Nama anakku tercatat sebagai penerima bantuan, tetapi selama dua tahun aku menghitung uang receh untuk membeli buku tulisnya.
Aku membaca kembali kalimat di lembar itu. Bantuan telah disalurkan melalui rekening perantara. Di sebelahnya tertera nominal yang cukup untuk membeli tiga set seragam.
“Rekening siapa ini?” tanyaku.
Pak Kurniawan, kepala sekolah itu, meminta staf keuangan memeriksanya. Bu Sinta, wali kelas putraku, menggeser segelas air ke hadapanku. Gelas itu tidak kusentuh.

Pagi tadi, sebelum berangkat ke sekolah swasta di Jakarta Selatan itu, aku baru saja menambal siku kemeja Nino. Beberapa pekan sebelumnya, ia dipermalukan saat upacara karena seragamnya dianggap terlalu lama.
Sekarang, di atas kertas, sekolah sudah membelikannya seragam baru.
“Bu Wati,” kata kepala sekolah, “tolong beri kami waktu untuk menelusuri ini.”
“Saya bersedia menunggu. Tapi saya ingin salinan semua dokumen yang memakai nama anak saya.”
Beliau mengangguk dan meminta staf memfotokopinya.
Malam itu aku menghamparkan berkas tersebut di meja kontrakan. Nino duduk di sebelahku, mengerjakan soal pecahan. Sesekali matanya beralih ke lembar yang kupegang.
“Itu tagihan, Bu?”
“Bukan.”
“Kita harus bayar lagi?”
Pensilnya berhenti. Sejak ayahnya meninggal, anak itu terlalu cepat memahami arti amplop sewa, uang belanja, dan tanggal gajian.
Aku menutup map.
“Tidak, Nak. Ada catatan sekolah yang harus diperbaiki.”
Ia kembali menulis, tetapi beberapa saat kemudian menyodorkan celengan plastiknya.
“Kalau ternyata harus bayar, pakai ini dulu.”
Aku memeluknya sebelum ia melihat air mataku.
Keesokan harinya aku menghubungi beberapa orang tua yang membantu Ruang Seragam Bersama, program pertukaran pakaian yang kami rintis setelah kejadian upacara. Aku tidak mengirimkan dokumen Nino ke grup. Aku hanya meminta mereka memeriksa apakah pernah menerima bantuan yang tercatat atas nama anak masing-masing.
Menjelang malam, empat orang menelepon.
Tak seorang pun pernah menerima bantuan itu.
Seorang ayah bahkan sudah membeli seragam secara penuh, tetapi anaknya tercatat mendapatkan subsidi.
Kami menyampaikan temuan itu bersama-sama kepada kepala sekolah. Kali ini beliau melibatkan pengurus yayasan dan pemeriksa keuangan dari luar sekolah.
Dua hari kemudian, Pak Surya, wakil kepala sekolah yang menegur Nino, meneleponku.
“Bu Wati, persoalan ini mulai mengganggu kegiatan sekolah.”
“Saya juga ingin cepat selesai, Pak.”
“Koperasi bersedia memberi Nino seragam gratis. Ibu tidak perlu terus mempersoalkan catatan yang mungkin hanya salah input.”
Aku menatap map di pangkuanku.
“Kalau salah input, perbaiki catatannya. Kalau ada uang yang seharusnya diterima anak-anak, cari uangnya.”
Ia mengembuskan napas keras.
“Jangan sampai Nino tidak nyaman karena ibunya berselisih dengan sekolah.”
Tanganku menegang.
“Apakah Bapak sedang mengatakan anak saya akan diperlakukan berbeda?”
Telepon itu mendadak sunyi. Lalu ia menjawab bahwa aku salah memahami maksudnya.
Setelah sambungan berakhir, aku menulis waktu dan isi percakapan selengkap yang kuingat, lalu mengirimkannya kepada kepala sekolah. Aku meminta agar setiap pembicaraan berikutnya dilakukan dalam pertemuan resmi.
Besok paginya, Nino mengaku sakit perut.
Tidak ada demam. Sarapannya tidak disentuh.
“Di sekolah ada yang bilang Ibu mau bikin Pak Surya dipecat.”
Aku berlutut di depannya.
“Kamu dengar dari siapa?”
“Teman. Katanya orang tuanya bilang begitu.”
Aku ingin mengatakan semuanya akan segera beres. Namun, aku tidak tahu kapan pemeriksaan selesai.
“Ibu sedang meminta orang dewasa membereskan kesalahannya. Kamu tetap boleh belajar, bermain, dan berteman. Ini bukan tanggung jawabmu.”
Hari itu Bu Sinta menjemput Nino di gerbang. Ia juga memastikan pembicaraan tentang pemeriksaan tidak dibawa ke kelas.
Seminggu kemudian, sekolah mengundangku kembali.
Di ruang rapat, seorang perempuan muda duduk dengan mata sembap. Namanya Rika, pegawai administrasi koperasi. Aku mengenalnya sebagai orang yang sering membantu mencari ukuran celana untuk murid.
“Saya yang memasukkan data penerima bantuan,” katanya.
Ia menunduk saat aku duduk.
“Kenapa ada tanda tangan saya?”
“Gambar tanda tangannya diambil dari formulir pendaftaran lama.”
Perutku terasa mual.
Rika menjelaskan bahwa ia diminta menyiapkan daftar keluarga penerima subsidi dari yayasan. Bantuan seharusnya dibayarkan kepada pemasok, lalu seragam diserahkan kepada keluarga tanpa biaya. Namun, sebagian pesanan tidak pernah dibuat.
Formulir penerimaan tetap dilengkapi.
“Siapa yang meminta?” tanya pemeriksa.
Rika melirik pintu sebelum menjawab.
“Pak Surya. Katanya berkas harus lengkap dulu supaya dana bisa cair. Nanti barang menyusul.”
“Kenapa Ibu diam?” tanyaku.
Bibirnya bergetar.
“Saya pegawai kontrak. Waktu saya bertanya lagi, beliau bilang kontrak saya bisa tidak diperpanjang.”
Aku masih marah. Penjelasan itu tidak menghapus tanda tangan palsu di hadapanku. Tetapi kini aku memahami mengapa perempuan itu terus menggenggam ujung lengan bajunya.
Pemeriksa kemudian menunjukkan bahwa rekening perantara tersebut milik usaha pemasok yang dikelola kerabat Pak Surya. Dokumen pemesanan, pesan instruksi, dan aliran dana sedang dicocokkan. Mereka belum menetapkan kesimpulan akhir.
Lalu Pak Kurniawan mengeluarkan satu surat lagi.
“Ini asal dana bantuan Nino.”
Aku mengenali logo perusahaan di bagian atasnya. Tempat suamiku bekerja sebelum meninggal dalam kecelakaan perjalanan pulang.
Perusahaan itu ternyata menyetujui bantuan pendidikan tahunan untuk Nino dan menyalurkannya langsung melalui sekolah. Surat pemberitahuan kepada keluarga masih tersimpan dalam berkas administrasi, tanpa bukti pernah dikirim.
Aku menutup mulut dengan tangan.
Selama ini aku mengira perusahaan sudah melupakan kami.
Di luar ruang rapat, aku menelepon bagian personalia yang nomornya tercantum dalam surat. Setelah memeriksa data, petugas membenarkan bantuan tersebut.
“Maaf, Bu. Kami menerima laporan bahwa perlengkapannya sudah diserahkan.”
Aku menangis di bangku lorong sampai Bu Sinta duduk di sampingku.
Pemeriksaan berlangsung beberapa pekan. Pak Surya dibebastugaskan sementara, dan yayasan meneruskan temuan pemalsuan serta dugaan penyelewengan kepada pihak berwenang. Bantuan yang belum diterima keluarga dipulihkan. Sekolah juga mengubah prosedurnya: orang tua menerima pemberitahuan langsung dan dapat memeriksa penyaluran atas nama anak mereka.
Pada upacara berikutnya, kepala sekolah meminta maaf kepada Nino dan murid lain yang pernah dipermalukan karena seragam.
Nino berdiri di barisan dengan kemeja lamanya.
Sepulang sekolah, ia menyerahkan sebuah kantong kepadaku. Di dalamnya ada seragam baru yang akhirnya diterimanya.
“Kekecilan?” tanyaku.
“Pas.”
“Kenapa dibawa begini?”
“Besok aku mau pakai. Yang lama boleh kutaruh di Ruang Seragam Bersama setelah dicuci?”
Aku mengangguk.
“Tapi bagian sikunya harus diperbaiki sedikit lagi,” katanya. “Supaya anak yang pakai nanti nyaman.”
Malam itu kami duduk berdua di bawah lampu meja. Aku menjahit, Nino memilihkan benang.
Untuk pertama kalinya, ia tidak memintaku menyembunyikan tambalannya.
