biasa.”

Belum sempat aku menjawab, pintu kamar terbuka.

Danica berdiri di sana.

Wajahnya pucat.

Tatapannya tertuju pada ponsel di tanganku.

“Kamu telepon siapa?”

Aku mematikan sambungan.

“Kakakku.”

Danica tersenyum kaku.

“Oh.”

Dia melangkah masuk.

“Kita ngobrol, yuk.”

Aku tidak bergerak.

Dia duduk di tepi tempat tidur.

“Angela, sebenarnya aku suka sama kamu.”

Aku hampir tertawa mendengarnya.

“Tapi kamu aneh.”

“Maksudmu?”

“Kamu selalu diam. Nggak pernah cerita soal keluarga. Nggak pernah pamer apa pun.”

Dia menatapku tajam.

“Orang seperti kamu bikin orang lain penasaran.”

“Jadi kamu menggeledah barangku?”

Wajahnya langsung berubah.

“Apa?”

Aku mengangkat ponsel.

“Aku punya rekamannya.”

Untuk pertama kalinya, topeng sosialita itu benar-benar runtuh.

Danica berdiri.

“Kamu menjebakku?”

“Aku hanya membiarkanmu melakukan apa yang memang ingin kamu lakukan.”

“Aku bisa jelaskan.”

“Jelaskan gelangku.”

Dia terdiam.

“Jelaskan mobilku.”

Bibirnya mulai gemetar.

“Dan jelaskan kenapa ibumu menyuruhmu mencari kartu akses.”

Danica pucat seperti kertas.

“Kamu dengar?”

Aku mengangguk.

Beberapa detik kemudian dia justru tertawa.

Bukan tawa bahagia.

Tawa orang yang sadar bahwa permainannya telah berakhir.

“Kamu pikir keluargamu bersih?”

Aku mengernyit.

Danica mengeluarkan ponselnya.

“Mamaku bekerja untuk mamamu sebelas tahun. Dia membangun perusahaan itu dari nol bersama mamamu. Tapi begitu perusahaan besar, mamamu menuduhnya mencuri dan membuangnya begitu saja.”

“Itu versi ibumu.”

“Itu kenyataan!”

Danica berteriak.

Suara pesta dari luar seketika terasa jauh.

“Aku masuk universitas ini karena Mama tahu kamu kuliah di sini. Aku cuma diminta mendekatimu.”

Aku menatapnya.

“Jadi semua ini direncanakan?”

Air mata mulai menggenang di matanya.

“Awalnya aku cuma diminta mengambil gelang.”

“Kenapa?”

“Karena gelang itu bukan sekadar perhiasan.”

Aku terdiam.

Danica menatap benda di pergelangan tangannya.

“Di dalamnya ada chip autentikasi.”

Aku teringat ucapan Mama mengenai sistem keamanan.

“Chip untuk apa?”

“Untuk membuka arsip digital perusahaan.”

Jantungku berdetak keras.

Danica mengangguk pelan.

“Mamaku percaya di sana ada dokumen yang membuktikan dia dijebak.”

Tiba-tiba semua potongan mulai tersambung.

Gelang.

Kartu akses.

Mobil.

Semua hanyalah bagian dari rencana untuk mendekati sistem keamanan keluarga kami.

“Kalau memang ibumu yakin punya bukti, kenapa nggak menempuh jalur hukum?”

Danica menunduk.

“Karena dia nggak punya bukti.”

“Jadi kalian memilih mencuri?”

Dia tidak menjawab.

Saat itulah suara sirene terdengar dari luar vila.

Danica langsung berdiri.

“Apa yang kamu lakukan?”

Aku berjalan menuju jendela.

Dua mobil keamanan berhenti di depan resort.

Di belakangnya ada mobil Mama.

Danica mencengkeram tanganku.

“Tolong.”

Aku menatapnya.

“Lepaskan.”

“Angela, please.”

Air matanya akhirnya jatuh.

“Kalau polisi tahu, Mama bisa dipenjara.”

Aku menarik tanganku.

“Danica, kamu mencuri barangku, membawa mobilku, mencoba mengambil kartu bankku, dan masuk universitas ini untuk memata-mataiku.”

“Aku cuma nurut Mama!”

“Itu tidak membuatnya benar.”

Pintu kamar terbuka.

Mama masuk bersama dua petugas keamanan.

Namun orang yang berjalan di belakangnya membuat Danica langsung membeku.

Seorang perempuan berusia sekitar lima puluh tahun.

Marissa Villareal.

Ibunya.

“Ma?”

Danica tampak benar-benar terkejut.

Marissa tidak menatap putrinya.

Dia menatap Mama.

Mama meletakkan sebuah tablet di atas meja.

“Marissa, aku sudah menunggumu melakukan ini selama tiga tahun.”

Aku terkejut.

Marissa mengerutkan kening.

“Apa maksudmu?”

Mama membuka sebuah dokumen.

“Aku tahu kamu percaya aku menjebakmu.”

“Karena memang begitu.”

Mama menggeleng.

“Orang yang menggelapkan dana bukan kamu.”

Ruangan mendadak sunyi.

Marissa menatap layar.

Di sana terlihat laporan transaksi lama.

Nama penerima dana membuat wajahnya berubah.

“Tidak mungkin.”

Mama berkata pelan.

“Suamimu.”

Ayah Danica.

Danica mundur satu langkah.

“Daddy?”

Mama menjelaskan bahwa bertahun-tahun lalu, ayah Danica menggunakan akses Marissa untuk memindahkan dana perusahaan. Ketika audit menemukan kejanggalan, semua bukti mengarah kepada Marissa.

Namun Mama diam-diam melanjutkan penyelidikan.

“Aku tidak membawa kasus itu ke polisi karena aku menemukan siapa pelakunya.”

Marissa mulai menangis.

“Kenapa kamu tidak memberitahuku?”

“Karena suamimu mengancam akan membawa Danica pergi kalau kamu mengetahui semuanya.”

Marissa menutup mulut.

Mama melanjutkan.

“Aku pikir dengan membiarkanmu pergi tanpa tuntutan, aku sedang melindungimu.”

“Tapi selama tiga tahun aku mengira kamu menghancurkan hidupku.”

“Aku salah karena memilih diam.”

Kalimat itu membuat ruangan benar-benar sunyi.

Danica perlahan melepas gelang dari tangannya.

Kali ini tidak ada kesombongan di wajahnya.

Hanya rasa malu.

Dia meletakkannya di atas meja.

“Maaf.”

Aku menatapnya.

“Untuk yang mana?”

Dia menunduk.

“Semuanya.”

Beberapa bulan kemudian, kasus penggelapan lama dibuka kembali.

Ayah Danica akhirnya ditetapkan sebagai tersangka setelah bukti transaksi, rekaman komunikasi, dan dokumen perusahaan diperiksa.

Marissa bersedia memberikan kesaksian.

Danica juga menjalani proses disipliner kampus karena pencurian dan penyalahgunaan barang milikku.

Namun Mama memilih tidak menuntutnya secara pidana dengan satu syarat.

Danica harus mengakui semuanya.

Bukan hanya kepada kampus.

Tetapi juga kepada teman-teman yang selama ini dia bohongi.

Suatu sore, Danica berdiri di depan kelas.

Tidak ada pakaian bermerek.

Tidak ada gelang mahal.

Tidak ada Patricia yang sibuk memujinya.

“Aku bukan anak konglomerat,” katanya.

Semua orang terdiam.

“Mobil yang aku pamerkan bukan milikku. Gelang yang aku bilang hadiah dari Daddy juga bukan milikku. Resort yang aku janjikan bahkan hampir nggak bisa kubayar.”

Patricia terlihat paling terkejut.

Danica menelan ludah.

“Aku melakukan semuanya karena ingin terlihat lebih hebat daripada orang lain. Tapi semakin banyak aku berbohong, semakin aku takut orang tahu siapa diriku sebenarnya.”

Kemudian dia menatapku.

“Dan aku mencuri dari Angela.”

Ruangan langsung gaduh.

Aku tidak mengatakan apa-apa.

Setelah kelas berakhir, Danica menghampiriku.

“Aku pindah kamar minggu depan.”

Aku mengangguk.

Dia hendak pergi, tetapi berhenti.

“Angela.”

Aku menoleh.

“Kenapa kamu nggak pernah bilang kamu kaya?”

Aku tersenyum tipis.

“Karena itu kekayaan orang tuaku, bukan prestasiku.”

Danica diam.

Aku memasukkan buku ke dalam tas.

“Mama memberiku mobil karena aku masuk universitas. Tapi yang membuatku bisa duduk di kelas ini bukan mobil itu.”

Danica menatapku lama.

Kemudian mengangguk.

Hari itu aku memahami sesuatu yang tidak pernah diajarkan dalam orientasi universitas.

Ada orang yang mengenakan barang mahal karena memang memilikinya.

Ada pula yang mengenakannya karena takut dunia melihat kekosongan di baliknya.

Dan ada satu jenis kekayaan yang tidak bisa dicuri, dipamerkan, atau dipinjam dari siapa pun.

Harga diri.

Beberapa hari kemudian, Mama datang menjemputku.

Sebelum masuk mobil, beliau menyerahkan sebuah kotak kecil.

Aku langsung menggeleng.

“Jangan bilang gelang lagi.”

Mama tertawa.

“Buka dulu.”

Aku membukanya.

Tidak ada perhiasan.

Hanya sebuah gantungan kunci sederhana bertuliskan nama kecilku.

Di belakangnya terukir satu kalimat.

Jangan biarkan apa yang kamu miliki menentukan siapa dirimu.

Aku tersenyum.

“Mama yang buat?”

“Bukan.”

Aku mengangkat kepala.

Mama menunjuk seseorang di seberang halaman kampus.

Danica berdiri di sana.

Dia tidak mendekat.

Hanya mengangkat tangan sebentar sebelum berbalik pergi.

Aku menggenggam gantungan kunci itu erat-erat.

Gelang mahal yang dia curi pernah membongkar sebuah kebohongan besar.

Namun benda kecil yang dia berikan setelah kehilangan semuanya justru mengatakan sesuatu yang jauh lebih jujur.

Terkadang seseorang memang harus kehilangan topeng yang paling dibanggakannya sebelum akhirnya berani menunjukkan wajahnya sendiri.

Để lại một bình luận

Email của bạn sẽ không được hiển thị công khai. Các trường bắt buộc được đánh dấu *

Lên đầu trang