“Jangan sentuh dia! Dia sudah menelan obat! Panggil ambulans sekarang!”
Suara perempuan itu memecah kesunyian kamar seperti petir.
Pintu terbuka lebar. Cahaya dari ruang tamu menerobos masuk, menyilaukan mataku yang sudah hampir tak mampu melihat apa pun. Aku hanya menangkap bayangan seseorang berlari ke arah ranjang, lalu selimut yang menutupi tubuhku ditarik.
“Ya Tuhan…”
Perempuan itu membeku.
Namanya Teresa, tetangga baru yang tinggal dua rumah dari rumah orang tuaku. Aku bahkan belum pernah berbicara dengannya lebih dari sekadar saling menyapa.
Namun malam itu, justru dialah orang pertama yang benar-benar melihatku.
Bukan wajahku.
Bukan statusku sebagai istri Adrian.
Bukan kehormatan keluarga kami.
Melainkan tubuhku.

Piyama panjang yang kupakai tersingkap ketika Teresa mencoba mengangkatku. Bekas luka bakar memenuhi lenganku. Ada lebam kekuningan di paha, bekas luka panjang di punggung, serta beberapa tanda yang belum benar-benar sembuh.
Mama menutup mulut.
Papa berdiri seperti kehilangan kemampuan untuk bernapas.
“Apa ini?” suara Mama pecah.
Adrian yang tadi duduk di ruang tamu langsung berdiri.
“Itu bukan seperti yang Mama pikirkan.”
Teresa menoleh tajam.
“Kalau bukan, lalu apa?”
Adrian mendekat, tetapi Teresa langsung berdiri di antara kami.
“Jangan sentuh dia.”
“Dia istri saya.”
“Bukan berarti tubuhnya milikmu.”
Aku ingin mengatakan sesuatu, tetapi dunia berputar semakin cepat.
Suara mereka terdengar jauh.
Mama memanggil namaku.
Papa berteriak meminta seseorang mencari kendaraan.
Lalu semuanya gelap.
Ketika aku membuka mata, bau antiseptik menusuk hidungku.
Langit-langit putih.
Bunyi monitor.
Selang infus menempel di tanganku.
Aku masih hidup.
Entah mengapa, kesadaran itu tidak langsung membuatku lega.
Aku malah menangis.
Tangisku begitu pelan sampai seorang perawat yang sedang memeriksa infusku menyadarinya.
“Bu Maris?”
Aku menoleh.
“Kenapa saya masih hidup?”
Perawat itu terdiam beberapa detik.
Kemudian ia menarik kursi dan duduk di sampingku.
“Karena seseorang menemukan Ibu tepat waktu.”
Aku memejamkan mata.
“Seharusnya tidak.”
“Jangan katakan begitu.”
“Saya tidak punya tempat untuk pergi.”
Kalimat itu keluar begitu saja.
Perawat tersebut tidak menjawab dengan nasihat panjang. Ia hanya memegang tanganku dan berkata pelan, “Kalau rumah membuat kita takut untuk hidup, mungkin yang kita butuhkan bukan kembali ke rumah itu.”
Beberapa menit kemudian, seorang perempuan masuk bersama Teresa.
Namanya Atty. Sofia Reyes, seorang pengacara dari lembaga pendamping perempuan korban kekerasan.
Ternyata Teresa bekerja sebagai relawan di sana.
Itulah sebabnya ia langsung mengenali tanda-tanda yang selama ini berusaha kusembunyikan.
Teresa sebenarnya datang malam itu karena mendengar percakapan Adrian di teras.
Saat hendak membuang sampah, ia mendengar Adrian berkata kepada seseorang melalui telepon.
“Besok saya bawa dia pulang. Orang tuanya sudah setuju.”
Nada suaranya tidak terdengar seperti laki-laki yang menyesal.
Lebih seperti seseorang yang baru berhasil mengambil kembali barang miliknya.
Teresa merasa ada sesuatu yang salah.
Ketika kemudian ia mendengar benda jatuh dari kamarku, ia mengetuk. Tidak ada jawaban. Mama justru berkata aku sedang tidur.
Teresa memaksa masuk.
Dan beberapa menit itulah yang menyelamatkan hidupku.
“Apa Anda mau melaporkan suami Anda?” tanya Sofia.
Tubuhku langsung menegang.
Bayangan Adrian memenuhi kepalaku.
Wajahnya ketika marah.
Tangannya mencengkeram leherku.
Suara sabuk kulit yang ditarik dari pinggang.
Aku menggeleng cepat.
“Dia akan membunuh saya.”
Sofia tidak memaksaku.
Ia hanya meletakkan kartu namanya di meja.
“Keputusan tetap milik Anda.”
Sebelum pergi, ia menatapku.
“Tapi mulai sekarang, jangan biarkan orang lain mengambil keputusan tentang hidup Anda lagi.”
Kalimat itu terus terngiang di kepalaku.
Dua hari kemudian, Mama datang.
Ia membawa bubur kesukaanku.
Matanya bengkak.
Begitu duduk, ia langsung menangis.
“Kenapa kamu tidak pernah bilang?”
Aku menatapnya lama.
Pertanyaan itu terasa seperti pisau.
“Aku sudah mencoba, Ma.”
Mama berhenti menangis.
“Waktu aku bilang Adrian suka marah kalau aku keluar tanpa izin, Mama bilang semua suami cemburu.”
Wajahnya berubah.
“Waktu aku bilang dia mengambil kartu ATM-ku, Mama bilang uang suami istri memang harus disatukan.”
Aku menarik napas.
“Waktu aku pulang dengan bibir pecah enam bulan lalu, Mama bilang aku harus belajar bicara lebih lembut kepada suami.”
Air mata Mama jatuh lagi.
“Aku tidak tahu separah ini.”
“Karena Mama tidak pernah benar-benar ingin tahu.”
Mama menunduk.
Untuk pertama kalinya dalam hidupku, aku melihat ibuku tidak memiliki jawaban.
Papa datang sore harinya.
Ia tidak membawa makanan.
Tidak membawa bunga.
Ia hanya berdiri di dekat pintu cukup lama.
“Ayah gagal.”
Aku menatap jendela.
“Papa bilang pertengkaran rumah tangga biasa.”
“Ayah salah.”
“Papa mau mengantarku kembali.”
“Ayah salah.”
“Papa lebih takut omongan tetangga daripada kehilangan anak sendiri.”
Papa menutup wajahnya.
Bahu lelaki yang sepanjang hidupku terlihat kuat itu bergetar.
Tetapi aku tidak memeluknya.
Ada luka yang tidak sembuh hanya karena seseorang akhirnya meminta maaf.
“Aku belum bisa memaafkan Papa.”
Papa mengangguk.
“Papa mengerti.”
Untuk pertama kalinya, ia tidak menyuruhku menjadi anak baik.
Ia hanya berkata, “Kalau suatu hari kamu siap, Papa akan tetap menunggu.”
Namun masalah belum selesai.
Adrian mulai mengirim pesan.
Puluhan setiap hari.
Maaf.
Ancaman.
Janji.
Makian.
Semuanya bergantian.
Aku mencintaimu.
Kamu menghancurkan keluarga kita.
Aku akan berubah.
Kalau kamu mempermalukanku, jangan salahkan aku.
Kemudian foto-foto muncul.
Foto rumah orang tuaku.
Foto rumah sakit.
Foto Teresa sedang keluar dari sebuah minimarket.
Tanganku gemetar saat menunjukkannya kepada Sofia.
“Kita laporkan sekarang,” katanya.
Kali ini aku mengangguk.
Penyelidikan dimulai.
Aku menyerahkan foto luka, rekam medis, pesan ancaman, serta beberapa rekaman suara yang diam-diam kusimpan selama pernikahan.
Namun bukti paling mengejutkan datang dari seseorang yang sama sekali tidak kuduga.
Seorang perempuan bernama Clarissa menghubungiku.
“Aku mantan tunangan Adrian.”
Aku membeku.
Adrian tidak pernah mengatakan pernah bertunangan.
Clarissa mengirim sebuah foto lama.
Adrian terlihat jauh lebih muda.
Di sebelahnya berdiri Clarissa dengan senyum yang tampak dipaksakan.
Lalu foto berikutnya muncul.
Lengan Clarissa penuh lebam.
“Aku meninggalkannya delapan tahun lalu,” tulisnya.
“Dia mematahkan dua jariku.”
Dadaku terasa sesak.
“Kenapa kamu tidak melapor?”
“Aku melapor. Tapi keluargaku memintaku mencabut laporan. Mereka bilang aku akan sulit menikah kalau orang tahu.”
Aku membaca kalimat itu berkali-kali.
Cerita kami berbeda.
Namun penjara kami sama.
Rasa malu yang bukan milik kami dipaksa untuk kami tanggung.
Clarissa akhirnya bersedia memberikan kesaksian.
Adrian ditangkap beberapa hari kemudian setelah melanggar perintah perlindungan dan mencoba mendatangiku di tempat penampungan sementara.
Saat polisi membawanya pergi, ia masih berteriak.
“Maris! Aku suamimu!”
Aku berdiri di balik pintu kaca.
Untuk pertama kalinya aku tidak gemetar mendengar suaranya.
Aku menjawab pelan meski ia mungkin tidak mendengarnya.
“Tidak lagi.”
Proses hukum berlangsung berbulan-bulan.
Surat pembatalan pernikahan yang dulu kugenggam dengan tangan gemetar akhirnya menjadi bagian dari tumpukan dokumen yang membuktikan bahwa aku pernah mencoba keluar.
Tetapi bagian tersulit bukan menghadapi Adrian.
Melainkan belajar hidup setelahnya.
Aku tidak bisa tidur jika mendengar pintu dibanting.
Bau rokok membuat tanganku dingin.
Suara laki-laki meninggi di tempat umum bisa membuatku mencari jalan keluar secara refleks.
Aku mengikuti konseling.
Sedikit demi sedikit, aku belajar bahwa bertahan hidup bukan berarti semuanya langsung baik-baik saja.
Ada hari ketika aku merasa kuat.
Ada hari ketika mandi saja terasa seperti perjuangan.
Enam bulan kemudian, aku pindah ke sebuah apartemen kecil.
Hanya satu kamar.
Cat dindingnya sederhana.
Dapur sempit.
Jendelanya menghadap deretan atap rumah.
Tetapi ketika malam pertama aku mengunci pintu dari dalam, aku menangis hampir satu jam.
Bukan karena takut.
Karena untuk pertama kalinya, kunci itu berada di tanganku.
Tidak ada orang yang bisa masuk tanpa izinku.
Mama dan Papa mulai mengikuti konseling keluarga.
Mereka tidak lagi memintaku pulang.
Mama berhenti menggunakan kata malu ketika membicarakan perceraian.
Papa bahkan pernah mengusir seorang kerabat yang berkata, “Bagaimanapun juga, perempuan harus menjaga rumah tangganya.”
Papa menjawab, “Rumah tangga tidak perlu dijaga kalau di dalamnya anak saya dipukuli.”
Aku mendengar cerita itu dari Mama.
Aku tidak langsung merasa semua luka hilang.
Tetapi sesuatu di dalam diriku perlahan melunak.
Setahun setelah malam di rumah sakit itu, aku kembali ke rumah orang tuaku.
Bukan untuk tinggal.
Hanya makan malam.
Papa membuat kopi. Mama memasak sup ayam yang sama seperti malam ketika ia menyuruhku kembali kepada Adrian.
Kami duduk bertiga.
Lama sekali tidak ada yang bicara.
Kemudian Mama berkata, “Mama ingin minta maaf sekali lagi.”
Aku menggeleng.
“Tidak perlu malam ini.”
Mama menatapku bingung.
Aku tersenyum kecil.
“Malam ini aku cuma mau makan.”
Mama tertawa sambil menangis.
Papa ikut tertawa.
Untuk pertama kalinya, rumah itu tidak terasa seperti ruang sidang.
Beberapa minggu kemudian, Teresa mengajakku menjadi relawan.
Awalnya aku menolak.
Aku belum merasa cukup kuat untuk mendengar cerita perempuan lain.
Namun suatu malam, telepon lembaga berdering.
Aku sedang membantu Teresa menyusun dokumen.
Seorang perempuan muda menelepon sambil menangis.
Suaminya memukulnya.
Ia kabur ke rumah orang tuanya.
Tetapi ayah dan ibunya menyuruhnya kembali.
Tanganku berhenti bergerak.
Seolah aku sedang mendengar suaraku sendiri dari masa lalu.
Teresa menatapku.
“Kamu mau menjawab?”
Aku ragu.
Lalu mengambil telepon.
“Halo?”
Perempuan itu menangis.
“Mbak… saya tidak punya tempat untuk pulang.”
Aku memejamkan mata.
Tiba-tiba aku teringat malam ketika aku menelan seluruh obat itu.
Kegelapan.
Suara detak jantung yang semakin lambat.
Dan seseorang yang mendobrak pintu ketika semua orang lain menganggap aku hanya sedang marah.
Aku menarik napas.
“Ada.”
Perempuan itu terdiam.
“Ada tempat untuk kamu.”
Tangisnya semakin keras.
“Tapi orang tua saya bilang saya mempermalukan keluarga.”
Aku menggenggam telepon lebih erat.
“Kamu tidak mempermalukan siapa pun karena memilih hidup.”
Hening.
Kemudian terdengar isakan kecil.
“Benarkah?”
Aku melihat bekas luka bulat di lenganku.
Bekas rokok Adrian masih ada.
Mungkin akan selalu ada.
Dulu aku menganggapnya sebagai tanda bahwa seseorang pernah memiliki kuasa atas tubuhku.
Sekarang aku melihatnya berbeda.
Itu adalah bukti bahwa ia pernah mencoba menghancurkanku.
Dan gagal.
“Benar,” jawabku.
Setelah telepon ditutup, Teresa tersenyum.
“Kamu menyelamatkannya.”
Aku menggeleng.
“Belum.”
Aku memandang kartu nama lembaga yang dulu diberikan Sofia kepadaku. Kartu itu sudah kusimpan selama setahun di dompet.
“Dia menyelamatkan dirinya sendiri. Kita cuma membuka pintunya.”
Malam itu aku pulang ke apartemen.
Aku membuat teh, membuka jendela, lalu berdiri memandang lampu kota.
Ponselku berbunyi.
Sebuah pesan dari Mama.
Sudah sampai rumah?
Aku mengetik balasan.
Sudah, Ma.
Lalu berhenti.
Kata rumah terasa berbeda sekarang.
Dulu kupikir rumah adalah tempat kita dilahirkan.
Kemudian kupikir rumah adalah tempat yang harus dipertahankan setelah menikah.
Aku salah tentang keduanya.
Rumah bukan sekadar alamat.
Bukan nama keluarga.
Bukan cincin di jari.
Rumah adalah tempat di mana kita tidak perlu takut untuk bernapas.
Aku mematikan lampu.
Sebelum tidur, aku melihat pantulan diriku di cermin.
Perempuan itu masih memiliki bekas luka.
Masih mudah terkejut.
Masih belajar memaafkan dirinya sendiri karena pernah hampir menyerah.
Tetapi malam itu, untuk pertama kalinya, aku tidak melihat korban.
Aku melihat seseorang yang berhasil pulang.
Bukan kepada orang tuanya.
Bukan kepada suaminya.
Melainkan kepada dirinya sendiri.
